
Hari ini sepulang sekolah, aku segera memacu sepeda motorku dengan kecepatan yang tinggi menuju ke kampus Halim Abimanyu. Kampus milik Yayasan Budaya Halim Abimanyu yang didirikan oleh eyangku dan kini sudah berjalan selama tiga generasi. Dan aku, satu-satunya pewaris tahta kerajaan Abimanyu ini.
Aku menunggu di pintu gerbang kampus. Berharap akan bertemu dengan Kuara. Entah apa aku masih punya keberuntungan yang bisa ku pertaruhkan hari ini. Kalau masih ada, aku akan mempertaruhkan semuanya untuk bertemu dengannya.
Satu jam sudah aku menunggu. Dan rasa bosan mulai menyergap. Aku memutuskan untuk mencari Kuara di fakultasnya saja.
Baru hendak pergi, aku melihat sebuah mobil sedan melewatiku. Dan didalamnya, ada Kuara dan pria itu. Entah siapa namanya aku tidak tau.
Kuara melihatku sekilas tanpa ekspresi. Setelah itu dia hanya melengos saja. Sakit sekali hatiku melihatnya.
Tapi aku bisa mengerti kemarahannya. Salahku yang sudah berbohong. Beraninya anak SMA sepertiku menyatakan cinta dan berbohong pada Kuara.
Dan selama satu minggu ini, aku rutin mencoba untuk bertemu dengan Kuara. Dan hasilnya nihil. Walaupun aku sudah berusaha mencarinya di perpustakaan, di kelas, bahkan bertanya pada teman-temannya, tapi aku tetap tidak bisa bertemu dengan Kuara.
Sebenarnya bukan tidak bisa. Tapi Kuara yang selalu menghindariku. Dia segera pergi menghilang saat melihatku.
Dan hari minggu ini, aku sudah membulatkan tekad untuk langsung pergi ke rumah Kuara saja. Aku mengumpulkan semua keberanian yang kupunya.
“Mau kemana, Mas?” Tanya Maiga yang sedang bersantai menonton TV.
“Keluar.”
“Ikut.” Mai terdengar antusias.
Aku hanya menatapnya dingin. Dan itu sudah cukup membuat Mai meringsut kembali ke sofa.
“Kenapa? Kok suasananya begini?” Tanya papa yang baru kembali dari jalan-jalan pagi keliling komplek.
“Tidak boleh ikut Mas Awan.”
“Mau kemana?”
“Keluar sebentar, Pa.”
“Tumben. Biasanya hari minggu cuma main game saja.”
“Mas mau kencan, ya?” Tebak Maiga. Dan aku kembali melirik ke arahnya.
“Biar saja lah. Sudah saatnya masmu itu mencari pengganti Elya.” Aku terkejut mama berkata begitu.
“Yaaah. Padahal aku suka sama Mbak Elya.”
__ADS_1
“Kau saja yang berpacaran dengannya.” Aku mendengus kesal.
Suasana hatiku sedang buruk karna diacuhkan oleh Kuara. Dan Maiga harus membahas Elya sepagi ini. Aku hampir tidak bisa menahan diri.
“Kalau mau pergi sarapan dulu.” Ujar mama.
“Nanti saja, Ma. Tidak sempat.”
Aku segera menyambar helm dan berlalu meninggalkan rumah.
Sudah hampir satu jam aku berdiri di seberang rumah Kuara. Ternyata keberanianku belum cukup untuk mengetuk pintu gerbang itu.
Dari kejauhan, aku bisa melihat sekelebatan bayangan Kuara di halaman rumahnya. Dan saat itulah keberanianku muncul seketika.
“Permisi!”
Dan seorang gadis datang membukakan pintu.
“Ya?”
“Kuaranya, ada?”
Aku melihat asisten keluarga Kuara itu berbalik dan menuju ke halaman samping rumah. Aku tidak bisa menunggu. Aku langsung mengikuti gadis itu di belakangnya. Dan benar saja, Kuara ada disana. Dia sedang bermain bersama dengan seekor kucing.
“Bilang padanya aku sedang tidak ada di rumah.”
“Aku butuh bicara denganmu, Ra.” Aku segera menyanggah.
Perdebatan tentang permintaan maafku berlangsung sengit dengannya. Aku sengaja tidak mencari pembenaran atas alasanku. Aku hanya terus menunjukkan ketulusanku meminta maaf atas kebohonganku.
Aku juga terus berusaha membuatnya mengerti, bahwa perasaanku padanya tulus. Bukan hanya sekedar cinta monyet anak SMA belaka.
