Jejak

Jejak
Batu Loncatan


__ADS_3

Tak ada air mata yang menetes dari matanya Dewi. Walau wajahnya merah padam, namun masih bisa ditahan amarahnya. Dewi berusaha berpikir keras untuk memikirkan apa tindakan yang harus dia lakukan selanjutnya.


Rara hanya banyak diam berpikir mungkinkah salah satu dari gengnya Lia yang melakukan ini.


Putri tidak lepas merangkul Dewi sambil sesekali berkata,"Yang sabar Wi."


Pelajaran tetap mulai hari itu, para guru sebenarnya pada tau soal mamanya Dewi, jadi tak kaget membaca tulisan itu, namun tetap menindaklanjuti mencari tau siapa yang menulis di setiap papan di tiap kelas.


Cctv tiap kelas diputar, ternyata mereka pintar, mematikan sekring listrik, lalu saat listrik menyala di papan tulis telah ada tulisan itu. Semua guru berpendapat pelakunya bukan satu orang. Saat mau jam istirahat Dewi ijin keluar kelas, dia langsung menuju ruang kepala sekolah.


"Selamat pagi Pak, saya mau minta ijin," kata Dewi.


"Ijin apa?" tanya Bapak Kepala Sekolah.


"Ijinkan saya bicara di ruang informasi," kata Dewi.


"Mau bicara apa?" tanya Bapak Kepala Sekolah.


"Saya mau bicara soal ibu saya," kata Dewi.


"Gak sah nak, itu artinya kamu terpancing, diam saja, kami pihak sekolah sedang mencari siapa pelakunya, bagaimanapun ini masuk dalam kasus bully, kamu harus tenang dan sabar, jaman sekarang semakin banyak kamu bicara, semakin banyak cara orang untuk menjatuhkan kamu walau kamu benar, diam bukan berarti kita salah, kita kalah, Diam adalah tindakan intelek agar kita tidak digoyahkan orang, ingat dia tetap mamamu, orang yang lahirkan kamu, yang besarkan kamu, kamu dibesarkan dengan baik, kami tau siapa ibumu, kerja apa, sejak kamu masuk sekolah disini, ibumu berusaha menaikan harga dirimu dengan menjadi donatur terbesar bagi sekolah ini, jadi jaga emosimu, tenang dan diam saja." Bapak kepala sekolah menasihati Dewi.


"Baik Pak," jawab Dewi, sambil tertunduk.


"Sana, lanjut masuk pelajaran," kata Bapak Kepala Sekolah.


Dewi kembali ke kelasnya, baru lima menit di dalam kelas, bel istirahat berbunyi, guru Fisika keluar.


"Wi, tadi kamu kemana? lama banget?" tanya Irfan.


"Ku bicara dengan Kepsek, tapi kepsek sarankan Akau diam saja," kata Dewi.


Rara dan Putri gantian datang kunjungi Dewi di kelasnya saat istirahat, Rara membawa bekalnya, Putri sudah belikan dua bungkus nasi untuk satu diberikan kepada Dewi.


"Wi, makan dulu, hari ini kamu gak sah keluar kelas dulu," Kata Putri.


"Lambat lain orang pun akan diam, melihatmu tenang, diam dan cuek," kata Rara.


"Sampai kapan mereka akan berpura-pura baik didepanku dan bicarain aku di belakang?" tanya Dewi.


"Wi, jika kamu pikir seperti itu, hatimu akan terasa berat, biar saja orang membicarakanmu, yang penting kamu kan gak rugiin orang," kata Rara.


"Makan dulu Wi, lagipula sekolah gak keluarkan kamu, malah bahayanya jika ketahuan siapa yang tulis, dia yang akan kena hukuman," kata Putri.


"Iya Bully harus dihapus dari sekolah ini," kata Rara.


Tidak tau siapa yang menyampaikan kejadian itu ke mamanya Dewi, mamanya Dewi langsung menelpon Kepala Sekolah,"Hallo Pak, maaf mengganggu, maaf saya bisa bicara lewat telepon saja? sebab jika saya ke sekolah maka akan tambah heboh, kasihan Dewi," kata mamanya.


