
Hubunganku dengan Awan sudah kembali seperti semula. Awan rutin menelfonku saat malam sebelum tidur. Saat siang, dia tidak menggangguku dengan telfon tapi dengan mengirimkan pesan.
Siang ini aku baru selesai melaksanakan ujian tengah semester. Aku sedang mengkhawatirkan kepuasanku menjawab soal. Merasa tubuhku sangat lelah dan lemas.
Tidak ada Fio. Tidak ada Yuta.
Dua makhluk itu belakangan sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Fio sibuk dengan pekerjaan dan kekasihnya. Sementara Yuta sibuk bertanding takrau kemana-mana. Mereka tidak punya waktu untukku.
Aku sedang berdiri di persimpangan jalan. Menunggu lampu APILL berubah warna. Aku ingin mengganjal perutku dengan ayam goreng yang ada di seberang kampus. Padahal masih jam 11 tapi aku sudah merasa lapar.
Fikiranku masih di penuhi oleh Awan. Aku sedang membayangkan bagaimana jika Awan tiba-tiba muncul disini? Dan aku akan tersenyum, geli sendiri dengan fikiran anehku.
Sebuah sentuhan di tanganku membuatku terhenyak dan membeku di tempat. Ada yang menggenggam tanganku tiba-tiba. Aku segera menoleh ke kanan dan mendapati Awan tengah tersenyum padaku.
Apa ini halusinasi karna aku terlalu memikirkan pria itu?
Tapi wajah dan senyumannya terasa sangat nyata. Terlebih tangannya yang sedang menggenggam tanganku. Aku bisa merasakannya juga.
“Kau sudah makan?” Suaranya juga nyata.
Aku spontan menggeleng.
“Kalau begitu ayo kita makan siang.”
Dan aku hanya mengangguk.
Lampu APILL sudah berubah warna. Awan menarik tanganku untuk menyeberang. Aku masih belum tersadar dari lamunan. Seolah kehadiran Awan masih sebatas ilusi bagiku. Aku seperti kerbau yang di cucuk hidungnya dan hanya mengikuti langkah Awan di belakangnya.
Namun kehangatan dari genggaman itu, aku bisa melihatnya dan merasakannya. Jelas ini bukan ilusi.
“Kau mau makan apa?” Pertanyaan Awan membawaku ke dunia nyata.
“Itu.” Aku menunjuk ke arah restoran cepat saji berlogo kakek tua. Sementara Awan masih belum melepaskan genggamannya.
Baru setelah masuk ke dalam restoran itu, Awan melepaskan tanganku. Mungkin ia merasa canggung karna di lihati banyak orang.
“Traktir aku.” Bisik Awan lagi.
“Oke. Pesan apapun yang ingin kau makan.” Jawabku.
Dan Awan hanya tertawa. “Aku bercanda. Aku tidak akan memintamu mentraktirku lagi. Karna aku yang akan mentraktirmu mulai sekarang.”
“Jangan sombong. Kau pengangguran.” Selorohku tanpa sadar diri. Ya, karna aku juga masih pengangguran dan mengandalkan uang jajan dari orangtuaku.
“Bukannya kita sama saja?”
Kami berdua lantas terkekeh bersama-sama.
Awan menyuruhku untuk menunggu di meja sementara dia menunggu pesanan kami. Aku berpangku tangan tanpa melepaskan pandanganku darinya. Aku suka sekali melihat punggungnya yang kekar itu. Dan aku sudah melihat penampakan aslinya. Hehe.
__ADS_1
Aku segera tersenyum dan menurunkan tanganku keatas meja. Seolah merasa bersalah atas fikiran liarku tentang punggung Awan saat pria itu berbalik dan menuju ke arahku. Awan langsung mengambil duduk di hadapanku.
“Ayo, makan.” Katanya.
Dengan manisnya Awan membukakan pembungkus nasi dan memberikannya kepadaku. Hal kecil begini saja, sudah membuatku kelabakan setengah mati.
Padahal aku sering mendapatkan perlakuan yang tidak kalah manis dari Yuta. Tapi hatiku, tidak pernah berdebar seperti ini.
“Awan?”
“Hem?”
“Kau pasti berfikir aku wanita yang jahat.”
“Kenapa begitu?”
“Aku tidak pernah menanggapi perasaanmu dengan gamblang.” Jujurku. Aku memang sedikit merasa bersalah padanya.
“Aku tidak keberatan dengan hal itu.” Awan menjawabnya dengan tersenyum.
Astaga. Lesung pipinya itu, membuatku gemas setengah mati.
“Walaupun kau berkata begitu, apa tidak ada sedikitpun di dalam hatimu, kalau kau marah padaku?”
“Tidak sama sekali.”
