Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Rahwana 13.


__ADS_3

Aku mengajak Kuara ke pantai Indrayanti. Cuaca siang hari ini lumayan terik. Aku mengajaknya untuk beristirahat di sebuah gajebo di sekitar pantai.


Untuk beberapa saat kami hanya terdiam. Merasai hembusan angin pantai yang menerpa wajah hingga memberikan kesejukan. Aku memesan dua porsi kelapa muda untuk menambah kesegaran kami.


“Awan!” Aku menoleh saat seseorang memanggil namaku. Itu adalah Mas Feri. Pemilik cafe yang ada di pantai ini. Mas Feri adalah sepupu dari pihak Mamaku.


“Siapa ini? Pacar?”


Aku tidak berani mengakui Kuara pacarku. Kami memang tidak berpacaran. Jadi aku hanya menjawabnya dengan senyuman.


Aku membiarkan Mas Feri berkenalan dengan Kuara. Tapi kemudian Mas Feri membisikkan sesuatu di telingaku.


“Lihat ke belakang. Ada siapa itu.” Bisik Mas Feri.


Aku mengikuti arahannya melihat ke belakang. Dan betapa terkejutnya aku melihat Mama dan Maiga ada disana. Mereka sedang tersenyum jahil padaku.


“Ara, aku ke kamar mandi sebentar, ya.” Aku berbohong. Aku tidak pergi ke kamar mandi. Melainkan masuk ke dalam cafe untuk menemui Mama dan maiga.


Entahlah, aku masih belum siap memperkenalkan Kuara pada Mama. Karna kami tidak dalam sebuah ikatan. Aku takut itu akan semakin membebani Kuara.


“Cieeee. Itukah pacar barumu, Mas?” Dan Maiga langsung menodongkan pertanyaan.


“Bukan pacar. Belum. Sedang di perjuangkan.” Jawabku.


“Cantik. Mama boleh kenalan?”


“Ma.. Jangan dulu. Nanti, kalau sudah waktunya.”


Aku lengah. Sementara Maiga sudah melangkahkan kakinya lebih dulu untuk menemui Kuara. Untung saja kakiku juga cepat dan langsung menarik punggung baju adikku itu.


“Apa sih, Mas.” Maiga kesal.


“Mau kemana kamu?”


“Mau nemuin calon kakak ipar dong.”


“Mai.” Aku mengeluarkan ultimatumku lewat tatapan.


“Hahahahaha. Ya sudah. Kami tidak akan mengganggu kalian” untungnya Mama ada di pihakku.


“Kalian sedang apa disini?”


“Healing dong.” Maiga yang menjawab.


“Papa?”


“Itu di dalam. Sedang mengobrol dengan Pakde Haris.”


“Ya sudah. Aku mau kesana lagi.”


Aku segera kembali untuk menemui Kuara. Tapi kulihat Kuara sudah tidak ada di tempat duduknya. Aku sedikit panik sambil mengedarkan pandanganku ke seluruh area. Dan aku bisa bernafas lega saat melihat Kuara sedang beramin bersama sekumpulan anak kecil di pinggir pantai.


Lama sekali aku memperhatikannya dari bibir pantai. Sesekali aku ikut tertawa saat dia tertawa bersama anak-anak itu. Kuara nampak akrab dengan mereka. Aku fikir mereka adalah kenalannya.

__ADS_1


Entah apa yang sedang berusaha Kuara ambil dari himpitan karang. Dia nampak berusaha keras untuk mengambilnya. Aku segera mendekat untuk membantu. Dan pada saat yang bersamaan, dia terjungkang ke belakang.


Dengan sigap aku segera menangkap tubuh Kuara. Untung saja aku cepat sehingga dia tidak jadi jatuh ke air.


“Kau tidak apa-apa?”


Kuara segera menarik diri dariku. Padahal aku masih ingin berlama-lama dalam posisi itu.


“Darah!”


Aku ikut panik saat salah seorang anak menunjuk ke arah tangan Kuara. Dan ada darah yang nampak menetes dari genggamannya.


“Kau terluka.”


Aku menjadi panik. Aku tidak suka melihat Kuara terluka. Luka sekecil apapun itu. Aku tidak suka. Hatiku sakit melihat telapak tangannya yang sudah berdarah akibat kepingan bambu yang patah.


Aku menarik Kuara dan memintanya untuk duduk di gazebo kami semula.


“Tunggu disini sebentar.”


Aku segera berlari ke dalam cafe dan mancari mas feri. Aku meminta kotak p3k kemudian kembali berlari menemui Kuara. Aku bahkan tidka peduli saat Mama bertanya padaku.


