
Setelah kejadian malam itu, hubungan Bima dan Rara renggang, tak ada kata putus terucap, namun tak ada juga kata sapa untuk memulai percakapan, tak ada yang niat membuka pembicaraan baik hanya lewat WA, Bima berat ungkapkan bahwa dia kecewa dengan ketidakjujuran Rara yang pergi berdua dengan Jojo. Rara yang sudah tak tega mau ungkapkan ke Bima bahwa segala rasa di hatinya untuk Bima telah hilang.
Anak Kelas Tiga SMA Bakti akhirnya harus menghadapi juga yang namanya Ujian Sekolah menggunakan komputer, secara online.
Putri sempat terasa gugup saat mau ujian di hari pertama, Irfan melihatnya duduk di depan kelas.
"Put, kamu kelihatan gugup?" tanya Irfan.
"Iya, tegang juga," kata Putri.
"Rara mana?" tanya Irfan.
"Lagi di ruangannya, kita beda ruangan," jawab Putri.
"Ijin ya," kata Irfan.
"Ijin apa?" tanya Putri.
"Pegang tangan kamu," kata Irfan.
"Boleh," jawab Putri.
Irfan menggenggam tangan Putri, "Kamu tenang, pasti semua bisa dilalui, kamu jangan khawatir, pasti bisa kok kerjain ujiannya, kamu kan sudah belajar," kata Irfan.
"Iya, trims Fan kamu sudah beri aku semangat," kata Putri.
"Gas, pokoknya apapun yang terjadi you gak boleh bawa contekan ke kelas," ancam Dewi.
"Iya, tidak," jawab Bagas.
"Kamu tau kalau kamu ketahuan bawa contekan, atau bawa HP, kamu harus ujian ulang loh," kata Dewi.
"Iya," suara Bagas tegas menjawab Dewi.
Ujian hari pertama telah terlewati, sebagian besar anak-anak langsung pulang ke rumah. Ada bisik-bisik dari sekelompok anak, yang mengisukan bahwa Lia bawa contekan ke ruangan, tapi saat hari pertama itu belum ditindak.
Rara dan Jojo selama ujian, malamnya tetap les, jadwalnya disesuaikan dengan jadwal ujian, mereka berlatih mengerjakan soal-soal dan harus sesuai waktu yang diterapkan saat ujian.
"Gua lapar banget Ra, boleh gak kita makan dulu, pulang Lo masih belajar lagi?" tanya Jojo.
"Gak ah, dah lelah juga ni otak mikir," kata Rara.
"Dengar-dengar tadi dari yang seruangan dengan Lia, dia bawa HP ke ruang ujian," kata Jojo.
"Belum ditindak guru, kita lihat aja besok," kata Rara.
Selesai makan malam, mereka langsung pulang ke rumah, "Hati-hati Jo, pulangnya, jangan ngantuk," kata Rara pas turun dari mobil.
__ADS_1
"Iya, sampai jumpa besok," kata Jojo.
"Selamat malam ma," sapa Rara.
"Malam, langsung mandi air hangat, dan tidur," perintah mama.
"Iya," kata Rara.
Tibalah di hari ketiga ujian, Lia dikeluarkan dari ruang ujian, hebohlah seluruh sekolah.
"Gila dia, sebodoh-bodohnya gua, masih tau ini ujian," kata Bagas.
"Mencoba guru dia," kata Bima.
Jojo yang seruangan dengan Bima, namun mereka tak pernah saling bicara sejak kejadian malam itu di taman kota.
Ujian hari ketiga itu adalah pelajaran Fisika, Putri sampai sakit perut sejak pagi, tingkat stress dan khawatirnya sangat berlebihan, jadi walau seluruh sekolah heboh dengan terusirnya Lia, Rara dan Dewi sibuk menenangkan Putri.
Irfan berlari langsung ke ruangan Putri, setelah membaca pesan dari Dewi.
"Put, bagaimana keadaanmu?" tanya Irfan.
Putri gak menjawab, hanya meringkuk, menahan perutnya.
"Kamu tegang kali ya, Wi, urut-urut bagian pinggang belakangnya, kasih hangat dengan minyak kayu putih, Rara, urut-urut tangannya, aku urut kakinya," Irfan langsung memerintah.