“Apa aku terkesan menggantung perasaanmu?”
Ah, aku baru sadar kalau aku tidak bisa bicara serius dengannya di waktu seperti ini.
“Aku tidak main-main, Awan.”
“Main apa? Kelereng?”
“Awan?!” Protesku pada akhirnya. Kesal dengan caranya menanggapi ucapanku.
“Sudahlah. Tidak usah membahas itu. Aku sudah cukup senang dengan kau tau perasaanku. Aku tidak akan mengganggu hal lainnya. Yang penting jangan melarangku untuk memperhatikanmu.”
Dan lagi, kalimatnya itu seolah membungkamku. Membuat suaraku tercekat sampai tidak bisa keluar.
“Aku mau kulitnya.” Ujarku dengan menelisik kulit ayam milik Awan yang nampak sangat renyah itu.
“Kau suka ini?” Tanyanya.
“Em.” Aku mengangguk.
Awan terkekeh lucu kemudian mengupas kulit ayam miliknya dan menaruhnya ke atas nasi ayam milikku.
“Terimakasih.”
__ADS_1
“Setelah makan, mau berkeliling naik motor?”
“Berkeliling kemana?”
“Kemana saja.”
Tawaran itu sepertinya menarik. Lagipula aku belum pernah melakukannya. Berkeliling naik sepeda motor tanpa tujuan. Aku sudah membayangkan keseruan yang akan tercipta.
“Oke.”
Awan tersenyum puas mendengar jawabanku.
Awan memintaku untuk menunggu di depan restoran sementara dia mengambil sepeda motornya di parkiran perpustakaan.
Tidak lama setelahnya, Awan sudah muncul dengan motornya dan berhenti tepat di depanku. Dia memaksa untuk memakaikan helm di kepalaku. Menghardikku yang ingin memakainya sendiri.
“Aku ingin terlihat manis di hadapanmu.” Ujar Awan sambil mengancingkan helmku.
Ingin aku berkata, ‘Semua sikapmu itu manis. Tidak perlu di manis-maniskan lagi.’ tapi kalimat itu tidak ku ucapkan. Malas melihat Awan jadi besar kepala.
Sebelum melajukan sepeda motornya, Awan mencari kedua tanganku dan segera memaksanya untuk melingkar di perutnya.
“Begini pegangannya supaya tidak jatuh.” Alasan Awan yang terdengar sangat klasik. “Jangan di lepas.”
Lagi-lagi aku seperti kerbau. Menuruti semua perkataan penggembala.
Sensasi mendebarkan ini, aku menyukainya. Terlepas dari fakta bahwa umur Awan berada dua tahun di bawahku, tidak membuat jarak di antara kami. Sikapnya manis dan dewasa. Jadi itu tidak masalah bagiku untuk menerima perhatiannya.
Sepeda motor ini benar-benar menguntungkan Awan.
“Mau beli sesuatu?” Tanya Awan.
“Tidak usah. Aku masih kenyang.”
Dan Awan kembali fokus kepada jalan raya. Dia melajukan motornya tanpa tujuan.
Aku yang menempel di punggung Awan hanya berusaha untuk menikmati perjalanan menyenangkan itu. Dadaku terus berdebar di punggung Awan.
Tiba-tiba aku berfikir, apa Awan bisa merasakan debaran jantungku karna aku menempel padanya? Dan aku menjadi khawatir sekaligus malu.
Kini Awan melajukan motornya ke arah Gunung Kidul. Aku penasaran kemana dia hendak membawaku. Tapi aku memilih untuk diam saja. Tetap menikmati punggung kekar dan hangat milik pria itu.
Aku tercekat saat tiba-tiba Awan melepaskan tangan kirinya dan malah mengusap-usap tanganku yang ada di perutnya. Dia benar-benar tidak tau apa bagaimana kalau hatiku semakin berdebar karna perlakuannya itu?
Merasakan hatiku yang terus berdebar dan menggelitik, aku jadi tanpa sadar semakin mengeratkan pelukanku padanya. Aku sudah goyah sepenuhnya kepada setiap perhatian pria ini. Hanya saja, aku masih tidak ingin melepas komitmenku.
Ada sedikit rasa menyesal karna ucapanku sendiri tentang berkomitmen untuk tidak berpacaran sebelum selesai kuliah. Aku sama sekali tidak menyangka kalau ada makhluk yang bisa menggoyahkan tekadku seperti ini. Aku menyesal sudah terlalu percaya diri.
**
__ADS_1
Yuhuu, Jangan lupa terus dukung author dengan like, komentar, vote dan hadiah yang kalian punya. karna novel ini belum kontrak, jadi biar aku semakin semangat walau nulis gratisan.. hahahahah. lop yu ollll.