Jejak

Jejak
Matahari


__ADS_3

Matahari bersinar terang menembus kaca rumah sakit tempat Putri tinggal, aroma pembersih lantai menyerbak seisi ruangan, tukang bubur mengetuk-ngetuk pintu setiap kamar menawarkan bubur, "Bubur neng?"tanya tukang bubur.


"Boleh mang," jawab Putri.


"Ini dengan telur rebusnya ya neng,"Tukang buburnya menaruh bubur di meja samping tempat tidur Putri.


Tantenya pulang dulu dan akan kembali sebelum jam visit dokter yaitu pukul sembilan pagi.


"Terima kasih Mang," ucap Putri.


"Sama-sama neng," kata Putri.


Namun efek obat yang disuntik tadi subuh, membuat Putri tak dapat melawan kantuknya, walau matahari telah mengenai wajahnya, matanya tetao tertutup dan ia kembali terlelap.


"Riris, ayo bangun cepat mandi, kamu jangan terlambat lagi, mama gak mau di sms wali kelas kamu, dikira mama yang biarkan kamu bangun telat, atau gak bisa didik kamu," Omel mama.


"Iya ma," Riris cepat-cepat bangun dan pergi ke kamar mandi.


Rara dan mama selalu bangun pagi pukul lima subuh, berdoa, lalu Rara membantu mama menyiapkan sarapan, pukul setengah enam Rara sudah mandi duluan, pukul enam Rara sudah sarapan dan setengah tujuh Rara sudah keluar dari rumah, Papanya juga seperti itu, setengah tujuh sudah keluar dari rumah.


Beda halnya dengan Riris dan Rinli, mereka masih bangun pada pukul enam, lalu buru-buru mandi, Rinli karena sekolahnya dekat maka tidak terlambat, namun Riris pasti terlambat.


Rara keluar dari rumah hari itu dengan hati yang cerah, secerah mentari yang bersinar, namun saat tiba di dalam bis, dia terkaget melihat sosok yang dia gak sangka akan naik bis, Rara usaha cuek dan diam hingga mereka turun di sekolah.


Matahari hari itu memang menunjukan aksinya, hingga siang panasnya makin menjadi, namun Jojo dan Irfan tetap bermain basket di dua kali jam istirahat itu.


"Fan, lo ada masalah ya?"


"Gak," Jawab Irfan.


"Kayaknya iya, makanya lo jawabnya singkat-singkat," kata Jojo.


Irfan hanya diam, dan Jojopun tak bertanya lanjut, dia hanya menemani cowok ini melampiaskan emosi, pikiran dan jiwanya pada bola basket.


"Dewi, ada yang gua mau tanya," chat Bima.


"Tanya apa?" jawab Dewi.


"Tanya mamamu, apakah ada tamu mamamu yang bernama Arjuna Anggara?, jika ada tolong saat dia berkunjung info ke saya," kata Bima.


Dewi gak membalas apa-apa, dia kaget sekali, ternyata ada temannya yang tau pekerjaan mamanya selain Bagas, lagipula permintaan Bima, hanya mencari tau nama tamu bisa, namun jika saat tamu berkunjung lalu info Bima, adalah hal yang di larang, khawatirnya akan mengakibatkan kekacauan.


"Gas, kamu ada cerita-cerita ke teman-teman tentang mamaku?" tanya Dewi via WA.


"Gak," kata Bagas.


"Bima kok tau, dia suruh tanya mamaku apakah ada tamu yang inisial namanya dia sebutkan," kata Dewi.


"Bima banyak intelnya, mungkin dia sudah cari tau sendiri segala hal, tau gak pagi ini dia pakai bis ke sekolah, naik bis jalurnya yang biasa Rara naik, Rara baru abis cerita ke saya, makanya siang ini Rara mau nebeng saya, bayar ojek katanya minta antar pulang, karena dia gak mau buka cela untuk Bima," cerita Bagas.


"Kayaknya Bima akhirnya mengeluarkan kukunya," kata Dewi.


Bagas tertawa mendengar kata-kata Dewi.


"Dewi, kamu harus kuat, jika terbongkar, bilang aja, yang penting kamu gak pernah rugiin orang," kata Bagas.


"Iya," jawab Dewi.

__ADS_1


Taoi dalam hati Dewi, Tapi kamu juga putusin aku setelah tau kerjaan mamaku, sama aja.


Jadilah siang itu Bagas jadi ojeknya Rara, Jojo berkerut kening melihat dari jauh,"Fan, itu Bagas dan Rara kan?" tanya Jojo.


"Iya Bagas dan Rara," kata Irfan.


"Tumben Bagas bonceng Rara," kata Jojo.


"Karena Bima tadi pagi pakai bis yang jalurnya Rara," kata Irfan.


"Jadi Rara menjauh dengan siangnya pulang dengan Bagas," kata Jojo.


"Itu baru sangka gua, belum tentu benar," kata Irfan.


"Bima lagi mengeluarkan jurusnya," kata Jojo.


"Artinya dia sayang banget sama Rara," kata Irfan.


"Iya, akhirnya gua akui itu," kata Jojo.


"Jo, biar mereka urus urusan mereka, you jangan ikut camour kali ini," kata Irfan.


"Ok, pulang yuk," kata Jojo.


