
“Pak.” Sambut Keysi saat aku sudah tiba di kantor polisi.
Tadi aku menghubunginya. Aku menyuruhnya untuk datang.
“Bagaimana?”
“Sedang di dalam.” Jawab Keysi lagi.
“Pastikan dia tidak akan bisa keluar untuk waktu yang lama.” Titahku padanya.
“Baik, Pak.”
Aku meminta ijin untuk menemui pria yang mengaku sebagai tunangan Kuara itu.
“Kau ini siapa? Berani-beraninya ikut campur urusan kami?” Tanya pria yang baru kutahu namanya adalah Anjas.
“Aku? Aku adalah orang yang tidak bisa melihat Kuara terluka. Dan aku adalah orang yang akan memastikan kau membusuk di penjara.”
Anjas hanya mengkerutkan kening melihatku. Aku suka melihatnya terintimidasi oleh ucapanku.
“Memangnya siapa kau berani-beraninya mengancamku?! Hah?!”
Aku yang baru saja berbalik hendak meninggalkannya, kembali menatapnya dengan emosi yang menumpuk di dadaku. Aku mendekatkan wajahku dengan menatap tajam pada Anjas.
“Aku adalah orang yang menyayangi Kuara. Jadi aku akan benar-benar memastikan kau menghilang dari kehidupannya.”
Aku lega setelah mengatakan semua itu pada Anjas. Aku menyerahkan sisanya kepada Keysi. Dia tau apa yang harus di lakukan.
Setelah melampiaskan kemarahanku, aku kembali ke rumah sakit. Ternyata Kuara sudah sadar. Disana, sedang ada keluarganya. Aku tidak masuk dan hanya mengintipnya dari kaca kecil yang ada di pintu.
Pias sekali hatiku melihat wajahnya yang nampak lesu. Keadaan Kuara menggugurkan rasa bersalahku.
Tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan Kuara seperti ini.
Dan sejenak kemudian aku bertekad untuk melindungi Kuara. Aku berniat untuk kembali padanya dan melindunginya.
“Mas!” Sebuah panggilan membuatku menoleh. Itu adalah Pak Arya, ayah Kuara. “Mau kemana? Tidak masuk dulu? Putriku sedang mencarimu. Dia bilang ingin mengucapkan terimakasih karna Masnya sudah menolongnya. Dan juga, kami ingin memberikan hadiah sekadarnya sebagai ucapan terimakasih.”
Aku tidak jadi melanjutkan langkahku. Aku malah mengikuti Pak Arya duduk di kursi koridor.
“Tidak usah Pak. Salam saja dengan putrinya. Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan. Saya tidak menginginkan imbalan apapun.”
“Jangan begitu, tidak baik menolak niat baik orang lain.”
“Saya benar-benar minta maaf, Pak. Tapi saya harus pergi. Ada pekerjaan yang sedang menunggu.”
“Tapi...”
__ADS_1
Aku langsung pamit dan meninggalkan Pak Arya.
Sesampainya di rumah, aku terkejut karna Maiga, Ben, Lisa dan Jason sudah ada di rumah. Mereka semua kompak memandangiku dengan tatapan kesal dan marah.
“Apa? Kenapa?” Tanyaku yang memang merasa tidak melakukan kesalahan.
“Kau ini benar-benar. Bisa-bisanya kau tidak mengangkat telfonmu? Kau meninggalkan kami begitu saja.” Dengus Ben kesal.
Ah, aku baru ingat. Tadi aku pergi ke Malioboro bersama dengan mereka. Seketika aku jadi merasa tidak enak hati.
“Hehehehe. Maaf. Aku lupa.”
“Apa? Lupa? Mas Awan ini bagaimana sih? Lupa?!” Rupanya Maiga tak kalah kesal.
Memang aku benar-benar lupa karna kejadian Kuara tadi.
“Aku benar-benar minta maaf. Tadi ada sesuatu yang mendesak.”
“Aku tidak percaya kau mengabaikan kami.” Lisa juga ikut mendengus. Sementara Jason hanya menangkat bahu saja saat aku memandang padanya.
“Sudah malam. Kenapa malah bertengkar?” Suara Papa mengejutkan kami.
“Ini, Pa. Bisa-bisanya Mas Awan meninggalkan kami begitu saja di Malioboro. Sementara dia pergi entah kemana.” Adu Maiga.
“Heheheheh. Aku benar-benar minta maaf. Jadi kalian pulang dengan apa?”
“Ya sudah. Yang penting kalian sudah sampai rumah dengan selamat.” Ujarku yang sudah tidak ingin memperpanjang urusan itu lagi.
Aku menarik Ben untuk masuk ke dalam kamarku. Aku ingin segera istirahat dan menemui Kuara besok.
Tapi memang, rencana hanya tinggal rencana. Dan Sang Pemilik Takdir tidak mengijinkanku untuk menemui Kuara.
Pagi ini, hari masih gelap dan rasa kantuk masih bergelayut di kelopak mataku saat aku mendengar teriakan Mama.
