Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Rahwana 22.


__ADS_3

Sudah setahun lalu aku menyelesaikan study sarjanaku. Dan sudah setahun ini aku sedang menempuh magister dikampus yang sama.


Perlahan, nama Kuara mampu ku simpan di sudut hatiku yang paling dalam dan menguncinya rapat-rapat. Benar ini hanya masalah waktu. Waktu yang akan mengatur semua hal tentang ingatan akan sebuah kenangan manis.


Hari ini, aku berencana untuk pulang ke Indonesia setelah dua tahun tidak pulang. Waktu keberangkatanku masih sekitar 4 jam lagi. Aku duduk sendiri di sebuah cafe di bandara. Memandangi rintik salju tebal yang turun menutupi apapun yang ada di bawah. Membuat jarak pandang menipis.


Sudah pertengahan musim dingin dan salju selalu turun setebal ini. Ini tidak lepas dari pengaruh perubahan iklim ekstrim karna pemanasan global.


Keberangkatanku di tunda karna cuaca yang tidak menentu. Dan kalau 4 jam kemudian cuaca tidak kunjung membaik, maka penundaan akan di perpanjang.


Menyeruput kopi hangat sedikit membantu tubuhku mengusir hawa dingin. Walaupun ruangan cafe ini sudah di lengkapi dengan penghangat, tapi melihat pemandangan di luar itu, aku seperti bisa merasakan hembusan dinginnya sampai ke tulang-tulangku.


“Bagaimana ini? Saya sudah tidak dapat tiket pesawat. Tiketnya sudah habis. Bahkan besok juga tidak dapat tiket. Saya harus kembali hari ini juga, Pak. Lusa saya akan menikah. Apa tidak bsia di usahakan?”


Aku menoleh ke arah belakangku setelah mendengar pria itu berbahasa Indonesia. Dan aku sangat terkejut saat mengenali siapa pria itu.


Yuta!


Ya, dia adalah Yuta. Pria yang sudah berhasil mendapatkan Kuara.


Pandangan kami bertemu. Nampaknya, Yuta juga terkejut saat melihatku.


“Kau?” Yuta menunjuk ke arahku tidak percaya. Dia mematikan ponselnya kemudian berjalan dan berpindah duduk di depanku.


“Hai...” Aku bingung harus menyapanya bagaimana. Jujur, sakit hatiku melihat dan bertemu dengan Yuta seperti ini.


Aku sudah tidak ingin mengeluarkan nama Kuara dari sudut hatiku. Tapi setelah bertemu Yuta, perlahan nama itu kembali mencuat dan mencabik-cabik dadaku.


“Kauuu?? Aku yakin kita pernah bertemu sebelumnya. Tapi dimana?”


Apa ini? Jadi dia mengingatku apa tidak?


“Kau sudah melupakanku? Padahal kita dulu rival.” Ujarku sambil melemparkan senyum yang ku paksakan. Aku tidak ingin terkesan menjadi pengecut yang membenci pria yang mempersunting gadis idamanku.


“Ah, kau seperti familiar. Tapi aku tidak bisa mengingatnya.”

__ADS_1


“Astaga, Yuta. Ini aku, Awan.”


“Ah, ya! Awan. Benar. Awan. Ya ampun. Apa kabarmu? Wajahmu sudah banyak berubah. Jadi aku tidak bisa langsung mengingatmu.”


Aku terkekeh dan menyambut uluran tangan Yuta.


”Kau terlihat jauh lebih dewasa. Dan semakin tampan.”


“Menggelikan sekali rasanya mendapat pujian dari sesama pria. Sedang apa kau di Boston?”


“Aku ada pekerjaan sedikit. Aku berniat pulang hari ini. Tapi sudah tidak kebagian tiket.”


“Apa kau dan Kuara sudah menikah?” Dalam hati aku merutuki bibirku yang tidak bisa mengerem ini. Entah kenapa aku harus menanyakan hal yang sudah jelas akan menyakiti hatiku sendiri seperti ini.


“Itulah masalahnya. Kami akan menikah lusa. Dan konyolnya sekarang aku malah terjebak disini. Sudahlah tidak kebagian tiket. Cuaca juga tidak mendukung pula. Astaga. Aku bingung harus bagaimana.”


“Aku fikir kalian sudah menikah. Bukankah kalian sudah lama bertunangan?”


“Iya. Kami sudah lama bertunangan. Lebih dari dua tahun. Kuara ingin menyelesaikan S2-nya terlebih dulu. Dia gadis yang hebat. Bahkan belum lama ini dia di terima di kampus Halim Abimanyu sebagai dosen. Dia benar-benar fokus dalam mengejar cita-cita.


