Jejak

Jejak
Akhir Tahun


__ADS_3

Hati yang merindu


Seperti dadu


tak beradu


Bilahkah dapat mengadu


Pada bulan syahdu


Kegelisahan meliputi hari Arya, di tak menyangka Natal tahun ini Putri pergi dengan Raka. Seperti alam lebih memihak pada Raka, atau dirinya yang terlambat menyadari. Sebuah pesan singkat dikirim Putri kepadanya. Aku berangkat hari ini, Mas, Natalan di Kalimantan, sampai jumpa.


Arya hanya membacanya tanpa membalas.


Putri dalam perjalanan menuju bandara dengan Raka di sampingnya.


"Pertama kali perjalanan jauh?" Tanya Raka.


"Iya," Jawab Putri.


"Rumahnya Pakde Agus besar, banyak kamar, anaknya hanya dua, satu lagi kuliah di Australia, kamu nanti jadi anak ceweknya mereka di sana," Kata Raka.


"Iya, memang Tuhan itu aneh, semua paman dan bibiku hanya punya anak cowok," Kata Putri.


"Bude Tarmi orangnya tegas, karena terbiasa mengurus karyawannya Pakde," Kata Raka.


"Pak Raka kenal dekat sekali dengan keluarga Pakde Agus ya," Kata Putri.


"Sangat dekat,"Kata Raka.


"Dekatnya karena apa?" Tanya Putri.


"Nanti di Kalimantan aku akan cerita semuanya, sudah sampai bandara" Kata Raka.


Putri menatap depan, dan melihat ternyata mereka telah sampai bandara.


Hari itu Putri menjalani penerbangannya yang pertama, dia berusaha menutupi ketidaktahuannya. Tadi malam dia sudah nonton di YouTube cara memasang sabuk pengaman. Putri memilih menutup mata, seolah-olah dia tidur, dia tak mau terlihat bahwa dia takut, dan dia lagi enggan mengobrol dengan Raka.


Akhirnya tibalah mereka di Kalimantan, Bude Tarmi yang menjemput mereka.


"Hallo Raka," Sapa Bude.


Raka langsung memberikan pelukan yang erat.


"Selamat siang Bude," Sapa Putri.


"Hallo Put, ini pertemuan kita yang pertama," Sapa Bude.


Putri pun mendapat pelukan erat dari Budenya.


"Aku yang bawa mobil Bude?" Tanya Raka.


"Janganlah, kamu baru turun dari pesawat, masih rasa goyangannya pesawat, nanti pusing," Kata Bude.


"Baiklah, Budeku sayang," Goda Raka.


Bude Tarmi orangnya cekatan, dengan cepat mengeluarkan mobil dari parkiran.

__ADS_1


"Raka makan dulu di rumah Bude ya," Kata Bude.


"Baik Bude, nanti aku minta di jemput di rumah Bude saja," Kata Raka.


Raka langsung menghubungi sopirnya, "Pak Abdi, minta tolong jemput saya di rumah Pakde Agus ya."


Putri karena baru mengenal Bude Tarmi, dan semua serasa baru maka hanya diam dan memperhatikan sekeliling.


Sesampainya di rumah Pakde Agus, ternyata rumahnya memang besar dan halamannya luas.


"Kalau kalian nikah, disini saja resepsinya, luas halaman Bude, Put," Kata Bude.


Raka tertawa mendengar itu, Putri terkejut mendengar itu, namun tanpa ekspresi dia tak menanggapi guyonan tersebut.


Putri mengangkat barangnya sendiri, ada seorang ibu keluar dari rumah tergopoh-gopoh menuju mobil, "Mari barangnya biar bibi yang bawa Non."


"Gak apa-apa Bi, cuma satu saja," Kata Putri.


Putri segera ke kamar mandi, dengan cepat dia mandi dan berganti pakaian.


"Kamu masih bisa mandi, cuci tangan saja lalu makan dulu!" Kata Bude Tarmi dengan nada tinggi.


Raka sudah makan duluan, lagi menikmati es buah.


Putri hanya diam, dan langsung mengambil piring sendok dan menuangkan makanan ke piringnya.


"Bagaimana pekerjaannya Putri di kantor?" Tanya Bude ke Raka.


"Masih harus banyak belajar, masih pemula," Jawab Raka.


"Dengar Bude," Jawab Putri.


"Aku ini orangnya keras Put, beda dengan Bude Sri yang kamu selama ini tinggal, jangan kaget kalau aku marah atau nada tinggi ke kamu," Kata Bude.


