Jejak

Jejak
Keluarga


__ADS_3

Bagai bunga yang bergoyang kesana kemari karena angin, cantik dilihat mata, bagi yang melihat. Begitupula tali kasih Bima dan Rara walau tak terlihat terang-terangan namun jika ada yang niat memperhatikan betapa mesranya mereka berdua.


Kadang mata mereka saja yang saling berbicara, seperti siang itu sepulang ujian kenaikan kelas, Bima menatap Rara agak lama, Rara pun segera tersadar lalu segera mengambil tasnya dan keluar kelas duluan, sepuluh menit Bima pun berlari cepat-cepat menuju parkiran.


"Maaf lama nunggu," kata Bima.


"Gak apa-apa Bim," jawab Rara.


"Gak nyangka ya dah mau kelas XI, kamu sudah siap ikut ASN?" tanya Bima.


"Sudah," jawab Rara.


"Harus siap, Ra hari Sabtu kan hari terakhir ujian, kamu ijin dulu, atau nanti deh biar aku aja yang minta ijin ke ibumu, pulang sekolah kita jalan-jalan, istirahatkan otak, ya sampai jam 5 lah, kamu bawa baju ganti, nanti simpan aja di mobil, mau gak?" kata Bima.


"Boleh, dah lama juga aku gak jalan-jalan, kebanyakan kerja tugas, dan di rumah sekaki-skali lah," jawab Rara sambil tersenyum menatap Bima.


"Ok, fix Sabtu ya," ujar Bima.


Rara segera memutar lagunya Glend Fredly di mobil, dia seneng banget dengan lagu-lagunya Glend, musisi andalan Indonesia.


Sesampainya di rumah Rara, Bima pun ikut turun, kebetulan ada ibunya Rara,


"Selamat siang Tante," salam Bima.


"Siang Bima, wah gimana tadi ujiannya?" tanya ibu.


"Bisa Tante," kata Bima.


"Bisa bu," jawab Rara.


"Wah kompak ni, semoga gak kerja sama berdua ya," kata ibu.


"Gak lah," sama-sama Bima dan Rara menjawab.


"Tante, mau minta ijin ni," kata Bima.


"Ijin apa?"tanya Ibunya Rara.


"Sabtu ini, Tante dan sekeluarga ada acara?" tanya Bima.


"Sabtu ini, kayaknya tidak, tapi gak tau kalau ada undangan di hari Jumat nanti," jawab Ibu.


"Kalau gak ada, saya mau minta ijin bawa Rara jalan-jalan langsung pulang sekolah, jadi sudah bawa baju ganti," kata Bima.


"Rencana mau kemana?" tanya Ibu.


"Paling ke taman dekat sekolah, atau ke Dufan, atau ke pantai ," kata Bima.


"Jadi ada tiga tempat yang menjadi rencana untuk dikunjungi?" tanya ibu.


"Iya Tante," jawab Bima.


"Baik, Tante ijinkan," jawab Ibu.


"Terima kasih Tante, saya pamit pulang," pamit Bima.

__ADS_1


"Iya, hati-hati ya," kata ibu.


Rara mengantar Bima, sekalian mengunci pintu pagar.


"Dag Ra," kata Bima.


"Dag juga, hati-hati," jawab Rara.


Mobil Bima berlalu, Rara bergegas masuk ke rumahnya dan mengganti pakaian, membantu ibunya menyapu rumah dan memanaskan makanan.


"Bu, Riris dimana?" tanya Rara.


"Pergi dengan Irfan, beli buku katanya," kata Ibu.


"Rinli?" tanya Rara.


"Main bola," jawab Ibu.


Rara hanya diam, Ibu melihatnya lalu berkata," Kenapa?"


"Gak apa-apa Bu, cuma tanya," jawab Rara.


"Ibu tau, kamu pasti pikir tiap siang menuju sore adik-adikmu jarang bantu kamu di rumah, semua kamu yang kerjakan, jam enam baru pada pulang," kata Ibu.


"Gak Bu," sanggah Rara.


"Ra, ibu dengar kamu marah Riris di kamar," kata Ibu.


"Ya, cuma aneh aja tiap hari jalan, gak ada di rumah," kata Rara.


"Baik Bu, pinter, gak macam-macam," kata Rara.


"Dengan Bima, siapa yang lebih baik?" tanya Ibu.


"Bu, ini belum ada setahun ku kenal mereka, kategori baik belum valid jawabannya ya Bu," kata Rara.


"Iya, ibu paham, tapi penilaianmu gimana?" tanya Ibu.


