
Ada rasa ingin bersama dengan Awan dalam sebuah ikatan status. Tapi lagi-lagi aku tidak ingin plin plan dan terkesan menjilat ludah sendiri. Aku benar-benar tak kuasa menahan perasaanku padanya.
Bukan aku tidak berusaha membendungnya. Aku sudah mencoba. Tapi gagal. Tekadku mengatakan aku harus menjaga jarak dengannya. Tapi hatiku berkata lain. Aku bahkan bisa berjingkrak semalaman saat dia hanya mengucapkan ‘selamat mimpi indah’ di pesan yang dia kirim.
Hanya Awan, pria yang mampu membuatku kelabakan dan merasa ingin menjilat ludah sendiri. Membuatku lupa tentang rencana masa depan yang sudah ku susun rapi. Membuatku tidak lagi mengindahkan tekad untuk mandiri dan berhasil dengan usahaku sendiri. Awan sudah memporak-porandakan semua rencana-rencana itu.
“Kita istirahat disini sebentar, ya.” Ujar Awan yang kemudian membelokkan motor ke arah Pantai Indrayanti.
Aku segera turun dari motor saat Awan sudah berhenti di tempat parkir. Mengedarkan pandangan ke arah pantai yang lumayan penuh oleh pengunjung. Tengah hari yang terik membuat pantai masih menjadi tujuan favorit para wisatawan.
“Tidak keberatan, kan?” Tanya Awan lagi. Aku segera menggeleng.
Tentu saja aku tidak keberatan. Karna aku suka dengan pantai. Walaupun suka, tapi aku jarang menceburkan diri di dalamnya. Aku takut air. Lebih tepatnya, aku takut tenggelam karna aku tidak bisa berenang.
Aku mengikuti Awan masuk ke sebuah cafe yang ada di sana. Awan menawariku kelapa muda dan segera kusambut dengan anggukan kepala.
Panas-panas begini, minum kelapa muda adalah obat paling mujarab.
Awan memilih duduk di gazebo yang ada di luar cafe. Suasana segar langsung menyambut kami.
“Awan!” Pekik seorang pria yang kuperkirakan berumur 30 tahunan. Pria itu melambai kepada Awan.
“Mas Feri.” Sapa Awan yang melambaikan tangan juga kepada pria yang berjalan kearah kami itu.
Awan dan mas feri melakukan tos ala pria. Aku hanya memperhatikannya saja. Mengangguk sopan saat Mas Feri melihat dan tersenyum padaku.
“Siapa ini? Pacar?” Tanya Mas Feri.
Aku melihat Awan hanya tersenyum saja. Tidak mengakui, juga tidak membantahnya.
Menurutku sendiri itu adalah jalan aman bagi kami. Toh kami memang tidak sedang dalam sebuah ikatan. Sikap Awan itu menunjukkan kalau dia bijaksana.
“Saya Feri, sepupu Awan.” Mas Feri mengulurkan tangan padaku.
“Saya Kuara, Mas.” Sambutku.
“Oke, Kuara. Silahkan dinikmati. Kalau butuh apa-apa, jangan segan-segan memberitahu Awan. Hahahaha.” Mas Feri terkekeh kemudian pergi meninggalkan kami.
__ADS_1
Tapi kemudian, mas feri kembali dan terlihat membisikkan sesuatu ke telinga Awan. Aku tidak tau apa itu, yang jelas aku melihat wajah Awan yang nampak sangat terkejut dan berubah merah. Dia nampak celingukan ke arah dalam cafe mencari sesuatu.
“Ara, aku ke kamar mandi sebentar, ya.” Ujar Awan yang langsung melesat tanpa persetujuanku. Aku hanya bisa melirik punggungnya yang pergi ke arah dalam cafe, bukan kamar mandi.
Lumayan lama aku menunggu Awan kembali. Aku bahkan sudah menghabiskan setengah air kelapa mudaku.
Merasa bosan, aku beranjak dari gazebo dan berjalan perlahan menuju ke arah pantai yang sedang surut. Aku segera menyingsingkan celanaku sampai betis agar tidak basah terkena air. Dan aku segera menceburkan kaki ke sana.
Air laut hanya setinggi mata kakiku. Dengan rumput laut yang menghijau di sepanjang bibir pantai yang berupa karang itu.
