
Seumpama ada peluang yang menguatkan Putri untuk pergi melepaskan diri dari Arya, dia akan pergi, namun harus tunduk dengan ketentuan yang di atur oleh paman dan bibinya.
Arya datang mendekati Putri dan bertanya, "Sudah makan Put?" Putri menjawab, "Sudah."
Arya melihat bergantian ke arah Rio dan Putri, namun Putri enggan mengenalkan Rio kepada Arya. Rio yang mengerti situasi yang terjadi, Rio langsung memperkenalkan dirinya, "Saya Rio, kakak kelasnya Putri waktu SMA." Arya menjawab, "Oh ya salam kenal, saya Arya, saya ke bawah dulu ya."
Rio hanya mengangguk, Putri hanya tersenyum kecut. Arya segera pergi ke bawah, Putri menarik Napas dalam-dalam. "Kak, bisa gak bawa aku pergi jauh?" Tanya Putri. "Aku belum bisa jawab sekarang Put," Jawab Rio.
Usai sudah acara ulang tahunnya pacarnya Arya, Arya menelpon Putri, Put, ayok pulang. Putri tak menjawab, langsung mematikan ponselnya,Ndan berpamitan, "Kak Rio, aku pulang dulu." "Hati-hati Put, kalau ada apa-apa jangan segan-segan curhat sama aku, walau aku bacanya telat, tapi pasti aku akan bantu jika aku bisa," Kata Rio.
"Thank you kak," Kata Putri.
"Sama-sama," Jawab Arya.
Putri turun ke lantai satu, dan seger keluar cafe, Arya sudah menunggu di depan pintu cafe, lalu mereka masuk ke dalam mobil.
"Kamu dekat dengan Rio?" Tanya Arya.
"Mau dibilang dekat juga gak, dibilang jauh, juga tidak," Jawab Putri.
"Trus tadi dia tanya siapa aku?" tanya Arya.
"Iya," Jawab Putri.
"Kamu jawab apa?" Tanya Arya.
"Jawab yang sebenarnya," Jawab Putri.
"Maksudnya?" Tanya Arya.
Putri malas menjawab dia hanya diam dan menatap keluar jendela mobil.
"Putri, saya bertanya," Kata Arya.
"Dan saya sudah jawab," Kata Putri.
"Jawab apa? Kamu belum Jawab!" Arya mulai meninggikan suaranya.
Putri masih hanya diam, dia benar - benar malas menjawab pertanyaan Arya.
Akhirnya Arya sadar, Putri sedang menahan emosinya.
Sesampainya di rumah, Arya berpamitan dengan bude, "Bude, saya langsung pulang ya."
"Hati-hati ya nak Arya," Kata Bude.
Putri benar-benar pintar bermain peran, dia senyum dan menatar Arya, menemani Bude,
__ADS_1
Arya hanya menatap tajam melihat Putri, ada sedikit rasa merinding melihat sikap Putri.
Putri langsung masuk kamarnya dan berusaha tidur, namun tak bisa yang ada Putri menangis dalam diamnya.
Malam Minggu Josua menjemput Rara, Mamanya Rara kali ini menyambut Josua dengan sangat ramah, "Nak Josua, jika ada waktu, kapan-kapan gak sah jalan-jalan, tapi duduk-duduk di sini, ngobrol dengan Tante, Riris dan Rinly."
"Baik Tante, nanti kan Natal, aku ajak Rara jalan ke keluargaku, nanti terakhir, aku duduk disini ngobrol," Jawab Josua.
"Wah, Abang ni langsung disambut saja tawaran mama," Goda Riris.
"Iya lah, tak boleh di sia-siakan," Jawab Josua.
Mamanya Rara dan Riris langsung tertawa, Rara keluar dari rumah setelah bersolek, dia mendengar semua perbincangan di depan rumah.
"Ayo Bang jalan, supaya gak kemalaman pulang," Kata Rara.
"Jalan dulu ya Tante," Pamit Josua.
Tiba-tiba mobil parkir di depan rumah, Mami segera turun dan mengucapkan, "Selamat malam."
Serentak Mamanya Rara, Riris, Rara dan Josua membalasnya, "Selamat Malam."
"Rara mau pergi?" Tanya Mami.
"Iya Mi, kenalkan ini Abang Josua," kata Rara.
Josua menyodorkan tangannya, Josua.
"Mami ada-ada aja," Kata Putri.