Jojo dan Irfan sama-sama jalan ke parkiran.


Siang itu pulang sekolah, Irfan singgah beli roti dan buah, kali ini dia gak akan mundur, dia lihat Bima kok gigih dekatin Rara. Sesampainya di Rumah sakit, hanya ada tantenya Putri.


"Selamat siang Tante,"Sapa Irfan.


"Siang Fan, ayo masuk, wah pas ada Irfan tante titip Putri ya, tante mau tebus obat di luar," kata Tante.


"Dia belum makan siang Fan, bantu suap ya," kata tante.


"Ok tante," jawab Irfan.


Putri hanya senyul lihat Irfan.


Irfan mencuci tangannya,"Kamu bisa makan buah kan Put?" tanya Irfan.


"Bisa, kamu bawa buah apa?" tanya Putri.


"Apel dan pisang ambon," jawab Irfan.


"Apel boleh satu, pisang aku masih takut, tanya doketer dulu," kata Putri.


Irfan potongkan apel, lalu menyuapinya.


"Kamu kenal kak Rio dimana Put?" tanya Irfan.


"Waktu jaga bazar, dia langsung minta no hpku," jawab Putri.


"Kamu langsung kasih?" tanya Irfan.


"Iya," jawab Putri.


"Kemarin aku datang, tapi pas lihat kak Rio lagi ngobrol sama kamu, aku sungkan dan langsung balik arah dan pulang," kata Irfan.

__ADS_1


"Gak apa-apa lagi kalau kamu masuk Fan, saya dan dia cuma teman biasa, baru kenal.berapa minggu, baru lihat wajah dua kali, SMA bakti besar sampai ada siswanya yang aku gak pernah lihat," kata Putri.


Irfan diam, dia berbalik mengambil makan siangnya Putri,"Makan ya, supaya cepat sembuh," kata Irfan.


"Iya," kata Putri.


Irfan suap Putri pelan-pelan,"Put, selesai sakit seminggu jangan bawa motor dulu, nanti gua antar jemput,"kata Irfan.


"Wah lo baik banget Fan, gua dengan senang hati menerima tawaranmu," kata Putri.


"Ok, deal ya, jangan terima tawaran lain," kata Irfan.


"Tawaran siapa lagi?, Dewi, gak ah, Rara aja pakai bis, Bagas motor," kata Putri.


"Rio," jawab Irfan.


"Gak ah, kak Rio gak mungkin tawarkan, dia kan sibuk mau Ujian Sekolah," kata Putri.


"Ayo semangat, dikit lagi habis," Kata Irfan.


Irfab menceritakan kejadian-kejadian lucu di sekolah, seperti kisah si cupu Suryanti yang di sembunyikan kacamatanya, kisah Lasmi yang roknya ketumpahan kuah bakso, dan aksi heroik pacarnya Kiki yang menolongnya.


Putri tertawa mendengar semuanya, dan Irfan pun senang melihat tawa Putri.


Riris hari itu gak terlambat ke sekolah karena dia tidak sarapan.


"Tumben gak telat," kata Dedi.


"Iya, korbankan sarapan," Riris menunjuk tepak makan dua tingkat yang mamanya siapkan karena dia gak sarapan.


"Mau masuk SMA Anak Panah harus bangun pagi, jangan telat dong, latihan dari sekarang," Kata Dedi.


"Iya, gua usaha mulai besok, senin depan Try out dua, you sudah siap?"Tanya Riris.


"Sudah, makanya belajar," goda Dedi.


Riris hanya angguk-angguk dan senyum.


WA dari Bima masuk,"Ra, kamu pulang sama Bagas karena jauhin gua kan?, mau sampai kapan?" tanya Bima.


WA tersebut Rara gak mau balas, bahkan akhirnya dia blokir Bima.


Bima tau dia diblokir, Bima sms Rara,"Kamu blokc saya Ra?, Ra, aku hanya minta kamu sabar, aku akan kembali untuk kamu, kamu boleh marah sekarang tapi nanti kamu akan menang," kata Bima.


Rara tetap tidak balas.


"Kak, jangan naik bis dong, kamu bawalah mobilmu, aku ikut," bujuk Tia ke Frangky.


"Mang kenapa Bis?" tanya Frangky.


"Ramai orang, Tia gak suka," Jawab Tia.


"Oklah, besok kita naik mobil, mama tau, Bima sudah gak bawa mobil ke sekolah? pasti nanti disuruh kita yang antar jemput Bima jadinya, gua malas jadi supirnya dia," kata Frangky.


"Nanti ku cerita ke mama, dan aku akan bilang Bima mau naik Bis yang dinaiki mantannya Rara, karena ada isu ada cowok sekelasnya sering temani naik bis," kata Tia sambil meangkat bola matanya keatas.


Frangky tertawa mendengar kata-kata itu.

__ADS_1


Matahari yang cerah dari pagi hingga sore hilang karena hujan deras malamnya, seperti panas yang berlalu sekejap seperti itulah Rara menanggapi kisah dia dan Bima, dan hari itu tak mungkin waktu kembali menjadi siang yang panas, maka tak mau Rara untuk kembali dengan Bima.


Energi panas matahari selain bagus untuk tulang, ternyata membakar semangat di hari Bima dan Irfan untuk maju memperjuangkan perasaannya.


__ADS_2