
Aku masih merasa tidak percaya kalau kini aku dan Awan telah berbaikan. Aku memang tidak mempermasalahkan statusnya sebagai anak sekolah. Karna Awan benar-benar merupakan teman yang baik. Selorohan tidak biasanya membuatku terus tersenyum.
“Siapa, Dek? Kenapa tidak di suruh masuk?” Suara ibu mengejutkanku. Memaksaku kembali ke dunia nyata. Aku langsung menoleh ke belakang dan ternyata ayah dan ibuku sedang berdiri di sana.
Awan segera mengangguk hormat pada mereka berdua.
“Teman Ara, Bu.” Jawabku cepat. “Ibu sudah pulang?” Tanyaku mengalihkan. Aku tidak ingin ibu fokus pada Awan.
Tapi Awan malah langsung maju dan menyalami ayah dan ibu. “Salam kenal, Pak, Bu. Saya temennya Ara.”
“Di suruh masuk, dong. Kenapa malah ngobrol di luar. Ayo, masuk dulu ke dalam.”
“Ehm, Bu. Awan buru-buru. Katanya dia masih punya janji. Iya kan, Awan?” Aku jelas tidak menyukai situasi ini.
“Janji? Aku tidak punya janji.” Ujar Awan. Ternyata dia tidak bisa di ajak kerja sama.
“Kalau begitu ayo masuk dulu. Ngobrol di dalam saja.” Ayahku malah ikut bersuara.
Aku kesal karna tidak ada yang mengerti maksudku. Dan akhirnya aku terpaksa mengajak Awan untuk masuk ke dalam rumah.
Sindi menghidangkan minuman untuk kami yang sudah duduk di sofa ruang tamu. Aku duduk di samping ibu yang sejak tadi meneliti Awan dari kepala hingga kaki. Sama halnya dengan ayah.
Aku hanya bisa mendengus pelan. Memprotes tindakan ayah dan ibuku lewat tatapan. Tapi nampaknya mereka tidak peduli.
“Ayo silahkan diminum.” Ibu mempersilahkan. “Siapa tadi namanya?”
“Awan, Bu. Nama lengkapnya, Rahwana Abimanyu.” Jawab Awan dengan sangat sopan.
Keadaan jantungku saat ini sedang tidak baik-baik saja. Aku sama sekali tidak bisa membaca apa yang akan Awan katakan selanjutnya. Aku hanya takut Awan membocorkan tentang kedekatan kami. Aku menatap khawatir kepada Awan. Mencoba memberikan peringatan padanya.
“Abimanyu? Apa kamu anaknya Pak Halim Abimanyu?”
“Bukan, Pak. Saya cucunya. Putra sulungnya Pak Daniyal.” Jelas Awan lagi.
Darisana, aku bisa mengetahui sedikit tentang silsilah keluarga Awan.
“Oooh. Pak Daniyal itu kalau tidak salah putra tunggalnya Pak Halim, ya?” Ayah nampak bersemangat bercerita dengan Awan. Sepertinya mereka satu frekuensi.
“Iya, benar, Pak.”
“Ooh. Iya, iya.”
“Ibu baru tau kalau Ara punya teman setampan ini.” Ibu nampak bingung harus membahas apa.
“Tapi sayangnya, Ara menolak perasaan saya, Bu.”
__ADS_1
JEDER!
Kalimat Awan seperti suara guntur di siang bolong. Tidak terduga dan mengejutkan.
Tubuhku kelu. Aku hanya menatap kosong kepada Awan dengan mulut ternganga. Apa dia baru saja memberitahu orangtuaku tentang perasaannya? Awan pasti sudah gila.
“Oh ya?!” Ibu nampak tidak bisa menahan tawa. “kalau begitu selamat berjuang ya, Awan.” Ujar ibu kemudian
Aku menoleh dengan tatapan marah karna ibu mengatakan hal itu. Tapi yang ada ibu hanya terkekeh saja sambil mengerling padaku.
“Yah, bisa tolong bantu Ibu sebentar?” Ujar ibu yang kemudian langsung berdiri. Aku bisa melihat ibu memberi kode kepada ayah. Entah apa maksudnya.
“Kami ke belakang dulu ya, Awan. Santai saja. Anggap rumah sendiri.” Ujar ayah lagi.
Mereka berdua benar-benar membuatku frustasi.
Kini hanya tinggal aku dan Awan di ruang tamu. Aku masih menatap tajam pada Awan.
“Kenapa kau berkata begitu?!” Pekikku dengan suara tertahan.
“Apa?”
