Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Rahwana 19.


__ADS_3

“Aku ingin pulang.” Kata Kuara ditengah suara berisik air hujan.


Aku hanya menganggukkan kepala. Tidak sanggup menatapi wajah sedihnya. Airmatanya tersamar oleh air hujan yang sudah membasahi sekujur tubuh kami.


“Terimakasih sudah menemaniku malam ini, Ra.”


“sama-sama.”


Keadaan Kuara sudah lebih baik. Walaupun aku merasa bersalah dan tidak tega melihatnya basah kuyup begini.


“Kalau begitu, aku pulang dulu. Titip salam sama ibu. Bilang maaf karna aku membawamu sampai larut malam begini dalam keadaan basah kuyup.”


Dalam hati, aku benar-benar enggan mengakhiri kebersaman ini. Tapi akan terlihat aneh kalau kami hanya akan berdiri di depan rumah begini.


Aku segera naik ke atas sepeda motorku kembali. Bersiap untuk pulang. Aku masih punya satu kesempatan lagi untuk bertemu dengan Kuara besok.


“Awan!” Aku menoleh kepada Kuara.


“Kenapa?”


“Terimakasih untuk waktu satu tahun ini. Sangat menyenangkan bisa berteman denganmu.”


JLEB.


Hatiku kembali merasa porak-poranda. Ucapan Kuara itu seolah menamparku akan sebuah perpisahan yang memang harus terjadi.


Aku bahkan tidak berhasil mengeluarkan suaraku untuk sekedar menjawabnya. Tidak mau merasa sakit lebih lama, aku langsung memacu sepeda motorku menuju rumah.


“Ya ampun, Mas. Kenapa basah kuyup begitu?” Maiga terkejut melihatku saat kami berPapasan di depan kamarnya.


Aku hanya diam. Aku langsung berjalan masuk ke kamarku. Kemudian menenggelamkan diri dalam guyuran air hangat yang mengalir lewat shower.


Tubuhku masih terbalut pakaian lengkap. Aku menumpu kedua tanganku ke dinding dengan masih membiarkan air mengguyur kepalaku. Berharap guyuran itu mampu meredam rasa sakit hatiku akibat bayangan kerinduan.


Barulah setelah jari-jariku mengkerut akibat terlalu banyak terkena air, aku keluar dari kamar mandi. Mengganti pakaianku kemudian langsung menenggelamkan diri dalam selimut.


Malam yang indah. Semalaman aku bermimpi tentang Kuara. Dan hal ini menambah rasa pias di hatiku.


Seharian ini, aku memilih untuk bermalas-malasan saja di rumah. Menghabiskan waktu bersama dengan Mama yang sedang sibuk memasakkan sesuatu untukku.


Aku ternganga saat meja makan sudah penuh dengan berbagai lauk yang dimasak Mama dan Bi Sarni.


Ada rendang, sup buntut, sayur lodeh, tahu dan tempe goreng, sambal orek kentang campur hati ayam dan pete. Dan yang paling menggodaku adalah, aroma kolak durian yang sedang mengepul di tengah-tengah meja. Ini semua adalah makanan kesukaanku.


“Puas-puaskan makan ini. Disana tidak ada tempe. Tidak ada durian seperti disini. Apalagi pete.” Ujar Mama. Suaranya bergetar.

__ADS_1


Aku duduk sementara Mama mengambilkanku semangkuk kolak durian. Kemudian dia mengambil duduk di sebelahku. Dan...


“Hiks, hiks. Huuu. Hiks.” Ya, Mama menangis.


“Ma. Kenapa menangis? Mama bisa mengunjungiku sebulan sekali. Atau sebanyak apapun yang Mama mau.”


“Walaupun begitu, tetap saja. Ditinggal pergi jauh oleh putra Mama satu-satunya. Mama tetap sedih. Huhuhuhu..”


Aku menarik tisu dari kotak dan memberikannya kepada Mama.


Sruuutttt!


Aku bergidik saat Mama membersihkan hidungnya dengan tisu pemberianku.


“Kalau ada waktu aku juga akan pulang sesekali. Berhentilah menangis. Memberatkan hatiku, Ma.”


Beberapa saat kemudian, Mama sudah berhasil menghentikan tangisannya. Hanya terdengar sesekali terisak. Sementara aku segera melahap kolak durian yang sangat lezat itu.


“Aden hati-hati ya, disana. Hiks.”


Aku menoleh kepada Bi Sarni yang berdiri di dekat kompor. Dia sedang menangis. Astaga. Ada apa dengan wanita di rumah ini?