Wajah Josua sempat berubah warna, agak tak suka namun ditepisnya perasaan itu dengan tertawa.
"Saya sekali, padahal Mami mau ajak Putri malmingan," Kata Mami.
"Kapan-kapan ya Mi," bujuk Rara.
"Oklah Ra, hati-hati ya, Josua jaga anak mantunya Mami," Kata Mami.
"Pasti, Josua jaga," Josua menjawab dengan tegas.
Josua dan Rara segera masuk ke dalam mobilnya Josua, Dan pergi. Mami dan Jojo yang sedari tadi di dalam mobil pun pergi.
"Bang, jangan masukin di hati perkataan Mami tadi ya," kata Rara.
"Gak lah, itu tandanya kamu bernilai bagus di mata orang tua," Kata Josua.
"Kita mau kemana Bang?" tanya Rara.
__ADS_1
"Makan dulu ya, abis itu kita beli kado untuk Natal nanti ku kasih mamaku," Kata Josua.
"Ok, makan apa ni?" Tanya Rara.
"Kamu sukanya apa?" Tanya Josua.
"Malam gini enaknya nasi goreng kali ya, di samping Borobudur Mall, sekalian sebelahnya bisa cari kado," Kata Rara.
"Ok," Jawab Josua.
Sambil menunggu pesanan bakso Josua bertanya kepada Rara, "Hubunganmu dengan Bima saudaranya Nindi gimana?"
"Sudah berakhir lama, kemarin tu cuma salam kangen, Bima dari dulu memang susah untuk lepas dariku," kata Rara.
"Kalau boleh tau, kamu yang putusin dia atau dia yang putusin kamu?" Tanya Josua.
"Gini Bang, Bima tu dijodohin waktu SMA dan saat itu, aku diputusin apalagi ceweknya juga satu sekolah denganku, namun tiba-tiba mereka membatalkan pertunangan, lalu Bima kembali bersamaku, kembali karena dia yang berusah mendekatiku, setelah itu aku yang minta putus, dan dia setuju, dan kita lulus SMA," Cerita Rara.
"Bima yang belum kelar perasaannya dengan kamu," Kata Josua.
"Tapi orang tuanya awalnya dulu dukung, gak boleh pacaran sama aku, namun karena tau aku dekat sama Mami langsung baikin aku," Kata Rara.
"Biasa, sifatnya gak beda sama Dini, sombong," kata Josua.
Nasi goreng mereka tiba, selesai melahapnya, mereka langsung memilih kado Natal untuk diberikan ke mamanya Josua, lalu Josua mengantarkan Rara pulang ke rumah.
Dewi dan Cika menikmati pisang goreng sambil duduk di depan rumah, "Cika, waktu SMA, kamu pernah suka sama cowok?"
"Pernah, aku suka Irfan," Jawab Cika tegas.
"Ya ampun, Irfan banyak penggemarnya," Kata Dewi.
"Iya, namun Irfan sukanya sama Lia, lalu berubah ke Putri," Jawab Cika.
"Apa yang kamu suka dari Irfan?" Tanya Dewi.
"Dia tu baik banget, ada ketulusan dan sopan banget," kata Cika.
"Kayaknya kamu masih suka sama dia," Kata Dewi.
"Iya," Jawab Cika tegas.
"Wah, segitu dalemnya perasaanmu," Kata Dewi.
"Sama kayak kamu kan Wi, kamu gak pernah bisa move on dari Bagas, walau kalian seperti putus namun sebenarnya tidak," Kata Cika.
"Iya ya Cika, kita dua tu tipe cewek yang sama yang susah cepat move on, dan mudah berganti hati," Kata Dewi.
__ADS_1
Malam Minggu ini kembali Putri dijemput Arya dan langsung nongkrong di sebuah restaurant, sedikit berbeda pemilihan tempat dari biasanya, Putri melihat ada perubahan situasi antara dua orang yang lagi makan, tak berhenti wanita yang bersama Arya menatapnya, Putri sepertinya paham, Arya telah menjelaskan posisi dirinya yang selalu diantar jemput oleh Arya.
Putri mulai bosan, dan pergi keluar restauran, duduk di taman restauran dan berselfie menghibur diri sendiri, setelah itu bosan juga, Putri termenung menatap restaurant yang besar di depannya dan air mata kembali membasahi pipinya, rasa sesak di dadanya begitu terasa.