"Iya Bu tidak apa-apa lewat telpon saja," kata Bapak Kepala Sekolah.


"Saya minta tolong usut tuntas penulisan-penulisan itu, sebentar akan datang dari Intel kepolisian, saya sudah hubungi, akan memeriksa secara resmi dan keseluruhan, mohon kerjasamanya pak," kata Mamanya Dewi.


"Baik Bu, kami pihak sekolah pasti akan bekerja sama dengan pihak yang berwajib, kami sendiripun masih mencari siapa dalangnya melalui pemeriksaan CCTV," Kepala Sekolah menjelaskan.


"Terima kasih pak, nanti kita tunggu hasil pemeriksaannya," kata mamanya Dewi.


Telpon pun ditutup.


Kepala sekolah langsung bertanya di WA grub guru, "Siapa yang lapor kejadian ini ke mamanya Dewi?"


Tak ada yang membalas, namun ada yang balas langsung," Siswa juga pegang HP, bisa jadi murid yang WA mamanya Dewi," kata salah seorang guru.


Tidak lama kemudian, Intel kepolisian datang, mereka melacak semua CCTV di sekitaran sekolah.

__ADS_1


Pulang sekolah Dewi biasanya ikut Bagas, kali ini tidak, dia memilih menjauh dari Bagas, dia gak tega jika Bagaspun akan jadi bahan gosip.


Dewi menghubungi mamanya, " Ma, jemput aku dong," pintanya.


"Ok, nanti kak Meli yang jemput," balas mamanya.


"Wi, kita duluan ya,"Pamit Rara dan Putri ke kelasnya Dewi.


"Ra hari ini pulang sama gua yuk, please," pinta Bima.


"Ok," jawab Rara.


Putri tidak melihat Irfan saat istirahat, dan saat pulang, namun ditepisnya segala pikiran.


"Lia gua mau bicara," Panggil Irfan di pintu kelas Balet.


"Harus sekarang?" tanya Lia.


"Iya," jawab Irfan.


Lia keluar,"Ada apa?" tanya Lia.


"Apa salah satu dari gengmu yang lakukan penulisan di papan tentang mamanya Dewi?" tanya Irfan.


"Kayanya bukan urusanmu, itu Dewi, bukan Putri," kata Lia.


"Lia, gua gak bisa begini terus, gua rasa cukup kedekatan kita, memang gua akui gua yang suka sama kamu duluan, hingga aku mau lakuin apa aja demi dekat sama kamu, namun ternyata Aku salah," kata Irfan.


"Kamu malu di buat seperti pembantu olehku?" kata Lia.


"Iya, aku sebenarnya ingin kita pacaran, seperti aku pernah bilang aku suka sama kamu," kata Irfan.


"Dan aku sudah jawab, aku gak mau pacaran sama kamu, kamu baik, tapi kalau sama kamu, masakh cuma ke tempat kecengan, aku yang bayar, dan sebagainya, this not my style," kata Lia.


"Apa?" tanya Lia.


"Jangan lukai Putri, dia gak ada hubungannya dengan kita," kata Irfan.


"Ya, ok, aku juga gak dekat sama Putri, cuma kemarin di toilet, yang nyolot juga Dewi," kata Lia.


"Ok, thanks Lia, dag," Irfan pamit dan pergi.


Lia kembali ke dalam kelas baletnya, namun dia langsung menutup semua kaca, pintu dikunci.


Lia berteriak," Siapa yang lakuin itu?"


Seluruh team balet hanya berbaris diam dan tertunduk.


"Ra, kita sekali-skali makan siang di luar," pinta Bima.


"Jangan saat hari sekolah, walau gak les tugasku mengurus makan malam dirumah, nanti kalau mau Sabtu," kata Rara.


"Sabtu biasanya mamanya Jojo ajak kamu jalan," kata Bima.


"Mau Minggu ini?, biar aku bicara ke ortuku, lalu sudah ada di Bu planningku," kata Rara.


"Iya Sabtu ini," kata Bima.


Rara lalu melihat jalanan luar, yang begitu ramai karena mau lebaran.


"Ra," panggil Bima.


"Ya," jawab Rara.

