
Pulang sekolah, aku tidak lantas pulang ke rumah. Melainkan ke kos terlebih dahulu. Disana, sudah ada Billi, Rijun dan Tino.
“Apa Pak Katman memarahimu habis-habisan?” Tanya Billi.
Aku mengangguk. Tidak punya tenaga untuk menjawab.
“Wajar Pak Katman memarahimu habis-habisan. Beraninya kau pergi saat sedang di hukum?” Ujar Rijun.
Aku sedih bukan karna di marahi oleh Pak Katman. Melainkan karna Kuara. Aku harus menemuinya besok di kampus.
Aku tidak menggubris teman-temanku yang sedang mengejekku. Aku sedang berusaha untuk menelfon Kuara tapi gadis itu tidak mau mengangkatnya. Dan saat panggilanku yang ke 11, tiba-tiba aku tidak bisa lagi menghubunginya. Sepertinya Kuara memblokir nomorku.
Astaga. Ini membuatku semakin frustasi.
“Kau ini kenapa? Wajahmu murung begitu?”
“Tidak ada.” Aku tidak ingin menceritakan masalah percintaanku pada mereka. Karna mereka tidak pernah bisa membantu tentang ini.
Saat ponselku kembali berdering, aku cepat-cepat melihatnya. Berharap itu telfon dari Kuara. Dan aku kembali kecewa saat melihat nama mama yang justru muncul di layarnya.
“Ya, Ma?”
“Kau di kos?”
“Iya. Dengan teman-teman.”
“Pulanglah. Antarkan Mama ke mall.”
“Ajak saja Maiga.”
“Mai belum pulang. Dia bilang ada belajar kelompok di rumah temannya.”
Dan aku, tidak bisa membantah lagi. “Baiklah. Aku akan segera pulang.” Aku segera mengambil tasku.
“Kau akan pulang?” Tanya Rijun.
Aku hanya mengangguk. “Jangan lupa kunci pintunya.”
Aku segera memacu sepeda motorku menuju ke rumah. Di rumah, mama sudah siap dan sedang menungguku.
“Sudah makan siang?” Tanya mama.
“Belum.”
“Cepat ganti bajumu. Makan siang dulu, baru setelah itu kita pergi.”
Makan siang dan ganti baju. Itu butuh waktu yang lama. Aku ingin segera mengantarkan mama dan pulang lalu istirahat. Hari ini, aku tidak semangat melakukan apapun.
“Aku akan ganti baju saja. Mama tunggu sebentar.”
“Makan siangnya?”
“Aku tidak lapar.”
Setelah ganti baju, aku menghampiri mama. Padahal ada sopir dan mama memintaku untuk mengantarkannya.
Aku berusaha untuk fokus mengemudikan mobil. Walaupun separuh otakku sedang memikirkan Kuara.
__ADS_1
“Kenapa diam saja? Ada masalah?” Tanya mama.
“Tidak. Hanya lelah.”
“Aduh, anak Mama lelah rupanya. Maaf ya. Harus mengantar Mama lagi.”
“Tidak apa-apa.”
Kubawa mobil masuk kedalam parkir basement sebuah pusat perbelanjaan yang ada di jalan Jogja-Solo.
“Tante!”
Aku melihat Elya yang sedang melambaikan tangan kepada mama. Ah, kenapa harus bertemu dia sekarang.
“Kenapa dia ada disini?” Aku kesal.
“Tidak apa-apa ya kalau Elya menemani kita?”
“Kalau Mama berniat mengajak Elya, kenapa harus mengajakku juga?”
“Sstt.” Mama menyenggol lenganku saat Elya sudah berada bersama kami.
Beruntungnya Elya, dia punya semua dukungan yang dia butuhkan untuk membuatku kembali padanya. Mama dan papa sangat menyukainya.
“Hai cantik. Sudah lama menunggu?”
Elya menggeleng. “Belum, Tante. Baru satu jam.”
Rasanya aku ingin pergi saja darisana. Tapi kalau aku pergi, mama pasti akan marah. Aku tidak ingin menyatakan perang dengan mama saat fikiranku masih harus fokus kepada Kuara.
Sudah satu jam lebih aku menemani dua wanita ini berkeliling. Membeli pakaian, tas, sepatu, bahkan sampai makanan.
Aku melirik tajam kepada mama. Menonton lagi?
Dan akhirnya, aku tetap mengawal mereka ke bioskop. Mama bahkan menyuruhku untuk membelikan tiketnya.
Di dalam bioskop, mama memaksaku untuk duduk di sebelah Elya. Sebenarnya aku sudah tau tujuan mama dengan mengajak Elya bersama kami.
