
Tegarlah diri yang terasa lelah, kuatlah hati yang masih terasa perih, Dewi terus ucapkan itu di hatinya, prediksi orang yang menulis semua di papan, yang memberi sms-sms gelap sudah ada sejak dia bertemu barusan di cafe mamanya, Dewi rasanya mau marah, tapi tak tega juga sebab tak tau kenapa temannya itu harus bekerja di cafe mamanya.
Dewi hanya ingin pergi sejenak dari semua yang ada, dari teman-temannya, dari sekolah, dari masalahnya, tiba-tiba dia ingat Bagas, dia telpon Bagas.
"Hallo Gas, apa kabar, minal Aidin ya, maaf dah lama gak hubungi kamu," kata Dewi.
"Gak apa-apa, kamu dimana? lebaran kemana?"
"Aku jalan-jalan sendiri ke pantai, gua kagak pasiar lebaran, gua menjauh dulu dari teman-teman," kata Dewi.
"Tapi Lo baik-baik kan?" tanya Bagas.
"Sebenarnya gak, tapi hidup harus berjalan, makanya biar ku jalan pergi dulu sejenak ya," kata Dewi.
"Hati-hati," kata Bagas.
"Gas, Lo jangan dekat-dekat gua, nanti Lo juga jadi bahan guncingan," kata Dewi.
"Guncingan gimana?" tanya Bagas.
"Nanti di bilang Lo suka Main lagi di cafe mamaku, makanya pernah pacaran sama gua, dekat sama gua," kata Dewi.
"Wi, Lo tu, gua gak tau mau ngomong apa, tapi selama gua bisa bantu untuk perbaiki semua, gua akan lakukan," kata Bagas.
"Ok, dah, jalan lebaran sana, cari cewek, nikmati masa SMA," kata Dewi.
"Awas ketemu cowok nakal," kata Bagas.
"Cowok nakal, kaya, seiman, langsung mau nikah, gak masalah," kata Dewi.
"Pola pikir Lo yang kayak gitu, makanya begitu, coba bicara, dapat cowok yang baik-baik, ingat kata-kata adalah doa," kata Bagas.
"Iya-iya," kata Dewi.
"Dah," kata Bagas pelan.
"Dah, gua matikan telponnya ya," kata Dewi.
"Iya," kata Bagas.
Dewi langsung matikan panggilannya.
Bagas hanya diam, memandangin telponnya, wallpaper hpnya masih foto Dewi dan dirinya, Bagas berpikir salahnya dimana jika dia dekat dengan Dewi.
Lebaran hari pertama.
"Kak Rara, Lo sudah dijemput," teriak Rinli.
"Iya, sabar," kata Rara.
"Siang Bim, ayo jalan," kata Rara.
"Ra, kita ke rumah saudara-saudaraku dulu ya," kata Bima.
"Ok," kata Rara.
Rara sibuk pegang hp, chattingan dengan Jojo, bahas rencana beli kue dan buat surprise untuk mami.
"Ra, kamu gak apa-apa kan ikut aku jalan?" tanya Bima.
Rara sadar, sejak pernah putus Bima selalu berhati-hati namun seakan maksa,"Bim, sabar ya aku chattingan dulu, nanti baru kita ngobrol," kata Rara.
Bima langsung diam, Bima pun sadar perubahan dalam diri Rara setelah mereka putus, Rara lebih berani mengeluarkan pendapat, tegas ,dan berani.
"Gimana Bim? tadi tanya apa?" tanya Rara.
"Aku tanya kamu gak apa-apa kan aku ajak jalan, gak lagi ganggu schedule kamu? gak masalah kan jika ke keluargaku?" tanya Bima.
__ADS_1
"Bim, aku sudah putuskan untuk ikut kamu, ya artinya aku sudah siap," kata Rara.
"Kamu sehat?" tanya Bima.
"Sehat, aku putar lagu ya Bim, supaya kita gak canggung," kata Rara.
Bima tertawa, Rara pun akhirnya tertawa,
"Ra gua rindu banget jalan sama kamu seperti ini," kata Bima.
"Perhatikan jalan deh," kata Rara.
Ruma pertama mereka tiba, "Selamat Siang bude," sapa Bima.
"Siang Bima, hallo ayo masuk, hallo nduk siapa namamu?" tanya Bude.
"Rara bude," sapa Rara sambil senyum.
"Cantiknya," sapa Bude.
Irfanpun jalan dengan Putri, mereka ke rumah guru yang muslim dan teman-teman sempat bertemu dengan Lia dan kawan-kawan, Irfan benar-benar malas tau, semua pada kaget melihat perubahan sikap Irfan.
"Hallo Putri, tumben kali ini kamu datang ke ibu," sapa Bu Musdalifah.
"Iya Bu, sebab ada yang sopir," kata Putri.
"Oh gitu ceritanya, Irfan kamu bawa mobilnya hati-hati ya, jaga anak perempuan ibu," kata Bu Musdalifah.
"Iya Bu, pasti aman sampai rumah," kata Irfan.
"Duh, ibu terenyuh melihat kesungguhan Irfan," goda Bu Musdalifah.
Semua pada tertawa, Irfan dan Putri wajahnya memerah.
Lia hanya diam melihat Irfan yang benar-benar telah berpaling dari dirinya.
Bima dan Rara hari itu mengunjungi Enam rumah ada yang hanya mereka makan kue saja sebab perut sudah kenyang, matahari sudah berjalan menuju peraduannya.
