
"Bagaimana keadaan sekolah kalian?" tanya mamanya Bima.
"Baik Tante," jawab Rara.
"Yah begitulah, ada yang sibuk basket, lalu sebagian anak kelas dua sudah mulai nyari bimbingan-bimbingan diluar untuk persiapan ujian kelas tiga dan masuk perguruan tinggi negeri," jawab Jojo.
"Oh ya, kalian dua ada ikut les?" tanya mamanya Bima.
"Ada Tante di bimbel cenderawasih sains club," jawab Rara.
"Bima gak info Tante, kalau gak kan, kalian bisa pergi ke bimbel yang sama, kalian bayar bimbelnya berapa?" tanya mamanya Bima.
"Pelajaran matematika wajib dan minat, fisika, kimia dan biologi, serta basaha Inggris semua mapel dua ratus lima puluh ribu," jawab Mami.
"Murah, daripada ku privatkan Bima, satu guru ada yang satu juta, ada yang delapan ratus,"kata Mamanya Bima.
Makan malam itu hanya dilewati Bima dalam diam, serasa nasi telah jadi duri yang harus ditelannya.
Semua makan malam itu di bayar mamanya Jojo, "Terima kasih Bu Ir, kaoan-kapan kami undang ibu makan di rumah," kata Mamanya Bima.
"Baik Bu dokter, menambah silahturahmi," kata Mami.
"Hati-hati Jo, langsung pulang ke rumah," kata Mami.
Jojo yang sudah duduk di motornya menjawab, "Iya Mi."
Sesampainya di mobil, Rara bicara sama mami, "Waktu kami mau les, Rara sudah ajak Bima, Bima bilang ijin orang tuanya, orang tuanya suruh privat saja."
"Dokter satu itu memang begitu sifatnya nduk, kamu tau dia tu terkenal pelit, makanya dia bilang nanti makan undang ke rumah, dan saat itu kamu kan masih pacaran sama Bima, mamanya khawatir banget," kata Mami.
"Biarlah Mi, semua orang tua mau yang terbaik bagi anaknya," kata Rara.
"Makanya, kamu nunjukin kamu harus berhasil agar mamanya Bima diam lihat kamu, tau kamu kenal Mami aja sudah buat cara lihat dia ke kamu lebih ramah daripada biasanya kan? dia orangnya suka melihat orang dari kedudukan," kata Mami.
"Pengalaman buat Rara, jadi tambah kuat dan dewasa," kata Rara.
"Iya, kamu sedih gak putus sama Bima?" tanya Mami.
"Sedih Mi, susah cari waktu untuk nangis, mau nangis di rumah gak nak sama adik-adik and mama papa, nangis di sekolah gimana gitu, jadinya malas makan, melamun, tapi saat kapan pulang les, Jojo nunjukin ke saya bahwa Bima tetap melangsungkan perjodohan ortunya walau apapun yang gua rasa, disitu baru ku nangis," cerita Rara.
"Jojo sudah cerita semua ke mami, mami yang cari ide supaya kamu bisa nangis, dari kamu kecil kamu jarang nangis," kata Mami.
__ADS_1
"Mami dulu pernah putus cinta?" tanya Rara.
"Pernah, sebelum ketemu papanya Jojo, mami sedih juga, nangis apalagi saat tau dia nikah duluan," cerita mami.
"Akhirnya dapat papi yang baik ya mi," kata Rara.
"Iya, kamu pun pasti dapat jodoh yang baik, apalagi jika nanti kamu kuliah, kerja yang baik, di tempat baik, bergaul dengan orang-orang baik pasti dapat jodoh yang baik," kata Mami.
Keasyikan bercerita, akhirnya mereka sampai juga di rumah, mamanya Rara sudah nunggu di teras, " Wah jalan kemana? hati-hati Bu Ir sudah malam," kata mamanya Rara.
"Iya, terima kasih Ra, sudah temani Mami," kata Mami.
"Sama-sama Mi, terima kasih sepatunya," jawab Rara.
"Mami belikan kamu apa Ra?" tanya Mama.
