
"Suamimu ijinkan Put?" Tanya Bu Mia bosnya Putri.
"Ijinkan Bu," Jawab Putri.
"Syukurlah, kamu juga cepat sekali nikah padahal masih kuliah," Kata Bu Mia.
"Dijodohkan Bu," Jawab Putri.
"Jaman begini masih ada perjodohan," Kata Bu Mia.
"Ntahlah Bu," Kata Putri.
"Kamu sudah baca jadwalnya kan?" Tanya Bu Mia.
"Sudah Bu," Jawab Putri.
"Pokoknya pas rapat, kamu harus temani saya, catat semua yang dibicarakan, jangan sampai baterai laptopmu habis," Kata Bu Mia.
"Iya Bu," Jawab Putri.
"Malamnya kamu periksa semua berkas yang mereka kasih, catat bagian-bagian yang penting, teliti jangan sampai kita ditipu," Kata Bu Mia.
"Iya Bu," Jawab Putri.
Akhirnya mereka tiba di Bandung, Putri berlari-lari menuju kamarnya, Putri mendapatkan kamar sendiri.
"Karyawan magang saja dapat kamar sendiri," Kata karyawan lain yang ikut.
"Karena dia harus kerja lembur malam ini, nanti teman yang sekamar dengannya pasti terganggu," Suara Bu Mia dari belakang.
Karyawan yang tadi bicara langsung diam, Putri menarik napas dalam-dalam.
"Ayo Put, cepat kita harus hadiri rapat," Kata Bu Mia.
Kamarnya Putri bersebelahan dengan Bu Mia, Putri bergegas mandi dan berganti pakaian, ponselnya berdering, berganti-gantian Bude Sri dan Raka yang menelponnya. Selesai berganti pakaian, dirapikan rambutnya, dengan secepat kita dia memoleskan bedak dan lipstik.
Baru saja dia mau menelpon bude Sri, pintu kamarnya diketuk. Putri segera membuka pintu kamar, Bu Mia sudah di depan pintu.
"Ayo cepat, laptopmu mana, buku bolpen, pakai tas, bawa minum, obat yang kamu perlukan," Perintah Bu Mia.
Putri segera mengambil ranselnya yang memang telah berisi seperti yang didikte Bu Mia.
"Ayo ke tempat rapat," Ajak Bu Mia.
Putri mengunci kamarnya, dan berjalan bersama Bu Mia.
Sesampainya di ruang rapat, lima orang dari perusahaan yang akan diajak kerja sama oleh Bu Mia telah siap.
"Maafkan kami telat," Kata Bu Mia dengan sopan.
"Tidak masalah," Kata seorang dari mereka.
Putri hanya senyum dan menundukkan kepala.
Rapat berlangsung dengan alur yang membuat hati Putri bergejolak. Terngiang di telinganya perkataan Bu Mia, tak boleh tak ada yang tak tercatat.
Akhirnya ada waktu break, baru saja Putri akan mengirim pesan kepada Bude Sri dan Raka, Bu Mia memberikan kepadanya satu map sambil berbisik, "Coba baca dan periksa, buat catatan kecil dan berikan padaku selesai break."
"Baik Bu," Jawab Putri.
Akhirnya hanya Putri yang tinggal di dalam ruang rapat, dengan cepat dia mengirim pesan ke Raka dan Bude Sri.
Sudah sampai dari tadi, langsung kerja, sibuk banget, Bu Mia menyuruhku kerja hingga sebentar malam.
__ADS_1
Raka sempat menelpon ketika membaca pesan itu, namun Putri tak ada waktu untuk mengangkatnya. Bude Sri hanya membalas dengan jangan lupa makan, awas magmu kambuh.
Putri hampir lupa dengan sakit magnya, saat lagi membaca dokumen yang diberikan Bu Mia pintu ruangan terbuka ada yang masuk, Putri tidak mengdongakan wajahnya untuk melihat.