Aku mengernyit kesal. Aku tidak suka melihat binar mata Yuta yang nampak sangat bahagia saat menceritakan tentang Kuara.


“Maaf aku lebih beruntung ketimbang kamu, Awan. Aku tau kalau dulu kamu juga menyukai Kuara. Aku masih tidak mengerti kenapa perjuanganmu tiba-tiba berhenti.”


“Anggap saja kau lebih beruntung daripada aku. Hahahaha.”


Aku benar-benar ingin tau keadaan Kuara. Tapi hatiku merasa tidak sanggup untuk mendengar kisahnya lebih jauh lagi.


“Apa kau butuh bantuan? Aku bisa membantumu.” Tawarku pada akhirnya.


Apa ini? Apa aku sedang bersikap baik hati kepada calon suami pujaan hatiku? Demi apa aku menawarinya bantuan? Argh!


“Dengan senang hati. Apa yang bisa kau bantu? Apa kau punya pesawat pribadi? Kalau begitu ijinkan aku menumpang. Hahahahaha.”


Aku ikut tersenyum. “Aku tidak punya pesawat pribadi. Aku hanya punya satu tiket. Dan aku bisa memberikannya padamu.”

__ADS_1


“Aku tidak akan menolak kalau itu bisa di lakukan. Aku tidak ingin terlambat di pernikahanku sendiri. Heheheh. Tapi, tiket itu sudah atas namamu. Bagaimana berurusan dengan imigrasi?”


Aku hanya tersenyum. Aku menyodorkan lembaran tiket yang tersimpan dalam pasportku kepada Yuta. Kemudian, aku menelfon Ben dan meminta bantuannya untuk mengurus administrasi tentang tiket itu. Hal seperti ini adalah hal kecil bagi seorang Benjamin Abraham. Keluarganya sangat berpengaruh jadi dia mudah melakukan apapun.


“Sudah. Kau bisa menukar tiket ini dan menggantinya atas namamu.”


“Benarkah?” Yuta nampak sangat senang.


“Anggap saja ini sebagai hadiah dariku untuk pernikahan kalian. Semoga kau selalu bisa membuat Kuara bahagia. Aku berharap banyak padamu.”


Yuta terdiam. Dia hanya menatapku dengan menaikkan sebelah alisnya. Mungkin dia merasa heran dengan ucapanku.


“Lantas bagaimana denganmu? Bukankah kau juga ingin pulang karna ada hal yang mendesak?”


“Tidak semendesak seperti akan menikah. Hahahaha.”


Yuta tersenyum. Dia menarik tiket itu dan memeganginya.


“Terimakasih, Awan. Kau sangat baik. Aku akan mengganti harga tiketnya. Berikan nomor rekeningmu.”


“Tidak perlu. Bagaimana bisa kau membayar hadiah pernikahan dariku? Bawa saja. Aku sudah punya banyak uang. Tidak perlu menggantinya. Hahahahahhaa.”


“Kau ini. Kalau begitu terimakasih. Aku akan menyimpan hadiah ini baik-baik.”


Kami menghabiskan waktu hampir dua jam untuk mengobrol. Aku lebih banyak mendengarkan walau hatiku sakit. Yuta selalu menyerempet tentang Kuara. Bagaimana aku tidak sakit hati?


Sepertinya dia sengaja. Apa dia ingin membanggakan diri denganku? Karna sudah berhasil mendapatkan Kuara, begitu? Menyebalkan.


“Kalau lusa kau sudah tiba di Jogja, datanglah ke pesta pernikahan kami.” Ujar Yuta kemudian.


“Untuk apa? Kau tidak mengundangku secara resmi.”


“Astaga. Anggap saja ini resmi karna calom mempelai pria pribadi yang mengundangmu. Saat ini aku tidak membawa undangannya.”


“Hahahahaha. Aku bercanda. Aku tidak bisa berjanji. Seperti yang kau tau, terlalu sulit untuk mendapatkan tiket pulang ke Indonesia dalam waktu dekat.”

__ADS_1


Yuta mengangguk-anggukkan kepala. Padahal, aku bisa mendapatkannya saat ini juga dengan memanfaatkan pengaruh dari keluarga Abraham.


Datang ke pernikahan mereka? Yang benar saja. Itu sama saja aku menusuk hatiku sendiri dengan belati. Dan aku masih cukup waras untuk tidak melukai diriku sendiri dengan menghadiri pernikahan mereka.


__ADS_2