
Dulu aku menggebu-gebu, sekarang aku ogah-ogahan, melihat ramainya lapangan aku tak pernah lagi ingin tahu, seakan duniaku lenyap setelah putus dari Rara.
Bima hanya diam dan malas tau, dan tak ingin tau apa yang terjadi, dia dan Irfan lagi berjalan dari perpustakaan mengambil buku paket yang akan dibagi di kelasnya.
"Ada, apa si Bim, sepertinya ada yang jatuh," kata Irfan.
"Gak tau," kata Bima.
"Itukan kelasnya Rara, dan Putri, siapa ya yang jatuh?" tanya Irfan.
"Tanya aja sendiri sana," kata Bima.
"Yaelah, kita lagi bawa buku gini masakh lari ke lapangan," kata Irfan.
"Mereka gotong tu ke UKS," kata Bima.
Irfan dan Bima masuk ke kelas, membagikan buku paket kepada teman-temannya, dan mereka mulai lagi pelajaran.
Pas jam istirahat, Irfan langsung ke kelasnya Rara, Irfan celingukan sana-sini, dan dia bingung tak ada Rara, tak ada Putri, yang ada hanya Bagas.
"Bagas, siapa yang tadi jatuh?" tanya Irfan.
"Putri," kata Bagas.
Irfan langsung lari secepat kilat, namun dia terkaget di dalam UKS sudah ada Rara, dan satu cowok, seingat dia kakak kelas mereka.
"Ra," panggil Irfan.
Rara menoleh melihat Irfan, lalu mengkode agar Irfan masuk.
"Putri kenapa?" tanya Irfan.
"Kata dokter tadi si, kurang darah, tensinya rendah, ntar lagi Tantenya datang," kata Rara.
Irfan dan cowok itu saling pandang, Kakak kelas itu langsung memberikan tangannya untuk berkenalan ke Irfan, Irfan juga walau segan namun demi sopan santun akhirnya berjabatan.
"Rio," Katanya.
"Irfan," balas Irfan.
"Kak Rio, tadi yang bantu Gendong Putri, teman sekelas semua pada lamban tindakannya, untung ada kak Rio," Kata Rara.
"Terima kasih," jawab Irfan.
"Sama-sama, gak apa-apa kok, kamu pacarnya atau saudaranya?" tanya Rio.
Irfan bingungau jawab apa, jika jawab teman, ada di hatinya tak nyaman , jika jawab pacar, belum ada persetujuan.
"Teman," yang jawab Rara.
Rio hanya senyum,"Ra, nanti hubungi aku ya jika dia sudah siuman," kata Rio.
Rio langsung keluar dari UKS.
"Fan, kenapa si Lo susah jawab pacar atau saudara?" tanya Rara.
Irfan masih tak mau menjawab, dia hanya melihat Putri, jujur ada kekhawatiran dalam hatinya untuk Putri.
"Ra, kamu kan abis olahraga juga, perlu istirahat, istirahatlah nanti Putri ku yang jaga," kata Irfan.
"Ok," kata Rara.
Rara keluar dari ruangan UKS, langsung ke kantin beli minuman," Gua pikir lintang jatuh Ra," kata Jojo dari belakang.
"Bukan Putri," kata Rara.
"Kemarin kan, Lo yang lemes, lelah," kata Jojo.
__ADS_1
"Itu kemarin," kata Rara.
"Minum ini, makan ini," Jojo kasih Rara minuman dan roti.
"Lo gak makan Jo?" tanya Rara.
"Gak, makan gi, supaya gak mudah lelah," kata Jojo.
"Ok thanks," Rara kembali ke kelas, Bima hanya melihat dari jauh.
Tantenya Putri datang menjemputnya, Putri sudah siuman, "Irfan makasih ya sudah temani Putri," kata Tante.
"Sama-sama Tante, sebenarnya dari tadi ada temannya Putri juga yang jaga, Rara dan Rio," kata Irfan.
"Rio?" tanya Putri.
"Iya, kakak kelas yang gendong kamu," kata Irfan.
"Thanks ya Fan," kata Putri.
Rara langsung datang sambil bawa tasnya Putri,"Istirahat dulu aja Put," kata Rara.
"Iya, Thanks ya Ra," kata Putri.
Putri pun pulang.
Sartika muncul, di depan UKS, "Fan, jangan sampai karena pergi belanja, dia kelelahan dan pingsan," kata Tika.
"Semoga gak, makanya ku langsung lari ke sini," kata Irfan.
"Semoga aja dia baik-baik ya," kata Tika.
Irfan pun jalan kembali ke kelasnya.
Rara hari itu sendirian di kelas, Bagas pindah duduk di depan, Rara pun senang,"untung lo cepat pindah kesini, sebelum yang lain," bisik Rara.
"Aduh, tau deh, banyak hal," kata Rara.
