
Seiring waktu, aku telah berhasil mengendalikan rasa bersalahku. Walaupun itu memakan waktu lebih dari tiga tahun lamanya.
Selama tiga tahun ini, aku menetap di boston. Mengurusi bisnis kerjasamaku bersama dengan Ben. Aku tidak benar-benar memutus hubunganku dengan Kuara. Aku rutin menerima kabar tentangnya dari Mas Mahli. Ya walupun aku tidak langsung berhubungan dengannya, tapi aku selalu tau kabar tentangnya.
“Bukankah sudah saatnya kau kembali? Aku fikir perusahaan ayahmu sedang membutuhkanmu.” Ujar Ben pada suatu malam. Kami sedang minum di sebuah bar.
Ya aku juga berfikir begitu. Sudah beberapa kali Papa memintaku untuk pulang ke Jogja. Tapi hatiku masih merasa berat untuk kembali.
“Ben, maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang. Akan ku hubungi supirmu.” Tawarku. Karna nampaknya Ben sudah sedikit mabuk.
Karna aku tidak minum, aku bisa mengemudikan mobil sendiri ke apartemen.
Sesampainya di apartemen, aku di kejutkan oleh kedatangan Keysi. Gadis itu sedang menungguku di luar apartemen.
“Kapan kau sampai?” Tanyaku.
“Baru saja, Pak.”
Oh ya, sekarang Keysi bersikap sopan padaku. Dia sudah bekerja di yayasan sebagai sekretaris pedamping Papa.
“Masuklah.” Aku mempersilahkan Keysi untuk masuk ke dalam apartemen. “Kenapa tidak mengabari kalau mau kesini?”
Keysi duduk di sofa. Dia hanya diam saja.
“Jadi, kenapa kau kesini?” Aku mengambilkan air minum untuk Keysi.
“Pak Daniyal sedang tidak sehat, Pak. Saya di utus untuk menjemput Bapak kembali ke Indonesia.”
“Key, bisakah kau tidak terlalu kaku begitu? Aku tidak suka sikapmu berubah padaku. Bersikaplah seperti dulu saat kita baru pertama bertemu.”
“Tidak, Pak. Saya tidak bisa. Saya adalah sekretaris Pak Awan. Saya sudah di tegaskan untuk menghormati Bapak. Sekali lagi, kita bukan teman.”
Astaga. Kaku sekali. Aku menggaruk sebelah alisku yang sebenarnya tidak gatal.
“Baiklah, terserah kau saja. Bagaimana kondisi Papa?”
“Lebih buruk dari sebelumnya. Maka dari itu saya di suruh untuk membawa Bapak kembali sekarang juga.”
Ah, benar-benar. Keysi tidak mau mendengarkanku. Aku merasa tua di panggil ‘Pak’ olehnya. Padahal kami seumuran.
“Saya sudah memesankan tiket untuk Bapak. Berangkat besok sore.” Jelas Keysi lagi.
Aku mengantarkan Keysi sampai ke depan apartemen. Malam ini, dia menginap di hotel. Sementara aku bergegas untuk membereskan pakaianku yang akan kubawa pulang ke Indonesia. Begitulah paksaaan Papa untuk membuatku kembali.
__ADS_1
Sudah satu bulan aku berada di Indonesia. Disini aku benar-benar di sibukkan dengan kegiatan mengurusi yayasan dan beberapa anak perusahaan. Untung ada Keysi yang sigap membantuku.
Sebuah telfon masuk ke ponselku saat aku sedang sibuk mengurusi berkas. Aku tersenyum saat mengetahui kalau itu adalah nomor Lisa.
“Hai?”
“Awan! Aku sudah tiba di Indonesia!” Pekik Lisa dari seberang.
“Benarkah? Aku akan menjemputmu ke bandara.”
“Tidak perlu. Adikmu sudah datang menjemput kami.” Ujar Lisa.
“Baiklah. Sampai bertemu di rumah.”
Aku meminta Keysi untuk mengosongkan jadwal sore ini. Aku ingin menghabiskan waktu bersama dengan Lisa dan Jason yang baru saja tiba di Jogja untuk berbulan madu.
Aku bergegas pulang ke rumah. Ternyata mereka sudah ada di rumah. Aku mengernyit saat kedatangan satu tamu lagi. Dia adalah ben.
“Kau sedang apa disini?” Tanyaku.
“Aku merindukan kekasihku.” Ujar Ben sambil melirik genit kepada Maiga. Sementara adikku itu nampak tersipu malu.
“Astaga. Aku benar-benar tidak menyangka kau akan jadi adik iparku, Ben.”
