
Pikirannya manusia rumit, namun sebenarnya yang dibutuhkan hanya waktu untuk mengobrol, seberapa banyak waktu yang telah lewat hingga antar sesama tak ada lagi saling bertegur sapa dan bertukar cerita.
Hari Minggu yang tenang Dewi kembali mendapat WA dari nomor yang tanpa nama, yang menuliskan, "Aku tau siapa ibumu."
Hari pertama Dewi menerima WA itu, dia usaha tak menghiraukannya, dia sudah tau resiko yang akan dia terima jika teman-temannya tau siapa ibunya.
Ini sudah hari ketujuh pesan itu terus datang di jam yang sama, Dewi tetap usaha cuek.
Rara menerima Bima dengan ramah di teras rumahnya, "Hai Bim," sapa nya.
"Kamu bisa keluar gak?, ini masih siang jadi kalau pulang gak malam, masih bisa sore," kata Bima.
"Ku minta ijin mama dulu ya, atau kamu yang minta ijin?" tanya Rara.
"Saya minta ijin juga gak apa-apa," kata Bima.
Rara masuk ke dalam rumah,"Ma, Bima ajak jalan katanya kalau pergi siang, pulangnya gak kemalaman," kata Rara.
"Kalau ditolak takut tersinggung lagi," kata Riris.
"Sabar, mama keluar," kata Mama.
"Hallo nak Bima, apa kabar?" tanya mama.
"Baik tante, Tante, saya mau ajak Rara keluar, boleh ya pulangnya gak malam kalau keluar jam segini," kata Bima.
"Ok, bener ya gak malam ya pulangnya," kata mama.
"Janji," kata Bima.
"Ganti baju sana Ra,"kata mama.
Rara masuk ganti baju dan keluar lagi,"Ayo Bim."
Mama masih menemani Bima di luar.
"Hati-hati ya," kata mama.
Bima sepanjang jalan wajahnya senyum, sudah lama senyum itu hilang dari wajahnya sejak putus dengan Rara.
"Kita mau kemana?" tanya Rara.
"Ada,"jawab Bima.
Rara sambil lihat pinggir jendela, hingga ponselnya berbunyi, telpon dari Frangky.
"Hallo Frangky,"sapa Rara.
"Besok ada PR apa?" tanya Frangky.
"Matematika wajib, dan Bahasa Indonesia," jawab Rara.
"Ok, thanks," kata Frangky.
"Sama-sama, cuma tanya gitu WA aja kali, gak sah telpon," kata Rara.
"Rindu dengar suaramu," ganggu Frangky.
"Gombal," kata Rara sambil tertawa.
"Besok mau buah apa?" tanya Frangky.
"Apa aja," kata Rara.
"Gua bawa Buah terlarang kamu mau?" tanya Frangky.
"Aia, besok bawa banyak, untuk Putri juga," kata Rara.
__ADS_1
"Sip, dah sayang," ganggu Frangky.
"Dah," balas Rara sambil senyum.
"Kamu dekat dengan Frangky?" tanya Bima.
"Iya, dia sering sama gua di bis sebelum bawa mobil, dan dia mulai terbuka di kelas, anaknya asik juga, suka bawa buah banyak," kata Rara.
"Kamu kurusan," kata Bima.
"Diet," jawab Rara.
"What? demi apa diet?" tanya Bima.
"Demi cantik," Rara jawab sambil tersenyum lebar.
"Kamu banyak berubah, cepat balas omonganku, cepat balik ganggu yang ganggu kamu," kata Bima.
"Keadaan yang membentuk," kata Rara.
"Tuh ada aja balasanmu," kata Bima.
"Bim, kamu juga hari ini baru terlihat kembali senyumanmu," kata Rara.
Bima tak berkata apa-apa hanya senyum.
Mereka berhentu di sebuah cafe resto yang sejuk, bmdi desain seperti taman.
"Hallo Bim, sudah lama gak kesini," sapa yang menerima tamu, seperti pemiliknya atau managernya.
"Iya Om, sibuk belajar, ini baru ada kesempatan," jawab Bima, dengan sebuah pelukan juga.
"Hallo ini namanya siapa?" tanya penerima tamu itu.
"Rara,"Jawab Rara sambil senyum.
"Senang kenalan dengan om," sapa Rara.
"Ayo pilih tempat untuk kalian," kata Om.
Bima Pilih tempat paling ujung, bisa lihat semua pengunjung yang datang,
"Ra, mau pesen apa?" tanya Bima.
"Cemilan dan jus buah aja, jangan makan berat," kata Rara.
"Bener ya, aku pesen nasi goreng, aku lapar belum makan," kata Bima.