Dalam bayangan Rara, Jika Kiki yang pindah ke depan, dia harus sabar mejanya akan bergoyang terus, karena Kiki suka menggoyangkan kaki.
Jika Widi yang pindah ke sampingnya, dia pasti akan di ributi dengan berbagai pertanyaan, sebab Widi agak lelet sering mengulang pertanyaan hingga tiga kali.
Karuan Bagas lah yang disampingnya, selain sudah kenal, dan dekat, Bagas masih bertingkah selayaknya orang normal.
"Ra pulang sekolah, kamu masih sering naik bis?" tanya Bagas saat jam pelajaran terakhir.
"Iya," kata Rara.
"Frangky masih duduk disampingmu?" tanya Bagas.
"Iya, tapi kita jarang ngobrol, kalau bukan dia yang bertanya duluan," kata Rara.
"Aneh ya, kenapa dia gak ikut mobilnya Bima," kata Bagas.
"Biarlah, aku juga dah malas tau," kata Rara.
Bel pulang sekolah pun berbunyi, Rara berjalan pelan-pelan ke halte Bis, hingga duduk di bis.
Frangky pun naik Bis dan tetap duduk di samping Rara.
"Tadi aku dengar Bagas tanya, apa aku masih sering duduk sama kamu di bis," kata Frangky.
Rara hanya diamin.
"Gua rasa, Bagas tu mata-matanya Jojo, tapi biarlah, aku cuma rasa aneh aja, jika kita satu bis, gak duduk bersama padahal satu kelas," kata Irfan.
Rara tetap diam.
__ADS_1
"Ra, apa susahnya ngobrol sama gua si, gosipnya apa kek, ceritain apa kek, misal cowok yang tadi gendong Putri, itu siapa?" tanya Frangky.
"Rio, kakak kelas, aku juga baru tau dia tadi," kata Rara.
"Lalu, Irfan sama Putri pacaran?" tanya Frangky.
"Gak, hanya teman," jawab Rara.
"Kamu punya adik Ra?" tanya Frangky.
"Ada dua," jawab Rara.
"Ra, aku tu tulus mau berteman denganmu, pengen ngobrol santai denganmu," kata Frangky.
"Frang, gak sah jelaskan berulang-ulang, kamu kayak kena penyakit COD aja, aku paham, cuma aku bingung bahan pembicaraan apa yang cocok untuk kita dua," kata Rara.
"Banyak, contoh soal pelajaran tadi, pelajaran sejarah Indonesia, disuruh buat poster, kapan rencana kelompokmu akan buat?" tanya Frangky.
"Besok, soalnya pas waktunya aku gak les," kata Rara.
"Menurut kamu, teman kita Widi itu terkena penyakit COD?" tanya Frangky.
"Iya," kata Rara.
"Ra, gua susah kerjain Fisika PRnya besok dikumpul, bisa bantu?" tanya Frangky.
"Sore ini gua les,nanti VC saja,"kata Rara.
Gak terasa sudah sampai di ujung lorong masuk untuk menuju rumahnya Rara.
"Gua duluan," kata Rara.
"Ok, hati-hati," kata Frangky.
Riris mendapatkan hasil yang bagus dalam ujian tengah semesternya, dia sudah mengirimkan nilai-nilai rapotnya ke sekolah SMA Anak Panah secara online untuk pendaftaran jalur prestasi.
"Kak, ini nilai-nilaiku," pamer Riris begitu Rara tiba di rumah.
"Jangan sombong, diatas langit masih ada langit," kata Rara.
"Bukan sombong, tapi aku kasih lihat bukti bahwa aku belajar," kata Riris.
"Aku percaya kamu belajar Ris," kata Rara.
Ponsel Putri berbunyi, Putri mengangkatnya,
"Hallo..," sapa Putri.
"Hallo, bagaimana keadaanya?" tanya suara itu di sana.
"Sudah sehat, ini siapa ya?" tanya Putri.
"Yang minta no hpmu di saat kamu jaga bazar, dan yang gendong kamu tadi saat jatuh, kamu siuman kok gak hubungi aku," kata dia.
"Kak Rio ya?" tanya Putri.
"Iya, beneran sudah sehat?" tanya Rio.
"Iya sudah Kak," kata Putri.
"Puji Tuhan, besok sekolah ya, akan ada kejutan untukmu," kata Rio.
Dulu menggebu-gebu perasaan Putri untuk Irfan, namun sekarang tidak lagi, walau cerita kehidupan dan waktu membuat mereka dekat namun Putri tak pernah mengembangkan perasaannya lagi, karna ia tak mau sakit hati, lalu bagaimana dengan Rio...
Putri khawatir pilihannya salah, dia hanya ingin di jalannya sendiri.
Putri tak mau ikut-ikutan bahwa masa SMA harus punya pacar.
__ADS_1
Putri beristirahat namun pergolakan batin dan permenungan jiwanya terus meronta, berpikir dan berharap semua akan baik-baik saja.