Selepas makan malam di rumah, aku, Maiga, Ben, Lisa dan Jason, berjalan-jalan di Malioboro. Menikmati suasana malam yang tidak pernah sepi di 0 kilometer.
Kota ini, seolah tidak pernah mengenal lelah untuk beraktifitas. Banyak muda mudi yang menghabiskan malam untuk sekedar melepas penat di sini.
Kami berjalan di sepanjang jalan Malioboro. Membeli beberapa camilan untuk mengganjal perut dan mengusir udara dingin.
Aku berjalan paling belakang. Mengawasi dua pasangan kekasih yang saling berpaut tangan di depanku. Menyebalkan sekali.
Aku berencana mengusir kekesalanku dengan ponsel. Tapi saat aku mencari ponsel di saku, aku tidak menemukannya.
Sial. Aku pasti telah meninggalkannya di mobil.
“Kalian duluan saja. Aku ingin mengambil ponsel di mobil.” Pamitku kepada dua pasangan itu.
Aku langsung berbalik dan berjalan kembali ke arah tempat parkir.
Aku terhenyak. Sekelebat bayangan seseorang gadis yang sangat ku kenali melintas di depanku. Dia adalah Kuara. Seorang pria tengah menarik tangannya dan memaksanya masuk ke dalam sebuah mobil.
Aku diam-diam terus memperhatikan Kuara yang nampaknya sedang bersitegang dengan pria itu. Apa itu suaminya? Atau kekasihnya? Entahlah.
__ADS_1
Kaca mobil yang transparan membuatku bisa melihat seluruh yang terjadi di dalam mobil itu.
Aku merasa konyol karna memperhatikan mereka. Jadi aku berniat hendak pergi ke mobilku dan mengambil ponsel.
Namun sesuatu menghentikanku. Aku menoleh kepada mobil Kuara saat hendak masuk ke mobilku. Saat itu, aku melihat pria itu sedang mencekik Kuara. Aku menajamkan penglihatanku untuk melihatnya dengan jelas. Tidak, aku tidak salah lihat. Pria itu benar-benar mencekiknya.
Tidak menungu waktu, aku segera berlari dan merangsek ke arah mobil mereka. Sebuah kebetulan kalau ternyata pintu mobil itu tidak terkunci.
“Woi!” Teriakku. Aku menolak tubuh pria itu hingga terjungkang ke belakang. Sementara aku menarik tubuh Kuara yang langsung ku gendong.
“Kuara...”
“Kenapa, Mas?” Tanya seseorang penjaga parkir.
“Dia mencekik gadis ini sampai pingsan.” Aduku.
“Hei! Mau kau bawa kemana tunanganku?!” Pekik pria itu yang sudah keluar dari mobilnya.
Pria itu hendak merangsek kepadaku yang masih membopong tubuh lemah Kuara. Untung saja si tukang parkir beserta beberapa orang menghentikannya.
“Pak, tolong panggil polisi. Saya bawa ke rumah sakit dulu.” Pamitku kepada mereka.
Pria yang mengaku sebagai tunangan Kuara itu terus memberontak memanggilku. Aku tidak peduli. Aku segera memasukkan Kuara dan melajukan mobil menuju ke sebuah rumah sakit swasta yang tak jauh dari kawasan Malioboro.
Dokter segera melakukan penanganan kepada Kuara. Sementara aku menunggu dengan harap-harap cemas.
Aku menghubungi Mas Mahli dan memintanya memberitahu keluarga Kuara. Ayah Kuara tiba lebih dulu ke rumah sakit. Aku langsung menemuinya.
“Terimakasih, Mas. Sudah menolong putri saya.”
Ayah Kuara tidak mengenaliku. Entah apa yang membuatku tidak memperkenalkan diriku padanya. Ada rasa berat hati untuk mengakui siapa diriku kepada ayah Kuara. Aku merasa tidak ingin Kuara tau kalau aku telah menolongnya.
“Sama-sama, Pak.”
Kami sedang berada di sisi ranjang Kuara. Dia masih belum sadar dari pingsan.
Sementara menunggu Kuara sadar, aku menceritakan kronologi kejadiannya kepada ayah Kuara. Pak Arya nampak menggeram marah dengan mengepalkan tangannya.
“Bapak tidak usah khawatir. Pelakunya sudah diamankan di kantor polisi.” Jelasku kembali.
“Terimakasih, Mas. Sekali lagi terimakasih.”
Aku tidak menunggu Kuara sadar. Aku hanya ingin memberi pelajaran pria yang sudah menyakiti Kuara. Lantas aku bergegas pergi ke kantor polisi.
__ADS_1