Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
BAB 72. Hati Yang Kembali Hidup.


__ADS_3

“Katanya mau bilang sesuatu, kenapa malah diam saja?” Kuara tidak sabar menunggu Awan untuk membuka suara. Jadi dia bertanya lebih dulu.


Sebenarnya, Kuara sudah bisa menebak apa yang akan Awan sampaikan. Pria itu pasti akan mundur demi ibunya. Karna ia bisa memahami perasaan Radina.


“Ara?”


“Hem?”


“Ayo kita menikah.”


Jreng!!


“Hah?”


“Aku ingin menikahimu.”


“Awan. Kau ini bicara apa? Menikah?”


“Em. Aku ingin kita menikah.”


“Kenapa?”


“Karna aku mencintaimu.”


Kuara terhenyak. Dadanya terus berdesir tak karuan. Saat pandangan mereka bertemu, desiran itu bersambut satu sama lain.


“Awan. Bukankah kau tau apa yang berputar di sekitarku? Aku ini sudah di kutuk, Wan. Kau tidak boleh mneikahiku atau kau akan berada dalam bahaya.”


“Kenapa? Kau takut aku akan mati jika menikahimu? Seperti yang banyak orang bilang?”


Kuara terdiam. Diamnya adalah jawaban.


“Seperti yang orang bilang, kalau menikahimu berarti menantang maut, aku akan menantang malaikat maut.”


“Awan!” Kuara tidak suka mendengar kalimat Awan itu. Seolah Awan rela mati demi dirinya. Masalah nyawa tidak bisa dibawa main-main.


“Ara, aku tidak percaya dengan hal-hal seperti itu. Dan aku ingin membuktikan kalau apa yang mereka katakan itu tidak benar.”


Suara Kuara tercekat di tenggorokan. Apalagi saat Awan semakin mendekatkan diri. Netra Awan di penuhi ketulusan. Bahkan ketulusan itu berhasil mengaliri hati Kuara.

__ADS_1


Rasa ragu yang sempat menyelimuti hati Kuara perlahan luluh. Ketakutannya menghilang saat melihat tekad yang Awan tunjukkan padanya.


“Tapi, apa mamamu tidak masalah dengan keadaanku? Bagaimana kalau rumor itu benar? Bagaimana kalau sesuatu benar-benar terjadi padamu?”


“Ssst. Jangan fikirkan itu. Di dunia ini tidak ada hal-hal semacam itu. Apapun yang di katakan orang, aku tetap mencintaimu. Aku harus menikahimu, Ara.” Suara Awan semakin memudar. Ia membelai pipi Kuara dengan tangan kanannya.


Awan sedikit menarik kepala Kuara saat tangannya berpindah di tengkuk gadis itu. Dan sedetik kemudian, ia sudah menempelkan bibirnya di kening Kuara.


Kecupannya itu terasa hangat dan menghanyutkan. Kuara bahkan sampai memejamkan mata demi mendapat kehangatan itu.


Hatinya sudah hidup. Hatinya sudah berdebar seperti dulu. Seolah jantungnya kembali berdetak kepada pria yang sama.


Setelah puas menempelkan bibirnya di kening Kuara, Awan lantas melepaskannya. Dan kini, ia berlaih menempelkan keningnya ke kening Kuara. Menatap dalam kepada netra Kuara yang masih terpejam.


“Aku akan melepaskanmu dari kutukan itu. Aku akan membuktikan, kalau tidak ada yang namanya kutukan. Yang ada hanya orang yang belum tepat untuk datang kepadamu. Dan aku akan menegaskan, kalau orang yang tepat untukmu adalah aku.”


Ucapan demi ucapan yang mampu menghangatkan hati Kuara itu perlahan juga mampu melelehkan airmatanya. Seketika Kuara mennagis dan terisak.


Melihat itu, Awan malah merengkuh tubuh Kuara. Ia membelai belakang kepala gadis itu dengan lembut. Sementara Kuara semakin tergugu di pundak Awan.


“Jadi aku mohon, percayalah padaku. Jangan berlari karna aku akan mengejarmu bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun. Aku hanya ingin kau yang menjadi istriku. Ayo kita menikah.”


Apakah akan baik-baik saja kalau mereka menikah?


Kuara mencoba untuk mengalihkan semua fikiran negatif dari kepalanya. Seperti yang di katakan Awan, tidak ada yang namanya kutukan atau apapun itu. Yang ada hanya orang yang tepat di waktu yang tepat.


