
Waktu berlalu, melakukan segala hal, liburan kenaikan kelas tlah usai, Rara liburan sendiri dengan adik-adiknya ke rumah pamannya di Jogja. Bima juga liburan dengan keluarganya sendiri di Surabaya. Rara dan Bima. hanya saling bertukar pesan dan gambar di chat, semakin lama Bima semakin menyayangi Rara, sedangkan Rara juga, namun dia selalu berusaha menahan diri, menginjak rem gejolak perasaannya, seperti pesan Mamanya Jose.
"Ra, boleh saja kamu cinta sama dia, tapi jangan sampai cinta mati, boleh saja kamu suka dia tapi jangan berlebihan, boleh kamu sayang dia, tapi jangan terlalu sayang," pesan Mami.
Seluruh siswa sudah balik ke sekolah, kelas 2 SMA di sandang Rara dan kawan-kawan, namun ternyata dia dan Bima dipisah kelas, mungkin terdengar di para guru bahwa mereka pacaran. Walau, pacaran mereka hanya saat di luar sekolah. Rara berusaha menyesuaikan diri dengan kelas barunya, Bima yang tetap dengan teman-teman lama yang dulu.
"Duduk di sini Ra," ajak Putri.
"Kosong Put di sini?" tanya Rara.
"Iya, Dewi pindah ke kelas sebelah,"
Rara pun akhirnya duduk dengan Putri, pelajaran pertama sudah dimulai, tiba-tiba "Selamat pagi Bu, maaf telat," seorang siswa mengetuk pintu.
"Pagi Bagas, kamu kok sering telat, gak berubah dari semester lalu," kata Bu guru.
"Bangun telat Bu, maaf," kata Bagas.
"Ya sudah duduk sana, nanti pulang sekolah kamu pasti dapat hukuman lagi dari guru piket," kata Bu guru.
Bagaspun masuk ke dalam kelas, sempat matanya terkaget melihat Rara, Rara hanya melihatnya tanpa ekspresi.
Jam istirahat pertama akhirnya tiba, "Jadi, Bagas tu suka telat, makanya sering dihukum?" tanya Rara ke Putri.
"Iya, dia langganan telat, gak tau kenapa, sudah kami tegur, sudah panggilan orang tua," kata Putri.
"Mungkin gak ada yang memotivasi dia kali," kata Rara.
"Ra, selamat ya, Wellcome to our class," kata Bagas.
"Thank you," jawab Rara.
"Kenapa kamu pindah kesini?" tanya Bagas.
"Guru yang bagi," kata Rara.
"Hmmm, baguslah ada anak pinter dan rajin di kelas ini," kata Bagas.
"Kamu aja yang malas ya, kami gak," kata Putri.
"Saya tu sebenarnya gak malas, SMP gua juara, cuma sekarang ada sesuatu aja," kata Bagas.
__ADS_1
Di kelas sebelah Irfan datang mendekati Bima, "Bim, Rara pindah, lu pasti rasa beda."
"Iya, dah biasa lihat kiri kanan adanya dia, gak apa-apa pulang pergi ke sekolah kan tetap sama gua, ni bekal dari dia," kata Bima.
"Guru-guru punya antena tinggi ya," kata Irfan.
"Gak apa-apa, padahal kami dua sudah berusaha jika di sekolah gak deket biar gak memancing perhatian," kata Bima.
"Semua baik ya Bim," kata Irfan
"Iya," jawab Bima, walau dia rasanya dah gak tahan untuk datang ke kelasnya Rara.
Dewi anak baru di kelasnya ya Bima, hanya diam, dengar pembicaraan mereka, ternyata bener kata teman-teman, Rara pacaran dengan Bima. Irfan sejujurnya lebih lega dengan pindahnya Rara, gak ada mata-mata untuk dirinya lagi.
Bel pulang sekolah berbunyi, Rara nungguin Bima di depan kelasnya Bima. Bima keluar langsung senyum, Mereka jalan barengan menuju parkiran, "Kentara sekali ya, jika ku nunggu di depan kelasmu?" tanya Rara.
"Gak masalah, pokoknya siapa selesai duluan dia duluan ke kelasnya, kalau sama-sama selesai pasti ketemu di jalan, kalau masalah orang lihat biar, kita sudah usaha jaga etika pacaran di lingkungan sekolah, bahkan kamu sudah sampai dipindahkan," kata Bima.
"Iya si bener, lagipula nilai kita gak jatuh," kata Rara.
"Mereka dua pacaran?" tanya Bagas ke Putri, mereka dua baru aja selesai piket kelas.
"Apa karena itu, makanya Rara di pindahkan ke kelas kita?" tanya Bagas.
"Mungkin," kata Putri.
"Padahal mereka pacarannya gak kentara kayak Lia dan Ari, dan beberapa anak, tapi guru-guru proteck juga," kata Bagas.
"Iya, hari ini aja kentara sekali mereka jalan bareng ke parkiran, biasanya pagi aja pas datang sekolah, kalau pulang salah satu dari mereka sudah nunggu di mobil," kata Putri.
"Mungkin karena sudah dipindahkan Rara, jadi berubah juga aturan pengantar jemputan," kata Bagas.
"Bahas apa ni, ceritain orang?" tiba-tiba suara Dewi.
"Iya, bahas Rara dan Bima," kata Putri.
"Gimana lu di kelas baru?" tanya Bagas.
"Aman, iya mereka pacaran, namun cara pacarannya menjaga etika di lingkungan sekolah," kata Dewi.
"Bahasanya tinggi banget," kata Bagas.
__ADS_1
"Bener, itu tadi Bima dan Irfan ngorol di kelas, gua denger," kata Dewi.
Bagas, Dewi dan Putri hanya diam dengan pemikiran masing-masing.
Dewi yang ingin bertanya kabar Bagas, namun malu, Putri yang rasanya lemes karena ada saingan di kelas, Bagas yang merasa mulai tertarik dengan Rara.
Di dalam mobil, "Enak makannya Bim?" tanya Rara.
"Enaklah, di kasih gratis," kata Bima.
"Gimana tugas banyak hari ini?" tanya Rara.
"Gak, hari pertama, catatan aja," kata Bima.
"Di kelasku anaknya pendiam semua, pada santai," kata Rara.
"Kayaknya bagus juga pisah kelas, kamu jadi cerewet, banyak bahan cerita," kata Bima.
"Iya," Rara ketawa.
"Atau karena rindu ya," goda Bima.
"Mungkin," jawab Rara.
Bima senyum, sambil mengusap rambut Rara di sampingnya, "Bilang rindu aja malu," kata Bima.
Rara hanya senyum, ya hatinya semakin nyaman dengan Bima.
Sesampainya di rumah, "Mbak, Irfan gimana hari ini di sekolah?" tanya Riris .
"Gak tau, mbak dah pindah kelas," jawab Rara.
Riris diam, sudah dua hari Irfan gak balas chatnya, dia gak bisa lihat statusnya Irfan.
"Kenapa?" tanya Rara.
"Gak apa-apa," jawab Riris.
"Selingkuh dia," ganggu Rinli.
Riris hanya diam.
__ADS_1