Jejak

Jejak
Cahaya Bintang


__ADS_3

Kadang perasaan itu lebih tajam saat kita lagi mengharapkan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Putri yang lagi menyelesaikan tugasnya satu persatu dengan pelan-pelan, berharap sekali teman-temannya akan datang menjenguknya, ada juga rindu melihat Irfan, walau perasaan sukanya sudah berganti dengan perasaan pertemanan.


"Selamat sore," suara dari depan pagar.


"Sore, waduh ada yang berkunjung,"suara tante ramah menyapa.


Putri langsung merapikan dirinya, bercermin apakah bajunya layak untuk terima tamu.


"Putri, ada tamu," kata tante.


"Siapa tante?" tanya Putri.


"Keluar dan lihat aja," kata tante sambil senyum.


Putri keluar,"Irfan."


"Sore, lagi buat?" Irfan tersenyum manis sekali sore itu.


"Lagi kerja tugas-tugas," jawab Putri.


"Bawa keluar aja tugasnya, kita kerja bareng, mungkin sore ini bisa selesai berapa mapel," kata Irfan.


"Bener mau bantu?" tanya Putri.


"Benar," jawab Irfan.


Putri senyum, kembali ke kamar dan mengambil semua buku tugas-tugasnya.


Irfan ternyata memang otaknya encer, Putri dengan mudah menyelesaikan tugas-tugas hitungan fisika, kimia , matematika wajib dan matematika minat.


"Wah, Putri bayar berapa ni guru les privat dari sore," kata Tante sambil bawa teh panas, dan kue.


"Ah, tante," kata Irfan sambil tertawa.


"Putri juga baru sadar saat tante bilang, aku dari tadi mikirnya syukur ada yang bantu kerja tugas," kata Putri.


"Nanti, itu urusan aku dan Putri Tante,"Irfan tertawa.


"Jadi bayar ni?" tanya Putri sambil senyum.


Irfan tertawa,"Terima kasih tehnya tante."


Sebuah mobil berhenti didepan rumah Putri,


"Hari ini banyak tamu ya Put?" tanya Tante.


"Rara dan Jojo jam tujuan baru datang, pulang dari les,"kata Irfan.


Rio turun dari mobil.


"Kak Rio," Putri akhirnya berdiri dan membuka pagar.


"Selamat sore tante," sapa Rio.


"Sore," jawab Tante.


"Masuk kak," kata Putri.


"Gak,kayaknya kamu lagi sibuk," kata Rio sambil senyum saja melihat Putri dan Irfan.


"Dia siapa Fan, kelas berapa?" tanya Tante.


"Rio, kelas tiga, kenal Putri saat Putri jaga bazar, kayaknya dia suka Putri," jawab Irfan.


"Kamu sendiri gimana?" tanya tante sambil senyum.


"Tante taulah, tapi kan nanti dari Putri," kata Irfan.

__ADS_1


"Kayaknya dia dewasa banget ya, sudah gak seperti anak SMA," kata tante.


"Sudah kelas tiga tante," jawab Irfan.


Tante duduk nontonin apa yang terjadi, Irfan lihat hpnya.


"Put, aku kasih ini aja, lalu ku lanjut jalan ya," kata Rio.


"Terima kasih kak, repot-repot sekali, hati-hati ya kak," kata Putri.


"Tante, aku langsung pamit ya," pamit Rio.


"Iya, hati-hati," kata tante.


Putri langsung kasih ke tante yang di beri Rio,


"Tante masuk ya, kalian lanjut kerja tugasnya," Iya tante.


Putri bisa lihat perubahan wajah Irfan, "Fan."


"Ya," Irfan jawab sambil senyum, lalu dia ambil gelas tehnya dan menyeruput tehnya.


Putri beranikan pegang tangannya Irfan, dan sambil senyum,"kita lanjut yuk, jika ada hal lain, nanti kita bicarakan berdua," kata Putri.


Irfan tersenyum lebar, "Ayuk, nanti gua yang tentukan waktu untuk kita ngobrol berdua," kata Irfan.


"Ok," Putri memberikan cerminan bahwa dirinya bukan penikmat sebuah adegan pemberi harapan.


"Jo, jangan lupa sebentar kita singgah ke Putri," bisik Rara.


"Iya, beli makan apa ya?" tanya Jojo.


"Nasi ayam goreng aja," kata Rara.


"Ok," jawab Jojo.


Selesai Les, Jojo dan Rara langsung berjalan cepat untuk keluar dari tempat les, di depan pintu les Jojo dan Rara sama-sama terperanjat melihat sosok yang menanti, Bima.