Elya pasti sudah mengadu dan meminta mama untuk membantunya. Aku sangat faham dengan sikapnya.
Aku sudah berkali-kali mendengus kesal karna Elya terus saja menggandeng lenganku dengan sangat erat. Yang pada akhirnya aku membiarkannya saja memeluk lenganku sepuasnya sepanjang pemutaran film.
“Kalian tadi kelihatan serasi sekali.” Ujar mama saat kami sudah keluar dari bioskop yang semakin membuatku merasa kesal.
Aku menarik tanganku dari dekapan Elya dengan paksa. Aku mungkin sudah sedikit menyakiti tangannya.
“Awan?” Elya memasang wajah memelas.
“Nak, kok kasar begitu? Kasihan kan Elya tangannya jadi sakit.”
“Ma, masih mau belanja? Aku ingin pulang. Capek.”
“Tapi aku masih ingin berjalan-jalan bersamamu, Awan.”
“Kalau begitu, kalian bisa melanjutkannya berdua. Aku pulang dulu. Nanti kusuruh Mas Yusman untuk menjemput Mama.” Tegasku. Kesabaranku sudah di ujung tanduk.
Aku tau aku sudah melewati batas malam ini. Tidak seharusnya aku kasar begitu kepada mama. Tapi aku benar-benar butuh istirahat sekarang. Tatapan kecewa Kuara terus menerus bergelayut dalam kepalaku. Membuat kepalaku pusing setengah mati.
__ADS_1
“Awan? Kok begitu?”
“Ma, aku benar-benar lelah.”
Mama terdiam dan hanya menatapku dalam. Dia menghela nafas kemudian mengangguk.
“Ya sudah, kita pulang sekarang.”
“Kok pulang, Tante?”
“Elya sayang, maaf ya. Tapi nampaknya Awan benar-benar lelah. Lain kali, kita jalan-jalan lagi, ya?” Mama mencoba merayu Elya.
Aku benar-benar jengah dengan Elya. Dia terus menggangguku tanpa tau kapan harus berhenti.
“Ya sudah.” Elya memasang wajah kecewa.
Dan akhirnya aku dan mama pulang.
“Kau ini kenapa, Nak? Tidak biasanya sikapmu begini?”
Aku yang mencoba fokus ke jalan raya hanya menoleh pada mama sebentar.
“Ma, berhentilah menuruti kemauan Elya. Kami sudah putus berbulan-bulan yang lalu. Aku tidak ingin kembali padanya.”
“Elya bilang kau masih mencintainya sehingga kau sangat marah dan tidak bisa memaafkannya.”
Aku? Sangat mencintainya? Yang benar saja.
“Hubungan kami sudah berakhir, Ma. Begitu juga dengan perasaanku. Aku benar-benar tidak ingin kembali padanya.”
“Bukankah kalian masih saling mencintai? Kenapa kamu tidak ingin kembali padanya?”
“Karna aku tidak mencintainya. Perasaanku padanya sudah berakhir. Tidak ada yang tersisa. Ma, saat ini aku sedang menyukai gadis lain. Tolong jangan desak aku untuk kembali dengan Elya lagi.”
“Benarkah? Siapa gadis itu? Kapan kau mengenalkannya pada Mama?”
“Nanti, saat aku sudah berhasil mendapatkan hatinya, aku akan membawanya untuk bertemu dengan Mama.”
“Jadi, kamu belum berhasil? Astaga, Rahwana. Jangan lambat begitu.”
Kudengar mama sudah beralih dari Elya. Aku jadi lega mendengarnya.
Fikiranku masih terbagi. Bahkan setelah sampai dirumahpun, aku masih harus menerima omelan dari papa lagi.
“Papa dengar hari ini kamu dihukum? Bolos?”
Astaga, ternyata Pak Katman sudah memberitahu papa.
“Bukan, Pa. Kami tidak membolos. Temanku terlambat dan aku membantunya naik lewat dinding belakang sekolah. Pak Katman saja yang salah sangka.”
“Benar begitu?”
Aku menarik diri dari sofa. Meninggalkan papa dan mama kemudian masuk ke dalam kamarku. Aku tau papa tidak pernah meragukan jawabanku. Karna aku memang tidak pernah berbohong pada orangtuaku.
Sambil rebahan, aku memandangi nomor ponsel Kuara. Mencoba untuk menghubunginya dan tetap tidak dapat tersambung.
Ah.....
__ADS_1
Bagaimana aku bisa meminta maaf padanya kalau nomorku saja dia blokir? Sepertinya, aku menang harus menemuinya. Perkara dia mau bertemu denganku atau tidak, aku akan tau saat sudah mencobanya nanti.