
Kuara dan Awan masih saling tatap. Mereka tidak menyadari kalau Lisa sudah berdiri di hadapan mereka dengan tatapan heran.
“Ehem!” Lisa berdehem. Barulah Kuara dan Awan langsung melihat kepadanya.
“Ibu?”
Lisa mengambil duduk di hadapan mereka. Begitu juga dengan Micha.
“Hai Micha?” Sapa Awan ramah. Membuat Lisa kembali mengerutkan keningnya. Wanita paruh baya itu menelisik setiap inci wajah Awan.
“Siapa?”
“Halo, Bu. Apa kabar? Ini saya, Awan.”
“Awan?” Lisa nampak mengingat-ingat nama yang terdengar familiar di telinganya.
“Ooh! Awan?! Yang dulu itu?!” Pekik Lisa sumringah saat sudah mengingat siapa Awan.
“Iya, Bu. Ibu apa kabar?”
“Baik-baik. Waaaaah. Ibu sampai tidak mengenalimu karna kau berubah jadi lebih tampan. Hahahahaha.” Seloroh Lisa kemudian.
Awan hanya terkekeh kecil mendapat pujian itu.
“Ya ampun, kau banyak berubah, Awan.”
“Tapi di dalam, saya masih Awan yang dulu, Bu. Yang menyayangi Ara dengan tulus.”
Sambil berkata begitu, Awan menoleh dan tersenyum kepada Kuara. Sementara Kuara hanya terdiam saja. Ada sesuatu yang menggelitik di perutnya saat tatapan mereka bertemu.
“Waaah.. Ibu seperti pernah mendengar kalimat itu sebelumnya. Ahahhaha.”
Dan Awan hanya tersenyum simpul menanggapi.
“Baiklah, sepertinya kalian perlu lebih banyak waktu untuk mengobrol. Silahkan di lanjut saja. Ibu sama Micha pulang dulu.” Pamit Lisa kemudian.
“Ibu? Mau kemana?” Pertanyaan Kuara terlambat karna Lisa sudah berlalu pergi dari meja mereka sambil menggandeng Micha.
Kuara berdiri dari duduknya dan hendak mengikuti ibunya keluar. Tapi Awan segera menahan pergelangan tangan gadis itu dan memaksanya kembali duduk.
“Awan. Aku harus pulang. Ibu...”
“Sudah besar. Tidak perlu mengikuti kemana Ibu pergi.” Seloroh Awan sambil terkekeh.
Awan mengungkung tubuh Kuara di antara pegangan kursi. Ia memaksa Kuara untuk menatapnya kembali. Tatapan Awan itu, sangat dalam dan penuh kerinduan.
“Kau ini kenapa, Awan?” Kuara meringsutkan tubuhnya. Menekan punggung ke sandaran sofa.
__ADS_1
“Aku sangat merindukanmu, Ara. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu. Tidak akan.”
Kuara sempurna terdiam. Ia bahkan tidak mampu mengedipkan matanya dari Awan. Ada sebuah debaran yang muncul di dalam hatinya. Tapi, itu bukan debaran menyenangkan yang dipenuhi oleh kupu-kupu. Melainkan debaran rasa takut yang memenuhi rongga dadanya.
“Bisakah kau menyingkirkan tanganmu?”
Awan nampak terhenyak dengan ucapan Kuara. Untuk beberapa saat ia terhanyut dalam perasaan rindu yang membuncah di dadanya. Tanpa menyadari kalau gadis yang ada di hadapannya sedang merasa tidak nyaman dengan sikapnya.
“Oh, maaf.” Ujar Awan yang segera menarik tangannya dan membenahi duduknya seperti semula.
“Kau sepertinya punya banyak waktu untuk hal-hal tidak berguna seperti ini.” Ujar Kuara lirih. Ia menarik gelas minumannya dan menyeruputnya hingga habis tak bersisa.
“Tidak berguna?”
“Awan. Aku benar-benar harus pergi sekarang.” Kali ini, Kuara memaksa dengan tatapan.
Awan tau, sepertinya Kuara masih belum bisa menerima kehadirannya yang tiba-tiba muncul. Baiklah, ia akan memberikan ruang kepada gadis itu. Ia akan datang dengan perlahan.
“Pak. Anda sudah di tunggu.” Suara Keysi yang berada di samping Awan mengejutkan Kuara.
“Hemph. Baiklah, Ara.. Sampai bertemu lagi nanti.”
Kuara hanya menatapi punggung kekar Awan yang berjalan keluar dari restoran bersama dengan wanita cantik yang nampak kaku itu.
