
Seperti tak mempunyai harapan lagi, pandangan Jojo hanya kosong ke depan.
"Selamat Pagi Jo," Sapa Mami.
Jojo tak menjawab, dia hanya diam. Mami sudah berusaha segala cara dengan memberikan terapi fisik dan psikologisnya.
Sewaktu di rumah sakit di Australia, banyak yang membantu Jojo dalam perawatan, saat mandikan, dan semuanya. Ketika di rumah ini, Mami hanya mempekerjakan seorang perawat laki-laki untuk memandikannya, sedangkan untuk terapi Mami membawanya ke tempat praktik.
Terapinya ada yang pagi hari dan sore hari, setiap hari.
"Sabar Bu, memang belum ada kemajuan," Kata Dokter yang menangani Jojo.
Sebulan di Jakarta, Jojo akhirnya berkata, "Berikan HPku."
Mami senang sekali, langsung diberikan ponselnya, ponsel baru, Jojo sudah mulai bisa menggunakan tangan dan jarinya, cuma belum bisa berdiri sendiri apalagi jalan.
Jojo masih ingat semua email dan passwordnya sehingga dengan mudah dia kembali mengakses semuanya. Sekedar mencoba dia hubungi cewek-cewek yang biasa mendekatinya.
"Hai Gea, apa kabar? aku di Jakarta," Kata Jojo.
"Oh ya, sejak kapan? ok besok ya aku ke rumahmu," Kata Gea.
Keesokan pagi, Jojo sudah bangun pukul 5 dia segera membersihkan diri, dan siap menunggu kedatangan Gea. Pukul tujuh pagi, Gea tiba di rumah Jojo, Mami menyambut Gea dengan senyum manis, "Mari masuk nak."
Gea masuk, dan langsung terdiam saat melihat Jojo duduk di kursi roda.
"Mari duduk Gea," Kata Mami.
Gea duduk dan melihat Jojo dengan tatapan kaget, dan tak enak.
"Jojo kecelakaan, jadi pulang ke Jakarta," Kata Mami.
"Oh... Maaf Jo, aku gak bisa lama-lama, aku ada urusan," Gea langsung berdiri dan pamit.
Jojo hanya diam dan masuk kamar, akhirnya dia mencoba dengan cara panggilan video sehingga teman-temannya telah tau keadaannya.
"Hai, aku sudah di Jakarta," Kata Jojo.
"Kamu duduk di kursi roda?" Tanya Santi.
"Iya, aku kecelakaan," Jawab Jojo.
"Wah, parah ya, tapi masih ada harapan untuk jalan kan?" Tanya Santi.
"Masih, jika aku mau rajin latihan," Kata Jojo.
"Ok, semangat ya Jo," Kata Santi.
Hampir semua cewek yang dia hubungi jawabannya seperti itu, tak ada yang berniat bahkan hanya untuk menjadi teman ngobrol.
"Cika, aku lagi bosen ni, ada waktu gak untuk ngobrol?" Tanya Jojo.
"Maaf Jo, aku lagi persiapan untuk acara tunangan ku," Kata Cika.
"Oh ya, gak apa-apa," Jawab Jojo.
Jojo merasa sedih, dia ingat, jam berapapun Cika menelponnya, Jojo akan selalu meladeni. Hanya tinggal satu orang yang Jojo tak mau hubungi, Rara.
Rara menikmati masa kuliah di semester empat, kata orang semester empat adalah masa membosankan, namun bagi Rara mitos itu tak benar. Klini kedatangan dokter baru, dokter spesialis penyakit dalam namanya dokter Ian.
Dokter Ian sangat ramah, apalagi ke Rara, setiap sore ada saja yang di bawa, mulai banyak yang mengganggu, "Dokter tu suka kamu Ra," Kata Ruby. "Ah, gaklah," Kata Rara.
Dokter Ian memang sering menghubungi Rara, jika telat ke klinik, atau sekedar bertanya apakah sudah banyak orang yang antri, namun akhirnya ada satu pesan yang membuat Rara kaget.
Ra, hari Minggu Gereja bareng aku ya. Pesan dari dokter Ian.
Boleh. Jawab Rara.
Rara berpendapat apa salahnya mengenal beberapa cowok dalam hidupnya, jika tak berjodoh dan harus putus, ya pasti akan datang lagi.
