Jejak

Jejak
Akhir Semester Enam


__ADS_3

Putri sudah mulai terbiasa untuk mempersiapkan sarapan dahulu sebelum ke kampus pulang dari kampus langsung ke kantor, dari kantor ke rumah, dan mulai cuci pakaian, atau setrika, masak makan malam.


Liburan semester sudah di depan mata, takmada rencana Putri untuk jalan-jalan, apalagi tuntutan kuliah semester depan adalah praktik, sambil susun proposal. Minggu ketiga Juni akan dibagikan lokasi magang untuk Putri. Putri segera mengajukan cuti di kantornya, namun Bude Tarmi menelpon dan berkata. Gak usah cuti, kamu kerja secara online, jadi setiap malam kamu periksa laporan sekretaris.


Jika Bude Tarmi telah berkata seperti itu, tidak mungkin Putri menolak. Putri yang sedang duduk-duduk sore itu menikmati teh sebab hari itu adalah hari Sabtu, baik kuliah dan kerja libur. Kaget mendengar suara bel rumah mereka berbunyi, jika Bude Sri pasti menelpon dulu.


Putri mengintip dari jendela. segera membukakan pintu dan berkata, "Selamat Sore."


LWanita itu berkata, "Selamat sore, Rakanya ada?"


"Ada, silahkan masuk aku panggilkan," Kata Putri.


"Mas, ada tamu," Putri memanggil Raka di depan pintu kamar.


"Siapa?" Tanya Raka.


"Gak tau," Jawab Putri.


"Kamu gimana si, gak tau tapi kasih masuk orangnya," Dengan kesal Raka menegur Putri.


Raka berjalan ke ruang tamu matanya terbelalak.


"Raka!" Wanita itu segera berlari memeluk Raka.


"Apa kabarmu?" Tanya Wanita itu.


"Kamu tau rumah ini dari?" Tanya Raka.


"Rudi," Jawab Dia.


Putri melihat semuanya dari belakang.


"Siapa dia Ka?" Tanya Wanita itu.


"Saya adiknya mbak," Jawab Putri.


Kebetulan rumah ini tak ada foto pernikahan mereka, tak ada juga foto pernikahan mereka di akun media sosialnya mereka, Putri yang melarang sebab dia masih kuliah.


"Aku baru tau kamu punya adik," Kata wanita itu.


"Fia, kamu terlalu berlebihan untuk baru bertemu denganku," Kata Raka sambil melepaskan pelukannya.


"Aku kangen kamu sekali Ka, kamu kok pindah Jakarta, balik Kalimantan yuk, aku dari Kalimantan ke sini hanya untuk ketemu kamu," Kata Fia.


"Ya sudah, sudah bertemu kan," Kata Raka.


"Aku boleh tinggal di sini kan ka?" Tanya Fia.


"Kamar hanya dua, gak bisa," Raka dengan tegas menolak.


"Aku bisa sekamar dengan adikmu," Kata Fia.


"Gak bisa," Balas Raka.


"Seminggu saja Ka," Kata Fia.


"Seminggu saja, gak masalah Mas," Kata Putri.


Raka menutup matanya.


"Ok, aku di sini," Dia segera berlari ke depan pintu, ternyata kopernya telah ada di samping dinding.

__ADS_1


"Selama mbak disini, mbak yang masak ya, itu kompensasi saya ijinkan mbak tinggal di sini," Kata Putri dengan tegas.


"Ok," Jawab Fia.


"Dan, cuma seminggu," Kata Putri.


"Ok," Jawab Fia.


Malam itu, Putri bisa fokus dengan proposalnya, dia tak peduli Dia mau masak apa di dapur, Raka sibuk di kamarnya.


Keesokan harinya hari Minggu, Raka sudah menjapri Putri, "Hari ini gak usah Gereja."


Seharian itu Putri hanya menyelesaikan proposalnya dan Raka sibuk di dalam kamar, jadilah Dia seorang diri di dapur, nonton.


"Raka, rasain dong masakanku," Panggil Fia.


Raka tak menyahut, hingga pintu kamar di gedor, Raka akhirnya keluar, "Gak usah teriak-teriak!" Bentak Raka.


"Kamu akan terbiasa dengar teriakanku mulai hari ini," Goda Fia.


"Putri, makan yuk," Panggil Fia.


Putri keluar makan dan kembali masuk kamar, dia berkonsultasi secara online dengan dosennya.


Keesokan paginya, Putri segera pergi ke kampus untuk ujian akhir semester enam. Raka juga siap untuk ke kantor.