__ADS_1


"Kamu kok sekarang banyak diam, kalau Aku gak tanya gak akan jawab," kata Bima.


"Semua ada prosesnya Bim, aku lelah aja bicara dan mikir karena kejadiaannya Dewi," kata Rara.


"Pihak kepolisian sudah turun tangan, jadi sebentar lagi akan tertangkap," kata Bima.


"Gimana orang tua kamu baik-baik saja? soal Tia benar-benar sudah selesai?" tanya Rara.


"Aku dan Tia sudah resmi putus, orang tuaku gak ada yang larang lagi, aku dah cerita aku kembali PDKT dengan kamu," cerita Bima.


"Bim, kamu rasa gak, sebenarnya kita tu lebih cocok jadi temen, aku sudah gak rasa ser-ser lagi di hatiku," Rara sambil memegang dadanya.


"Beri aku waktu Ra, setidaknya sampai kenaikan kelas," Pinta Bima.


"Kamu masih sayang sama aku?" tanya Rara.


"Masihlah Ra, sayangku gak pernah ilang," kata Bima.


Rara akhirnya diam.


Pulang sekolah Jojo menceritakan semua ke maminya tentang Dewi, maminya turut prihatin, namun saat tau kepolisian telah turun tangan maka maminya berkata," Pasti akan terbongkar," kata Maminya.


Irfan pulang sekolah langsung ke Rumahnya Putri, Putri yang baru berganti pakaian akhirnya keluar rumah, di pagar Irfan langsung berkata," Aku cepat aja Put, aku sudah bilang ke Lia jangan suruh-suruh aku lagi," kata Irfan.


"Bagus, harus begitu," kata Putri.


"Put, kalau aku jadi temanmu, kamu mau kan?" tanya Irfan.


"Kita kan emang temanan," kata Putri.


Irfan diam.


"Fan, gak sah takut, jika gak dekat dengan teman yang mampu, yang ortunya kaya punya kedudukan, sedangkan kita hanya biasa-biasa, kamu pintar, kepintaranmu bisa membawa teman ke dekatmu, jadilah dirimu sendiri, syukuri yang kita miliki," kata Putri.


"Ok, Trims Put, karena aku memenuhi permintaanmu, untuk gak disuruh-suruh Lia, kamu mau penuhi permintaanku?" tanya Irfan.


"Kalau yang baik," kata Putri.


"Jangan pacaran denga Rio, dia akan lulus, dia lebih banyak pengalaman, dia akan pergi, kamu akan banyak tersakiti, nikmati masa sekolah dan kuliahmu dulu, perbaiki nilaimu," kata Irfan.


"Wah Irfan kasih gua nasehat, ok lah, tapi bukan karena kamu cemburu kan?" goda Putri.


Irfan kaget melihat sifat blak-blakannya Putri.


"Pokoknya jangan pacaran dengan Rio," pinta Irfan.


"Iya, sudah pulang sama, makan istirahat," kata Putri.


Irfan tersenyum lepas dan lebar, dengan Putri, Irfan bisa jadi dirinya sendiri dan dirinya menjadi berguna tanpa dia menyodor-nyodor tubuhnya untuk diperhamba.


"Selamat Siang Bu, ini dengan rumahnya Pak Handoyo?" tanya Pak Polisi.


"Benar pak, ada apa ya?" tanya pembantunya.


"Ada bapak ibu Handoyo, ada yang kami mau bicarakan," kata Polisi tersebut.


Kak Meli menjemput Dewi, dia sudah dapat cerita dari mamanya Dewi, Kak Meli berkata,


" Wi, sebuah masalah bukan sebuah hambatan tapi batu loncatan menuju ke hal yang lebih baik dan kehidupan yang indah, namun akan jadi masalah apabila manusia tersebut tak mau melangkah."


"Thanks kak," jawab Dewi, air matanya pun menetes juga dan menangis di dalam mobil, setelah sekian jam dia tahan agar tak menangis di sekolah.


Irfan memilih melangkah melepas Lia, Dewi memilih melangkah, namun yang menulis di papan dia tak memilih melangkah, maka yang ditimbulkan adalah masalah untuk dirinya.

__ADS_1


__ADS_2