
Ada cinta yang telah lama terkubur, ada cinta yang baru disadari, ada cinta yang begitu menyedihkan, dan ada cinta yang merindu.
Riris tak dapat berkata apapun selain memeluk kakaknya dan mengusap-usap kepala kakanya Rara.
Putri yang tak berani jujur tentang pertemuannya dengan Irfan, yang akhirnya membuat hubungannya dengan Raka agak dingin dan jauh. Putri menghindari Raka.
Andaikan angin dapat bicara tentu Bagas akan mengirimkan pesan bahwa sejuta rindunya hanya untuk Dewi. Dewi mengirim pesan kepadanya. Sabar ya, dikit lagi wisuda.
Ra, kapan kamu ujian sidang? Aku mau daftar untuk pengobatan tradisional itu, selesai kamu maju sidang. Pesan Jojo diterima Rara dengan tarikan napas yang dalam dan dihembuskan dengan panjang.
Kamis Minggu depan, bisa gak seminggu setelah maju sidang baru kita pergi? Aku khawatir ada perbaikan. Rara membalas pesan Jojo .
Tentu boleh, fix ya seminggu setelah ujian maju sidang.
Rara hanya membalas dengan icon jempol.
Putri yang menghindari Raka, akhirnya membuat Raka curiga. Malam itu sengaja Raka pulang duluan dan menunggu kepulangan Putri.
"Kenapa kamu seperti menghindari ku sejak pulang dari Bandung?" Tanya Raka.
"Gak apa-apa, perasaanmu saja," Kata Putri.
"Ya lebih baik jangan cerita, aku juga tak mau mendengar, fokus saja ke maju sidangmu," Kata Raka.
Putri hanya diam dan masuk kamar, saat akan membuka pintu kamarnya.
"Yang lalu biarlah berlalu, yang utama jalan di depan yang akan kita lalui Put, kita gak bisa kembali ke masa lalu, jika terus ingin kembali ke masa lalu, atau tak mau melangkah maju, kamu bisa stress nanti," Raka berbicara dengan nada yang sangat rendah.
"Bukan aku gak mau maju jalan kedepan, tapi kenapa harus jalan ini, apa jalan ini yang tepat? Apa aku bahagia? Apa aku sudah kehilangan perasaan? Perasaan untuk merasakan bahagia, sedih, suka dan semua, berikan aku waktu hingga selesai ujian skripsi," Kata Putri.
Raka mengepalkan tangannya, Putri masuk kamar. Rakantak dapat menahan lagi, gelas di meja diambil dan dilemparnya ke tembok. Putri mendengar suara gelas pecah segera keluar.
"Mas, kamu kenapa?" Tanya Putri.
Raka diam.
Putri mengambil serok dan sapu, mengangkat pecahan gelas, menyapu pecahan terkecilnya, dan mengambil kain basah untuk memastikan tak ada serbuk pecahan yang tertinggal. Selesai membersihkan, Putri duduk di depan Raka.
"Aku tidak akan pernah menceraikanmu Put, sampai kapanpun," Kata Raka.
"Kamu berubah pikiran?" Tanya Putri.
"Iya, aku tidak bisa menceraikanmu," Kata Raka.
Putri langsung berdiri dan masuk kamar.
"Bicara Putri!" Raka teriak.
__ADS_1
"Terserah! aku gak punya pilihan," Putripun akhirnya berteriak.
Raka melihatnya dengan mata menahan tangis, dia tau ada seseorang yang pasti ditemui Putri saat di Bandung. Putri masuk kamar dan langsung tidur.
"Ra, tumben bisa datang, lagi gak ada jadwal di RS, gimana jadwalnya Jojo?" Tanya Dewi yang melihat Rara datang ke sanggarnya.
"Jadwalnya Jojo hari ini, tapi aku bilang aku ingin senam, jadi aku ke sini," Kata Rara.
Dewi diam dan melihat perubahan raut wajah Rara.
"Selamat sore," Putri menyapa Rara dan Dewi.
"Hai Put, gua senang banget kalian berdua bisa datang hari ini," Kata Dewi.
Putri tak merespon perkataan Dewi, Rara juga tak melihat ke arah Putri.
"Ok, ayo kita senam, supaya kita bisa kembali bergairah," Kata Dewi.
Cika yang baru saja mengenal mereka saat kuliah, tak berani mengeluarkan sepatah katapun, dia hanya memberi kode ke Dewi untuk diam.
