
Seberapa besar kasih yang diberikan seseorang dalam pertemanan, akan terlihat saat kita sedang jatuh, saat kita menyinggung hatinya dan dia mulai menjauh. Jika orang menjauh maka artinya orang tersebut sedang tak nyaman berada di dekat kita.
Rara cuek dengan segala keadaan, cuek dengan Josua, Alex, Ari, dan Dini yang menjauh darinya. Rika saja yang tak enak dan tetap menjalin persahabatan. Rara sibuk bekerja di klinik dan membantu Kak Ruby, sore itu Rara sudah rapi dan duduk di klinik.
"Ra, hari ini kakak ijin ya, kakak ada ibadah keluarga di rumah," Kata Kak Ruby.
"Iya kak, gak apa-apa, Nanti saya usaha tangani, nanti malam kan ada dokter," Jawab Rara.
"Adiknya kakak sudah berani rupanya," Goda Kak Ruby.
Kak Ruby akhirnya pulang ke rumahnya, Rara sendiri yang menangani pendaftaran, lalu datanglah kak Eni analis darah mengucapkan "Selamat sore Ra."
"Sore kak," Jawab Rara.
"Ruby belum datang?" Tanya Kak Eni.
"Kak Ruby ijin, ada ibadah di rumahnya," Jawab Rara
"Oh ya, kamu yang sibuk malam ini," Kata Kak Eni.
"Iya kak," Jawab Rara.
"Semangat," Kata Kak Eni.
Satu persatu pasien datang ke klinik, Rara sibuk melayani.
"Selamat sore," Sapa seseorang di meja pendaftaran.
"Selamat sore," Jawab Rara.
Ketika dua mata itu saling bertaut, kagetlah mereka berdua. Rara dengan santai tersenyum.
"Tadi siang sudah telepon, atas nama Ibu Ria," Kata Ari.
"Oh ya, ada ibunya? mau diperiksa dulu tensinya," Kata Rara.
Ari segera berdiri dan menggandeng ibunya, berjalan perlaha menuju meja pendaftaran.
Rara dengan sigap, memeriksa tensi, dan meminta pasien menimbang berat badan.
"Silahkan tunggu, nanti akan dipanggil ke ruangan dokter," Kata Rara.
Rara kembali sibuk melayani setiap pasien yang datang.
"Bu, ingat cewek yang pernah aku cerita?" Tanya Ari ke ibunya.
"Yang mana? yang langsung nolak kamu karena agama?" Tanya ibu.
"Iya, itu dia orangnya, yang tadi periksa ibu," Kata Ari sambil melihat Rara dari jauh.
"Oh ya, namanya Rara ya kalau ibu tidak lupa," Kata ibu.
"Iya namanya Rara, memang untuk urusan pacaran sepertinya dia complecated tapi buktinya dia bisa saja ni kerja di klinik ini," Kata Ari.
__ADS_1
"Makanya Ri, kamu gak tau jalan hidup orang, dia bisa aja tetap sukses," Kata Ibunya.
Akhirnya Ibunya Ari dipanggil juga ke dalam ruangan dokter.
"Aku pulang dulu Ra," Ari pamitan ke Rara.
"Iya Ri, Tante cepat sembuh ya," Sapa Rara.
"Terima kasih nak," Kata ibunya Ari.
Putri, Miki dan Mika sedang taruhan, siapa yang nilai ujian tengah semesternya rendah, dia harus traktir makan mereka bertiga.
"Mika, kalau Miki nilainya rendah ku pilih restaurant yang mahal," Kata Putri.
"Oh iya, soal harga restaurant kita belum tentukan," Kata Mika.
"Oklah kita tentukan sekarang, restaurant mana yang akan kita kunjungi? Tanya Putri.
"Food street saja," Kata Miki.
"Setuju," Jawab Putri.
"Setuju juga," Kata Mika.
"Setuju apa ni?" Tanya Rangga.
"Setuju makan di food street," Jawab Mika.
"Kapan makannya?" Tanya Rangga.
"Wah, segitunya," Kata Rangga.
"Karena kita ada taruhan, yang nilai paling rendah, dia yang traktir," Kata Miki.
"Wah, ikutan dong," Kata Rangga.
"Boleh, yang lain gimana?" Tanya Mika.