Sementara Awan segera masuk ke dalam mobil begitu Keysi membukakan pintu. Gadis yang sudah berstatus sebagai sekretaris Awan itu segera melajukan mobilnya.
Ia menghargai sikap Keysi yang cekatan dalam memahami situasi. Padahal hari ini ia sudah tidak punya jadwal apapun. Lagipula ini hari minggu. Ia tidak ingin mengganggu hari besarnya itu dengan bekerja. Bertemu dengan klien tadi terpaksa ia lakukan karna klien itu memaksanya.
“Jadi, apa barang-barangku sudah sampai semua?”
“Sudah, Pak. Saya sudah menyuruh orang untuk membereskannya sekalian.”
“Terimakasih, Key.”
“Sama-sama, Pak.”
Mobil yang di kemudikan oleh Keysi sudah berhenti di halaman carport sebuah rumah mewah bergaya minimalis. Disana nampak beberapa pria dari jasa pindahan sedang memasukkan beberapa barang ke dalam rumah.
Awan langsung melewati mereka begitu saja sampai masuk ke dalam rumah. Ia berkacak pinggang saat membuka pintu kamar yang ada di lantai dua. Kamarnya masih sangat berantakan. Masih ada dua koper berisi pakaiannya yang belum ia susun ke dalam lemari.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Tanya Keysi yang berdiri di pintu kamar. Membuat Awan menoleh padanya.
Awan menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kau pulanglah. Ini hari minggu.” Perintahnya kemudian. Ia benar-benar tidak ingin menyita waktu libur sekretarisnya itu.
Keysi hanya menganggukkan kepala kemudian berbalik dan pergi.
Awan membuka jendela kaca di balkon. Ia mengedarkan pandangannya ke arah luar. Menelisik lorong setapak yang ada di samping kamarnya. Lorong yang memisahkan rumahnya dengan rumah di sebelahnya.
__ADS_1
Tidak ingin mengulur waktu, Awan segera menyingsingkan lengan kemejanya sampai siku. Lantas iapun segera mengatur pakaian ke dalam lemari.
Awan terlalu fokus dengan kegiatannya sampai-sampai tidak menyadari kalau Radina, mamanya telah berdiri di ambang pintu kamarnya.
“Sepertinya tidak butuh bantuan.” Suara Radina langsung membuat Awan menoleh.
“Ma? Kapan datang?”
“Tadi.”
“Dengan siapa?”
“Maiga. Dia di bawah dengan Ben. Membantu membereskan barang dapur.”
“Ooh.”
“Sudah selesai?”
Awan mengangguk. Ia menutup koper terakhir dan meletakkannya ke atas lemari. Kemudian ia menghampiri Radina yang sedang duduk di sisi ranjang.
“Kenapa harus tinggal sendiri sih? Mama masih berat melepas kamu, Nak.”
“Ya ampun, Ma. Kita sudah membahas ini. Lagipula jarak dari sini cuma lima belas menit. Aku bisa pulang ke rumah Mama kapanpun aku mau.”
“Tetap saja. Rumah rasanya sepi sekali kalau kamu tidak ada.”
“Kan sudah ada menantu baru. Ben bisa menggantikan posisiku di rumah. Mama jangan khawatir. Aku benar-benar ingin fokus dengan hidupku, Ma. Tolong jangan memberatkan hati begitu.” Awan mengelus pundak sang Ibu dengan lembut.
“Astaga. Kau ini.” Radina menepuk paha putranya itu dua kali sambil melemparkan senyuman.
“Ya sudah. Biar Mama masakkan sesuatu.” Ujar Radina yang kemudian beranjak turun ke bawah.
Awan mengikuti ibunya. Ia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala saat melihat Maiga yang nampak sedang bersitegang dengan Ben, suaminya. Mereka seperti sedang meributkan sesuatu.
“Disini saja, sayang. Lebih terlihat bagus.” Ujar Maiga.
“Tidak, tidak. Itu terlalu klasik. Disini saja. Disini lebih mempesona.” Ujar Ben yang merebut sebuah lukisan dari tangan istri yang baru dinikahinya satu tahun lalu itu.
Srut!
Awan tidak sabar melihat pertengkaran kecil itu. Lantas iapun merebut lukisan itu dari tangan mereka.
“Ini barangku. Kenapa kalian yang meributkannya?” Hardik Awan.
“Astaga. Awan! Bisakah kau pelankan suaramu? Kau mengejutkan bayiku.” Ujar ben dengan mengelus perut rata sang istri.
“Astaga. Aku muak dengan kalian.” Keluh Awan sambil berlalu pergi membawa lukisan dan meletakkannya begitu saja di atas sofa.
__ADS_1