
Setelah Jojo sadarkan diri, Mami langsung mengusahakan tindakan terapi sehingga Jojo bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Sebulan menjalani terapi akhirnya Jojo bisa duduk, akhirnya Mami bisa memutuskan untuk kepulangan mereka kembali ke Jakarta.
Setelah mengurus pengunduran diri Jojo dari universitasnya, mereka langsung pulang ke Jakarta. Papi sibuk bekerja, sehingga yang menjemput adalah Rara. Rara ijin dari kampusnya, untungnya hari itu hanya satu mata kuliah, pada pagi hari, sehingga selesai perkuliahan, Rara langsung ke Bandara dengan mobilnya Mami.
Rara sudah bercerita tentang Jojo ke Ari, jadi hari itu Ari tidak menunggu Rara pulang kuliah, hanya nanti malam dia jemput Rara di klinik.
"Ri, kamu gak jemput Rara?" Tanya Dini.
"Tidak, hari ini dia hanya satu mata kuliah dan ada urusan keluarga, jadi sudah pulang duluan," Jawab Ari.
"Kamu serius dengan Rara?" Tanya Dini.
"Iya, jika berjodoh insyaAllah sampai pelaminan," Jawab Ari.
"Soal agama?" Tanya Dini.
"Jika berjodoh akan dilancarkan," Jawab Ari.
Dini diam dan berjalan pergi, Sini sadar bahwa tidak ada peluang untuk dirinya mendekati Ari, karena Ari tidak memiliki perasaan kepadanya.
Mami tersenyum melihat Rara, Mami langsung memeluknya erat, Rara yang mengambil alih mendorong kursi roda Jojo.
"Bagaimana kuliahmu Ra?" Tanya Mami.
"Aman Mi," Jawab Rara.
"Kerjaan di klinik?" Tanya Mami.
"Lancar juga," Jawab Rara.
"Mi, di rumah sudah ada makanan, Mama sudah masak dan antar ke rumah, biar Mami istirahat dulu hari ini gak usah sibuk masak," Kata Rara.
__ADS_1
"Wah, terima kasih sayang," Kata Mami.
Mereka sampai juga di rumah Mami, Jojo langsung minta masuk kamar untuk tidur, Mami dan Rara yang mengangkatnya dari kursi roda ke tempat tidur. Jojo menutup matanya tak mau menatap Rara.
Selesai kuliah siang, Ari dipanggil dosen, "Ri, ada program pertukaran mahasiswa ke Kairo, kamu mau ikut?"
"Mau Pak," Jawab Ari.
Maka langsung di daftarkan dosennya.
Ari baru teringat Rara saat keluar dari ruangan dosen.
Ra aku ditawarkan untuk pertukaran mahasiswa ke Kairo, aku terima, Ari mengirim pesan ke Rara.
Rara yang sedang duduk di rumah Mami membaca pesan itu, sempat terkaget, namun ia akhirnya membalas pesan Ari. Wah bagus tu, semangat ya, aku dukung.
Sebulan setelah pendaftaran, Ari langsung berangkat ke Kairo, Rara hanya diam, dia tetap seperti awal tak pernah menyetujui hubungan jarak jauh. Rara kembali menyibukkan diri dengan klinik dan kuliahnya. Bedanya Dini, Josua dan Alex kembali mau berteman dengannya.
"Kabar baik," Sapa Rara.
"Gimana ni, LDRannya?" Tanya Dini.
"Gak ada yang LDR," Jawab Rara.
"Loh, jadinya putus?" Tanya Dini.
"Iya, aku gak suka LDR," Jawab Rara tegas.
Dini akhirnya diam.
Malam valentine Rara mendatangi cafe Dewi dan Cika.
__ADS_1
"Oh no, lihat siapa yang datang," Teriak Cika.
Dewi berbalik dan menjerit, "Rara....!"
Rara dan Dewi berpelukan, Rara menangis.
"Why Ra, kenapa nangis?" Tanya Dewi.
"Aku rindu Ari," Jawab Rara.
"Dia kemana, kalian putus?" Tanya Dewi.
"Dia ikut pertukaran mahasiswa di Kairo, dan aku gak mau LDR, jadi Putus," Jawab Rara.
"Sudahlah, mana gak seiman juga kan, dah kita nongkrong aja di sini, ku hubungi Putri ya, siapa tau dia bisa bergabung," Kata Dewi.
Dewi segera menelepon Putri.
Hallo Put, ayo ke cafe, ada Rara ni. Kata Dewi saat Putri mengangkat teleponnya.
Ok. Jawab Putri di sebrang sana.
Satu jam kemudian munculah Putri di pintu cafe, Dewi sangat senang melihat kedua temannya berkumpul disini.
"Ayo lupakan segala yang terjadi, kita lalui hari ini dengan semangat!" Teriak Dewi.
"Ayo ...!" Putri juga ikut berteriak.
"Gua cuma mau bilang, terima kasih ternyata kasih sayang persahabatan kita tak pernah usang dilalui waktu," Kata Rara.
"Lebay banget yang lagi putus cinta," Kata Cika.
__ADS_1
Semua tertawa.