"Boleh," kata Rara.
Bima menepikan mobilnya di pinggir taman, banyak pemuda dan pemudi juga nongkrong.
"Bim, gua mau tanya," kata Rara.
"Tanya apa?" tanya Bima.
"Keluarga lo belum tau, kalau kamu sudah dijodohkan dengan Tia?" tanya Rara.
"Gak ada yang tau, yang tau perjodohan hanya mama papaku, mama papanya Tia dan kakaknya, juga teman-teman di sekolah," kata Bima.
"Kamu kenapa mau balikan sama aku? ada istilah jangan balikan dengan mantan," kata Rara.
"Ra, salahnya dimana?" Bima balik bertanya.
"Gak ada salahnya, cuma lebih baik membuka lembaran baru dengan orang yang baru," kata Rara.
"Jika gak ada salahnya, apa salahnya jika aku tetap mencoba untuk balikan sama kamu," tanya Bima.
"Ih.. tiap pertanyaanku di jawab dengan pertanyaan lagi," kata Rara.
"Kamu sekarang sudah tambah tegas, cerewet, kritis, jadi harus aku arahkan untuk berpikir, terlalu banyak berteman dengan Putri, dan Dewi jadi kamu gak pernah coba berpikir, renungkan dulu sebelum bertanya, dan bicara," kata Bima.
Rara tertawa,"Ya-ya aku sebenarnya sudah tau jawabannya, cuma aku ingin dengar dari mulutmu, jawabanmu apa," kata Rara.
"Karena aku masih sayang kamu Ra, aku anak yang gak bisa melawan orang tua, jadi hanya karena keputusan orang tuaku makanya aku putus sama kamu, tapi mau angin badai cerita apapun, fitnah orang tentang kamu dan Jojo, aku gak mau tau, itu bukan sebuah alasan yang cukup untuk memutuskan kamu dan aku," kata Bima.
"Kamu yakin kita berjodoh?" tanya Rara.
__ADS_1
"Jodoh di tangan Tuhan, apa salahnya kita usahakan agar kita berjodoh?" kata Bima.
"Salah, sebab jodoh itu dari Tuhan," kata Rara.
"Tanpa usaha?" tanya Bima.
Rara tertawa,"Kamu memang pintar Bim, ngobrol sama kamu, aku kena telak terus, kamu cocok jadi tandingan aku ngobrol," kata Rara.
"Ra, kita jalani saja, nanti kan kita kuliah, orang tua kita kasih kita kuliah sesuai jurusan yang kita mau, dan kemampuan mereka, nah kita dua akan pisah, nah disitulah bisa terjawab kita jodoh atau gak, kita sudah usaha di SMA tapi semua tetap Tuhan yang putuskan , walau pisah universitas kalau tetap jadi, artinya kita jodoh," kata Bima.
"Deal, aku sepemikiran," kata Rara.
"Serius?" tanya Bima.
"Serius," kata Rara.
Bima mengantarkan Rara pulang, begitu sampai pagar rumahnya Rara, "Bim," panggil Rara.
"Ya," jawab Bima.
"I Miss you too, gua juga sayang Lo," kata Rara sambil senyum.
"Gua senang banget dengarnya Ra," kata Bima.
"Dah," Rara langsung turun dari mobil dan masuk ke rumah.
Irfan dan Putri mereka mengunjungi sepuluh rumah, kebanyakan rumah teman-temannya jadi cepat saja datang dan pergi.
Dalam perjalanan pulang," Put, kamu gak apa-apa kan tadi banyak yang ganggu kita," tanya Irfan.
"Gak masalah," kata Putri.
"Put, gua takut mau bilang kita pacaran yuk, trus kita putus dan jarak lagi, tapi aku gak mau juga kalau kamu pacaran sama yang lain," kata Irfan.
"Gua juga belum ada kepikiran pacaran di masa SMA, kamu kan tau aku sudah gak punya orang tua kandung, masih beruntung Tante dan omku baik mau urusin aku," kata Putri.
"Tapi ada yang kamu suka gak selama SMA?" tanya Irfan.
"Ada," jawab Putri.
"Siapa?" tanya Irfan.
"Malu ah, mau jujur, gak sah tau," kata Putri.
Irfan tertawa, "sebenarnya gak salah jika kita hanya jujur perasaan kita bahwa kita suka, naksir, iya kan Put?" tanya Irfan.
"Iya gak ada salah, tapi harga diri juga ya Fan," kata Putri.
"Iya," jawab Irfan.
Sesampainya di depan rumahnya Putri,
"Put," panggil Irfan.
"Iya," jawab Putri.
" Yang tadi gua bilang, gak ada salahnya kan bilang suka, jadi gua mau bilang gua suka sama kamu, tapi gua belum berani berjalan minta kita pacaran, karena aku gak mau kita putus, bener kali ini aku gak mau kita pisah, setidaknya tetap dekat hingga kita lulus SMA, nah tapi aku ingin aku harap kamu jangan pacaran," kata Irfan.
Putri menatap matanya Irfan, terlihat keseriusannya.
"Ok, aku juga gak ada niat pacaran selama SMA, jadi pasti aku gak akan pacaran," kata Putri.
"Tapi tetap jangan dekat sama cowok lain," kata Irfan.
"Ini permintaan atau perintah?" tanya Putri.
"Permintaan bernada Perintah," kata Irfan.
__ADS_1
"Ok, Fan," jawab Putri..
Irfan tersenyum.