"Aku si boleh saja," Jawab Putri.
"Boleh" Jawab Miki.
"Put, nanti pulang kuliah boleh gak aku ajak ngobrol bentar?" Tanya Rangga.
"Maaf Ga, tiap pulang kuliah, aku langsung ke kantornya pamanku, kerja di sana," Jawab Putri.
"Kalau gitu pulang kantor gimana?" Tanya Rangga.
"Sudah mau malam Ga, aku juga kalau pulang dari kantor, bawaannya sudah pengen tidur," Jawab Putri.
"Hari Sabtu ini?" Tanya Rangga.
"Sabtu bisa," Jawab Putri.
__ADS_1
"Ok, Sabtu ini aku jemput ya," Kata Rangga.
"Ok," Kata Putri.
"Buat penasaran, mau bicarain apa si?" Tanya Mika.
"Ada aja," Jawab Rangga.
Putri sudah mulai rutin setiap hari pulang kuliah langsung ke kantor keluarganya, ntah ada pekerjaan atau tidak. Jika sedang tidak ada pekerjaan yang dia lakukan adalah merapikan segala file perkantoran, dan segala data diurutkan dan dicatat dalam pengarsipan.
Justru saat kerja inilah dia malah paling sering bertemu dengan ayahnya Arya, Ayahnya Arya sering datang bertamu ke kantor Pakde.
Putri pulang kantor pukul enam sore, dia bergegas pulang.
Di rumah Bude sudah masak makan malam, jadi Putri hanya membersihkan diri, dan sambil menunggu pakde pulang, Putri mengerjakan tugas kuliahnya atau dia belajar.
Arya selalu menghubunginya setiap pukul tujuh malam, ntah komen atas status WhatsApp, atau langsung bertanya kabar dan cerita hari ini.
Awalnya Putri merasa aneh, dan Putri berani berkata.
"Mas, kenapa Mas tanya-tanya begini?" Tanya Putri.
"Emang kenapa? ada yang larang?" Tanya Arya.
"Anehlah, kita bukan lagi dalam perjodohan, aku dan mas sudah beda jalan, seperti bukan keharusan menanyai aku setiap hari begini," Kata Putri.
"Selama kamu belum ada pacar dan yang melarang, aku akan tetap hubungi, istilahnya berusaha menjalin hubungan, sehingga lebih akrab, bagaimanapun ayahku dan Pakdemu tetap berteman dekat kan," Kata Arya.
"Kalau aku gak mau balas?" Kata Putri.
"Apa alasan kamu gak mau balas?" Tanya Arya.
"Karena aku menjaga supaya tak terlalu dekat," Jawab Putri.
"Lalu saat pertemuan keluarga, kita berdua hanya duduk diam dan saling tatap begitu?" Tanya Arya.
"Ya, saat itu aja kita ngobrol," Jawab Putri.
"Kalau aku lagi gak ada teman ngobrol, aku tetap hubungi kamu," Kata Arya.
"Terserah," Jawab Putri.
Arya juga merasakan aneh dengan dirinya, setelah melihat Putri di pantai, dan mengetahui adanya pembatalan perjodohan mereka, justru Arya mulai merasa tertarik dengan Putri. Arya tau yang dia hadapi adalah adik jauh sepuluh tahun di bawahnya, sehingga dia harus lebih pelan-pelan menghadapi Putri.
Arya sebenarnya tau bahwa Putri dewasa, yang Arya ingin tau tipe cowok seperti apa yang disukai Putri.
Dewi dan Cika sudah mulai belajar tentang Pembelajaran Peserta Didik, mata kuliah ini diajar oleh wakil dekan, sehingga mengingat jadwal padatnya wakil dekan, perkuliahan digabung dua atau tiga program studi, PGSD dan Paud bersama-sama di aula.
Dewi dan Cika selalu duduk bersama di saat kuliah ini, mata kuliah ini sebenarnya mudah namun ntah apa yang membuat sehingga mudah terlupakan.
Saat ujian tengah semester, Dewi dan Cika saling membantu, untunglah tak ketahuan.
Cika ternyata sangat lihai dalam menyontek, Dewi yang terbiasa bergaul dengan Rara dan Putri, tak pernah mengenal dunia percontekan.
__ADS_1
Sehingga Cikalah yang memainkan perannya.