"Selamat pagi," Sapa Fia dengan semangat, Pukul lima ia telah bangun dan masak dengan segenap jiwa.


"Sarapan dulu ya," Kata Fia.


Putri enggan sarapan, "Maaf mbak, aku takut telat, aku duluan ya," Putri segera keluar dari rumah.


Ada kekhawatiran makanannya diracuni, jika ketahuan bahwa dia adalah istrinya Raka.


Putri senang sekali bebas tugas masak seminggu ini, paling dia bantu isi kulkas. Putri sengaja melambatkan diri di kantor tempat dia magang, dan di cafe dekat kantor, sehingga dia taksir pulang ke rumah pukul sembilan malam.


Sesampainya di rumh, ternyata Raka belum pulang, "Raka suka pulang malam gini?" Tanya Fia.


"Kadang," Jawab Putri.


"Aku sudah masak, makan dong," Jawab Fia.


Putri tak enak menolah, dimakanlah masakannya.


Raka pulang pukul 12 malam, Putri yang menunggu di ruang tamu, Fia sudah tidur.


"Tumben pulang malam," Kata Putri.


"Karena kegilaanmu," Kata Raka.


"Seminggu aja," Kata Putri.


"Tapi gak benar Put," Kata Raka.


"Sudah mandi, aku sudah siapkan air panas, lalu makan," Kata Putri.


"Aku gak mau makan, bukan kamu yang masak," Kata Raka.


"Kalian sebenarnya siapa?" Fia mengagetkan Putri dan Raka.


"Kami suami istri," Jawab Raka.

__ADS_1


"Berikan aku bukti," Kata Fia.


Putri menutup matanya.


Raka mengeluarkan album foto pernikahan mereka di lemari ruang tengah dan memberikannya kepada Fia.


Fia melihat semua foto per lembar, "Kenapa kalian tidur pisah dan tak jujur dari awal?" Tanya Fia.


"Karena aku masih kuliah, aku malu ketahuan nikah muda padahal masih kuliah, jadi selama ini kami menutupi dari semua orang, kecuali tetangga, keluarga dan orang kantor," Jawab Putri.


"Kamu ponakannya Bude Tarmi?" Tanya Fia.


"Iya," Jawab Putri.


"Pantas kamu yang menang, aku akan keluar malam ini, aku gak mau berada di sini," Kata Fia.


Putri dan Raka hanya diam.


Fia dengan cepat merapikan barang-barangnya dan keluar dari rumah.


"Selamat ya Ka, kamu mendapatkan apa yang kamu harapkan, menjadi menantunya keluarganya Bude Tarmi," Kata Fia.


Raka hanya diam.


"Apa maksudnya harapan kamu?" Tanya Putri.


"Gak usah pikirkan kata-katanya, besok aku pajang foto nikah kita, gak masalah ketahuan kamu sudah nikah," Kata Raka.


Putri hanya diam, Fia berjalan dalam kesendiriannya mencari penginapan, cinta yang dikejarnya ternyata telah dimiliki orang lain.


Bagas berpindah tugas ke Papua, Dewi dan Cika membuka sanggar senam kebugaran, pelatihnya mereka berdua juga dengan kakak-kakak dari cafe. Sesekali Rara juga ikut senam disitu.


Enam bulan sudah Ari kembali berkuliah, Dini tak berhenti menggencarkan perasaannya, hingga ditolak mentah-mentah oleh Ari.


Rara sengaja menjauh, dia tak mau sampai menimbulkan sakit hati yang mendalam di diri Dini.


"Ra, kamu masih di klinik?" Tanya Ari siang itu selesai ujian.


"Masih," Jawab Rara.


"Kemarin aku ke klinik gak ada kamu?" Tanya Ari.


"Aku sekarang hanya Senin, Selasa, Rabu, hari lain aku ada job pribadi," Jawab Rara.


"Job apa?" Tanya Ari.


"Menemani orang terapi pasca kecelakaan," Jawab Rara.


"Bayaran mahal tu," Kata Ari.


"Alhamdulillah Puji Tuhan," Kata Rara.


"Sekali-sekali kita nongkrong dong," Kata Ari.


"Gak janji ya," Kata Rara.


"Yah gak janji," Kata Ari.


Rara hanya ketawa.


"Kalau gitu setidaknya teman WA an," Kata Ari.

__ADS_1


"Gak janji," Jawab Rara.


Setelah putus dari dokter Ian, Rara semakin malas menjalin hubungan dengan seorang pria, dia lelah berkenalan, lalu berusaha memahami, namun akhirnya putus. Akhirnya Rara fokuskan untuk kuliahnya dan teman-temannya.


__ADS_2