Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Rahwana 4.


__ADS_3

Alunan musik sendu menemaniku di dalam kos malam ini. Aku menatapi nomor ponsel Kuara. Ragu saat hendak menekannya. Kira-kira dia sedang sibuk tidak ya?


Tok. Tok. Tok.


DUAR!


Suara benda terjatuh dari kamar depan kamarku. Entah apa. Tapi suaranya sampai mengagetkanku. Dan tanpa sengaja aku telah menekan nomor Kuara. Aku terdiam memandangi ponselku yang sedang dalam keadaan memanggil dan sudah terhubung.


Aku bisa mendengar suara Kuara dari seberang. Sebelum berbicara, aku senam mulut terlebih dahulu agar lentur saat berbicara dengannya.


“Ara?”


“Hem?”


Ah, leganya hatiku. Bahkan hanya mendengar suaranya saja, hatiku serasa menari-nari.


“Aku fikir aku salah nomor.”


Aku spontan berbohong dan mengatakan kalau aku sudah menghubunginya berkali-kali. Padahal aku baru menghubunginya kali ini.


“Maaf. Aku baru selesai makan malam. Aku meninggalkan ponsel di kamar.”


“Ohh. Jadi, sudah siap membahas Rahwana?” Karna aku tidak punya bahan lain untuk di bicarakan selain itu.


“Rahwana siapa?”


Pertanyaan itu membuatku tersenyum senang.


“Terserah padamu. Kau ingin membahas Rahwananya Sinta, apa Rahwananya Ara?”


Dan hening. Tidak terdengar lagi suara Kuara.


“Kenapa diam?”


“Baiklah. Ayo kita bahas Rahwananya Ara.”


Dan selama dua jam berikutnya, kami banyak bercerita. Pertama tentangku. Kuara bertanya tentang hal-hal sehari-hari yang ku lakukan. Tentu saja aku masih tidak mau memberitahunya hal yang sebenarnya.


Dia benar-benar ingin membahas tentangku. Aku senang sudah menyebutkan ‘Rahwananya Ara’.


Dan sejak malam itu, kami jadi lebih sering bertemu. Saat ada jam kosong di sekolah, aku akan pergi ke perpustakaan untuk menemuinya. Aku jadi tau, kalau Kuara lebih senang menghabiskan waktunya di perpustakaan.


Hari ini, sepulang sekolah aku langsung mengganti pakaianku dan kemudian pergi ke perpustakaan. Dan benar saja, aku melihat Kuara yang sedang mengobrol bersama dengan temannya.


Aku ingat gadis itu, dia adalah yang bertengkar dengan Maiga di pasar waktu itu. Tapi aku lupa namanya.


Tuk.. Tuk.. Tuk..


“Feelingku tepat sekali.” Aku berusaha tersenyum ramah kepada Kuara dan temannya.


“Feeling apa?”


“Aku tau kamu pasti ada disini.”


Kuara terkekeh lucu sekali.


“Siapa ini?” Tanya teman Kuara. Dia memperkenalkan namaku kepada temannya itu.


“Awan?”

__ADS_1


“Hai.” Aku menjulurkan tangan mengajak berkenalan.


“Kenapa aku baru tau kalau kau punya teman setampan ini?”


Mendapat pujian yang sebenarnya sudah umum ku dengar itu, membuatku tertawa saja. Aku melihat buku yang sedang di pegang oleh Kuara.


“Bukankah kau sudah membaca itu?”


“Belum selesai. Gara-gara kamu, aku jadi harus menyelesaikannya.” Sepertinya dia kesal padaku.


Dengan percaya diri kubisikkan sesuatu di telinganya. “Sudah ku bilang. Tidak ada yang bisa menandingi pesona Arwananya Ara.”


“Maaf, siapa namamu?” Aku beralih kepada teman Kuara.


“Fio.”


“Baiklah, fio. Boleh aku pinjam temanmu sebentar? Aku harus menunjukkan sesuatu padanya.”


Dan aku tidak memerlukan persetujuan dari Fio. Aku langsung saja menarik tangan Kuara untuk pergi dari sana.


Tadi pagi, aku sudah menelfon Mas Wanda. Sepupuku yang bekerja sebagai staff di Sendratari di kawasan Candi Prambanan. Aku memintanya untuk menyisakan tempat untuk dua orang.


Rencananya, malam ini aku akan mengajak Kuara untuk menonton Sendratari. Aku ingin mengungkapkan perasaanku. Bahkan dengan membayangkanya saja, jantungku sudah berdegub dengan sangat kencang.