Perlahan, Kuara mulai melunak. Entah bagaimana pembahasan kami bermuara pada saat aku dan Mbak Heni ketika kami di kampus waktu itu. Ternyata dia mengira kalau Mbak Heni adalah kekasihku.
“Bukankah kau sudah punya kekasih? Kenapa masih berani menyatakan perasaan padaku?”
Kalimat itu adalah tegas menunjukkan kalau ternyata dia cemburu pada Mbak Heni. Dan ekspresinya, berhasil membuatku mengu lum senyum di bibir.
“Hemh. Itu bukan kekasihku. Itu kakak sepupuku. Dia memang selalu manja denganku. Dengan saudara yang lain juga dia begitu. Namanya Mbak Heni.”
Aku bisa melihat air muka Kuara berubah tersipu. Dia pasti malu telah salah sangka dengan Mbak Heni.
__ADS_1
“Jadi, apa kau cemburu sampai tidak mau mengangkat telfonku?”
“Untuk apa aku cemburu? Aku tidak punya waktu untuk itu.” Kuara tidak berani menatapku saat mengatakan itu. Hal itu membuatku girang bukan kepalang.
“Jadi, kau sudah memaafkanku, kan? Aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu lagi. Kalau kau bersedia mendengarkan, aku akan menceritakan semua hal tentangku. Semuanya, tanpa terkecuali.”
“Entahlah. Aku tidak tau, Awan. Apa aku berhak mendengarkan semua kisahmu itu.”
“Kenapa tidak? Kau hanya perlu mendengarkan saja.”
“Baiklah. Aku akan mendengarkannya kalau ada waktu. Dan aku harus menegaskan satu hal padamu, awan.”
Ah, aku tau apa maksudnya. Aku rasa, dia menyukaiku juga. Tapi, dia tidak ingin menghianati komitmennya sendiri.
Oke. Tidak masalah bagiku. Yang penting aku tau kalau perasaanku ternyata terbalas. Aku tidak butuh ikatan atau apapun itu. Sudah cukup aku tau kalau dia juga punya perasaan yang sama denganku.
“Tentang komitmenmu? Aku tau. Aku sudah bilang kalau kau boleh melakukan apapun maumu. Entah itu menolakku atau apa. Kau juga boleh untuk tidak menganggap ucapanku tadi. Aku tidak keberatan. Yang penting aku sudah lega karna sudah mengatakannya. Aku sama sekali tidak akan memaksamu untuk melepaskan komitmenmu. Karna aku tau, aku tidak berhak ikut campur atas rencana masa depanmu itu.”
Aku menunggu reaksinya. Kuara hanya diam saja dan menatapku dalam.
“Jadi, bisa kau berhenti mem-blok nomorku? Karna aku masih ingin bercerita tentang Rahwana. Kali ini, aku akan menceritakan semua tentang Rahwananya Ara.”
“Siapa, Dek? Kenapa tidak di suruh masuk?” Suara seorang wanita mengejutkanku. Aku segera berbalik dan menganguk sopan. Aku menduga kalau itu pastilah ibunya Kuara.
Awalnya Kuara hendak menolak saat aku bilang bersedia ikut masuk. Dan Kuara tidak punya pilihan saat ibunya memaksanya untuk mengajakku masuk ke dalam rumah.
Keluarga Kuara sangat ramah. Kami menghabiskan banyak waktu bercerita. Tidak ada yang kututup-tutupi dari Kuara maupun keluarganya.
Aku menganggap kalau ini adalah kesempatan emas untuk menjelaskan siapa diriku. Agar tidak ada kesalah fahaman lagi ke depannya.
Dan dengan berani, aku bahkan mengutarakan perasaanku pada Kuara di depan ayah dan ibunya.
Mungkin ini tindakan konyol. Tapi aku benar-benar tidak ingin lagi Kuara salah faham terhadapku. Jadi, sekaligus saja ku ceritakan semua kepada ayah dan ibunya.
Dengan ini, aku mencoba untuk meperlihatkan ketulusanku pada Kuara. Bahwa dia, tidak perlu melihatku sebagai murid SMA. Tapi sebagai pria yang benar-benar menyayanginya.
“Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu.” Ujarku setelah misiku berhasil dengan sempurna.
Misiku memang berhasil. Tapi aku gagal mengajaknya jalan-jalan. Kuara bilang dia punya banyak tugas kuliah yang menunggu untuk di selesaikan.
Tapi tidak apa, yang penting dia sudah memaafkanku. Itu jauh lebih penting dari sekedar mengajaknya jalan-jalan.
__ADS_1