Jejak

Jejak
Awal Semester Lima


__ADS_3

"Jo, hari ini ada jadwal Konsul ke dokter loh, jangan telat ya rapi-rapinya, supaya tepat waktu janjian dengan dokternya," Kata Mami.


Jojo hanya diam dan melihat ke jendela, Jojo telah kehilangan gairah hidupnya, dia tak mau bicara dengan siapapun,.yang ada hanya diam saja, tak mau diajak ke dokter.


Waktu telah menunjukan pukul delapan pagi, Jojo tetap tak mau bersiap untuk ke dokter.


"Jo bagaimana bisa sembuh jika kamu gak mau ke dokter!" Mami mulai meninggikan nada suaranya.


Jojo tetap diam tak bergeming.


Mami keluar dari kamar Jojo dan menangis, diambil ponselnya dan ditelpon Rara.


Rara yang sedang menunggu dosen di dalam kelas masih sempat mengangkat telepon dari Mami.


"Ra, kamu bisa bantu Mami?" Tanya Mami.


"Bantu apa Mi?" Tanya Rara.


"Ajak Jojo untuk terapi, kamu juga temani dia," Kata Mami.


"Bukannya gak mau Mi, Jojo saja tak mau bicara dengan Rara," Kata Rara.


"Coba dulu," Kata Mami.


"Ok Mi," Jawab Rara.


Akhirnya Pak Iwan masuk, Rara kembali belajar, setelah Rika yang lebih dekat dengan Dini, Rara tak terlalu berteman dekat dengan Rika, begitupun dengan teman lainnya. Rara lebih banyak menyendiri, dan sibuk bersama teman-teman kliniknya.


"Hallo anak-anak sekalian, kita kedatangan orang baru stok lama," Kata Pak Iwan.


Semua ramai bicara.


"Ayo masuk," Kata Paka Iwan.


Masuklah yang dipanggi Pak Iwan.


"Ari!" Jerit Dini.


"Assalamualaikum semuanya," Sapa Ari.


"Walaikumsallam," Balas teman-teman yang beragama Muslim.


Rara berusaha menyembunyikan kagetnya dalam diam, menahan bibirnya agar tak tersenyum, dan memeriksa hatinya apakah masih ada rasa untuk Ari.


"Sudah ya, tanya jawabnya nanti saja, kita lanjut belajar," Kata Pak Iwan.


Ari duduk di barisan kedua, namun dia menolehkan kepalanya ke belakang melihat Rara.


Selesai juga jam Pak Iwan, Rara kembali melihat ponselnya sedari tadi ponselnya bergetar.


Ada WA dari Kak Ruby, Mami dan dokter Ian.


Ra, Mami sudah hubungi Yohana, dan langsung aku dihubungi, kamu nanti kerja di klinik hanya hari Selasa, Kamis dan Sabtu, sebab Senin, Rabu dan Jumat kamu kamu jadi perawat pribadi seseorang. Kak Ruby mengirim pesan.

__ADS_1


Rara tidak langsung membalasnya, dia membuka pesan dari Mami.


Ra, Mami sudah hubungi ibu Yohana, kamu jadi perawat pribadinya Jojo ya, setiap Senin, Rabu dan Jumat, temani Jojo Terapi.


Rara-pun belum membalasnya, dia membuka pesan dari dokter Ian.


Perawatku apa kabar? wah, kamu mau jadi perawat pribadi ya, kok perasaanku gak enak ya, apalagi aku dengar pasiennya cowok, kita harus atur jadwal untuk jalan berdua ni.


Rara membalas pesan dari dokter Ian, dia dan dokter Ian baru saja berpacaran sebulan.


Kabarku baik, hari Sabtu kan bisa kita jalan seusai pulang dari klinik. Balas Rara.


Rara juga membalas pesan dari Mami. Baik Mami, kita mulai dari Jumat ini ya? atau Senin Minggu depan?


Tak lupa Rara membalas pesan dari Kak Ruby. Siap Kak, laksanakan.


Rara menarik napas dalam-dalam.


"Kayaknya lagi banyak pikiran," Ari mendekatinya.


"Apa Kabar?" Tanya Rara.


"Baik, kamu sendiri?" Tanya Ari.


"Baik juga," Jawab Rara.


"Aku selalu lihat Facebook dan status WhatsApp kamu kok, aku tau semua kegiatanmu," Kata Ari.


