Jejak

Jejak
Perasaan Jojo dan Rara


__ADS_3

Hanya waktu yang bisa memberikan kesempatan bagi Jojo dan Rara untuk saling terbuka, dan memahami semua yang terjadi di dalam diri mereka dan di antara mereka berdua.


"Dok, skripsi aku kan tentang ibu melahirkan, ada beberapa pertanyaan yang ingin aku diskusikan, Kamis minggu depan aku maju sidang," Kata Rara.


"Dengan senang hati Ra, aku bisa bantu kamu, kamu ada simpan nomor hpku kan?" Tanya dokter Galang.


"Ada," Jawab Rara.


"Ketik aja pertanyaanmu, nanti aku jawab semuanya," Kata dokter Galang.


"Baik dok," Jawab Rara.


"Ok, sampai jumpa ya," Pamit dokter Galang.


Rara duduk di luar, dia membuka ponselnya, mengetik beberapa pertanyaan guna penelitian skripsinya, dia khawatir pertanyaan-pertanyaan itu akan ditanya dosen pengujinya.


"Kamu sudah bisa berdiri dan jalan, walau belum lincah, apa masih mau rutin terapi?" Tanya dokter Didi ke Jojo.


"Masih dok, setidaknya sampai aku kuat berjalan selama sepuluh menit," Kata Jojo.


"Kamu sebenarnya sudah bisa pergi ke klinik sendiri tak usah dengan perawat itu," Kata dokter Didi.


"Janganlah, masakh aku sendirian," Kata Jojo.


"Cinta itu mau mengalah," Kata dokter Didi.


"Dokter kenapa bicara begitu, cinta itu harus diperjuangkan, jika benar-benar bukan jodoh, baru kita berhenti berusaha, apa karena teman dokter itu ya?" tanya Jojo.


"Aku lihat, perawatmu itu mungkin pernah menyukaimu, namun dia menjaga jarak, sedangkan kamu sejak kemari kamu sudah sangat menyukainya," Kata dokter Didi.


"Kelihatan ya dok?" Tanya Jojo.


"Iya, aku biarkan saja, karena itu bisa juga jadi motivasi untukmu, sehingga lebih cepat bisa berjalan," Kata dokter Didi.


"Dia juga menyukaiku dok, cuma masih malu dan segan," Kata Jojo.


"Iya, pelan-pelan saja," Kata dokter Didi.


"Pasti, dokter akan saya undang jika kamu jadi nikah," Kata Jojo.


"Cepet banget nikah, kerja dulu," Kata dokter Didi.


"Aku mau menikah muda, gak mau tunda-tunda makin banyak dosa," Kata Jojo.


Dokter Didi akhirnya tertawa.


"Sudah selesai terapinya?" Tanya Rara di pintu ruangan terapi.


"Sudah nona cantik, sepertinya lagi banyak pikiran?" Tanya dokter Didi.


"Skripsinya dok," Jawab Jojo.


"Gampang saja itu, yang perlu dilakukan, belajar menyandarkan kepalamu di pundak sesamamu," Kata dokter Didi.


"Kalau, sesamaku pundaknya sakit gimana?" Tanya Rara.


"Pundaknya Jojo gak akan sakit, kalau kepalamu yang sandar," Kata dokter Didi.

__ADS_1


Jojo hanya senyum saja mendengar perkataan dokter Didi. "Aku belum yakin dok, makanya belum berani menyandarkan kepalaku padanya," Rara membalas perkataan dokter Didi dengan pelan tapi tegas.


"Pelan-pelan saja, perasaan gak yakin itu, karena banyak menimbang-nimbang, bagus jika kita banyak pertimbangan, namun pertimbangan juga pada akhirnya membuat kita bagai di dalam labirin, dan akhirnya membingungkan perasaan kita," Kata dokter Didi.


"Lalu caranya kita keluar dari labirin gimana dok?" Tanya Rara.


"Belajar terbuka, mengenal sesama dan lingkunganmu, dan tanamkan keyakinan pikir yang positif," Kata dokter Didi.


"Terima kasih dok," Jawab Rara.


"Sama-sama," Jawab dokter Didi.


"Baik dok, kami pamit," Kata Jojo.


"Ok, hati-hati di jalan, ingat jangan terlalu menimbang-nimbang, belajar jujur, terbuka atas perasaan kalian," Kata dokter Didi.


"Baik dok," Kata Jojo. Rara hanya diam.


Rara dan Jojo masuk ke mobilnya, "Ra kita makan malam dulu ya," Kata Jojo.


"Ok," Jawab Rara.


"Mau makan apa?" Tanya Jojo.


"Apa aja, Jo kamu sudah bisa jalan kan?" Tanya Rara.


"Sudah tapi belum sepuluh menit, kamu jangan undur diri, masakh aku pergi sendiri ke terapi, kan gak lucu," Jawab Jojo.


"Siapa yang mau undur diri, aku cuma tanya," Kata Rara.


"Ok," Jawab Rara.


