Jejak

Jejak
Batasan


__ADS_3

cie cie yang lagi seneng dengar kabar dari pak tentara balas Rara.


Semangat LDR dari masa pacaran sampai nanti nikah ni lanjut Putri menggoda.


Karena belum ada balasan Rara dan Putri gak lanjut ganggu Rara, Putri yang masih menunggu dosen untuk mata kuliah ketiga di sengajain membuka Facebook di lihat akunnya Irfan, namun tak ada postingan terbaru.


Mungkin dia punya akun FB yang baru, cuma aku dan teman-teman gak tau, sudahla Put, biar saja. Kata Putri dalam hatinya.


Datanglah dosen untuk mata kuliah mengetik cepat, masih muda, berparas tampan lah, beliau memperkenalkan namanya Tirta, beberapa mahasiswa termasuk Putri membuka jadwal memastikan yang masuk ini asisten dosen atau dosen, ternyata dosen, kelihatan masih muda banget.


Selesai kuliah Putri pulang, dikendarai motornya, sesampainya di rumah Putri langsung mandi dan membersihkan rumah dan masak untuk makan malam, itulah pekerjaan Putri setiap hari.


Dewi yang baru membaca WA grub, melihat balasan teman-temannya tentang Bagas dan dirinya. hanya membalas dengan icon tertawa.


Rara melihat balasan Dewi icon tertawa dia hanya senyum sambil berjalan menuju parkiran.


"Senyum-senyum sendiri, awasloh kesambet," Suara Ari dari belakang dengan teman-temannya yang rajin mengenakan masker.


"Hai," balas Rara.


Rara sejak kuliah diberikan sebuah motor oleh mami, jadilah dia pulang pergi kuliah sudah bukan gunakan angkot atau bus.


"Kalian duluan," kata Ari kepada teman-temannya.


"Ok," kata seseorang dari antara mereka.


"Ra, rumahmu dimana?" tanya Ari.


"Jalan Camar, dekat sini belok kanan setelah putaran depan, lurus terus gang pertama sebelah kiri nomor sepuluh," kata Putri.


"Dekat, makanya bisa naik motor, jauh dong dulu waktu ke SMA Bakti," kata Ari.


"Iya, dulu pakai bus, sama cowok gua dulu suka antar jemput," jawab Rara.


"Lalu dimana dia sekarang?" tanya Ari.


"Kuliah di Bandung, tapi kami sudah putus, gak ada komunikasi lagi," jawab Rara.


"Sorry waktu itu tanya agama, mamaku Katolik, ayahku Islam, aku sendiri Islam," kata Ari.


Mereka berhenti di depan parkiran motornya Rara.


"Gak apa-apa, santai aja lagi," kata Rara.


"Ok, hati-hati ya," kata Ari.


Rara pulang ke rumah, Riris yang sibuk mengerjakan tugas Fisika nya di teras rumah, membuat berantakan.

__ADS_1


"Ris kamu kok kerjanya berantakan gini si," kata Rara begitu injak teras rumah.


"Maaf-maaf, dikit lagi selesai, nanti aku aja yang bersihkan semua," kata Riris.


"Rinly mana?" tanya Rara.


"Masih di sekolah," kata Riris.


"Sampai jam segini? yang benar aja," kata Rara sambil masuk ke dalam rumah.


"Cika, kalau malming pas gua di cafe kamu bisa gak nemenin aku?" tanya Rian.


"Maaf Rian, aku gak bisa, aku selalu ke cafe dan pulang sesuai instruksi mami dan Dewi anaknya, aku dilarang nemenin tamu," kata Dewi.


"Ya sudah," kata Rian.


"Banyak minuman non alkohol di cafe, ada bonus voucher WiFi, jadi akses internet lancar, gak boring untuk nunggu papamu," kata Cika.


"Iya, gua kan dah sering di sana," kata Rian.


Cika langsung pulang ke rumah, tugas Cika di rumah cuma sapu, dan cuci piring, yang masak adalah Dewi, lalu biasa sore mereka langsung bantu kerja di cafe, Dewi langsung periksa pembukuan, Cika, nyapu dan mengelap seluruh meja dan kursi, memastikan semua tisu ada di meja, dan ruangan telah harum.


