Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
BAB 60. Hati Yang Sedang Bersajak.


__ADS_3

Lutut Awan gemetar luar biasa. Untung saja dia sedang duduk. Kalau tidak, mungkin dia sudah ambruk terhuyung ke tanah.


Yang ada dalam fikiran Awan saat ini, Kuara sudah menikah. Dia sudah menikah dan mempunyai seorang putri.


Kenyataan itu menghancurkan seluruh hatinya. Ada rasa tidak terima yang menyergap dadanya. Sebuah kenyataan yang sangat tidak sanggup untuk Awan hadapi.


“Kau sudah menikah? Apa ini anakmu?” Awan tidak sadar kalau pertanyaan itu meluncur dari mulutnya.


“Hah?” Kuara hanya ternganga saja. Dia tidak berani menjawab.


“Bunda, ayo pulang.” Rengek Micha. Ia terus bergelayut di pangkuan Kuara.


Kuara masih bingung dengan pertanyaan Awan. Apalagi pria itu menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


“Micha, pulang dengan Papa dulu yuk.” Ajak pria gagah yang berdiri di depan Kuara.


“Bunda?” Tanya Micha.


“Micha, Micha pulang dengan Papa dulu, ya? Nanti bunda menyusul.” Rayu Kuara.


Tapi Micha bersikeras. Ia menggelengkan kepalanya tidak mau.


“Tidak mau. Micha mau pulang sama Bunda.” Ujar Micha yang semakin mengeratkan pelukannya.


Sementara Awan, hatinya sedang kalut. Lututnya masih lemas untuk di buat berdiri. Ia benar-benar tidak menyangka kalau ternyata Kuara sudah menikah dan memiliki seorang putri.


“Micha, ayo. Jangan ganggu Bunda.”


“Tidak apa, Mas. Biarkan saja.”


“Ya sudah. Kalau begitu aku pulang dulu.”


Kuara hanya menganggukkan kepala saja menaggapi ayah Micha.


“Jadi, ini putrimu?” Lirih Awan kembali.


“Kau ini bicara apa, Awan? Menikah saja belum. Bagaimana aku bisa punya putri? Ini anaknya Mas Bhanu. Alias keponakanku.” Jelas Kuara pada akhirnya.


Mendengar itu, hati Awan yang sudah potek seolah kembali seperti semula.


“Apa maksudmu?”


“Apa kau lupa kepada Mas Bhanu?”


Mas Bhanu? Awan yakin pernah mendengarnya dulu. Itu adalah kakak Kuara satu-satunya. Tapi ia tidak faham wajah Mas Bhanu karna belum pernah bertemu secara langsung.


Seketika Awan merasa menjadi pria paling konyol sedunia. Belum apa-apa dia sudah patah hati karna cemburu. Padahal itu semua hanyalah salah faham saja.


“Haha... Hahahahahaha... Ha.” Awan menggaruk dahinya sendiri. Merasa konyol tidak ketulungan. Dia tertawa sumbang untuk menutupi rasa malunya.


“Jadi ini bukan anakmu?”


“Enak saja. Ini keponakanku. Namanya Michara.”

__ADS_1


“Ooh. Heheheh.”


Hufh, lega. Batin Awan.


“Micha, ayo, kenalan dengan Om Awan.” Ujar Kuara kembali.


“Hai, Micha cantik. Salam kenal. Nama Om Awan.”Ujar Awan sambil mengulurkan tangannya.


Walaupun malu-malu, Micha menyambut uluran tangan Awan.


Raut wajah Awan berubah cerah dan senang. Tidak ada lagi mendung yang menggelayutinya seperti beberapa saat yang lalu.


“Kau ini kenapa? Senyum-senyum tidak jelas.” Tanya Kuara.


Awan tidak bisa menyembunyikan bias kebahagiaannya. Ia terus tersenyum senang.


“Tidak, hanya,, bahagia.”


“Bahagia?”


“Begitulah.”


Tentu saja dia bahagia. Ternyata dia hanya salah faham tentang Micha dan Mas Bhanu.


Kebetulan akan pertemuan kali ini, sama sekali tidak pernah Kuara bayangkan. Awan telah lama menghilang dari hidupnya. Dan sekarang ia hanya fokus dengan hidupnya sendiri.


“Kau sudah menikah?” Tanya Kuara. Ia tidak malu-malu menanyakan hal itu.


Entahlah, Kuara merasa itu adalah dirinya. Tiba-tiba perasaannya jadi tak menentu.


Hufh, Kuara menghela nafas untuk mengusir rasa percaya dirinya.


“Bunda, ayo pulang.” Micha mulai merengek.