"Emang sudah lupain aku?" Tanya Ari.


"Belumlah, masakh cepat lupa, emang gua dah pikun." Kata Rara.


"Ini untukmu," Ari memberikan sebuah kotak kecil .


"Terima kasih," Kata Rara.


Dini melihat dari depan pintu, dan menarik napas.


"Tampaknya masih ada perasaan mereka berdua," Kata Joshua dari belakang Dini.


Rika yang salah tingkah dengan segala keadaan itu, memilih diam-diam jalan ke kantin.


Putri telah disetujui setengah skripsinya oleh pembimbing, dia duduk makan di depan ruangan kelasnya. Pernikahannya dengan Raka malah mau dipercepat di tahun ini pada bulan November. Putri tak bisa melawan dan mengeluarkan pendapat, dan tak berani bicara dengan teman-temannya. Nyatanya Bude Sri tak dapat membantunya.


Jangan lupa, pulang dari kampus langsung ke Gereja. Pesan Raka.


Ok. Jawab Putri.


Sesuai kuliah, Putri langsung melajukan motornya ke Gereja, tampak mobil Raka telah parkir di halaman Pastori. Raka dan Putri akan mengikuti pembinaan pra nikah selama empat bulan, sekali dalam seminggu. Hari ini pembinaan yang pertama.


Selesai pembinaan, Putri langsung pulang, Raka hendak memanggilnya namun karena Putri terkesan terburu-buru, Raka hanya diam dan melihatnya.


Saat malam hari Putri baru melihat ponselnya, enam panggilan tak terjawab dari Raka.

__ADS_1


Putri menelpon balik Raka. Hallo tadi telepon?


Iya, mau tanya sudah sampai rumah. Jawab Raka.


Oh ya udah, sudah ya. Putri langsung mau mengakhiri pembicaraan.


Jangan tutup telepon langsung dong, kok seperti males banget bicara sama saya. Kata Raka.


Aku sebenarnya gak mau nikah dengan kamu Mas, aku sebenarnya belum siap nikah dalam tahun ini, aku ingin selesai wisuda kerja dulu baru mikir nikah. Jawab Putri.


Raka diam mendengar suara parau menaha tangis di sana.


Putri langsung memutuskan teleponnya, air matanya jatuh berderai, dia akhirnya bisa bicara juga, Putri tak berani bicara saat berhadapan dengan Raka.


Raka terdiam, malam itu dia tak bisa tidur, dia sangat senang dengan pernikahan itu, dia gak mau melepas Putri, dan perasaannya terhadap Putri sudah semakin dalam.


Bagas akhirnya kembali bertugas di Jakarta, Dewi dengan wajah sumringah selalu menanti Bagas di setiap hari Sabtu. Cika selalu membuat kue untuk mereka makan bersama di cafe.


"Wi, hari apa tu aku lihat Irfan," Kata Bagas sambil makan kue buatan Cika.


"Dimana?" Tanya Dewi.


"Di kompleks rumahnya, tapi dia seolah-olah tak mau melihat aku," Kata Bagas.


"Aneh, itu juga yang terjadi saat Putri bertemu dengannya di swalayan," Kata Dewi.


"Mungkin dia sudah ada ceweknya," Kata Cika.


"Biarlah, toh calonnya Putri juga keren, dan sudah sangat disetujui oleh keluarga," Kata Dewi.


"Maksudmu?" Tanya Bagas.


"Putri mau menikah November ini, dia baru cerita ke aku dan Rara," Kata Dewi.


"Gila, masih kuliah dah mau nikah," Kata Bagas.


"Ku lihat cowoknya dan keluarganya yang takut jika Putri berpindah hari," Kata Cika.


"Aku sangat khawatir apakah Putri kuat, jangan sampai malah dia jadi tertekan," Kata Dewi.


"Kamu dan Rara yang harus kasih penguatan," Kata Bagas.


"Bagas jika kamu ditugaskan keluar kota lagi, saranku kamu nikah dengan Dewi sebelum pergi," Kata Cika.


"Aku si siap," Kata Bagas.


"Wi, dengar gak? gak usah tunggu wisuda, Putri aja semester lima dah mau nikah," Kata Cika.


"Kalau Mami setuju Ka," Kata Dewi.


"Aku akan bilang ke Mami," Kata Bagas tegas.


Dewi langsung tersenyum lebar dan memeluk Bagas dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2