Cika juga memeriksa persediaan es baru untuk penyajian minuman, serta mengatur isi kulkas.


Setelah selesai pukul enam sore Mami datang dan langsung menyuruh Dewi dan Cika pulang.


Rangga menelepon Putri, Hallo Put.


Hallo Ga, balas Putri di sini.


Lagi kerja tuga ya? tanya Rangga di sebrang sana.


Iya Jawab Putri.


Ok lah, semangat, pengen aja dengar suaramu. Kata Rangga di telepon.


Kerja Tugas juga sana, fokus kuliah biar cepat selesai kata Putri.


Baik tuan Putri, sampai jumpa besok. kata Rangga yang langsung memutuskan teleponnya.


Ntah kenapa Putri masih tak nyaman denga Rangga, walau Rangga sudah sejuta perhatian terhadap dirinya.


Keesokannya Putri, Miki dan Mika yang setelah mata kuliah pertama duduk-duduk di teras kampus, lewatlah Pak Tirta.


"Kalian mau tau gosip gak?" tanya Mika.


"Gosip apa?" tanya Miki dan Putri.

__ADS_1


"Pak Tirta itu sudah duda loh," bisik Mika.


"Tau dari mana, jangan sembarangan nyebarin hoax," kata Miki.


"Kakak kelas pada cerita kemarin dan aku dengar," kata Mika.


"Ada anak gak?" tanya Putri.


"Gak tau," kata Mika.


"Biasa ganteng-ganteng ada masalah, gak nyaman punya pasangan cantik atau ganteng, mending biasa-biasa saja," kata Miki.


"Mungkin ada alasan yang kita tak pernah tau," kata Putri.


"Rangga kok gak datang hari ini ya," kata Mika.


"Gak tau," jawab Putri.


"Baguslah," balas Miki.


"Kenapa bagus?" tanya Mika.


"Artinya dia sadar harus ada batas untuk dia dan Putri, agar tak ada yang tersakiti," kata Miki.


"Setuju," jawab Putri.


Rara pun mengetahui batasan jika yang datang mendekat adalah yang berlainan iman, cukup berteman, Rara sengaja memperjelas tindakannya kepada Ari.


"Ra, sebelah gua ni kosong," kata Ari.


"Gak, enakan disini," kata Rara.


Selesai kuliah Ari mendekat ke Rara, "tadi malam telepon gua kenapa gak diangka?"


"Sudah malam, lain kali chat WA saja," Kata Rara.


"Kamu menjauh dari aku ya," kata Ari sambil senyum.


"Mustahil cewek dan cowok bisa sekedar berteman, aku menjaga hatiku agar tak jatuh cinta padamu, ku juga menjaga hatimu," kata Rara.


"Ok, baiklah, kita sekedar teman, dan lain kali ku hanya WA," kata Ari.


"Thanks Ri," jawab Rara.


Rara benar-benar tak ada niat pacaran dalam waktu dekat, dia masih senang sendirian.


Cika pagi itu pergi kuliah dengan Dewi, Cika turun di halaman kampusnya, namun Cika kebelet buang air kecil, dia segera ke toilet perempuan, lalu keluar, tiba-tiba tangannya di tarik seseorang, tak sempat teriak, mulutnya ditutup sebuah telapak, mata Cika terbelalak melihat wajah yang menarik tangannya, Cika ingat di sebelah toilet ada ruangan kosong gudang rupanya dia yang sembunyi disitu.

__ADS_1


Cika di sudutkan di tembok, gantian matanya yang Di tutup dan pria itu mencium bibirnya, Cika tak mau membalasnya, Cika berusah melepaskan diri dari pria itu namun susah. sekitar dua menitan akhirnya pria itu mengakhiri ciumannya, Cika langsung menamparnya dan berkata, "Kamu pikir aku gadisnya boulevard jadi seenaknya buat begini?" Cika langsung pergi keluar dari gudang.


__ADS_2