“Kenapa kau memberitahu Ayah dan Ibuku? Apa yang kamu fikirkan, Awan?”
“Memangnya kenapa? Aku kan sudah bilang kalau aku tidak ingin menyembunyikan apapun darimu lagi.” Santai sekali Awan berbicara begitu. Tidak tau apa kalau jantungku hampir copot karna kata-katanya itu?
“Kau ini bagaimana? Mereka itu kan orang tuamu. Mereka harus tau siapa yang menyayangi putri mereka.”
Aku membanting punggungku ke sandaran sofa. Menatap frustasi kepada pria yang sedang tersenyum di depanku itu.
Dia ini polos atau bodoh?
Astaga. Aku benar-benar malu dan tidak tau harus bagaimana. Ayah dan ibu pasti sedang membicarakan kami di belakang.
Aku melihat Awan yang nampak biasa saja setelah mengatakan hal keramat kepada ayah dan ibuku. Sama sekali tidak ada beban yang terlihat.
“Mau jalan-jalan?” Tanyanya kemudian.
“Kemana?”
“Kemanapun kau mau.”
Sebenarnya aku benci jawaban seperti itu. Aku bukan tipe orang yang memaksa untuk pergi ke suatu tempat karna keinginanku. Aku akan senang dibawa kemanapun tanpa bertanya lebih dulu. Bagiku, itu merupakan sebuah kejutan yang menyenangkan.
“Aku punya banyak tugas. Lain kali saja.” Tolakku mentah-mentah.
__ADS_1
Awan nampak kecewa dengan jawabanku. Aku tidak berbohong. Aku memang punya dua tugas yang belum ku selesaikan. Ya walaupun tugas itu masih di kumpul hari kamis nanti.
“Ah, begitu.”
Untuk beberapa saat, kami hanya terdiam. Hanya ada sepi dan kecanggungan.
“Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu.” Awan langsung berdiri setelah mengatakan itu. “Sampaikan salamku kepada Ayah dan Ibumu. Maaf aku tidak pamit dengan mereka.”
Aku mengangguk sambil ikut berdiri. “Nanti akan ku sampaikan.”
Aku mengantar Awan sampai di depan rumah. Menunggunya naik ke atas sepeda motornya.
“Hati-hati di jalan.”
Awan nampak mengangguk dengan wajah yang terbungkus helm. “Nanti aku akan menelfonmu. Jangan lupa buka bloknya.”
Senyuman adalah jawabanku. Aku tetap memperhatikan Awan yang sudah melaju sampai dia menghilang dari pandanganku.
Setelah memastikan Awan benar-benar pergi. Aku segera kembali ke dalam rumah. Aku berniat untuk pergi ke kamarku, tapi aku dihalangi oleh Mas Bhanu yang berdiri di tangga.
“Ciiiieee. Yang di tembak berondong.” Seloroh Mas Bhanu.
“Mas. Apaan sih.” Aku mendengus dengan wajah yang memerah.
Itu berarti Mas Bhanu mendengar semua pembicaraan kami tadi. Wajar saja kalau Mas Bhanu mendengarnya. Kami bersitegang tepat di bawah balkon kamar Mas Bhanu. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?
“Kok berondong?”
Astaga. Aku bisa menjamin, kini ibu dan ayah ikut bergabung dengan putra sulungnya.
“Soalnya masih SMA.” Mas Bhanu benar-benar menjengkelkan.
“Hah? Masih SMA? Siapa? Awan?” Ibu melotot kepadaku.
Aku tidak berani menjawab. Dan ternyata diamku itu merupakan sebuah jawaban pasti untuk mereka.
“Dia masih SMA? Kok tidak terlihat seperti anak SMA? Ayah kira dia seumuran denganmu.”
“Sudah. Ara mau mengerjakan tugas dulu!” Dengusku kesal. Aku menyenggol tubuh Mas Bhanu sampai dia menyingkir dan memberi jalan untukku.
“Ya ampun. Masih SMA.” Aku bisa mendengar ibu berkeluh tentang Awan.
Dan sekarang, aku hanya duduk terpaku di meja belajar. Menatapi sebuah buku bersampul dominan peach yang bertengger manis di rak bukuku.
Buku yang menjadi sebab awal pertemuanku dengan Awan. Yang ternyata kami berakhir dengan cerita drama kekonyolan ini.
__ADS_1
Teringat waktu itu aku mencari buku itu dengan susah payah. Aku mendapatkannya dari kenalan temanku dan akhirnya aku berhasil membelinya walaupun dengan haraga dua kali lipat. Aku fikir itu sepadan dengan kenangan yang tersimpan lewat baris-baris kisahnya.