Jejak

Jejak
Akhir Semester Tiga


__ADS_3

Terkadang suasana membawa seseorang mengenang masa lalu, seperti pada siang itu, Rara duduk-duduk di taman kampus, menikmati angin semilir yang segar sambil menunggu jam untuk ujian akhir semester mata kuliah yang berikutnya. Dirinya berada di taman, namun hati dan pikirannya sedang melalang buana membuka tabir kenangannya dengan Jojo.


Rara rindu sekali Jojo namun tak bisa diutarakan, kirim pesan ke Jojo, rasanya aneh, Rara lihat di Facebook, Jojo selalu foto dengan teman-teman ceweknya, jangan di tanya lagi sepak terjanga Jojo di negri kangguru itu. Rara berharap, ini hanya perasaan semata, bukan pertanda.


Jojo yang sedang tertidur, ntah di rumahnya siapa, dia telah lupa daratan, dia dalam keadaan mabuk di ajak teman-temannya. Jojo berusaha membuka matanya, saat ponselnya berbunyi, terlihat panggilan untuknya dari mami. Tak mungkin Jojo mengangkatnya.


Jojo membasuh wajahnya dengan air mineral yang berada di meja, dirogoh sakunya, ada kunci motornya, Segera Jojo turun ke lantai satu apertemen ntah milik siapa, tadi malam mereka pesta miras disitu.


Segera Jojo berjalan ke parkiran, dia khawatir tertangkap satpam. Dia menuju motornya, dia segera melajukan motornya dengan sangat cepat, Jojo bertemua di perempatan jalan, Tampa dilihatnya sebuah truk dari arah berlawanan juga sedang melaju, san setelah itu Jojo tak sadarkan diri.


Dari kepolisian Australia, segera menghubungi kedutaan Indonesia di Australia, dan dari pihak kedutaan menghubungi Mami. Mami sangat terkejut, mami hanya mengirim pesan ke Rara, Ra, Jojo kecelakaan, mami berangkat, bantu doanya.


Rara sedang ujian jam kedua tak melihat ponselnya, setelah ujian baru dia melihat ponselnya, sempat dia membaca pesan tersebut tertegun seolah tak percaya, ternyata rindunya pagi ini adalah sebuah firasat.


"Pulang yuk," Ari menjemputnya ke dalam kelas.


Rara hanya tersenyum dan merapikan buku dan tasnya lalu mengikuti Ari. Di perjalanan menuju klinik Rara tak banyak bicara, pikirannya masih berkeliaran tentang Jojo. Kalau dipikir, ntah mengapa Rara dan Jojo selalu saja ditakdirkan seperti ini, hanya bersama karena orang tua, dan saat Jojo membutuhkan seseorang Rara pasti telah bersama cowok lain.


"Pikir apa si?" Tanya Ari.


"Gak apa-apa," Jawab Rara.


"Pikir ujian tadi?" Tanya Ari.


"Tidak," Jawab Rara sambil senyum.


"Kalau ada masalah cerita, jangan pendam sendiri," Jawab Ari.


Rara tak bisa bercerita soal Jojo, dan suara hatinya berkata tak usah cerita.


Sesampainya di klinik, Rara sempat terlupa masalah Jojo, dia sibuk bekerja dan berlatih dengan para senior dan dokter, menangani anak kecil yang tak mau diam, dan hal lainnya.


Jojo masih tak sadarkan diri ketika Mami tiba di rumah sakit tempat dia dirawat, Mami berangkat sendiri, karena Papi banyak kerjaan. Papi malah marah dan berkata, "Biar saja anak itu celaka, bukan fokus kuliah malah bermain." Mami hanya diam mendengar hal itu.


"Put, lagi ujian akhir semester ya?" Tanya Raka.


"Iya," Jawab Putri.


"Selesai ujian, pas liburan semester, kamu ikut aku ya ke Kalimantan, Pakde ingin berjumpa denganmu, sekalian kunjungi cabang kita di sana," Kata Raka.


"Baik," Jawab Putri.


Putri sendiri heran, kalau soal perusahaan Putri tak bisa melawan Raka, walau tak nyaman rasanya di hati Putri.

__ADS_1


"Kamu tanggak lima belas Desember sudah libur kan?" Tanya Raka.


"Sudah," Jawab Putri.


"Kita berangkat hari itu ya, aku belikan tiket dari sekarang supaya gak mahal sekali dan pesawat sudah penuh penumpang nanti," Kata Raka.


Tak terasa Desember kembali di depan mata, tahun lalu dia dan teman-temannya berlibur bersama, kali ini masing-masing dengan kesibukannya, mungkin mereka hanya kumpul di cafenya Dewi dan Cika.


Mamanya Arya masih mengajaknya untuk membuat kue di rumahnya, Putri menyanggupi, namun untuk tanggalnya Putri masih berkompromi, lagipula dadakan Raka mengajaknya ke Kalimantan.


