
Tumpuknya tugas yang tak terkira, membuat Putri, Rara dan Dewi sangat sibuk hingga lupa saling memberi kabar. Menghadapi setiap karakter dosen yang berbeda, membuat hati terasa lelah, otak terasa penat.
Rara dan Rika pagi itu telah datang duluan di dalam kelas Biomedik dasar 1, mereka tak mau telat lagi seperti pertemuan lalu, hingga dilarang masuk kelas. Pertemuan lalu Rara dan Rika sibuk mengerjakan tugas bahasa Inggris hingga lupa bahwa sudah masuk jamnya biomedik dasar 1. Pak Trisno dosennya dengan galak mengatakan, "Kalian dua tidak niat kuliah, gak sah masuk, gak sah lanjut kuliah, keluar sana dari kelas saya."
Rara dan Rika hanya diam, dan langsung berbalik badan, duduk di samping pintu masuk kelas, mencatat setiap perkataan dosen yang mereka dengar di luar. Selesai jam ngajarnya, Pak Trisno keluar, melihat mereka di samping pintu, "Besok jika masih niat kuliah, jangan ada terlambat lagi di kelas saya."
"Siap pak," Sahut Rara dan Rika bersamaan.
Pagi ini semua belum tiba di kelas Rara dan Rika sudah di dalam kelas duluan.
"Ra, nanti Pak Trisno akan terima kita gak?" Rika khawatir sekali.
"Pasti diterima, makanya datang duluan, dan kita tidak boleh terlambat lagi," kata Rara.
Datanglah seorang cowok yang selalu bermasker itu duduk langsung di samping Rara, "Selamat pagi," sapanya.
"Selamat Pagi," balas Rara dan Rika.
"Kalian datang pagi, karena kemarin dimarah Pak Tris?" tanya dia.
"Iya," jawab Rara.
"Bagus, ku lihat kamu sebenarnya sangat pintar Ra, jangan tegang di setiap mata kuliah," katanya.
"Thanks, ngomong-ngomong kakak tau namaku, aku belum tau nama kakak," kata Rara.
"Masakh kamu gak pernah dengar disaat absent dosen? serius banget, atau cuek banget?" tanyanya.
"Aku yang cuek banget kayaknya ya, cuek dengan sekitar yang bukan masalah pelajaran," kata Rara.
"Namaku, Ari," sambil melepas maskernya dan tersenyum.
Rika senang banget lihat wajahnya Ari.
"Kak Ari seharusnya kuliah semester berapa?" tanya Rara.
"Semester tiga, ini aku ngulang, teman-temanku yang suka pakai masker itu, mereka si selalu aman pelajaran, gua aja agak slow nanggap pelajaran," kata Ari.
"Semoga semester ini lulus ya," kata Rara.
"Kamu Nasrani?" tanya Ari.
"Iya," jawab Rara.
"Kok tanya agama si?" tanya Rika.
"Pengen tau aja," kata Ari.
"Pertanyaan sensitif loh," kata Rika.
"Sorry," jawab Ari.
Mulailah satu per satu teman seangkatan Rara datang, dan Pak Trisno masuk, matanya langsung menatap Rara dan Rika, dan mulailah kuliah pagi itu dengan aman.
Putri di apit duduknya dengan si kembar Miki dan Mika pada mata kuliah kedudukan sekretaris dalam organisasi, "Put, kemarin Gereja gak?" tanya Mika.
"Gereja dong, kamu?" Putri balik tanya.
"Gak, gua selesaikan tugas mata kuliah ini," kata Mika.
"Baguslah Lo Gereja, berdoa semoga Bu Tatik gak marah-marah hari ini," kata Miki.
"Gua lupa doain Bu Tatik," jawab Putri.
Miki dan Mika tahan tertawa.
Bu Tatik masuk dengan sepatu highheelsnya yang warnanya selalu senada dengan rok dan blousenya. Bu Tatik selalu berkata, "Kalian harus menunjukan penampilan sebagai sekretaris dimanapun kalian berada."
__ADS_1
"Tugasnya silahkan kumpul," kata Bu Tatik.
Semua kumpulkan tugasnya, tak ada yang tidak, Bu Tatik punya pesona yang tak bisa dilawan oleh seangkatan.
Dewi, ditemani Lina menyelesaikan tugas pemantapan kemampuan mengajar, dengan terburu-buru sebab sejam lagi sudah masuk dosennya.
"Wi, lain kali jangan gini lagi ya," kata Lina.
"Iya, maaf, kemarin aku bantu mamaku di cafe, rame banget, lupa ada tugas," kata Dewi.
"Aku juga deg-degan," kata Lina.
"Lin, makasih banget ya, mau nemenin aku," kata Dewi.
Cika yang tidak pernah mau telat tiba di kelas, selalu pergi pagi, walau akhirnya mengantuk di kelas, tugasnya tak pernah terlewati, saat perkenalan, dia sudah jelaskan siapa dirinya, dia sebutkan dia diurus oleh pemilik cafe boulevard.
Banyak mata memandang dengan sejuta penilaian, namun Cika cuek, hanya seorang yang langsung mendekatinya setelah mendengar ceritanya, Rian.
"Gua sering ke cafe boulevard, tapi gak pernah lihat kamu," katanya Rian saat jam istirahat.