"Iya Bude," Jawab Putri.


"Aku sudah cerita ke dia soal Bude orangnya seperti apa," Cerita Raka.


"Selesai makan, kamu ikut Bude Put, pergi ke toko ya, kita kerja dikit, lalu ke pasar belanja untuk masak besok," Kata Bude.


"Iya Bude," Jawab Putri.


"Besok kamu siap pagi-pagi aku jemput, kita ke kantor yang di sini," Kata Raka.


"Baik Pak," Jawab Putri.


"Panggil aja Mas, kalau di luar kantor," Kata Bude.


Di luar jemputan Raka telah tiba.


"Bude aku pulang dulu ya," Pamit Raka.


"Ok ka, hati-hati," Bude langsung berdiri mengantar Raka ke depan.


Putri makan sambil memandangi dengan seksama sekeliling ruang makan.


Ruang makan itu terletak di tengah rumah, sangat luas untuk menjadi ruang makan menurut Putri. Banyak terdapat pajangan, dan ada dua pasang foto tua, foto orang tua dari Bude dan Pakde.

__ADS_1


"Makannya cepat Put, kita mau jalan," Suara Bude mengagetkannya.


Dengan lekas Putri menguyah makanannya dan berdiri, dia berjalan menuju dapur dan mencuci piring makannya sendiri.


"Put, cepet ganti baju, kita jalan, Bude tunggu di depan," Teriak Bude.


Putri segera berlari ke kamarnya, diambilnya baju ganti untuk keluar rumah, langsung berlari lagi ke ruang tamu ternyata Bude telah menunggu di dalam mobil.


"Lambat sekali kamu, kalau jadi nikah sama Raka, kamu harus cekatan," Kata Bude.


Putri hanya diam.


Akhirnya Jojo sadar, namun belum bisa menggerakkan kakinya. Mami berpikir, biarlah mereka menyelesaikan pengobatannya di Australia dulu, sampai Jojo setidaknya bisa duduk di kursi roda.


Setiap sore Rara tak pernah lupa bertanya ke Mami keadaan Jojo.


Rara tetap bekerja di klinik walau libur, dan akhirnya membuat Riris adiknya kesal, karena Riris sekarang yang menggantikan Rara membantu mama membuat kue kering untuk Natal.


"Kalau kamu rasa berat, buatnya malam saja nanti bakarnya sama-sama aku," Kata Rara.


"Jangan, kamu aja pulang kerja jam sembilan, mau bakar jam sembilan selesai jam dua belas malam," Kata Mama.


"Kamu gak bisa ambil libur gitu?" Tanya Riris.


"Janganlah, ini tempat kerja yang sangat bagus menurutku, lagipula aku cuma kerja dari sore sampai malam, masakh mau minta libur," Jawab Rara.


"Rinly harus bantu aku," Kata Riris.


"Bantu habiskan kue," Kata Mama.


Rara tertawa.


Ari menawarkan selama liburan dia yang mengantar dan menjemput Rara dari rumah ke klinik. Katanya kesempatan liburan, bisa dekat.


Rara setuju saja.


Bagas akhirnya pindah tugas, betapa leganya bisa lepas dari Lilis dan ibunya, dan kabar gembiranya Natal tahun ini Bagas bisa pulang sebentar akhirnya Bagas bisa berjumpa dengan Dewi. Dewi tak tau bahwa Bagas akan pulang.


Saat itu pengunjung cafe lumayan banyak, Dewi dan Cika sangat sibuk, bahkan sampai Rian ikut membantu melayani tamu.


"Selamat sore, bisa pesan es teh?" Tanya seorang pria.


"Bisa silahkan duduk aja di sana tempat yang kosong," Jawab Dewi.


Saat Dewi mengangkat wajahnya dan bertatapan dengan Bagas.


Dewi langsung berdiri keluar dari meja kasirnya, dan memeluk Bagas.


Bagas tertawa dan memeluk erat Dewi.


"Kamu datang untuk nikahi aku?" Dewi langsung bertanya dalam pelukan Bagas.


"Saat ini belum bisa, nanti ya, tapi aku setia kok," Jawab Bagas.


Cika dan Rian tersenyum melihat moment itu, Cika segera mengabadikan dalam satu jepretan dan mengirim foto itu ke Rara dan Putri.


Natal tahun ini agak berbeda Putri di Kalimantan, Rara yang sibuk bekerja di klinik, Dewi yang akhirnya berjumpa dengan Bagas prajurit kesayangannya.

__ADS_1


__ADS_2