Saat makan malam, Putri bertanya ke Pakdenya, "Pakde tau, Raka membelikan aku tiket, tanggal lima belas Desember Aku diajak ke Kalimantan, bertemu dengan Pakde di sana, dan melihat cabang perusahaan di sana."


"Tau, Pakde Agus sudah menghubungi kemarin," Kata Pakde Sugeng.


Putri hanya diam.


Dewi dan Cika sambil menjaga cafe mereka sambil belajar, tentu ditemani Rian. "Gimana hasil ujian perkembangan peserta didikmu?" Tanya Rian.


"Dapat nilai B," Jawab Cika.


"Aku dapat B juga, sepertinya semua mahasiswa dapat B," Kata Dewi.


"Sebenarnya materinya mudah, tapi saat ujian jawabnya harus sesuai dengan kemauan dosen," Kata Rian.


"Cika, hari apa kita dua bisa jalan bareng?" Tanya Rian.


"Gak bisa, aku sibuk kerja, kalau mau jalan-jalan nanti aja pas jalan bareng Dewi, Putri dan Rara," Kata Cika.


Dewi hanya senyum, sebenarnya Dewi mengijinkan Cika jalan dengan Rian, tapi Cikanya yang gak mau.


Bagas selalu menelpon Dewi setiap pukul delapan malam, tidak tau kenapa setiap jam begitu, tapi setidaknya rindu bisa terjawab sekarang, bukan seperti dulu tak bisa komunikasi. Boleh dibilang Dewi sangat sabar dan setia menunggu Bagas, Bagaspun demikian tetap tak berpindah hati, walau banyak godaan.


"Tidak pulang Natal tahun ini Nak Bagas?" Tanya ibu pemilik warung tempat biasa Bagas makan bersama teman-temannya.


"Sepertinya tidak Bu, masih pengamanan," Jawab Bagas.


"Kalau mau makan kue, dan rayakan Natal nanti ke rumah ibu saja, Lilis ada masak," Kata Ibu itu.


"Nanti ibu, lihat, aku tidak bisa janji," Jawab Bagas.


Lilis anak pemilik warung, bekerja sebagai perawat, baik dan cantik, karena seiman maka ibunya Lilis sangat berusaha menjodohkan Bagas dan Lilis.


"Maaf Bu, saya sudah punya calon, namanya Dewi," Tolak Bagas dengan sopan.

__ADS_1


"Selama janur kuning belum melengkung, masih bisa di gait, jalan saja dulu," Kata Ibunya Lilis.


"Jangan gitulah Bu, kalau bisa mempertahankan dan setia jangan ingkari," Kata Bagas.


Sudah empat tahun Bagas berada di kota ini, di Nabire, dia sudah ingin cepat di pindahtugaskan, selain ingin menjauh dari ibunya Lilis, dan masih banyak lagi.


Bagas akhirnya membatasi intensitas membeli makan di warungnya Lilis, walau agak jauh gak masalah yang penting tak selalu bertemu dengan ibunya Lilis.


Akhirnya libur akhir semester tiga pun dimulai, semua sibuk mempersiapkan Natal, Putri berangkat dengan Raka ke Kalimantan.


Sewaktu di dalam mobil menuju bandara, Arya menelponnya.


Jadi Natalan di Kalimantan? Tanya Arya di sebrang sana.


Iya Jawab Putri Kaku, karena di sebelahnya Raka sudah melirik langsung.


Kapan pulang? Tanya Arya.


Belum tau. Jawab Putri.


Kok belum tau, kamu memang hanya terima tiket, tapi kan harus tau tanggal dan waktunya. Kata Arya.


Aku cuma ikut saja. Jawab Putri.


Nanti kabari jika sudah sampai ya. Kata Arya.


Iya. Jawab Putri.


Selang lima menitan Putri bertanya, "Di Kalimantan aku berapa lama?"


"Selesai Natal, tanggal dua puluh tujuh kan sudah masuk kantor," Jawab Raka.


Arya hanya diam di kantor, dia merasa sejak kedatangan Raka di kantornya Putri, Putri semakin jauh darinya, dan secara tak langsung Pakdenya mendukung Raka dan Putri.


"Arya, tumben perhatian sama kamu, padahal aku dengar waktu dijodohin sama kamu, dia malah jalan dua dengan cewek lain," Kata Raka.


"Ntahlah," Jawab Putri.


"Kamu yang harus tegas, jadi cewek gimana, di Kalimantan kamu ketemu Bude Tarmi, ditatar kamu," Kata Raka.


Putri hanya diam.


Jojo belum sadarkan diri walau sudah pertengahan bulan Desember, Mami tetap bersabar mendampinginya.

__ADS_1


__ADS_2