"Put, jika you tegang gini, yang rugi dirimu sendiri, masih ada pelajaran lain, selain fisika," kata Irfan.
Bagas datang," Kenapa Putri?" tanyanya.
"Sakit perut," kata Dewi.
"Mag kali, sabar ya gua ambil obat mag," Bagas langsung berlari ke ruang UKS.
Sebaliknya dari ruang UKS, Bagas langsung memberikan obat mag yang dikunyah ke Putri.
"Kalau mag, lebih baik jika ditambah dengan air gula hangat, gua minta di kantin dulu ya," kata Rara.
"Ada di ruang UKS kok, dispenser, gula pasir lengkap dengan gelas sendok," kata Dewi.
"Ok sabar ya," kata Rara.
Setelah obat mag, dan air gula hangat masuk, Putri keringat dingin, dan akhirnya suhu badannya hangat, mulai sembuh dan tenang.
"Ganti baju yuk Put, nanti gua gosokin minyak kayu putih, gua ada baju seragam cadangan," ajak Dewi.
"Iya gak baik, keringat kering di badan," kata Rara.
__ADS_1
Putri diantar Irfan, Rara dan Bagas ke UKS, Dewi segera berlari ke mobilnya ambil seragam cadangannya.
Rara sudah berganti seragam.
"Put, kamu siap untuk ujian PPKn?" tanya Irfan.
"Bisa," jawab Putri.
Akhirnya Suara Putri terdengar juga, sejak awal sakit dia hanya diam.
Semua menarik napas lega, bel tanda peserta ujian harus masuk ke kelas untuk ujian jam kedua.
Putri dan teman-temannya pelan-pelan melangkah kembali ke ruangan ujiannya.
sebelum Putri masuk ke ruangan, Irfan nekat menarik tangannya Putri, di cium keningnya Putri, sempat membuat heboh satu kelas.
Dewi dan Rara yang mengantarkan Putri pun kaget.
Tibalah di hari terakhir les, karena esoknya adalah hari terakhir ujian, sepulangnya dari les, sambil makan malam
"Ra, akhirnya selesai juga ujian, gua senang banget," kata Jojo.
"Gua ada senangnya dan ada sedihnya, ntahlah," kata Rara.
"Bima sejak malam itu pernah bicara sama Lo?" tanya Jojo.
"Gak, gua juga segan mau bicara duluan, biarlah, mau bicara lagi sibuk belajar untuk ujian," kata Rara.
"Lebih baik berdamai sebelum lulus SMA, walau putus, tapi damai," kata Jojo.
"Iya, sebenarnya Jo, aku tu dah bilang sama dia, aku sudah gak ada perasaan lagi sama dia," kata Rara.
"Dia gak salah juga Ra, jika masih ada rasa untukmu, tapi mungkin terlalu maksa, sedangkan tau bahwa kamu sudah gak suka dia," kata Jojo.
"Biarlah, nanti jika ada kesempatan, aku akan mulai pembicaraan, Jo, you baik-baik ya di negeri orang," kata Rara.
"Iya, you juga tetap komunikasi, jangan ilang kontak dengan gua," kata Jojo.
Malam itu, gerimis membasahi bumi, Rara pun menangis dalam diam, ntah hatinya sedih melewati malam terakhir les berduaan dengan Jojo, ada jejak perasaan yang susah diungkapkan Rara.
Besoknya ujian hari terakhir, Kimia dan ekonomi, selesai ujian, seluruh siswa dikumpulkan di ruangan aula sekolah SMA Bakti, wakakur ibu Riani berdiri di atas panggung.
"Perhatian anak-anak, ujian telah usai, bagi yang membutuhkan rapot untuk daftar kuliah bisa ke sekolah dengan menggunakan seragam rapi, lunaskan SPP kalian agar tidak terhambat untuk pengambilan ijasah, setiap ketua kelas hari Senin akan diadakan rapat persiapan malam perpisahan kalian, yang di rencanakan Rabu Minggu depan, kalian sekarang boleh pulang, hati-hati jangan ngebut," kata Bu Riani.
Semua anak buru-buru keluar aula, Rara berjalan pelan-pelan, tangannya ditarik dari belakang, Rara menoleh, ternyata Bima yang menarik tangannya.
"Bisa bicara sebentar? pulang sama gua ya," kata Bima.
__ADS_1
"Ok," jawab Rara.