Itulah yang berusaha Kuara yakinkan dalam hatinya agar ketakutannya menghilang.


Terlepas dari semua kabar itu, Kuara juga seorang wanita. Yang tentu saja, ia ingin membina rumah tangga bersama dengan pria tepat pilihannya. Ia juga ingin menikah dengan pria yang mencintai dan di cintainya.


Hanya saja, pengalaman di masa lalu membuatnya jera hingga menutup hati untuk pria manapun. Pun karna kabar yang menyebar, tidak ada pria yang benar-benar berani menginginkannya.


Apakah sekarang waktunya Kuara untuk melepaskan semua kekalutan itu dan menerima Awan dengan tangan terbuka?


Lumayan lama Kuara terisak di pundak Awan. Setelah merasa tenang, barulah dia melepaskan diri. Dengan manisnya Awan menghapus bekas airmata di pipi Kuara. Ia menangkup wajah Kuara dengan sedikit menekannya hingga kedua pipi Kuara menyembul dan bibirnya mengerucut.


“Astaga, habis menangispun kau malah tambah lucu.”


Awan sedang menahan diri. Menahan diri untuk tidak meraup bibir kerucut di hadapannya itu. Padahal ada keinginan yang bergejolak di dalam hatinya. Tapi ia tidak mau mengotori hubungan mereka dengan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Ia akan melakukannya di waktu yang tepat nanti.

__ADS_1


“Lepaskan...” Lirih Kuara yang kemudian menarik wajahnya menjauh. Sebenarnya dia tidak sanggup berada lebih lama lagi dalam posisi itu. Jantungnya hampir meledak.


“Apa kau sudah makan?”


Kuara menggeleng. “Tadi hanya makan burger.”


“Kenapa tidak makan?”


“Tidak sempat. Terlalu sibuk.”


“Kalau begitu, aku akan meminta Keysi untuk mengurusi semuanya. Kau mundurlah menjadi ketua panitia.”


“Mana bisa begitu. Aku senang melakukannya. Jadi biarkan aku tetap sibuk untuk beberapa hari kedepan, ya?”


Awan menelisik wajah Kuara. Lalu ia tersenyum. Mengarahkan tangannya ke kepala Kuara dan mengusapnya lembut.


“Berjanjilah jangan sampai lupa makan lagi.”


Kuara hanya mengangguk. Kini dia merasa seolah hatinya sudah terbebas dari perasaan yang entah, perasaan yang menggerogoti rasa percaya dirinya hingga ia tega menutup hati.


“Sekarang ayo kita makan dulu. Mau makan apa?”


“Pecel lele saja.” Jawab Kuara tidak banyak fikir.


Dan Awan segera melajukan mobilnya keluar dari kampus halim.


Sudah lumayan malam, tapi masih banyak di jumpai penjual pecel lele yang berderet di sepanjang jalan depan kampus. Tapi Awan tidak mau makan disana, ia sengaja mencari tempat yang lumayan jauh agar bisa lebih lama berduaan dengan Kuara.


“Makan disini saja, ya?” Ujar Awan menghentikan mobil di depan sebuah tenda pecel lele ayam kremes.


Kuara mengangguk. Kemudian ia melepas sabuk pengaman dan mengikuti Awan keluar dari mobil. Dan dengan mesranya, Awan menggenggam erat tangan gadis itu. Seolah ia ingin pamer kepada semua orang.


Kuara diam saja. Ia juga sedang menikmati sensasi menyenangkan ini. Ia bahkan terus tersenyum samar demi menyelami debaran hatinya yang semakin menjadi.


Awan memesankan ayam goreng kremes untuk mereka berdua. Lantas ia mengajak Kuara untuk duduk lesehan di atas tikar yang di sediakan. Dia terus menggenggam tangan Kuara. Tak mau melepaskannya sedikitpun.


Ia tidak peduli dengan beberapa orang yang menatap kepada mereka. Toh beberapa pasangan lain juga melakukan hal yang sama di dekat mereka. Jadi ya, santai saja.


Setelah selesai makan malam, mereka lantas pulang ke rumah bersama. Awan menghentikan mobilnya di depan rumah Kuara. Ia juga ikut turun kemudian saling berpamitan karna Awan hendak menginap di rumah orangtuanya.

__ADS_1


__ADS_2