"Kamu ke cafe jam berapa?" tanya Cika.
Sambil tersenyum, "Pukul sebelas malam," jawab Rian.
"Jam segitu, ya saya gak ada di cafe, saya di rumah," kata Cika.
"Kamu kerjanya jam berapa?" tanya Rian.
"Pukul 4 sore hingga pukul 8 malam," kata Cika.
"Papaku selalu ke cafe jam sebelasan, jadi ya kita gak pernah ketemu," jawabnya.
Cika hanya senyum.
Selesai kuliah, Putri keluar lelah sekali rasanya setiap selesai kelasnya Bu Tatik, rasanya tegang di leher, Putri, Miki, Mika dan Rangga duduk di kursi di bawah pohon di halaman kampus, yang memang didesain untuk tempat nongkrong, kursi dan mejanya semua dari pohon, sambil nunggu jamnya mata kuliah berikut.
Putri sampai malu," Ga, gua malu."
"Malu kenapa?" tanya Rangga.
"Malulah, dilihat orang Lo romantis banget," jawab Miki.
"Cuek aja," kata Rangga.
"Gak bisalah Ga, kita hidup di lingkungan sosial," kata Putri.
"Put, kamu suka coklat?" tanya Rangga sambil kasih silverqueen.
Putri tidak langsung terima, dia menatap lama coklat di tangan Rangga, di tarik napasnya dalam-dalam.
"Put," kata Rangga.
"Kalau Putri gak mau, untuk gua saja," kata Mika mau ngambil, Rangga tarik.
Putri tersenyum, matanya agak berkaca, tapi dia menutup matanya menahan air mata tak menetes, diambilnya coklat itu, dan di buka di bagi dua dengan Mika.
"Ingat mantan?" tanya Miki.
"Mantan terindah," kata Putri.
"Indah kok putus?" tanya Rangga.
"Kita gak mau LDR," kata Putri.
"Dia lanjut kemana?" tanya Mika.
"STAN," jawab Putri.
__ADS_1
"Masih komunikasi?" tanya Rangga.
"Gak, sudah lost contact, cuma lihat postinga dia di FB, cuma dia baik banget, dua tahun gak pernah dia sakitin hati gua, dia selalu kasih gua coklat perdua hari, karena gua sakit mag akut," kata Putri.
"Sedih ya," kata Mika.
"Sedih kalau ada yang buat gua ingat dia, gua harap bisa dapet orang yang baik juga, seperti baiknya dia," kata Putri.
"Berarti dalam waktu dekat belum bisa ni, hati rasanya masih basah dengan yang lama," kata Miki.
"Iya, butuh dua tahun kali," kata Putri.
"Rangga, denger tu nunggu dua tahun lagi," kata Mika.
"Dia tahun gak lama, kan bisa tetap dekat dengan kamu Put, tetap bisa jalan bareng, nonton bareng, walau status hanya teman dulu," kata Rangga.
"Gua mau lihat apa bener Lo bisa bertahan dua tahun menanti Putri," kata Mika.
Rangga senyum saja, Putri makan coklat dengan diam, manisnya coklat menenangkan hati dan pikirannya.
Rara dan Rika selesai pelajaran pak Trisno langsung ke kantin cari makanan, Ari langsung lanjut mata kuliah berikut di kelas angkatannya.
Ponsel Rara berbunyi, nomor baru masuk di chat WA.
Hi, gua Ari, save nomor HP ku ya, kita bisa berteman kan ☺️ kata Ari.
Hi juga, ok di save, bolehlah berteman balas Rara.
"Kak Ari, juga Kristen, gantungan kuncinya Salib," kata Rika sambil makan roti bakar.
"Biasa kadang orang di umur kita di masa kuliah, nyari jodoh juga, makanya lihat yang seiman, kalau sama-sama cewek untuk belajar gak masalah beda agama," kata Rara.
"Mungkin dia naksir kamu," kata Rika.
"Mungkin," jawab Rara.
Mereka berdua tertawa.
Dewi siang itu di telpon Bagas, "Hallo Wi, apa kabar?"
"Kabar baik,"Jawab Dewi.
"Gak capek belajar?" tanya Bagas.
"Dikit," kata Dewi.
"Sudah lupa sama gua?" tanya Bagas.
"Gaklah, cuma malu mau chat duluan," kata Dewi.
"Gua baru bisa telpon, gua rindu banget sama Lo Wi, jaga kesehatan, jangan salah berteman ya, kalau jodoh pasti kita bisa jadian," kata Bagas.
"Kamu juga, jaga pertemanan, jangan sampai karena harus selalu bersatu, malah buat yang salah," pesan Dewi.
"Ok, kalau dengar begini, artinya kamu juga adalah rindu gua," goda Bagas.
"Ya,ya, ya," jawab Dewi.
"Susah banget ngaku, Iya Gas, gua juga kangen," kata Bagas, sambil tertawa.
"Gas, aku mau lanjut mata kuliah kedua," kata Dewi yang langsung berlari masuk ke kelas.
"Ok, dah Dewi sayang," kata Bagas.
Dewi langsung chat di WA grub Rara dan Putri.
Bagas nelpon bilang kangen gua, jujur gua senang banget
__ADS_1
Dewi lanjut kuliah dia belum lihat balasan kedua temannya.