Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Rahwana 5.


__ADS_3

“Buuhh.”


Aku terkejut dengan jawabannya saat kutanya kenapa dia tidak memiliki kekasih.


“Kau ini hidup di abad berapa? Kita hidup di abad 21 dimana belajar bisa bersanding mesra dengan kesenangan. Kau bisa fokus study, dan kau juga bisa berpacaran untuk bersenang-senang. Jangan terlalu fokus. Otakmu bisa meledak.”


“Ada beberapa orang yang sepertiku, Awan. Mementingkan study dan pendidikan di atas kesenangan. Kami tidak pernah mensejajarkan keduanya.”


Ekspresi Kuara berubah menjadi serius.


Apa dia tersinggung dengan ucapanku?


Aku tidak salah, kan? Jaman sekarang, mana ada orang yang fokus untuk belajar sampai mengesampingkan kesenangan. Bahkan hampir semua teman-teman kelasku sudah memiliki kekasih.


“Tapi aku baru menemukan satu yang seperti ini. Ternyata kau cukup berambisi juga. Apa cita-citamu?”


“Dosen.”


Wah, itu cinta-cita yang mulia. Aku tersenyum mendengarnya. Tapi hanya bibirku yang tersenyum. Sedangkan hatiku sedang pias. Aku merasa tidak punya kesempatan untuk mejadi kekasihnya.


“Jadi, kalaupun aku mengatakan kalau aku menyukaimu, apa kau akan menolaknya mentah-mentah?”


Aku bertanya walaupun sepertinya tipis kemungkinannya. Aku sedang bersaing dengan masa depannya. Mending aku bersaing dengan manusia daripada harus dengan komitmennya. Karna bersaing dengan sebuah komitmen itu adalah hal yang mustahil untuk di lakukan.


“Aku tidak akan meminta maaf padamu. Tapi aku harus konsisten dengan tujuan dan komitmenku. Apa kau kecewa?”


Kecewa? Ya. Tentu saja aku kecewa.


Kenyataan bahwa Kuara tidak memiliki kekasih sudah membuatku melambung akan sebuah angan-angan untuk menjadi kekasihnya. Tapi, ada komitmen yang menjadi pembatas di antara kami.


“Tidak terlalu. Karna sebenarnya aku juga belum yakin dengan perasaanku. Aku akan mengatakannya lagi nanti saat aku sudah yakin.”


Bohong. Aku sedang berbohong. Sekarangpun aku telah yakin akan perasaanku padanya.


Hatiku sakit dan menciut menyadari kalau ternyata aku tidak punya peluang untuk mendapatkannya.


Setelah makan, kami kembali menuju ke Sendratari. Kini, aku hanya lebih banyak terdiam. Meratapi kegagalan yang bahkan belum kucoba.


Setelah dari Sendratari, aku berencana untuk langsung mengantarkannya pulang.

__ADS_1


Diperjalanan itu, aku teringat kalimatku sendiri. Tadi aku meminta Kuara untuk tidak memikirkan ucapanku.


Bodoh. Aku merutuki diriku sendiri. Tidak biasanya aku akan menyerah semudah ini.


Ya, tidak seharusnya aku menyerah. Memangnya harus berpacaran saat aku berhasil mengutarakan perasaanku?


Tunggu, aku belum mengutarakan perasaanku padanya. Rencananya memang begitu, tapi tidak jadi setelah mendengar penuturannya. Aku akan mengatakannya lain kali saja.


Udara dingin tengah malam menghembus di sekujur tubuhku. Aku kedinginan karna hoodieku ku berikan pada Kuara. Aku ingin terlihat keren untuknya. Ah, aku pasti terlihat keren.


“Awan! Kalau kau kedinginan, pelan-pelan saja.”


Ucapan itu seolah memberi peluang untukku bermain trik licik. Saat berhenti di lampu merah, aku menarik tangan Kuara dan langsung melingkarkanya di perutku. Dingin menjadi alasanku untuk mendapat pelukan hangat itu.


“Begini saja. Aku kedinginan.”


Aku  memaksa tangannya untuk melingkar saat dia ingin menariknya. Dan aku full senyum di balik helm.


Fikiranku menjadi liar saat kurasakan dada Kuara yang menempel di punggungku. Aku jadi tidak ingin cepat-cepat sampai.


Dan, sepertinya alam sedang berpihak padaku. Hujan tiba-tiba turun dan aku terlambat untuk menepi.


Pakaianku sudah basah karna hujan deras yang turun tiba-tiba. Tapi aku lega karna melihat Kuara terlindungi oleh hoodieku.


