
Jojo dan Irfan yang kelelahan bermain basket, duduk di tengah lapangan, tampak dari jauh Rara dan Bima lagi jalan berdua sambil bercanda, menuju parkiran, "Jo, Bima dan Rara tu sepertinya adem ayem ya, gak ada yang selingkuh, gak ada yang bosan, gak ada yang Cepet emosi," kata Irfan.
"Iya, tapi begitu yang gak akan lama," kata Jojo.
"Ah, bukannya justru kelihatan awet," kata Irfan.
"Ya, gaklah, mereka gak lebih saling mengenal, dan aku ragu, pasti ada yang akan membuat mereka goyah," kata Jojo.
"Lo kok seperti ngarep mereka putus?" kata Irfan.
"Gaklah, cuma gua khawatir dengan Rara, dia kan pertama kali pacaran," kata Jojo.
"Rara, anaknya dewasa," kata Irfan.
"Orang tuanya Rara, ramah dengan Bima, tapi ortunya Bima seakan membuat jarak dengan Rar, disitu yang gua gak suka," kata Jojo.
"Mungkin dianggap hanya cinta anak SMA," Kata Irfan.
"Walau hanya anak SMA, memang gak pakai hati?" kata Jojo.
"Kita lihat saja sampai sejauh mana mereka," kata Irfan.
"Pulang yuk," kata Jojo.
Sabtu sore itu tidak seperti biasanya, Bima kaget melihat ayah dan ibunya lengkap ada di rumah, ibunya menyiapkan makanan banyak,
"Mama, masak untuk acara apa sebanyak ini?" tanya Bima.
"Ada tamu," kata mamanya.
"Tumben ada tamu ma," kata Bima.
"Kamu juga siap, pakai baju yang rapi kita semua duduk makan bersama," kata Mama.
Jam tujuh malam datanglah Om Herman, istri dan kedua anaknya Tia dan Frangky, mereka makan malam bersama, Om Herman adalah rekan kerja Papa, yang lagi akan merencanakan usaha kerja sama baru dalam pemasokan minyak, sebelumnya mereka tinggal di Papua.
"Bima, Tia dan Frangky akan sekolah di sekolah kalian, mama sudah hubungi kepala sekolah dan kesiswaan kalian," kata mama.
"Iya ma, kelas berapa?" tanya Bima.
"Tia kelas satu, Frangky kelas dua sama dengan kamu," kata Mama.
"Ok ma,"Kata Bima.
"Ini si memang masih lama, tapi apa salahnya di rencanakan dari sekarang, kita berencana menjodohkan Bima dan Tia," kata Ayahnya Bima.
Bima sempat terkaget dan diam, Tia senyum senang.
Mamanya Bima dan mamanya Tia langsung menjawab,"Setuju."
Mamanya Bima langsung mengeluarkan sebuah kotak kecil, pas dibuka ternyata berisi kalung, yang langsung diberikan kepada Tia.
Ketika Tia dan keluarganya pulang, Bima langsung bicara ke mamanya," Ma, kok gak ada pembicaraan dengan Bima langsung-langsung mendadak, lagipula kita kan masih SMA."
"Justru masih SMA, makanya di dekatkan supaya seperti natural , seperti pacaran, kamu masih pacaran sama Rara?"
"Masih ma," jawab Bima.
"Putus saja, mulai Senin kamu antar jemput Tiara, tidak lagi Rara," kata Mama.
"Ma, gak bisa seperti itu dong," kata Bima.
"Ya harus bisa, apa untungnya kamu pacaran dengan Rara?" tanya mama.
Bima diam, tak bisa melawan, namun hatinya sakit dan bingung mau bicara apa ke Rara.
Malam Minggu itu Rara aneh, gak seperti biasanya, gak ada telpon, gak ada VC dari Bima. Namun tiba-tiba Bima VC,
"Ra, gua pengen bicara serius, maunya bicara langsung tapi gua sedih,"kata Bima.
__ADS_1
"Sedih kenapa?"tanya Rara.
"Jadi, tadi rekan kerja papaku datang dengan keluarganya, langsung bilang mereka akan bersekolah di sekolah kita, namanya Tia dan Frangky," Bima sempat diam sebentar.
"Lalu?" tanya Rara.
"Mereka menjodohkan aku dengan Tia, lalu mulai Senin aku akan antar jemput Tia, dan mamaku menyuruh aku putus denganmu," kata Bima.
Rara sempat terkaget, namun dia sadar terjawablah kenapa orang tua Bima tak begitu akrab dengannya.
Keheningan menyelimuti mereka berdua, "Bim, mungkin memang waktunya kita berdua memang hanya sampai saat ini, gua gak apa-apa," Rara yang segera mengambil keputusan. Bima hanya diam.
Video Call pun terputus, Rara sempat diam berpikir Bima memang anak yang baik, sangat baik makanya tak bisa melawan orang tua, tidak bisa yang namanya seperti anak cowok lain main backstreet dari orang tuanya.
Besok pagi, Mamanya Rara sudah siap ke Gereja, Riris pun telah giat siap dari pagi, Rinli tetap harus dibangunkan akibat malam main game online, Riris melihat wajah Rara yang lemas, "Mbak Rara, Gereja gak?" tanya Riris. Rara menjawab "Gereja, sabar ya," Rara bergegas mandi.
Sesampainya di Gereja, mereka duduk satu deret semuanya, Riris tiba-tiba terperanjat, "Ada apa si kamu, untung masih sedikit orang," tegur Rara.
"Itu kan Dedi," Riris mengkode dengan mata anak muda yang baru masuk dan duduk di bagian depan mereka jarak tiga baris kursi.
