Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Kuara 10.


__ADS_3

Keadaan di kos itu sudah sepi. Penghuni yang tadi sedang mengorbol sudah tidak ada disana. Tiba-tiba aku merasa suasana mencekam ada di sekitarku.


Tepukan di bahu membuatku terkejut dan langsung berbalik badan. Ternyata itu adalah Awan. Dia sudah berpakaian lengkap dan rapi.


“Kau mengejutkanku.” Desisku sambil mengusap dada.


“Hehehe. Lepas hoodienya. Pakai yang ini saja. Kering. Itu sudah basah.” Ujar Awan menyodorkan jaket tebal kepadaku.


“Tidak usah. Ini saja. Sudah tidak basah.” Alasanku. “bisa antar aku pulang sekarang?” Ujarku lagi yang ingin segera pergi dari tempat ‘berbahaya’ itu.


“Tunggu sebentar.” Lantas Awan segera mengunci pintu dan mengenakan jaket yang hendak di berikannya padaku tadi. “Ayo.” Ajaknya kemudian.


Aku menurut dan mengikuti Awan di belakangnya. Fikiranku tidak bisa lepas dari pemandangan yang kulihat tadi.


Kali ini, aku menolak saat Awan hendak memakaikan helm di kepalaku. Aku bisa melakukannya sendiri.


Awan tidak protes. Dia hanya membiarkanku menyambar helm itu dari tangannya. Setelah naik dengan sempurna, Awan mulai melajukan sepeda motornya.


Sepanjang perjalanan aku memilih hanya membicarakan hal yang penting saja. Seperti saat menunjukkan arah menuju ke rumahku.


“Disini.” Ujarku memberitahu. Kemudian Awan segera berhenti di depan pintu gerbang dan aku segera turun.


“Ini rumahmu?” Tanya Awan. Aku mengangguk.


“Trimakasih sudah mengajakku melihat pertunjukkan yang bagus.” Ujarku.


“Dan terimakasih karna sudah mau ku ajak. Masuklah.”


Aku kembali mengangguk. Kali ini dengan senyuman. Aku mengembalikan helmku padanya.


“Cepat istirahat. Hangatkan tubuhmu. Aku pergi dulu.” Pamitnya dengan tersenyum manis.


Aku tidak mengangguk ataupun meng-iyakan. Hanya menatapi punggung kekar yang tadi kulihat polosan itu pergi dan menghilang dari pandanganku.


Perlahan aku membuka gerbang rumah. Keaadan rumahku sudah sunyi. Sepertinya semua penghuninya sudah terlelap.


Mengendap-endap saat masuk ke dalam rumah adalah jalanku agar tidak ketahuan ibu. Memang aku sudah meminta izin padanya tadi. Tapi pulang selarut ini tetap akan mendapat omelan darinya.


Aku baru bisa bernafas lega saat sudah berhasil masuk ke dalam kamarku. Melemparkan tasku ke sembarang arah di sofa.


Sebelum bersiap menyambut mimpi, aku melepas hoodie milik Awan dan mengganti pakaianku. Tidak perlu mandi. Aku tidak berani mandi selarut ini. Hanya membersihkan wajah dan kaki saja kemudian langsung melemparkan diri ke atas ranjang nyamanku.


Seperti ada yang kurang saat aku tidak memegang ponsel untuk menjemput rasa kantuk. Akupun kemudian bangkit dan menghampiri tas di sofa dan mencari ponselku.


Tapi aku tidak menemukannya.


Aku panik. Kucari lagi dan tetap tidak menemukannya.


Sekarang aku baru teringat kalau tadi ponsel itu aku letakkan di sofa di kos Awan. Astaga. Pasti tertinggal disana.


**

__ADS_1


**


Kelopak mataku masih terasa sangat berat saat mendengar ketukan di pintu kamarku.


“Mbak Ara!” Panggil Sindi.


“hmm?”


“Mbak Ara tidak kuliah?”


Mendengar kata kuliah, kelopak mataku otomatis terbuka. Aku baru menyadari kalau kamarku sudah terang benderang.


Aku tidak sempat lagi menyahuti Sindi. Aku langsung menyingkap selimut dan berlari ke kamar mandi.


Semua ku lakukan dengan secepat kilat. Mandi, berpakaian,


sampai membereskan buku-buku pelajaranku.


Sebelum keluar kamar, aku memastikan kesiapanku sekali lagi di depan cermin. Setelah yakin kalau sudah baik secara keseluruhan, aku lantas keluar dari kamar.


Aku begitu terkejut mendapati Yuta yang berdiri di depan kamarku dengan tangannya yang setengah terangkat.


“Astaga!” Pekikku. “Yuta, sedang apa kau disini?”