Hatiku pias. Aku segera membersihkan luka dan mengobati lukanya kemudian membalut luka itu.


“Sakit sekali?”


“Perih.”


“Kenapa tidak hati-hati?!” Padahal aku berniat untuk perhatian. Tapi aku tidak menyadari kalau suaraku meninggi.


“Kenapa memarahiku?! Aku juga tidak sengaja.”


Seketika aku menyesal telah memarahinya. Ya walaupun aku tidak sengaja melakukan itu.


“Hufh. Maaf. Kalau masih sakit, kita ke rumah sakit saja.”


“Tidak perlu. Lukanya tidak dalam. Sudah di obati dan sebentar lagi pasti sakitnya menghilang.”


Kuara tetap bersikeras tidak mau ke rumah sakit. Jadi, aku mengantarkannya pulang ke rumah.


***


Dan selama dua hari ini, aku rutin menelfonnya beberapa jam sekali hanya untuk menanyakan kondisinya. Aku merasa bersalah karna membiarkan Kuara terluka.


Perasaan khawatirku pada Kuara membuatku nekat bolos siang ini.


“Kau mau kemana?” Elya menghentikan langkahku untuk keluar kelas.


“Lepaskan, El. Aku harus pergi. Ada sesuatu yang mendesak.”


“Kau tau ini akan jadi masalah untukmu?”


“Aku tau. Aku sudah minta ijin dengan kepala sekolah.”

__ADS_1


“Kalau begitu aku ikut.” Elya menatapku penuh harap.


“Yakin kau ingin ikut?”


Dan elya kembali menganggukkan kepala dengan sangat yakin.


“Aku ingin menemui kekasihku. Dia sedang tidak sehat. Apa kau masih ingin ikut?”


Raut wajah Elya berubah mengkerut. Dia kemudian mendengus dan kembali masuk ke dalam kelas.


Aku segera memacu sepeda motorku menuju ke rumah Kuara. Di perjalanan, aku melihat ada seorang penjual camilan ringan berupa gorengan. Ada kulit ayam juga. Aku segera memesan untuk kubawa pada Kuara. Dia suka kulit ayam.


Pintu gerbang rumah Kuara terbuka. Sepi sekali. Aku segera masuk dan memarkirkan sepeda motorku di carport. Kemudian, memencet bel di dekat pintu rumahnya.


Aku langsung tersenyum saat wajah Kuara muncul membukakan pintu. Dia mempersilahkanku masuk. Dia senang saat kubawakan camilan kulit ayam.


Tapi, keadaan itu tidak berlangsung lama. Saat tiba-tiba ada pria yang muncul disana.


“Yuta!”


Ah, namanya Yuta. Akan ku ingat. Sepertinya dia sainganku. Aku bisa merasakannya.


Keadaan berubah canggung. Aku tidak suka keberadaan pria bernama Yuta itu. Auranya seolah mengalahkanku. Apalagi saat dia sok perhatian tentang keadaan Kuara. Aku tidak suka melihatnya.


“Ehm, kalian mau minum? Tunggu sebentar ya, aku buatkan minum dulu.”


“Suruh Sindi saja.” Ujar Yuta.


Aku semakin tidak suka. Sepertinya si Yuta ini sudah sangat dekat dengan keluarga Kuara. Aku merasa kesempatanku untuk mendapatkan Kuara menipis. Aku tidak suka sensasi yang kurasakan ini.


Kuara meninggalkan aku dan Yuta di ruang tamu. Pria itu, tidak lepas menatapku dengan tajam.


“Apa? Kenapa kau melihatku begitu?” Aku yang memang tidak suka di tatap begitu, langsung bertanya saja. Mengembalikan tatapan tajam padanya.


“Kau ini siapa?”


“Aku? Awan. Kenapa?”


“Kenapa kau ada disini?”


“Memangnya kenapa?”


Suasana canggung akibat perang dingin antara dua pria di ruang tamu. Entah kenapa Kuara tak segera kembali. Aku semakin tidak nyaman dengan suasana ini.


“Sepertinya kau masih sekolah. Apa Kuara tutormu?”


Apa dia bilang? Tutor? Kuara tutorku? Yang benar saja.


“Tidak. Bukan. Aku Rahwananya Ara.”


Aku tersenyum. Merasa memenangi pertarungan dingin ini. Apalagi saat melihat wajahnya bingung sampai keningnya berkerut.


Untunglah Kuara segera kembali dengan membawa minuman untuk kami. Sehingga perang dingin itu segera berakhir.

__ADS_1


__ADS_2