Selesai senam, Dewi, Rara dan Putri duduk di cafe.
"Gak ada yang kalian ingin bicarakan?" Tanya Dewi dengan perlahan.
"Aku ketemu Irfan waktu di Bandung, kacau sekali, kita berdua saling mengungkapkan segalanya, dia gak selesaikan sekolahnya di STAN, dan aku marah kenapa dia pergi, dia bilang minder, aku ganas sekali, aku benci kenapa dia seperti itu, sehingga aku harus menikah dengan Raka," Putri menceritakan sambil menangis.
"Apa yang kau lakukan di Bandung dengannya?" Tanya Dewi.
"Kami tidur sekamar, namun tak berbuat apapun, saling cerita hingga tertidur, kamu hanya berciuman," Putri menceritakan dengan jujur.
"Kamu terlalu jujur Put, jangan pernah kamu bicarakan dengan Raka, akan jadi duri dalam daging, simpan itu sampai kamu mati," Tegur Rara.
"Kamu sendiri gak ada yang mau diceritakan?" Tanya Dewi.
"Dewi!" Kembali Cika menegur Dewi sambil memelototinya.
"Jojo mengungkapkan kalau dia suka sama aku, Ari juga, namun aku gak mau sama Ari, dan akhirnya Ari memundurkan wisudanya agar tak bersamaan denganku," Rara mengatakan dengan nada yang begitu rendah.
"Apa!" Dewi dan Putri sama-sama berteriak.
"Jojo mungkin hanya merasa kamu yang saat ini lagi dekat, sehingga perasaanya dia salah artikan," Kata Dewi.
"Siapa yang salah mengartikan perasaanku?" Suara Jojo muncul di depan cafe.
Dewi, Putri dan Rara melihat ke arah Jojo dengan pandangan kesal.
"Jo, jangan sampai kamu salah memahami perasaanmu, saat ini karena hanya ada Rara yang di sampingmu saat kamu lagi lemah, dan kamu pikir itu cinta," Kata Dewi.
__ADS_1
"Aku yang tau perasaanku Wi, aku sudah jelaskan semua di WA ke Rara, biarkan saja dia, dia yang tak bisa menilai, dia yang buta selama ini," Kata Jojo.
"Ngapain kamu ke sini?" Tanya Rara.
"Hai, hari ini jadwalnya kamu temani aku terapi," Kata Jojo.
Rara menutup matanya.
"Semakin kacau rasanya," Kata Putri sambil berdiri.
"Raka sangat mencintaimu, lebih baik dicinta daripada mencinta," Cika memberanikan diri memberikan nasehat.
"Terima kasih Ka," Kata Putri sambil senyum dan melihat Cika.
"Ok, Jo ayo kita pergi terapi, aku ikut mobilmu, tadi aku ke sini pakai mobil online," Kata Rara.
"Ayo, Wi kita jalan ya," Pamit Jojo.
"Oh iya Wi, aku lupa, aku pulang ya," Pamit Putri.
"Iya, kalian berdua kalau ada apa-apa kan ada WA grub, bisa cerita, jangan diam dan jadi seperti robot hidup," Kata Dewi.
"Sudah, cepat selesaikan kuliahmu dan kejar Bagas, Bagas sudah terlalu merindu," Kata Jojo.
"Jo, sekarang kamu berani sekali ya," Kata Dewi.
"Dari dulu Jojo berani," Kata Cika.
Rara, Putri dan Dewi sama-sama melihat Cika.
"Jojo orangnya berani dan jujur dengan perasaannya, mungkin sama kalian saja dia jaga image," Kata Cika.
"Kayaknya Cika saja yang mengenal aku," Kata Jojo.
"Ya sudah hati-hati kalian," Dewi dan Cika mengantar mereka pergi.
Sampai juga di ruang terapi, "Rara ya," Sapa seorang dokter.
"Dokter Galang," Balas Rara.
"Kamu kerja di sini?" Tanya Dokter Galang.
"Tidak, aku mengantar pasienku," Kata Rara.
"Oh, yang dibilang Ian, kamu lagi private ngurus orang pasca kecelakaan," Kata Dokter Galang.
"Iya," Kata Rara.
__ADS_1
"Jojo," Jojo memberikan tangannya untuk bersalaman dengan Galang.
"Galang," Balas Dokter Galang yang melihatnya dari ujung kepala hingga kaki.