Jejak

Jejak
Jojo dan Arya


__ADS_3

Sesuai janji Rara, tanggal delapan belas Desember, Rara membantu Mamanya Jojo membuat kue kering untuk Natal, "Ra, kamu kurusan," kata Mami.


"Iya Mi," Jawab Rara.


"Kamu makan atau gak?" Tanya Mami.


"Makanlah Mi," jawab Rara.


"Hari ini Jojo pulang Ra," kata Mami dengan nada rendah.


"Oh ya, wah bawa oleh-oleh dong," kata Rara.


"Mau Mami si gitu, kita lihat aja nanti," kata Mami.


Rara sudah memikirkan kemungkinan ini, Jojo pulang dan dia di rumah Jojo, namun tak terbayangkan bahwa akan secepat ini.


Selesai juga mencetak kue, masuklah kue di oven.


"Ra, mami rencana buat kuenya sehari satu macam kue, kamu bisa kan sembilan hari ini disini?" tanya Mami.


"Bisa Mi," jawab Rara.


"Natal, kamu bawa teman cowokmu itu ke sini," kata Mami.


"Nanti lihat Mi," jawab Rara.


"Kenapa anak gadisnya Mami ini, kayaknya ada yang gak mau diceritakan," kata Mami.


"Ada, Mami mau tau?" tanya Rara.


"Apa?" tanya Mami.


"Rara rindu Mami banget," kata Rara sambil senyum.


"Mami juga rindu kamu Ra," kata Mami.


Jojo tiba di rumah, "Hello Mi."


"Anak bujangku sudah pulang," kata Mami sambil berlari memeluk Jojo.


Jojo senyum, memeluk mamanya, namun matanya bertatapan dengan Rara yang berdiri di belakang Mami.


"Sibuk buat apa Mi?" tanya Jojo.


Mami melepaskan pelukannya. "Buat kue kering."


"Ditemani dia?" Jojo sambil menghampiri Rara, dan langsung memeluk Rara.


Mami senyum melihat pemandangan itu.


Sebuah kecupan mendarat ke kening Rara. "Kurusan kamu Ra."


"Iya Jo, dia tambah kurus," kata Mami.


"Gak usah diet terlalu keras, ingat kesehatan," kata Jojo.


"Iya-iya Natal ini perbaikan berat badan," kata Rara.


Semua tertawa.


"Putri, tadi bude di telepon Bu Budiman, katanya setiap malam Minggu kamu di ajak jalan Arya," kata Bude.


"Kenapa harus setiap malam Minggu?" tanya Putri.

__ADS_1


"Biar semakin saling mengenal," kata Bude.


Putri hanya diam tak dapat berkata apa-apa.


Ponsel Putri berbunyi, telepon dari Rio. Putri segera ke kamarnya dan mengangkat telepon.


Kak Rio dari mana saja? gak ada kabar, kak aku dijodohin. Putri langsung berbicara tanpa jeda.


Maaf Put, kamu dijodohkan, namanya siapa? tanya Rio di sebrang sana.


Namanya Arya, sudah kerja di Bank, gak tau Bank apa, aku lupa tanya, aku gak bisa lawan budeku Putri merajuk.


Sabarlah, berdoalah, kuasa Tuhan lebih dari kuasa Budemu. Pesan Rio.


Iya kak. Jawab Putri.


Ya sudah, bukan takdir kita bersama, belajar ikhlas Put. Kata Rio mengakhiri teleponnya.


Putri memejamkan matanya, air matanya menetes membasahi pipinya. Ponselnya berbunyi lagi, Putri mengira yang menghubungi Dewi atau Rara, ternyata nomor baru.


Hallo ini dengan siapa? Tanya Putri menjawab telepon itu.


Ini Arya, simpan no hpku, sudah ya itu aja. Arya langsung menutup teleponnya.


Putri kaget dan bicara dalam hati jadi orang kok gak sopan.


Dewi dan Cika menyibukkan diri, membuat kue kering seperti keluarga-keluarga lain.


Cika bahagia benar, bahkan dia ada siapkan kado untuk Mami, ucapan. terima kasih karena mau mengurusnya.


Rian beranikan diri mendatangi rumah Cika.


"Selamat siang," suara orang dari depan pagar.


"Cika ada tamu, siapa ya," kata Dewi keluar melihat ke depan pagar.


"Yang benar?" tanya Cika berlari ke depan ruang tamu dan segera membuka pintu.


"Kenapa Rian?" tanya Cika.


"Cika, belum diajak masuk sudah ditanya," Tegur Dewi.


Cika diam, dan membuka pagar.


Rian masuk dan menyapa Dewi, "Selamat siang Wi."