"Aku sudah ada janji dengan Putri," tolak Rara.


"Sama aku aja perginya ke Putri," kata Bima yang langsung pegang tangannya Rara.


Jojo hanya diam lihat Rara, Rara menarik napas dalam-dalam, dan menjawab.


"Maaf Bim, aku gak bisa," kata Rara.


Bima menutup matanya, melepas kepergian Rara dan Jojo.


"Dia sudah beneran putus dengan Tia?" tanya Jojo.


"Gak tau, tapi gua dah gak niat jalan sama dia," kata Rara di dalam mobil Jojo.


"Hati-hati loh Ra, dia kayaknya putus asa banget, cinta ditolak dukun bertindak," kata Jojo.


"Nanti ku ajak bicara dia pelan-pelan, dia kayaknya ikutin kita," kata Rara melihat di kaca spion.


"Ra, telpon dia dulu," kata Jojo.


Rara menelpon Bima,"Bim, kamu ikutin kita?" tanya Rara.


"Iya," jawab Bima.


"Bim, kita beli nasi ayam goreng dulu, baru ke Putri," kata Rara.


"Ok,"jawab Bima.


Sesampainya di rumah Putri, Putri kaget lihat ada Bima juga,"Hallo, wah ramai sekali malam ini," kata Putri.

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu? Tugas-tugas sudah di kerjakan?" tanya Rara sambil keluarkan nasi ayam goreng, satu bungkus dia kasih juga untuk Bima.


"Sudah baikan, tadi tugas matematika wajib, minat, kimia dan fisika semua sudah selesai, di bantu Irfan," kata Putri.


"wuih....," Rara dan Jojo barengan hura.


"Semangat sekali Fan," Goda Bima sambil tertawa.


Irfan hanya tersenyum, dan semua berpaling melihat ada motor yang berhenti.


"Dewi dan Bagas," kata Rara.


"Selamat malam semua," sapa Dewi.


Rara berlari membuka pintu pagar.


"Waduh pada ngumpul,mana bisa Putri kerja tugas,nanti ajalah kerjanya," kata Bagas.


"Tenang, ada Irfan yang pasti akan jadi guru privatnya Putri," kata Jojo.


Malam itu mereka hanyalah sekelompok bintang-bintang yang berkumpul agar dapat saling menerangi, sehingga jika ada yang redup cahayanya akan terlihat terang sebab tertutupi oleh cahaya lainnya.


"Bim, malam ini aku pulangnya dengan Jojo dulu ya, besok sore kalau ada yang kamu mau bicarakan, datang ke rumah," kata Rara.


"Besok gua datang," kata Bima.


"Gak sah ikutin kita lagi," kata Rara.


Bima hanya senyum.


"Ikutin aja, nanti hilang," ganggu Bagas.


"Kami yang hati-hati bonceng Dewi," kata Putri.


"Iya," kata Bagas.


Semua pamit, paling terakhir pamit Irfan,


"Put, gua pulang," pamit Irfan.


"Hati-hati, kami sudah dari sore disini," kata Putri.


"Jarang-jarang kan, senin nanti aku jemput," kata Irfan.


"Sip," jawab Putri.


Besoknya pulang Gereja, Seusai makan siang, "Ma boleh ngobrol gak?" tanya Rara.


"Boleh," jawab Kata Mama.


Rara pun menceritakan tingkah Bima mulai dari kemunculannya di bus, hingga tadi malam dan rencana kedatangannya sore ini.


"Anak begitu, jika ditolak akan bahaya, tapi jika di jalani juga gak nyaman," kata mama.


"Lalu gimana ma?" tanya Rara.


"Bilang begini kak, ada hari kakak gak sah di antar jemput, kalau mau PDKT lagi, di sekolah saja, dan jika kakak tetap gak ada perasaan ya kakak akan jujur, dan jangan kak Bima sakit hati," Riris kasih masukan.


"Iya Ra, kalau begitu kan kamu gak nyakitin perasaannya, gak nolak, tapi gak nrima juga," kata mama.


"Jadi teman dekat saja, teman sangat dekat namun bukan pacar," kata Rinly.


"Terima kasih masukannya," kata Rara.


Baru selesai dibicarain, orangnya datang, "Niat banget dia," kata Rinly.


"Sebenarnya dia benar-benar sayang sama kamu Ra," kata mama.

__ADS_1


"Makanya, jangan sakitin hati dia, tapi gak juga kasih harapan palsu," kata Riris.


Rara menarik napas dan berjalan menuju pagar rumah membuka pagar.


__ADS_2