Sebuah gelas berisi air putih hangat diletakan di samping laptopnya.
"Minum dulu, air gula ini, nanti magmu kumat," Kata pria itu.
Putri mendongakkan mukanya, ekspresi kaget dari wajahnya hingga tak bisa berkata-kata hingga akhirnya keluar juga sebuah nama yang lama telah hilang dari mulut Putri, "Irfan."
Irfan tersenyum.
Putri melihat air gula hangat itu, dia kembali melihat Irfan namun kali ini matanya menyapu diri Irfan dari atas kepala hingga kaki, berulang kali dilihat jarinya Irfan dicari Putri sebuah benda mungil yang melingkar namun tak ada.
"Gak usah kaget, minum air gula ini dan lanjut kerja nanti Bu Mia marah loh," Kata Irfan.
Putri menarik napas dan menerima air gula hangat itu, dengan segera berusaha fokus membaca dan memeriksa dokumen yang diberikan.
Selesai juga jam istirahat, semua kembali berkumpul, "Ini Bu." Putri menyerahkan dokumen yang telah diperiksanya. "Terima kasih," Kata Bu Mia. Putri kembali bergelut dengan catatan rapat yang harus dia ketik. Akhirnya pukul tujuh malam selesai juga rapatnya.
"Malam ini kita makan bersama, saya sudah pesan tempat makan," Kata seorang pengusaha dari mereka.
"Baik, hubungi saja meja berapa," Kata Bu Mia.
Bu Mia dan Putri kembali ke kamar, "Kamu malam ini rapikan catatan notulen rapat tadi, dan periksa ini lagi ya," Bu Mia menyerahkan tiga buah map.
"Baik Bu, saya ijin tidak ikut makan di bawah ya," Kata Putri.
"Ok," Jawab Bu Mia.
Begitu Putri masuk kamar, dengan segera dia pesan makan melalui layanan kamar dan kembali membuka laptopnya. Putri berinisiatif menelpon Bude Sri dulu, Bude mulai menceramahi Putri dengan segala nasehat, jangan lupa makan, jangan telat tidur.
Selesai telepon Bude Sri, Putri menelpon Raka,
Selesai telepon, datanglah layanan kamar Putri makan hingga kenyang. Setelah itu Putri lanjut kerjakan semua yang diperintahkan Bu Mia, tak terasa waktu telah menunjukan pukul sepuluh malam. Setelah selesai Putri mencoba menelpon Bu Mia.
"Sudah selesai Bu," Kata Putri.
"Antarkan ke kamarku," Kata Bu Mia.
Putri segera ke kamarnya Bu Mia dan menyerahkan dokumen yang telah diperiksanya.
Putri kembali ke kamarnya, akhirnya ada waktu juga untuk dia memikirkan Irfan yang tak disangka muncul di depannya. Terdengar suara pintu kamarnya diketuk. Putri mengintip dari kaca kecil di pintu kamarnya ternyata Irfan. Putri berpikir buka atau tidak. Tapi banyak hal yang ingin dia tau dan tanya. Putri membuka pintu kamarnya.
Irfan tersenyum di pintu, Putri hanya diam, bahkan lebih terkesan menahan air matanya.
"Boleh masuk?" Tanya Irfan.
"Boleh," Jawab Putri.
Irfan masuk dan duduk di tempat tidur, Putri sendiri berdiri membelakangi jendela kamar.
"Betulkan kamu yang waktu di supermarket dan menghindari aku?" Tanya Putri.
"Betul," Jawab Irfan.
"Kenapa?" Tanya Putri.
"Karena aku takut kalau kamu tanya aku sekolah di mana, soalnya aku keluar dari STAN," Kata Irfan.
"Lalu kamu gak pernah ada niat menghubungi aku?" Tanya Putri.
"Aku dengar dari Bagas, kamu dijodohkan oleh keluargamu, aku jadi minder jangan sampai aku bukan kandidat yang sesuai di mata keluargamu," Kata Irfan.