"Sepatu, lalu tadi kami makan malam diluar, ma tau tadi kita ketemu Bima dan mamanya di plaza lalu ketemu lagi di warung makan, akhirnya kita makan satu meja bareng, untung ada Jojo jadi Jojo yang banyak bicara, mami yang bayarkan semua makanan tadi, mamanya Bima berubah sikapnya sama Rara, jadi ramah banget, karena tau aku dekat sama Mami," cerita Rara.
"Ya iyalah baik, ruko tempat prakteknya kan punyanya Mami, dia cuka sewa," kata mama.
"Oh ya," Rara terkaget mengetahui kebenaran itu.
"Ra, gimana perasaan kamu ketemu Bima lagi, setelah putus?" tanya mama.
"Kamu sedih kok gak nangis?" tanya mama.
"Malu nangis, takut diledek Riris dan Rinli," kata Rara.
"Bima memang anak yang baik, baik sama kamu selama pacaran, nurut orang tua," kata Mama.
"Tapi dia gak gentle mempertahankan cintanya," kata Rara.
"Masih anak SMA Ra, mungkin beda jika sudah kerja," kata mama.
"Mama dulu pernah putus cinta?" tanya Rara.
"Pernah, tapi balikan lagi," kata mama sambil senyum.
"Sama Papa?" tanya Rara.
"Iya, sama Papa," jawab mama.
__ADS_1
"Ngobrol sendiri gak ajak-ajak," Riris keluar dari ruang tamu, ikut nimbrung.
"Kamu yang main HP trus di kamar," kata Mama.
"Lanjut ma ceritanya, kok bisa putus sama papa?" tanya Rara.
"Kami juga pacaran dari SMA kelas satu, lalu kami beda kampus, awal masih mau LDR, tapi jaman dulu kan susah ya pakai surat, apalagi mama dengar sudah ada yang dijodohkan juga dengannya, ya mama minta undur diri saja," kata mama.
"Mama nangis?" tanya Rara.
"Nangis, tapi gak terlalu," jawab Mama.
"Gak terlalu apanya, nangis saat ketemu papa," suara gurau papa dari dalam ruang tamu, ikut gabung dengan kami di luar.
Kita semua tertawa, "Lanjut ma, lalu balikannya kenapa?" tanya Rara.
"Karena jodoh, andai waktu itu gak ada kegiatan dari dinas pertanian untuk proses penghijauan kota, kita gak akan bertemu, saat bertemu papamu ajak bicara mama, akhirnya karena kegiatan seminggu dan saat pembagian kelompok kerja papa mintanya gabung kelompok dengan mama, ya kami terjalin kali komunikasi, saat itu kita sudah semester tujuh, jadi satu semester lagi wisuda," cerita mama.
"Jadi yang punya usaha menjalin kasih kembali, papa?" tanya Riris.
"Iya," jawab Mama.
"Stelah berhasil meyakinkan mamamu, dan orang tuanya, setahun setelah wisuda, papa beranikan melamar dan nikah," lanjut Papa.
"Papa masih sangat yakin sama mama ya, walau lama berpisah, berapa tahun pisah lost contack?" tanya Rara.
"Dua tahun, karena papa yakin pada perasaan papa, cewek yang dijodohkan dengan papa, selaku beda pendapat, adanya ribut, papa sampai pusing dan mengadu ke orang tuanya dan orang tua papa, akhirnya di pisahkan," cerita Papa.
"Jadi Ra, jodoh itu pasti ada, jangan terbawa suasana saat putus, atau pacaran, putus boleh nangis, tapi sebentar saja, ayo, istirahat, besok Gereja," kata Mama.
"Ok ma," kata Rara.
Rara dan Riris masuk kamar, malam itu Rara banyak bersyukur di kelilingi orang-orang yang memperhatikannya dan menemaninya saat dia hancur.
Keesokannya, "Bim ayo Gereja," ajak mamanya.
"Bima gak.mau ke Gereja ma, gak enak badan," kata Bima.
"Kamu gak cerita, Jojo anaknya Bu Irawan," kata Mamanya.
"Kapan ada waktu kita ngobrol ma, Bu Irawan pemilik ruko yang mama praktek?" tanya Bima.
__ADS_1
"Iya, ya sudah mama yang pergi Gereja, papamu gak pulang semalam," kata Mama.
Bima hanya diam.