“Apa Bibi juga menangis?” Aku mengernyit heran.


“Bibi sedih, Den. Lihat Ibu sedih.”


Pukul setengah lima sore, aku sudah tiba di Bandara Internasional Yogyakarta dengan diantar oleh seluruh anggota keluargaku. Papa, Mama, dan Maiga.


Aku mengedarkan pandangan untuk mencari sosok Kuara. Dia sudah berjanji akan datang dan mengantarkanku pergi.


“Awan!”


Aku menoleh. Aku kembali menarik senyumanku saat yang kulihat bukan Kuara, melainkan Elya. Gadis itu langsung berlari mendekatiku.


“Kenapa kau ada disini?”


“Aku juga akan berangkat sekarang bersamamu.”


Hufh. Aku kesal.


Sudah pukul enam sore, dan Kuara masih belum menampakkan dirinya.


“Nak, cepat masuk.” Ujar Mama setelah sudah sejak tadi aku berpamitan kepada Mama dan Papa.


“Sebentar lagi, Ma. Aku sedang menunggu seseorang.”

__ADS_1


“Mas. Huhuhuuu.” Tiba-tiba Maiga memelukku dengan sangat erat. Membuatku heran saja. “Mas hati-hati disana, ya. Aku akan menjaga kamar Mas Awan selama Mas Awan pergi. Hiks.”


Dasar. Adik durhaka. Dia mengambil kesempatan dengan kepergianku.


“Kau. Kalau sampai aku dengar kau membuat masalah. Aku akan langsung pulang dan menarik telingamu.” Ancamku.


“Ch.” Maiga mendengus kemudian melepaskan pelukannya.


Waktu terus berjalan. Dan aku masih tidak melihat tanda-tanda kedatangan Kuara. Membuat hatiku semakin gusar saja.


“Awan! Ayo, masuk.” Ajak Elya dengan menarik tanganku.


“Tunggu sebentar. Kau duluan saja.” Aku menarik tanganku darinya sampai terlepas.


“Mungkin dia tidak datang, Nak.” Bisik Mama.


Ucapan Mama itu semakin membuatku khawatir. Aku harus bertemu dengan Kuara sebelum aku terbang ke luar negeri. Karna aku tidak tau kapan aku bisa bertemu dengannya lagi.


Seketika rasa penyesalan muncul di hatiku. Aku menyesal karna tidak memeluknya kemarin.


Ara, kumohon. Datanglah.


Aku mengambil ponsel dan menghubungi nomor Kuara sampai beberapa kali, tapi tidak terambung. Sungguh, aku jadi prustasi sekali.


“Panggilan di tujukan untuk Tuan Abimanyu Rahwana. Dengan penerbangan nomor...... Untuk segera melakukan chek in...”


Itu adalah panggilan ketiga yang ku dengar.


“Nak, cepatlah. Kau bisa ketinggalan pesawat.” Kali ini Papa yang mengusap punggungku.


“Tapi aku masih menunggu Kuara, Pa.”


“Sepertinya dia tidak datang.” Mama menjawab.


Hatiku sakit. Seperti di hujam oleh puluhan pisau tajam. Kuara mengingkari janjinya. Padahal aku benar-benar berharap dia akan datang. Aku ingin memeluknya.


Perasaan kecewa telah menyerbu hatiku. Sepertinya, Kuara benar-benar tidak datang. Dengan lunglai aku menyeret kakiku untuk masuk ke dalam bandara.


“Kau kenapa?” Tanya Elya saat aku sudah mengantri untuk masuk ke dalam pesawat.


Aku hanya diam saja. Fikrianku sedang dipenuhi oleh rasa kecewa terhadap Kuara. Aku tidak menyangka dia menghianati janjinya sepertiini.


Pesawat sudah lepas landas. Terbang menuju kegelapan malam. Membawa hatiku yang kecewa karna tidak bisa bertemu dengan pujaan hatiku untuk terakhir kalinya sebelum pergi.


Aku memijat pelipisku. Tiba-tiba kepalaku terasa sangat pusing. Aku segera melepas sabuk pengamanku dan berlari menuju ke kamar mandi. Di sana, aku memuntahkan segala isi perutku. Mungkin aku terlalu kenyang dengan memakan semua masakan Mama tadi siang.

__ADS_1


Aku duduk di closet dan membersihkan mulutku dengan tisu. Mengusap wajahku kasar. Hatiku gambang. Serasa kosong. Seolah sesuatu telah tercabut dari dalamnya.


Kuara, entah kapan aku bisa bertemu dengannya lagi.


__ADS_2