Setelah pesan menu makanan, Rara meletakan ponselnya terbalik di meja,"mau bicara apa Bim?" tanya Rara.
Bima juga meletakan ponselnya terbalik di di meja sambil senyum," kami terus terang sekali sekarang," kata Bima.
"Yah, biar cepat dapat kata sepakat," kata Rara.
"Aku ingin kita balikan, kita pacaran lagi, aku memang salah, banyak salahku, tapi aku minta beri aku kesempatan sekali lagi," kata Bima.
"Bim, putus dari kamu aku juga sedih sekali, hampir dua mingguan aku berusaha untuk move on, namun sejujurnya aku gak ada niat untuk balikan, aku akui kamu sayang banget sama aku, tapi bagiku kalau sekali putus ya udah, kalau memang jalan kita harusnya tak pernah ada kata putus," kata Rara.
"Kasih aku kesempatan sekali saja Ra," pinta Bima.
"Bim, aku menghargai ketulusan hatimu, dan aku pun sudah memaafkanmu sejak lama, tapi untuk balikan, gak sah lah, kita berteman saja seperti yang lain," kata Rara.
"Kasih aku kesempatan dua bulan untuk usaha buat kamu kembali mencintai aku, jika dalam dua bulan kamu tetap tak bergeming, aku akan mundur," kata Bima.
Rara diam, mereka saling tatap,"Setuju," jawab Rara sambil senyum.
Bima kembali senyum, "Bim, gak sah kayak dulu tiap hari antar jemput, hari sabtu aja gitu," kata Rara.
__ADS_1
"Janganlah cuma satu hari, selasa, kamis dan sabtu," kata Bima.
"Ok," kata Rara.
"Jam istrirahat aku bebas mau datang ke kelasmu, bebas duduk berduaan denganmu di sekolah, gak seperti dulu lagi," kata Bima.
"Ok, banyak banget mintanya," kata Rara sambil senyum.
"Harus, karna kamu mulai berubah,"kata Bima.
Makanan datang, mereka lanjut ngobrol.
"Orang tua kamu gimana? tunangan kamu gimana?" tanya Rara.
"Aku belum tunangan Ra, baru dijodohkan, mereka sudah tau bahwa aku membatalkan perjodohan," kata Bima.
"Mama kamu gak suka sama aku," kata Rara.
"Pelan-pelan," kata Bima.
"Aku tetap bebas berteman dengan siapapun ya," kata Rara.
"Jojo maksudmu?" tanya Bima.
"Jojo sudah dari dulu ada pengecualian," kata Rara.
"Tapi, tidak lagi tidur sekamar, kalau ada apa-apa jujur, gua bantu cari solusi," kata Bima.
"Bim, gua gak bisa melawan jika maminya Jojo sudah bertindak," kata Rara.
"Maminya tu, main halus mau jodohkan kalian, kalau aku lihat," kata Bima.
"Gak, aku sudah dianggap anak sendiri," kata Rara.
"Gimana nilai ujian AKM kamu?" tanya Bima.
"Aman, bagus, ujian PTS ku juga hasilnya bagus, kamu sendiri?" tanya Rara.
"Bagus lah," kata Bima.
"Irfan di kelas lagi gak ada pacarnya?" tanya Rara.
"Dia lagi PDKT dengan Putri," kata Bima.
"Aku lihatnya gitu," kata Rara.
"Ku lihat kamu mulai dekat dengan Dewi, Bagas dan Putri," kata Bima.
"Iyalah, gak ada kamu, mereka yang menemaniku," kata Rara.
"Jangan mau kalau diajak jalan Dewi," kata Bima.
"Kenapa?" tanya Rara.
"Mamanya germoh, pemilik.cafe seroja, nanti dikira kamu juga ladies," kata Bima.
"Yang bener? aku kemarin jenguk Putri di rumah sakit dengan mobilnya Dewi, kakaknya meli yang bawa, cantik banget," kata Rara.
"Lain kali gak sah," kata Bima.
"Tapi Dewinya kan anak sekolah baik-baik, gak macam-macam," kata Rara.
"Iya, tapi janganlah buat citra aneh-aneh," kata Bima.
Ternyata banyak sekali yang mereka obrolkan hingga Rara diantar pulang, saat matahari baru akan mau kembali ke peraduannya, "Trims Ra, masih mau gua ajak jalan hari ini, masih mau ngobrol panjang, ngobrolin semua yang kita lewati begitu saja," kata Bima ketika akan sampai rumah Rara.
"Sama-sama, aku juga senang kamu gak sakit hati dengan kejujuranku," kata Rara.
__ADS_1
Bima hanya senyum.