Jojo kembali bisa mengendarai mobil, dia tak mengalami trauma pasca kecelakaan.


"Ra, aku serius yang soal aku Wa," Kata Jojo yang berusaha memecahkan keheningan.


"Aku tau," Jawab Rara.


"Lalu?" Tanya Jojo.


"Aku mau maju sidang minggu depan, nantilah aku juga masih periksa ke dalam hatiku apa yang aku rasa, karena perasaan aku ke kamu, kadang aku suka, namun kadang aku sendiri bisa menghapus rasa suka itu, terlihat dari aku bisa berganti pacar walau jalan dengan kamu," Kata Rara.


"Kamu minder karena ayahku pimpinan ayahmu?" Tanya Jojo.


"Iya salah satunya itu, keluargamu sering membantuku, aku malu," Kata Rara sambil melihat keluar jendela.


"Mami, setuju jika aku jadian sama kamu," Kata Jojo.


"Dari dulu Mami suka, namun aku yang minder, aku gak paham apa yang Mami harap dariku, wanita yang setingkat denganmu, akan mampu mengimbangi dirimu," Kata Rara.


"Kamu bisa, tingkatan seperti apa yang kamu maksud? Tingkatan punya perusahaan, menjadi pimpinan?" Tanya Jojo.


"Banyak Jo, Mami juga punya nama yang disegani, buktinya mamanya Bima takluk ketika tau aku dekat dengan Mami," Kata Rara.


"Ok, aku paham, Ra, kamu fokus dulu maju sidangmu, selesai itu kita bahas lagi," Kata Jojo.


"Kamu sendiri kapan maju sidang?" Tanya Rara.

__ADS_1


"Tahun depan, aku kan telat setahun," Jawab Jojo.


"Tapi Jo, aku akui aku juga sering sakit hati jika lihat kamu sama cewek lain, cuma aku belum nyaman untuk bilang itu bagian dari rasa suka, sayang, dan cinta," Kata Rara.


"Perasaanmu ke Bima gimana?" Tanya Jojo.


"Jo itu masa SMA," Jawab Rara.


"Kalau dengan Ari?" Tanya Jojo lagi.


"Itu kan masih kuliah," Jawab Rara.


"Emang beda ya perasaan cinta semasa SMA, kuliah dan saat akhir gini?" Tanya Jojo.


"Jo, waktu SMA, belum ada pembahasan nikah, tingkatan sosial, kuliah kita masih fokus kuliah kan, kalau sekarang masakh mau pacaran yang ujungnya bukan nikah?" Tanya Rara kembali.


"Yang aku tanya perasaannya beda?" Tanya Jojo.


"Kamu sendiri ketika pacaran sama cewek-cewek yang dulu gimana? Sama perasaanmu dengan saat kamu WA kepadaku?" Rara kembali bertanya kepada Jojo.


"Kita makan dulu, lalu kujawab," Kata Jojo.


Rara akhirnya diam, Jojo berusaha memarkirkan mobilnya. Rara segera turun dan membuka pintu sopir dia mengulurkan tangan untuk Jojo. Jojo dan Rara berpegangan tangan masuk ke rumah makan.


Sambil menunggu makanan.


"Ra, hal kecil yang kamu gak sadar, kamu tau aku sudah bisa jalan, tapi kamu masih mau pegang tanganku sampai masuk ke sini," Kata Jojo.


Rara diam.


"Ra, memang beda reaksi saat kita pacaran di masa SMA, kuliah dan saat ini, namun yang namanya perasaan hampir miriplah, kamu merasakan suka dengan Bima dan Ari karena ada persamaan apa, itu juga yang mungkin ada di dalam diriku, sebuah kenyamanan," Kata Jojo.


"Iya," Jawab Rara.


"Aku, ketika dengan cewek lain, aku suka karena mereka ceria, dan hanya untuk happy-happy, tapi untuk saat ini aku sadar bukan saatnya untuk happy-happy tapi aku harus mendapatkan pasangan yang siap berjalan bersamaku, dengan kamu aku bisa berubah Ra, dari malas belajar jadi giat belajar, bisa fokus, namun bisa juga santai," Kata Jojo.


"Berarti kamu bisa menyamankan dirimu saat dengan cewek lain, kalau aku saat dengan cowok lai ada beberapa yang aku rasa tak nyaman, dan akhirnya aku menjauh," Jawab Rara.


"Denganku, kamu nyaman gak?" Tanya Jojo.


"Gak tau," Jawab Rara.


"Kalau gak nyaman, kok bisa tidur nyenyak dulu di hotel sama aku," Goda Jojo.


"Hei itu banjir," Kata Rara.


"Iya ya," Kata Jojo sambil tertawa.


Rara menatap mata Jojo, diapun akhirnya tertawa.


"Apa perlu aku jawab, nyaman atau tidak?" Tanya Rara.


"Harus," Jawab Jojo.


"Aku nyaman," Jawab Rara.


Jojo senyum melihat Rara, Rara segera minum air, wajahnya memerah.

__ADS_1


__ADS_2