"Siapa dia?" tanya Rara.
"Anak baru," kata Riris.
"Bulan ini banyak anak baru ya," kata Rara.
Riris tak paham kata-kata Rara.
Dalam perjalanan pulang Gereja di mobil, Rara berbicara,"Semua, ada yang gua mau umumkan," kata Rara.
"Apa?" kata Mama.
"Aku sudah putus dengan Bima tadi malam," kata Rara.
"Kenapa?" tanya mama dan Riris bersamaan.
"Orang tua Bima menjodohkan Bima dengan anak rekan kerja papanya, dan anak itu akan satu sekolah dengan ku mulai besok, namanya Tia," kata Rara.
"Iya, sampai satu sekolah lagi," kata Rinli.
"Pantas, orang tuanya gak ramah sama kamu Ra," kata mama.
"Iya ma, gak apa-apa, semua baik," kata Rara.
"Pantas, tadi pagi ada yang lemes-lemes," goda Riris.
"Siapa yang lemes?" nada suara Rara tinggi.
"Sudah, bagus juga putus, fokus mau ujian kenaikan kelas tiga, lalu persiapan ujian kelulusan dan masuk perguruan tinggi," kata Papa.
"Iya pa," kata Rara.
"Senin, Lo pakai bis lagi dong ke sekolah?" tanya Rinli.
"Iyalah," kata Rara.
Semua tertawa satu mobil, keterbukaan Rara, Riris dan Rinli di dalam keluarganya baik masalah pacaran atau masalah apapun, membuat mereka kuat menjalani semuanya.
"Bima, dari tadi melamun," kata Mamanya.
"Ya, ma," jawab Bima.
"Kamu pikir apa, dari tadi mama bilang, sekarang kita akan ke rumah Tia, agar kamu tau besok jemput dia dimana," kata mama kesal.
"Iya ma, saya dengar," kata Bima.
"Soal Rara, kamu sudah bicara tentang Tia?" tanya mama.
"Sudah ma," jawab Bima.
__ADS_1
"Lalu bagaimana?" tanya mama.
"Sudah putus," jawab Bima.
"Ok, Rara anak yang baik juga, gak merepotkan, jadi gak ada masalah ya?"tanya mama.
Bima hanya diam.
"Selamat Hari Minggu Tia," sapa mamanya Bima ramah ketika sampai di rumahnya Tia.
"Selamat hari Minggu Tante,wah pada datang," kata Tia.
"Iya, besok kan Bima mulai antar jemput kamu, jadi harus tau dong rumah kamu dimana," kata mamanya Bima.
"Bisa, share location kok," kata Bima.
"Lebih enaknya ketemu ya kan Tia," kata mamanya Bima.
"Ayo masuk, makan siang dulu disini," ajak mamanya Tia.
Akhirnya Bima dan keluarganya makan siang di rumahnya Tia.
Keesokan harinya, sempat satu sekolah geger melihat Bima satu mobil dengan Tia dan Frangki, sedangkan Rara naik Bus, berita itu cepat menyebar,
Tia duduk di kelas X, Frangki masuk di kelasnya Rara.
"Ra, kenapa Lo naik bis?" tanya Putri. Bagas pun segera mendekatkan telinga.
"Aku, sudah putus dengannya," kata Rara pelan.
"What?Why?" tanya Putri.
"Dia, sudah dijodohkan," kata Rara.
"Dengan tu cewek?" tanya Bagas.
"Iya," jawab Rara.
Putri dan Bagas langsung berkata "oooo."
Jam istirahat, Jojo mendatangi Bima di kelasnya, "Hallo Bim, apa kabar?" tanya Jojo, matanya langsung melihat cewek mungil di samping Bima.
"Baik," kata Bima.
"Bisa bicara berdua?" tanya Jojo.
"Bisa," jawab Bima.
Bima dan Jojo keluar kelas, menuju ruang ganti anak-anak basket, "Bim, gua dengar berita gak enak, you dan Rara gimana ceritanya?" tanya Jojo.
"Sudah putus," kata Bima.
"Dan secepat itu, you langsung gandeng adik kelas, yang anak baru?" tanya Jojo.
"Bukan mau gua, itu mau ortu gua," kata Bima.
"Oh, ortu, pantes ortulo gak pernah ramah sama Rara," kata Jojo.
"Lebih baik Lo diam Jo, perasaan gua lagi gak nak sebenarnya," kata Bima.
"Ok," Jojo langsung berlalu dengan cuek.
Tiba-tiba Irfan dari belakang bicara, "Kalau dah putus artinya gak apa-apa ya kalau gua bicara."
Jojon dan Bima langsung berbalik melihat ke Irfan.
"Jo, gak sah terlalu sok gentle karena Rara, yang Lo selalu bilang hanya seperti saudara, namun ada yang Lo dan Rara rahasiakan selama ini dari Bima," kata Irfan.
"Apa?" tanya Bima.
__ADS_1
"Bim, ingat waktu banjir, yang Rara dan Jojo barengan gak masuk sekolah besoknya, mereka sekamar di hotel, gua ada foto-fotonya, emang si gak terjadi apa-apa, namun mereka dua rahasiain dari Lo, jadi Bim gak sah rasa bersalah atas keputusan ortu Lo yang buat lo harus putus dengan Rara," kata Irfan.
Bima kaget mendengarnya, namun tak bisa bicara apa-apa, hanya berdiri tegang. Jojo terlihat santai dan membalikan badan kembali berjalan cuek. Frangki yang bersembunyi di balik pintu, berusaha pergi tanpa ketahuan.