
Aku masih berusaha mengatur ritme pernafasanku. Memejamkan mata dengan dada yang terasa penuh sesak oleh kekecewaan. Rasanya sulit sekali untuk menenangkan hatiku.
“Ara!!” Panggilan itu membuatku sontak menoleh. Di ujung koridor, aku melihat Awan yang tengah berlari ke arahku.
Aku marah. Aku kecewa karna ternyata Awan membohongiku seperti ini. Aku merasa di permainkan oleh pria itu.
Bukan karna kenyataan kalau dia masih sekolah. Tapi karna dia sudah berbohong padaku. Memperlakukanku dengan sangat baik sampai membuat hatiku terus berdebar karnanya. Ketidak jujuran Awan telah menyakitiku.
Karna sibuk dengan kekecewaan dan kemarahan, aku sampai melupakan kenyatan bahwa dia juga merupakan putra pemilik yayasan.
Aku tidak ingin bertemu dengan Awan. Aku lantas berbalik dan pergi menjauhinya. Aku sangat berharap dia tidak mengejarku.
“Ara!” Panggilnya lagi. Beberapa siswa laki-laki yang ada di sekitarku nampak tertarik dan melihatku.
Aku sama sekali tidak peduli. Saat ini, aku hanya ingin menghilang dari Awan.
Fikiran kalutku membuatku buta arah. Pun karna aku tidak tau seluk beluk sekolah ini sampai pada akhirnya aku hanya menemukan jalan buntu. Tidak ada jalan keluar untuk melarikan diri dari Awan. Seketika aku di serang kepanikan.
Dihadapanku hanya ada tembok yang menjulang tinggi. Aku maratapinya berharap tembok itu akan ambruk tiba-tiba sehingga aku bisa pergi dari sana.
“Kuara, tunggu!” Aku mendengar suara Awan kembali. Ternyata dia masih mengikutiku.
Aku enggan berbalik. Aku tau saat ini Awan sedang berdiri di belakangku. Aku bisa mendengar nafasnya yang memburu.
“Ara...” Lirihnya. Kali ini, aku merasakan dia meraih pergelangan tanganku dan memaksaku berbalik untuk menghadapnya.
Aku sudah tidak punya tenaga untuk melawannya. Bahkan untuk menatap wajah Awan, aku tidak sanggup.
“Ara, lihat aku. Aku mohon.”
“Lepaskan.” Aku berkata tanpa memberontak.
“Lihat aku dulu.”
“Lepaskan, Awan.”
“Tidak, sampai kau mau melihatku.”
Demi melepaskan diri, aku memaksa mengangkat wajahku. Pria itu, Awan sedang menatapku sendu. Perlahan, dia mulai melepaskan pegangan tangannya.
“Maafkan aku. Seharusnya aku jujur sejak awal.”
“Kenapa kau membohongiku, Awan?”
“Aku takut kau tidak mau berteman denganku kalau tau aku masih seorang anak SMA.”
“Alasan macam apa itu?”
“Aku akan menjelaskannya. Tapi kumohon dengarkan aku.” Awan menatap dengan tatapan memohon padaku.
__ADS_1
“Sekarang aku sudah tau, jadi apa yang akan kau jelaskan lagi? Kau juga sudah mengatakan alasanmu membohongiku. Jadi tidak ada yang perlu di jelaskan, bukan?”
“Ara...”
“Awan, aku tidak punya waktu untuk ini.” Elakku untuk melarikan diri.
“Aku benar-benar minta maaf, Ra. Tidak ada niatku untuk membohongimu seperti ini.”
“Tapi kau sudah membohongiku. Tidak mengatakan siapa dirimu yang sebenarnya.”
“Aku benar-benar minta maaf. Apa yang harus ku lakukan agar kau mau memaafkanku?”
Aku terdiam. Saat ini, maafku masih di telan oleh kekecewaan. Dan kemarahan itu ku salurkan lewat tatapanku pada Awan.
“Aku harus pergi.” Ujarku kembali. Aku segera beranjak melewatinya.
“Ara.” Awan kembali menahanku dengan memegangi pergelangan tanganku.
“Bisa kau lepaskan tanganmu darinya?” Suara Yuta yang tiba-tiba muncul di hadapanku. Dia menatap kasar kepada Awan.
Yuta tidak menunggu Awan melepaskan tanganku. Dia malah langsung menarik tanganku begitu saja sampai terlepas dari genggaman Awan.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Yuta dengan memegang kedua bahuku. Menatapku khawatir.
Aku hanya bisa merespon dengan anggukan pelan.