“Baiklah. Ayo kita pulang. Awan, maaf. Kami pulang dulu.” Pamit Kuara.


Awan tidak merespon. Dia hanya ikut berdiri kemudian menepuki bokongnya. Ia berjalan di belakang Kuara.


Hatinya sedang bersajak. Bait-bait puitis itu kembali memenuhi rongga dadanya. Perasaannya yang memang tidak pernah berubah sejak dulu, kini kembali memenuhi ruang bahagianya.


Ia terus mengikuti Kuara di belakang gadis itu. Menggoda Micha yang di gendong Kuara dengan wajah lucunya. Sesekali Micha tertawa karna ulahnya.


Merasa ada yang mengikuti, Kuara menoleh ke belakang. Dia terkejut saat melihat Awan mengikutinya.


“kau mau kemana? Kenapa mengikutiku?” Tanya Kuara berhenti dan berbalik.


“Siapa yang mengikutimu? Aku berjalan ke arah pulang.”


Kuara mengernyit. Ia tidak mempercayai ucapan Awan. Ia memicing menatap curiga kepada pria itu.


“Aku bersungguh-sungguh.” Ujar Awan meluruskan kecurigaan Kuara.


“Ch.” Kuara kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Awan segera mensejajarkan langkahnya dengan Kuara. Ia masih menggoda Micha dengan memasang wajah lucu.


“Micha, mau Oom gendong? Kasihan Bunda. Pasti capek.” Tawar Awan.


Mendapat tawaran dari orang asing, Micha langsung menggelengkan kepalanya dengan keras. Ia malah menelusupkan wajahnya di leher Kuara. Menatap aneh kepada Awan.


“Hhhh. Tante dan keponakan sama saja. Sama-sama susah di taklukan.” Seloroh Awan.


“Kau bilang apa?”


“Tidak, tidak. Aku tidak bilang apa-apa.”


Kuara hanya terus melangkah menuju rumah. Membiarkan Awan terus mengikuti mereka. Ia sama sekali tidak mempercayai Awan.


“Kau tau, aku merasa menjadi pria paling beruntung di dunia.”


“Kenapa begitu?”


“Karna kau belum menikah.”


Ucapan Awan itu membuat langkah Kuara terhenti. Ada yang menelusup ke dalam jantungnya dan membuatnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Ritme nafasnya juga jadi lebih cepat dari sebelumnya.


Kuara kembali melangkah setelah beberapa saat. Ia berusaha untuk tidak mengindahkan kalimat Awan barusan.


Tidak, saat ini Kuara tidak sedang dalam posisi bisa berharap sesuka hati kepada seorang pria. Rumor tentang dirinya sudah tertanam di sekitarnya. Ia tidak ingin berharap lebih kepada Awan. Yang dulu pernah membuat hari-harinya menyenangkan.


“Sudah sampai.”Ujar Kuara yang berhenti tepat di depan rumahnya. Ia berbalik dan menatap kepada Awan. Kemudian ia menurunkan Micha yang langsung berlari masuk ke dalam rumah.


Awan mengedarkan pandangannya ke halaman rumah Kuara. Rumah yang tidak berubah selama dia mengingatnya.


“Mau masuk?” Tawar Kuara.


Awan tersenyum mendapat tawaran itu. Kemudian ia menggelengkan kepala.


“Tidak. Terimakasih. Lain kali saja. Masih banyak barang-barangku yang belum ku bereskan. Salam saja dengan Bapak dan Ibu.”


Kuara terkekeh. Alasan Awan itu seolah dia benar-benar tinggal di lingkungan perumahan yang sama dengannya.


“Hemh. Baiklah kalau begitu. Aku masuk dulu.”


Awan mengangguk. “Masuklah. Kita akan bertemu lagi nanti.”


Kuara hanya bisa terkekeh saja mendengar selorohan Awan itu. Pria itu, sifatnya masih suka bercanda.


Sambil berjalan masuk ke dalam rumah, fikiran Kuara di penuhi kenangan tentang Awan. Perawakan pria itu sudah banyak berubah. Wajahnya lebih dewasa jika di bandingkan saat masih sekolah dulu. Dan yang pasti, Awan jauh lebih tampan. Ada pesona yang menarik dari seorang Rahwana.


“Tadi itu, bukankah dia Awan? Anak SMA yang suka denganmu dulu?” Tanya Mas Bhanu saat Kuara duduk di sofa keluarga.


Kuara mengangguk. Berusaha bersikap seolah tidak peduli dengan pertanyaan itu.


“Jauh sekali bedanya. Nampak lebih dewasa dan matang.”


Kuara hanya menanggapinya dengan tersenyum samar.

__ADS_1


__ADS_2