“Bukan aku yang harusnya kau khawatirkan. Lihat bajumu. Lebih basah daripada aku.” Kata Kuara setelah aku menepikan motor di teras sebuah minimarket yang sudah tutup.


Aku senang dia mengkhawatirkanku. Hatiku jadi berbunga-bunga.


Kami sedikit berdebat saat dia bersikeras hendak pulang naik ojek. Tentu saja itu sangat menyingungku. Aku harus terlihat menjadi pria yang bertanggung jawab. Aku tidak akan membiarkannya pergi naik ojek di tengah malam begini.


Setiap kali aku sedang bersama Kuara, hujan selalu turun. Padahal aku sangat tidak menyukai hujan.


“Kau begitu membenci hujan?”


“Aku tidak membencinya. Aku hanya tidak menyukainya. Suaranya berisik dan aku tidak bisa mendengar apapun.”


Aku terhenyak saat tiba-tiba Kuara menyelipkan sebuah headset ke telingaku. Aku menoleh padanya. Dia tersenyum.


“Tidak perlu dengarkan hujan. Dengarkan saja ini.”

__ADS_1


Astaga, jantung, kumohon, berdetaklah lebih pelan. Aku akan malu kalau sampai Kuara mendengarmu. Bagaimana aku tidak semakin jatuh cinta padanya? Kuara sangat manis.


Senyumku kembali merekah saat aku menyarankan untuk mampir lebih dulu ke kosku, dan Kuara menyetujuinya. Sepertinya dia tidak tega melihatku yang basah dan menggigil.


Aku mengajak Kuara masuk ke dalam kosku. Dan ternyata, para tetanggaku sedang berkumpul di depan kamar Pakde Ito.


“Baru pulang, Wan?”


“Iya, Pakde. Kenapa belum pada tidur?” Aku bertanya sambil mecari kunci pintu diantara kunci motorku.


“Sedang ada yang di bahas, Wan. Penting. Hahahahaha.”


Aku ikut tersenyum. Aku tau apa yang sedang mereka bahas.


“Masuklah.” Aku meminta Kuara masuk setelah berhasil membuka pintu.


“Aku tunggu di luar saja.”


“Jangan. Masuk saja. Di luar dingin.” Aku tidak mau Kuara menunggu di luar. Aku ingin dia masuk dan melihat isi kosku.


Kuara menuruti perkataanku. Dia akhirnya masuk dan aku mempersilahkannya untuk duduk di sofa.


Kalian bertanya apa yang saat ini ada di fikrianku? Tentu saja sama dengan fikiran kebanyakan pria di luar sana. Apa yang ku fikirkan sementara aku berdua bersama dengan gadis yang kusuka di dalam kosku?


Aku merealisasikan pemikiran kotorku dengan langsung membuka baju di hadapannya. Aku membayangkan bagaimana ekspresinya saat melihat punggung kekarku. Aku jadi senyum sendiri.


Saat berada di dalam kamar mandi, aku berusaha untuk menenangkan hatiku yang memanas. Menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya. Aku mengulanginya sampai beberapa kali. Sampai hatiku tenang.


Tapi, saat aku teringat akan kehangatan dada Kuara di punggungku, hatiku kembali berdesir aneh. Rasa itu, tak mau lepas dari fikiranku.


Selesai mandi, aku baru teringat kalau tidak membawa handuk dan pakaian ganti. Sementara bajuku sudah basah dan tidak mungkin ku kenakan lagi. Di kamar mandi hanya ada handuk kecil yang biasa aku gunakan untuk mengeringkan wajah.


Akhirnya aku terpaksa mengenakan celana yang tadi kupakai. Sedikit basah, tapi tidak apa. Daripada aku harus keluar dengan polosan.


Betapa terkejutnya aku saat keluar dari kamar mandi, ternyata ada Kuara yang sedang lewat di sana. Dia juga terkejut dengan kemunculanku.


Pandangan kami saling bertemu. Aku menunggu Kuara untuk menyingkir lebih dulu. Tapi dia tidak kunjung melakukannya. Sementara aku, sedang berusaha untuk mengendalikan desiran aneh yang kembali muncul.


Saat Kuara hendak pergi, entah dorongan darimana yang memaksaku untuk mencegahnya. Aku mengungkungnya di antara tembok hingga dia tidak bisa pergi kemana-mana. Ada sesuatu dalam diriku yang menuntut untuk di lampiaskan. Kalian tau apa itu.

__ADS_1


**


maaf ya warga kemarin gak up. tumbang eui. kalian jangan lupa jaga kesehatan selalu yaaa...


__ADS_2