Aku memperhatikan beberapa anak kecil yang sibuk menangkapi bulu babi dengan menggunakan sebilah kayu. Mencungkil dan mencungkil dengan tanagn-tangan kecil mereka. Orang tua mereka hanya mengawasi dari dekat dan membiarkan mereka bermain sesuka hati.
“Mau Mbak bantu?” Ujarku yang ikut tertarik. Aku juga ingin mencari bulu babi tapi juga malu kalau hanya sendiri. Seperti orang hilang saja.
“Boleh.” Jawab salah satu anak. Dia memberikan bilah bambu pendek padaku.
Sesekali aku bercanda dengan mereka. Membuatku berbaur dengan kesenangan mereka. Mereka akan bersorak senang saat aku berhasil mendapatkan satu bulu babi yang terselip di lubang batu karang.
Kesenangan itu membuatku lupa kalau aku datang kesana bersama dengan Awan.
Sambil menungging, aku mencoba sekuat tenaga untuk mencungkil hewan itu. Tapi sayangnya, alatku tidak terlalu kuat untuk mengangkatnya. Aku masih berusaha dan semakin mendekatkan genggamanku ke ujung bambu. Berharap akan memperkuat bambu itu hingga aku berhasil mencungkilnya.
Namun akhirnya bambu itupun patah. Dan secara otomatis membuatku terjungkang kebelakang.
“Ahh!” Pekikku karna terkejut.
Sebuah lengan menahanku dari terjatuh ke dalam air. Aku melihat kepada wajah Awan yang berkerut menatapku dengan khawatir.
Aku baru sadar kalau punggungku mendarat di dadanya dengan tangan Awan yang menahan tubuhku.
“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya.
Aku segera menarik diri dan berdiri dengan sempurna. “Aku tidak apa-apa. Terimakasih.” Jawabku.
“Darah!” Teriakan anak yang tadi kubantu mengejutkan kami. Aku menoleh kepadanya dan anak itu sedang menunjuk ke arah tangan kananku.
Akupun segera melihat ke tempat yang sama. Aku terkejut melihat tangan kananku yang masih memegang bilah bambu yang patah sudah mengeluarkan darah segar.
__ADS_1
Dan aku lebih terkejut saat Awan tiba-tiba meraih tangaku ke hadapannya. Menatap tanganku penuh khawatir.
“Kau terluka.” Ujarnya.
Sepertinya bilah bambu yang patah itu telah melukai tanganku tanpa kusadari. Aku membuka tangan perlahan dan Awan segera mengambil bilah bambu itu dengan hati-hati.
Ibu dari anak-anak itu memberikan tisu kepada Awan dan Awan segera membersihkan darah di telapak tanganku dengan perlahan.
Setelah darah setengah bersih, aku melihat ada luka sayatan yang cukup panjang di tengah-tengah telapak tanganku. Dan sekarang aku baru merasakan perih yang tidak terkira.
“Ssssppp.” Ujarku menahan rasa perih.
Darah di tanganku tak kunjung berhenti. Dan rasa perihnya semakin menjadi.
“Ayo.” Awan menarik lenganku untuk keluar dari air.
Kini, aku sedang duduk digazebo yang semula.
“Tunggu disini. Jangan kemana-mana.” Ujarnya dengan tatapan mengancam padaku. Awan beranjak pergi dan masuk ke dalam cafe.
Beberapa saat kemudian, Awan sudah kembali dengan membawa kotak p3k kecil di tangannya.
Awan segera merawat lukaku. Membersihkannya dengan alkohol kemudian meneteskan obat luka di atasnya. Aku mengernyit karna rasanya perih sekali. Dengan hati-hati, dia kemudian menempelkan perban di sana.
“Sudah.” Ujarnya kemudian menatapku. “Sakit sekali?”
Aku mengangguk. “Perih.”
“Kenapa tidak hati-hati?!” Awan memarahiku.
“Kenapa memarahiku?! Aku juga tidak sengaja.” Aku balas memarahinya.
“Hufh. Maaf.” Lirihnya kemudian. “Kalau masih sakit, kita ke rumah sakit saja.” Sarannya itu kuanggap berlebihan. Ini hanya luka sayatan yang tidak terlalu dalam.
“Tidak perlu. Lukanya tidak dalam. Sudah di obati dan sebentar lagi pasti sakitnya menghilang.”
Awan diam mendengarkanku. Dia hanya terus memperhatikanku dengan tatapan dalam.
__ADS_1