"Siang Rian, ada apa ni?" Tanya Dewi.


"Mau kasih kado Natal untuk Cika, soalnya aku mau liburan ke rumah Oma di Ambon, besok berangkat," kata Rian.


"Wah, Cika ambil tu, kado Natal," kata Dewi.


"Terima kasih ya Rian, dari gua nanti deh pas masuk kuliah, semoga liburannya menyenangkan." Cika menerima kado dari Rian.


"Kalau masih mau ngobrol gak apa-apa, aku ke belakang dulu," pamit Dewi.


"Gak kok, aku langsung jalan," kata Rian.


Tampak Rian masih kikuk untuk mengobrol dengan Cika.


"Ya sudah, hati-hati ya Rian," kata Dewi.


Cika mengantar Rian ke pagar, dan menutup pagar.

__ADS_1


"Cie yang dapat kado Natal, buka dong," goda Dewi.


Cika membuka kado dari Rian, sebuah notes dengan sampul foto Rian dan dirinya, yang ntah kapan pernah diambil foto itu.


"So sweet," kata Dewi.


Pipi Cika bersemu merah.


Selesai buat kue, Rara berpamitan dengan Mami pulang, di teras lagi duduk Jojo.


"Sekarang bawa motor sendiri Ra?" tanya Jojo.


"Iya," jawab Rara.


Tak lama Jojo kedatangan tamu menggunakan mobil masuk ke halaman.


Mami langsung keluar, mengira Papanya Jojo yang pulang.


Turunlah seorang cewek glamour, langsung berlari dan memeluk Jojo, tanpa menyapa Mami dan Rara yang melihat semua itu.


"Helen, ini mamaku dan ini Rara, sudah seperti anak bagi mamiku." Jojo sambil menunjuk Mami dan melepaskan pelukan itu.


"Tante, maaf, abis kangen banget sama Jojo," kata Helen.


Rara sadar tak perlu dia salaman dengan Helen, segera dia menuju motornya dan mengendarainya pulang.


Helen pacarnya Jojo di Jakarta, belum pacar yang di Australia yang biasa di foto dengan Jojo.


Sesampainya Rara di rumah, Riris lagi sibuk buat kue kering, "Ris, kakak gak bantu ya, kakak sudah lelah buat kue di rumah Mami."


"Ok it's no problem," kata Riris.


"Ma, anak mama sudah besar ya," goda Rara.


"Iyalah, di kasih makan," kata Rinly.


Mamanya tertawa melihat ketiga anaknya sudah sibuk memenuhi dapur, terasa benar suasana Natal.


Malam Minggu pertama, Arya dan Putri jalan berdua, sunyi sekali di dalam mobil.


Putri mengeluarkan ponselnya, memasang headset dan memutar musik, sambil memandang keluar jendela.


Mereka berhenti di sebuah cafe, "Kamu duduk di sini, aku duduk di sana, pesan saja apa yang kamu mau, nanti aku yang bayar," kata Arya ke Putri.


Putri diam dan menurut saja, tak berapa lama, munculah seorang wanita berparas tinggu, rambutnya diurai, langsung memeluk Arya, dan mengecup bibir Arya secepat kilat.


Putri senyum sinis dan mengeluarkan ponselnya kembali dia mendengarkan lagu.


Sekitar satu setengah jam, tampak wanita itu akhirnya menatap tajam ke arah Putri, lalu berdiri dan pergi.


Arya berdiri dan berjalan ke arah Putri, "Ayo pulang."


Putri langsung berdiri dan berjalan menuju mobil dalam diam dan kembali mendengar musik dari ponselnya.


Sesampainya di rumah Putri, Putri akhirnya berbicara sebelum keluar dari mobil, "Mas Arya, kenapa gak jujur saja ke orang tua kita, bahwa Mas punya pacar, aku gak mau seperti ini, menutup jalan jodohku juga."


"Itu urusanku, bukan urusanmu," Jawab Arya.


"Bagaimana hanya urusanmu, Mas? aku juga terlibat dalam hal ini," Nada suara Putri mulai meninggi.


"Aku gak pernah melawan orang tua," kata Arya.


"Bukan melawan, tapi memberi tau pilihan kita, wanita itu bagus, serasi dengan Mas Arya, bukan kayak aku yang masih kuliah," kata Putri.

__ADS_1


"Putri, aku yang bicara nanti, tidak usah kamu," Arya mulai bicara keras.


"Sebulan dari sekarang aku kasih waktu untuk kamu jujur Mas, lewat sebulan aku yang akan bicara ke orang tua kita." Putri langsung membuka pintu mobil dan masuk ke rumahnya.


__ADS_2