“Ayo.” Yuta memegang pergelangan tanganku dan menarikku pergi dari sana. Rasa marahku bahkan tidak mengijinkanku untuk menoleh kepada Awan.
Terdengar ponselku berbunyi di dalam tas. Aku segera mengambilnya. Itu adalah telfon dari ibu.
“Ya, Bu?”
“Kalian mau kemana?” Tanya ibu. Sepertinya tadi ibu melihat kami yang berjalan ke mobil.
“Ibu, aku akan pulang lebih dulu dengan Yuta. Tolong beritahu Tante Ruth.” Ujarku lagi.
“Ya, baiklah.” Untungnya ibu tidak banyak protes karna aku punya Yuta sebagai alasanku.
Tanpa banyak bertanya, Yuta segera melajukan mobilnya.
Di perjalanan aku hanya terdiam membuang pandanganku ke luar jendela. Dan Yuta juga tidak menanyakan apapun padaku. Aku bersyukur atas pengertiannya.
Yuta membawaku menuju ke arah selatan kota Jogja. Dia tau harus membawaku kemana. Pantai.
“Tidak mau turun?” Tanya Yuta. Aku menoleh dan dia sedang melepas sabuk pengamannya.
Yuta meninggalkanku sendirian di dalam mobil yang terparkir menghadap lautan. Di kejauhan, aku bisa melihat riak ombak yang bergulung menuju bibir pantai.
Entah kenapa aku masih enggan untuk turun dari mobil. Di sana, aku melihat Yuta yang sedang membeli sesuatu. Aku tau apa itu. Rempeyek yuyu.
__ADS_1
Yuta kemudian melambaikan plastik berisi camilan itu padaku.
Hufh.
Aku mengerling kemudian keluar dari mobil. Berlari kecil menghampiri Yuta yang sedang bertengger di atas pasir sambil menikmati rempeyek yuyu yang di belinya tadi.
Sesaat setelah aku duduk di sampingnya, aku segera merebut plastik makanan itu darinya.
Matahari sedang berada di puncak peraduannya. Membuat terik yang hampir tak bisa ditahan. Untungnya deburan ombak mengantarkan angin kepada kami sehingga kami tidak terlalu tersengat.
“Pakai sunblock.” Kata Yuta.
“Kita butuh sinar matahari, kenapa harus di halangi?”
“Berlebihan juga tidak baik. Nanti kulitmu hitam.”
“Hitam itu kan eksotis.”
“Ya,, ya,, ya. Terserah kau saja.”
Ekspresi Yuta membuatku tertawa tanpa sadar.
“Sepertinya kalian sangat dekat. Dia pria yang datang ke rumah pagi itu, kan?”
Ah, kenapa Yuta harus membahasnya sekarang? Padahal aku sudah hampir lupa.
“Tidak juga.”
“Apa terjadi sesuatu antara kalian?”
“Hanya salah faham saja.” Ucapku. Menyiratkan kalau aku tidak ingin membahasnya lebih jauh lagi.
“Semoga cepat selesai.”
Aku langsung menoleh kepada Yuta yang tengah asyik mengunyah itu.
Suara deburan ombak menghanyutkan fikiranku. Aku mencari-cari alasan kenapa aku bisa tertipu dengan penampilan Awan.
Dari postur tubuhnya, sama sekali tidak menunjukkan kalau dia masih duduk di bangku SMA. Pun perbuatan dan sikapnya. Lebih dewasa dari pria seumurannya. Itu kenapa aku sama sekali tidak pernah mengira kalau Awan masih sekolah.
Ah, salah faham yang terjadi antara kami terjadi bertubi-tubi. Setelah mendapati Awan bermesraan dengan kekasihnya, kini aku harus mendapati kenyataan kalau Awan adalah seorang pria remaja yang masih sekolah.
Pria yang menggoyahkan komitmenku itu, adalah anak SMA kelas tiga. Aku benar-benar tidak percaya ini.
“Nah.” Aku tehenyak saat Yuta menyodorkan minuman teh botol kepadaku. Dia berdiri di depanku hingga menghalangi sinar matahari. Aku bahkan tidak sadar kapan Yuta membeli minuman itu.
Ombak benar-benar melenyapkan kesadaranku. Menelan rasa sakit dan kecewa yang masih meninggalkan sisa. Sekarang aku bingung bagaimana jika tiba-tiba bertemu dengan Awan kembali. Bagaimana aku harus bersikap kepadanya. Memikirkannya membuatku frustasi sendiri.
*
__ADS_1
Dukung author dengan like, komen, vote, gift seiklashnya. terimakasih kepada kalian yang sudah setia mendukung author yaaa... tengkyu.