"Karena aku lebih mengenal Bima, jadi aku bisa menilai Bima, kalau Irfan hanya sebatas teman sekelas Bu," kata Rara.


"Ok, di kelas siapa yang suka melawan guru, cuek, tidur?" tanya Ibu.


"Gak ada yang suka melawan guru, kalau cuek Bima, kalau tidur Irfan," kata Rara.


"Yang suka cepat tanggap kalau ditanya guru, dan yang kelihatan lebih tenang siapa?" tanya ibu.


"Tanggap dua-duanya Bu, kalau tenang Bima," kata Rara.


"Benar jawabmu, ibu sebenarnya sudah menilai sejak mereka bertamu di rumah, ibu masih percaya Bima," kata Ibu.


Rara hanya diam, selesai cuci piring, dia langsung mandi dan lanjut belajar untuk pelajaran besok.


Riris pulang," Selamat sore."


"Sore," ibu dan Rara menjawab.

__ADS_1


"Kamu yang beli buku atau Irfan?" tanya ibu.


"Irfan Bu," jawab Riris.


"Beli buku kok pas mau ujian," jawab ibu.


"Gak tau dia, ku cuma temenin ke toko bukunya, bantu nyarikan di tempat yang saya tau," kata Riris.


"Jangan mudah tertipu Ris," pesan ibu.


"Iya Bu," jawab Riris.


Riris segera mandi, Rinli pun tiba, "Selamat Sore."


"Sore," jawab ibu dan Rara.


"Kamu tu sudah selesai ujian ka?" tanya Ibu ke Rinli.


"Belum Bu," jawab Rinli.


"Lalu kenapa main bola?" tanya ibu.


"Refreshing," jawab Rinli.


"Awas kalau nilaimu jatuh, cuma karena kelelahan main bola dan lelah untuk belajar," kata ibu.


"Iya Bu, juga Bu bagi yang pacaran, awas kalau nilai mereka jatuh," kata Rinli.


"Kamu dikasih nasehat balik bicara kakak-kakakmu, urusan kakak-kakakmu itu khusus, apalagi soal pacaran ibu dan bapakmu ini selalu mendampingi mereka tapi itu urusan kami bukan kamu," kata Ibu.


Rinli diam, dia hanya mengetuk pintu kamar mandi katanya, "Cepet Ris."


Riris malas tau, mandi sambil bernyanyi-nyanyi.


Rara pindah ke ruang tamu untuk belajar, sambil menunggu kepulangan bapak untuk makan malam, kebiasaan yang selalu Rara lakukan sejak kecil, adik-adiknya tak pernah mengikutinya padahal mereka tau Rara selalu menunggu bapaknya pulang kerja di ruang tamu, hingga misalkan bapaknya ada halangan dan pulang telat, Ibu akan ditelpon baru Rara akan masuk kamar.


Ibu hanya tersenyum melihat Rara yang belajar di ruang tamu, hatinya tahu, Bima masih membawa pengaruh yang baik bagi Rara, namun Irfan meresahkan hatinya.


Riris selesai mandi, gantian Rinli.


"Ros, cepat ganti baju, dan belajar, hpmu mana ibu tahan," kata Ibu.


"HP Rara juga ibu tahan?" tanya Riris.


"Rara belajar di ruang tamu, ibu bisa lihat dan temani jadi ibu tahu dia main hp atau belajar, kamu kan di kamar, mana ibu tahu kamu belajar," kata ibu mulai dengan nada setengah tinggi.


Riris hanya diam, dia berganti pakaian, saat mau menggantungkan handuknya, sekalian dia menyerahkan ponselnya ke ibunya, "Ini Bu."


Ibu menerimanya tanpa sepatah kata, cuma menatap Riris. Rinlipun mengumpulkan ponselnya saat akan belajar, mereka menunggu kepulangan bapak untuk makan malam bersama.


Bapak pun tiba, "Selamat malam semua," kata bapak.


"Malam pak," jawab Rara dan ibu.


Yang pertama di peluk adalah Rara lalu ibu, setelah bapak mandi, berganti pakaian, mereka kumpul semua di meja makan dan mulai makan, bapak akan bertanya kepada mereka satu persatu tentang semua yang terjadi di hari itu.

__ADS_1


Pelukan Bapak yang sangat disukai Rara, makanya dia tak pernah lalai menanti ayahnya pulang kerja. Bagi Bapak keluarga adalah komunikasi yang terutama, dan saat makan malam adalah saat yang tepat.


__ADS_2