"Put sakit magnya tidak kambuh?" Tanya Mika.
"Ayo fokus, besok harus presentasi," Kata Putri.
"Pastilah fokus," Kata Mika.
Sesampainya di kantor, Putri kembali mengerjakan segala tugasnya, jika ada waktu dilanjutkan setengah skripsinya tersebut.
"Put, besok aku yang jemput kamu pagi-pagi ya, kamu siapkan baju ganti, malam kita dinner," Kata Raka.
"Ok," Jawab Putri.
__ADS_1
Raka kembali melihat Putri dua menitan, dan menarik napas dalam-dalam.
Sore itu Dewi dan Cika sedang mempersiapkan cafe mereka, "Besok aku sudah praktik mengajar di depan Ka, kami di suruh buat skenario mengajar," Kata Dewi.
"RPP maksud kamu?" Tanya Cika.
"Iya RPP, apa kepanjangannya?" Tanya Dewi.
"Rancangan Proses Pembelajaran," Jawab Cika.
"Iya itu, aku sudah buat si, ntar kamu lihat ya, sudah bagus belum, atau kalau hari ini sepi, aku praktik ngajar di depan kamu dulu," Kata Dewi.
"Boleh, kalau dosenku Pak Gatot, tugas buat RPP harus tulis tangan," Kata Cika.
"Gila, sebanyak itu tulis tangan," Kata Dewi.
"Iya tulis tangan, semangat demi sarjana," Kata Cika.
"Demi cari uang sendiri," Kata Dewi.
Dewi dan Cika sama-sama tertawa.
Keesokan paginya Raka sudah menjemput Putri.
"Selamat pagi Bude, hari ini aku antar jemput Putri ya, sampai malam karena kami mau dinner," Ijin Raka.
"Boleh, asal hati-hati," Kata Bude Sri.
Putri masuk ke dalam mobil dan dia langsung berkata, "Mas, ntar turunkan aku di pagar samping ya, jangan pagar utama," Kata Putri.
"Memang kenapa kalau pagar utama?" Tanya Raka.
"Terlalu ramai, padat, nanti macet," Jawab Putri.
"Ohhh bukan karena kamu gak mau ketahuan diantar olehku?" Tanya Raka.
Putri langsung menarik napas dalam-dalam dan melihat Raka.
"Kalau mau berbantah ntar malam saja, jangan pagi-pagi, banyak hal juga aku mau omongin ntar malam," Kata Raka.
Putri menyandarkan kepalanya ke kursi dan memejamkan matanya.
"Sudah sampai tuan Putri," Kata Raka.
"Siap, berarti sekalian makan siang, baru ke kantor," kata Raka.
"Iya," Jawab Putri.
Putri keluar dari mobil, seseorang yang tak disangka melihatnya, Rangga.
"Selamat pagi Put, pacarmu ya?" Tanya Rangga saat Putri menyusuri halaman yang padat dengan mahasiswa.
"Tak perlu ku beri penjelasan pagi ini kan? nanti akan ku ceritakan siapa dia," Kata Putri.
"Gak bisa cerita sekarang?" Tanya Rangga.
"Gak, aku lagi fokus presentasi ku sebentar," Jawab Putri.
"Ok, sukses ya presentasinya," Kata Rangga.
Putri berlari menuju ruangannya, didapatinya Miki dan Mika.
"Aku belum telat kan?" Tanya Putri.
"Belum, masih lama," Jawab Mika.
Mereka bertiga duduk menunggu di depan ruangan presentasi dengan sabar.
Putri memiliki banyak koreksian, perbaikan menanti di depan.
Rasa lelah dan lega bercampur menjadi satu, Putri sampai menangis.
Ponselnya bergetar, panggilan dari Raka.
Hallo, sabar aku jalan pelan-pelan ke depan. Putri menjawab teleponnya.
Ok, aku tunggu. Raka berbicara di sebrang sana.
"Aku duluan ya," Pamit Putri ke Miki dan Mika.
"Kita gak ada acara makan bersama gitu?" Tanya Mika.
__ADS_1
"Besok aja ya, hari ini gak bisa," Jawab Putri.
"Ok, kita jalan bareng ke parkiran ya," Ajak Miki.
"Aku hari ini gak bawa motor, aku diantar jemput, yang jemput sudah di pagar," Jawab Putri.
"Oh... makanya kamu bilang hari ini gak makan siang di luar," Kata Mika.