Seketika aku dan semua penghuni rumah terbangun dan berlari menuju ke kamar Mama.
Disana, aku melihat Mama yang tengah menangisi Papa yang nampak kesulitan untuk bernafas.
“Pa.. Huhuhu. Papa...” Aku segera mendekat dan bertanya tentang apa yang sudah terjadi.
“Papa kenapa, Ma?”
“Mama juga tidak tau. Mama terbangun saat Papa menarik-narik lengan Mama dan Papa sudah dalam keadaan begini.”
“Mas Bagus siapkan mobil!” Teriakku pada Mas Bagus. Aku di bantu dengan Ben segera membopong tubuh Papa dan memindahkannya ke dalam mobil. Aku sendiri yang mengemudikan mobil menuju ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, fikrianku kalut. Rasa takut akan kehilangan orang yang kusayangi terus bergelayut di kepalaku. Untung saja aku masih bisa fokus ke jalan raya yang masih sepi.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, dokter segera memberikan penanganan kepada Papa. Beberapa saat kemudian, Mama, Maiga dan Ben datang ke rumah sakit dengan di antar oleh Mas Bagus.
“Bagaimana Papa, Mas?” Tanya Maiga yang nampak habis menangis.
“Paklek Gun masih memberikan penanganan. Kita tunggu saja.”
Kami semua kalut menunggu dokter keluar dari ruang tindakan. Setelah dokter keluar, kami langsung menyerbu dan mengerubutinya.
“Bagaimana Masmu, Gun?” Tanya Mama.
Helaan nafas Paklek Gun membuat perasaan kami semua semakin pias. Apalagi wajahnya yang nampak ragu untuk menjawab pertanyaan Mama.
“Mbak, sebaiknya kita bicara di ruanganku saja. Mari.”
Kami semua ikut masuk ke ruangan Paklek Gun. Tidak sabar untuk mendengarkan penjelasannya. Firasatku sudah tidak baik dan aku berusaha untuk mengusir segala fikiran jahat itu. Sementara Mama terus saja menangis di sampingku. Aku berusaha menenangkannya dengan menggenggam erat tangannya
“Maaf harus mengatakan ini, Mbak. Tapi sebaiknya Mas Arya di pindahkan saja ke rumah sakit yang lebih baik fasilitasnya. Keadaan paru-parunya semakin memburuk.”
Mama semakin meraung mendengar penjelasan adiknya itu.
“Apa paklek bisa memberi saran kemana sebaiknya kami membawa Papa?”
“Ke tempat yang lebih baik, akan semakin bagus.”
“Awan, bagaimana kalau kita bawa saja Papamu ke Boston? Kita rawat dia di Massachusetts General Hospital. Itu rumah sakit terbaik di dunia. Mereka pasti punya sesuatu untuk menyembuhkan Papa. Aku dan keluarga Abraham juga bisa membantu mengurusnya. Sementara kau bisa fokus dengan pekerjaanmu disini.”
Ben mengutarakan solusi yang terbaik untuk kami semua. Paklek Gun juga setuju dan segera mengurus keperluannya.
“Itu bagus. Aku akan mengurus administrasinya. Dan kita akan berangkat secepatnya.”
“Thank’s Ben.” Aku memeluk calon adik iparku itu dengan hangat.
Untuk saat ini, inilah solusi terbaik yang bisa kami lakukan. Mama memutuskan untuk pergi menemani Papa ke Boston. Sementara aku dan Maiga tinggal di rumah mengurusi yayasan.
Aku menitipkan Papa dan Mama kepada Ben. Menyerahkan semua urusan kepadanya.
Dan butuh waktu satu tahun bagi Papa untuk memulihkan diri di Boston. Sesekali aku dan Maiga datang menjenguknya.
Dan selama setahun ini, aku di sibukkan oleh pekerjaan yang seperti tidak ada habisnya. Rencanaku untuk menemui Kuara dan kembali padanya, seolah pupus termakan waktu.
Kuara, tunggu aku. Aku akan kembali padamu.
^TAMAT^
POV Awan sudah tamat ya warga. Setelah ini masih ada season kedua untuk kisah cinta mereka... Semoga kalian gak bosen yaa sama cerita mereka. Dan semoga kalian tetap terhibur dengan kisah-kisah sederhana dariku.
Peluk dari jauh untuk semua warga... Jangan lupa dukung aku terus yaa, dengan like, komentar, vote, rate, hadiah. Dengan kalian memberi itu, aku merasa di hargai setelah menghabiskan waktu dan ide buat nulis. Biarlah gak dapet gaji dari entun, yang penting ada yang terhibur dengan ceritaku. hehehehe.
__ADS_1
Ya seperti yang kalian tau, pembaca di novelku tidak begitu banyak. Tapi aku masih bersyukur ada kalian yang setia nemenin aku dari Semesta Rai sampai sekarang. bacain komenan dari kalian itu rasanya moodbooster banget. Terimakasih untuk kalian.