“Untuk membangunkanmu. Aku kira kau belum bangun. Aku menelfonmu sejak tadi tapi kau tidak  mengangkatnya.” Yuta memberi laporannya.


Ah, ponsel. Aku melupakannya.


Aku segera berlari kecil menuruni tangga. Membiarkan Yuta mengikuti di belakang.


“Sarapan dulu!” Teriak ibu dari arah meja makan.


“Tidak sempat, Bu. Aku sudah hampir terlambat. Aku akan sarapan di kantin saja.” Ujarku. Aku hanya menyalami ayah dan ibu sebelum kembali melesat keluar rumah.


Sedang membuka pintu mobil Yuta yang terparkir di halaman rumah, aku melihat seorang pria yang terdengar sedang berbicara dengan Sindi di depan gerbang. Aku mengenali helm yang di kenakan pria itu.


Itu adalah Awan.


Aku tidak jadi masuk ke dalam mobil dan kembali menutupnya. Lantas berlari menghampiri Awan


“Awan!” Panggilku. Aku berhenti tepat di depannya. Aku memberi kode kepada Sindi untuk kembali ke dalam rumah.


“Untung saja kau belum pergi.” Ujar Awan. Ia merogoh kedalam ranselnya kemudian menyodorkan ponselku. “Aku menemukannya di sofa.” Ujarnya kemudian.


“Hehehe. Terimakasih. Semalam aku lupa.” Aku menerima ponsel itu kemudian langsung memasukkannya ke dalam tas. Sengaja tidak memperlihatkannya kepada Yuta.


“Mau ke kampus?”


Aku mengangguk. “Awan, aku minta maaf. Tapi aku tidak punya banyak waktu. Aku sudah terlambat.”


Pandangan Awan melewatiku. Sepertinya ia melihat ke arah Yuta. Jadi aku ikut menoleh ke belakang. Aku melihat Yuta yang masih setia menunggu di pintu mobil yang terbuka. Menatap dingin kearah kami.

__ADS_1


Rasa canggung menyelimutiku. Kecanggungan yang kurasakan di antara dua pria itu.


“Baiklah kalau begitu.” Kata Awan yang langsung menutup kaca helmnya kemudian melajukan motornya.


“Ara!” Panggil Yuta. Akupun bergegas menghampirinya dan masuk ke dalam mobil.


“Siapa itu?” Selidik Yuta.


Ada perasaan ragu yang menyelimuti hatiku untuk berkata jujur kepada Yuta. Tapi di sisi lain, aku tidak tega membohonginya. Lagipula untuk apa aku berbohong. Tidak ada yang perlu di sembunyikan dari hubunganku dengan Awan.


“Teman.”


“Aku baru melihatnya.”


“Karna aku juga baru berteman dengannya.”


“Kenapa dia kemari?”


“Yuta, aku tidak perlu menjawabnya, kan?”


Yuta mengerti maksudku. Ia tidak lagi membahas perihal kedatangan Awan ke rumahku.


Hanya jeda tiga menit sebelum dosen masuk ke dalam ruangan kami. Untung saja kami tidak jadi terlambat. Aku bernafas dengan lega.


“Bagaimana kencanmu?” Bisik Fio setelah jam pelajaran berakhir.


“Tutup mulutmu, Fio. Siapa yang berkencan?”


“Bukankah kemarin itu kekasihmu?”


“Jangan sembarangan.”


“Aku fikir pria itu kekasihmu. Alasan yang membuatmu selalu menolak perasaan Yuta.”


Aku terdiam. Tidak menggubris ocehan Fio dan memilih sibuk memasukkan buku ke dalam tasku.


“Jangan beritahu Yuta tentang kemarin.” Ancamku sambil memelototi Fio. Biar bagaimanapun, aku harus menjaga perasaan Yuta.


“Bakso?” Tanting fio.


“Lima porsi selama seminggu.” Jawabku.


“Oke. Setuju.” Fio kemudian melenggang keluar dari ruang kelas mendahuluiku dengan wajah puas.


Saat Yuta menyambar tasku, aku masih saja terkejut dengan kelakuannya itu. Padahal hampir setiap hari Yuta seperti itu.


“Hei! Tunggu aku!” Aku segera mengikuti Yuta dan Fio yang sudah melenggang lebih dulu keluar dari kelas.


*


yup. sudah awal bulan baru. mulai sekarang, aku akan update rutin kayak biasanya ya. 2 episode per hari. doakan semoga otakku gak keriting dan bisa rutin up buat menghibur kalian semua.

__ADS_1


jangan lupa terus dukung author dengan like, komen, rate, vote, poin. karna hanya itulah penyemangat author agar inspirasi mengalir lancar kayak pake pipa ruci*a. dimana ide mengalir sampai jauh.. hahahaha. (ini bukan iklan).


__ADS_2