"Iya, maaf ya," Kata Putri.
"Iya gak apa-apa," Kata Miki.
Putri berjalan menuju pagar, jantungnya seakan berdetak cepat, tangannya kembali dingin seperti tadi sebelum presentasi, dia langsung membuka pintu mobilnya Raka dan langsung duduk, mengenakan sabuk pengaman.
"Gak ada ucapan selamat sore Mas, atau apa gitu, datang-datang diam," Tegur Raka.
Putri menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam, serta berkata, "Maaf, aku lupa."
"Sesibuk apa sampai lupa, atau tubuh di sini, pikiran dan hati di tempat lain," Kata Raka.
Putri tak menjawabnya.
Putri terbiasa tinggal dengan orang, jadi tak pernah dia melawan setiap ucapan orang, begitu juga dia lakukan terhadap Raka. Namun hal itu membuat Raka gelisah, Raka ingin hubungan yang seperti lainnya, ada saling perdebatan, saling mengoreksi.
Putri lebih memilih tidur dibandingkan berbicara dengan Raka. "Put, kalau sampai nikah kamu seperti ini terus, aku bisa-bisa selingkuh loh," Kata Raka.
Putri mendengar perkataan itu, namun dia tetap memilih tidur.
Raka memberhentikan mobilnya, mereka sampai di sebuah resto.
"Putri bangun, kita sudah sampai," Kata Raka.
Putri membuka matanya, segera dia mengambil cerminnya untuk berkaca.
"Aku sudah pesan kamar, kamu bisa mandi dan ganti baju dulu, baru kita makan malam," Kata Raka.
Putri kaget mendengar pesan kamar, namun Putri sangat pintar menutupi perasaannya.
Mereka berjalan menuju lobi, Raka langsung melapor dan mengambil kunci, Raka dan Putri menuju sebuah kamar.
"Mandi dulu sana, setelah itu aku yang mandi," Kata Raka.
"Kenapa harus satu kamar?" Tanya Putri.
"Lebih hemat," Kata Raka.
"Tapi apa kata orang," Kata Putri.
"Gak masalah, gak sah peduli, cepat mandi," Kata Raka.
"Aku yang malu, dan aku gak bisa bilang gak peduli, siapa tau aku bertemu orang yang aku kenal di sini," Akhirnya Putri berbicara dengan suara tinggi.
Raka duduk sambil berpangku kaki, menatap Putri sambil tersenyum.
"Mandilah, nanti baru aku jelaskan semuanya," Kata Raka.
Putri yang merasa lelah dari presentasi setengah skripsinya menarik napas dalam-dalam hingga kepalanya ditariknya ke belakang, sambil berkacak pinggang.
"Mas, kamu mau selingkuh terserah, aku memang sudah tak punya pilihan, aku harus ikut aturan, dan kemauan keluarga, jadi asal kamu tau, aku tidak peduli juga terhadap diriku," Kata Putri.
Raka tidak tersenyum lagi, hanya menyipitkan matanya dan memandang Putri.
"Mandilah," Kata Raka.
Putri akhirnya paham, Raka orang yang tak mau dilawan, harus dipatuhi. Keras dan egois.
Putri mengambil handuk dan pakaian gantinya masuk ke kamar mandi.
Putri menangis sekencang-kencangnya di kamar mandi. Raka hanya diam mendengar dari luar.
Satu jam Putri di kamar mandi, akhirnya dia keluar dengan sudah berganti pakaian.
Raka langsung berdiri dan masuk kamar mandi.
Putri merias dirinya, dan berusaha terlihat segar dan cantik. Putri membuka jendela kamar yang memperlihatkan halaman belakang kamar, pikirannya melayang ke segala arah, dia mengingat betapa santainya dia saat berduaan dengan Irfan, berapa senangnya saat dia bertemu Kak Rio, Putri tak sadar bahwa Raka telah keluar dari kamar mandi.
"Put, melamun apa?" Tanya Raka.
Putri kaget mendengar pertanyaan itu namun tak di jawabnya.
Raka selesai menyisir rambutnya, menyemprotkan minyak wangi ke bajunya, dia berjalan mendekati Putri.
__ADS_1
Putri menyadari Raka mendekatinya, dia langsung melihat ke arah Raka.
Raka memegang lengan Putri, lebih tepatnya mencengkeramnya.