__ADS_1
"Kamu sudah nikah?" Tanya Putri.
"Belum, pacar saja gak punya," Jawab Irfan.
"Kamu sudah lama kerja di perusahaan Bintang Jaya?" Tanya Putri.
"Gak lah, aku juga magang seperti kamu," Kata Irfan.
"Kamu kuliah di mana?" Tanya Putri.
"Pahriangan," Jawab Irfan.
"Kamu jahat Fan, gak pernah hubungi aku." Kata Putri.
"Kamu sudah nikah kan?" Tanya Irfan.
"Sudah, tapi," Jawab Putri.
"Tapi apa?" Tanya Irfan.
"Gak,' Jawab Putri.
"Kamu gak suka dia?" Tanya Irfan.
"Iya, setelah putus dengan kamu, aku gak pernah pacaran dengan siapapun, cuma dijodohkan sama keluarga, yang awal gagal, akhirnya yang kedua ini." Kata Putri.
"Aku pacaran tiga kali setelah putus dari kamu, tapi semua gagal dengan mudahnya, ku rasa gak ada yang bisa mengerti aku seperti kamu," Kata Irfan.
Putri sempat diam dan akhirnya menangis.
"Maafkan aku Put, jika aku telat datang, jika aku gak berani datang," Kata Irfan.
"Raka terlalu baik Fan, dia yang suka gua, dia sayang banget sama gua, dia yang hormat sama semua orang tuaku, dia bahkan mau jika aku lulus kuliah dengan cumlaude dia akan ceraikan aku, tapi akhir-akhir ini aku gak tega," Kata Putri sambil terisak.
"Kamu tinggal serumah dengannya?" Tanya Irfan.
"Iya, tapi kami belum tidur bersama, karena aku gak mau," Kata Putri.
Raka menutup matanya dan menarik napas.
"Aku masih pengecut Put, aku gak berani mengatakan cerai saja dan nikah denganku, jangan sampai jika aku mengecewakan kamu, kamu akhirnya menyesal," Kata Irfan.
"Akupun takut, apakah jika cerai aku akan dapatkan yang lebih baik dari Raka," Kata Putri.
Irfan berdiri mendekatinya, dia memegang pundak Putri. "Put, jangan cerai, jalani saja, kamu sudah berjanji di hadapan Tuhan, Tuhan sudah ijinkan semua terjadi dalam hidupmu, usaha mencintainya, lihat segala kelebihannya," Kata Irfan.
Putri hanya menangis, Irfan memeluknya.
"Malam ini aku tidur di sini, kamu boleh bertanya apa saja yang kamu ingin tau tentang ku, malam ini milik kita," Kata Irfan. Putri akhirnya melingkarkan tangannya dan memeluk Irfan sambil menangis sejadi-jadinya.
Putri dan Irfan ngobrol panjang, Putri berusaha mengumpulkan segala puzzle yang hilang, Irfan berusaha meninggalkan kenangan manis untuknya dan Putri, yang diakhirnya ciuman yang manis di bibir Putri.
Malam itu Putri tidur dalam pelukan Irfan, hingga pagi. Irfan pamit pergi.
"Put, maafkan aku, hukum aku dengan buktikan kamu bahagia dengannya," Kata Irfan.
"Hukuman buatmu adalah, kau tidak akan bisa melupakan aku," Kata Putri.
"Pasti," Kata Irfan.
Irfan menguatkan dirinya dan keluar dari kamarnya Putri. Putri menangis sejadi-jadinya pagi itu. Pagi itu ada rapat, Putri menutupi matanya yang bengkak dengan kacamata. Hingga akhirnya pulang ke Jakarta. Raka tak berani dan tak mau tau kenapa mata Putri bengkak, sebab perasaan Raka sudah gak enak sejak malam, teleponnya tak diangkat Putri, dan Putri tidak menelpon balik.
Semua hanya menjadi rahasia Putri, Irfan dan Tuhan.
__ADS_1