“Kau membawa helm cadangan?” Kuara bertanya heran.


Tentu saja. Karna aku sudah berniat mengajaknya pergi.


“Naik.”


“Awan. Aku tidak sudak sepeda motormu ini.” Aku hampir saja tergelak menndegarnya. Aku tau apa yang dia fikirkan.


Kuara hanya terdiam. Nampak sekali kalau dia ragu untuk naik.


“Cepat.” Aku sengaja memaksanya.


Cara duduk Kuara sangat aneh kurasakan. Dia memberi jarak dengan menaruh tangannya di punggungku. Aku jadi tidak nyaman dan sulit. Aku takut Kuara akan terjatuh saat ada sesuatu yang mengharuskanku untuk mengerem mendadak.


“Ara?!”


“Apa?!”


“Pegangan!”


“Ini sudah pegangan.”


Aku mendengus kesal. Kuara malah hanya mencengkeram samping hoodie yang kukenakan. Padahal aku berharap dia akan memelukku.


“Kau tidak mendengarku? Ku bilang pegangan! Aku tidak ingin kamu terjatuh nanti.” Aku sengaja melirihkan suaraku. Berharap Kuara akan mendekatkan wajahnya demi mendengarku.


Dan benar saja. Aku tersenyum saat ku rasakan kepalanya mendekat. Dan saat itu juga, aku langsung mengerem mendadak hingga Kuara merangsek maju dan langsung memelukku. Dan aku kini tersenyum, dengan sangat puas.


Kubenahi posisi tangan Kuara agar nyaman bertengger di perutku. Sepanjang jalan aku full senyum. Merasakan kehangatan dada Kuara yang menempel di punggungku.


Kami sudah sampai di area Candi Prambanan. Kuara sudah turun lebih dulu dan meletakkan helm di jok belakang. Ku lihat dia sedikit menggigil kedinginan.


“Dingin?”


Kuara mengangguk.

__ADS_1


Aku segera menangkupkan tangan di pipinya. Berharap untuk menghangatkan wajahnya. Aku lupa, kalau ternyata tanganku bahkan jauh lebih dingin dari pipinya.


Tapi, aku tidak lantas menarik tanganku. Sudah kepalang tanggung untuk melepaskannya dari pipi Kuara yang lembut.


“Apa aku terlalu kencang membawa motor?”


Kuara hanya menggeleng. Sepertinya dia terlalu kedinginan sehingga suaranya bahkan sulit keluar. Dia bahkan menarik diri hingga pipinya terlepas dariku.


“Aku ingin mengajakmu melihat sesuatu.” Jawabku saat dia bertanya kenapa membawanya kesini.


Kuara mengikuti arah tunjukku.


“Awan!!” Aku menoleh saat suara Mas Wanda memanggilku.


“Kau sudah datang? Ayo, masuk. Tunggu di dalam saja.” Ajak Mas Wanda kemudian.


“Apa masih lama mulainya? Kami mau makan dulu.”


“Satu jam lagi.”


Itu berarti, kami masih punya waktu untuk makan lebih dulu.


“Kalau begitu, nanti kami kembali lagi kesini.” Ujarku pada Mas Wanda.


Otakku sedang mencari momen yang pas untuk menyatakan perasaan. Aku sungguh berharap kalau Kuara tidak memiliki kekasih.


Aku mengajak Kuara ke sebuah gerobak nasi goreng. Dia ingin makan magelangan katanya.


Hatiku semakin bergejolak tidak menentu. Lampu kerlap-kerlip di pohon kersen itu seolah mengejek keberanianku untuk mengutarakan perasaan.


“Masih dingin?” Aku membuka percakapan.


Tapi Kuara hanya menggeleng dan terus diam. Aku bisa merasakan sebuah kecanggungan di sana.


“Kau punya pacar?


Ah, akhirnya. Tapi hatiku belum lega. Aku benar-benar berharap dia tidak punya kekasih saat ini.


Katakan tidak ada. Katakan tidak ada. Hatiku sangat berharap.


“Tidak ada.”


Horrrreeeeee....!


Aku ingin melompat saat ini juga. Betapa senangnya aku dengan jawabannya.


“Kenapa?”


“Ya tidak apa-apa.”


“Tidak ada yang mau, atau tidak ada yang kamu suka?” Aku menebak dengan asal.


“Bukan keduanya.”


“Maksudmu, tidak ada yang mau denganmu dan tidak ada yang kamu suka?”


“Astaga Awan. Bolehkan aku memukulmu sekali saja? Hem?”


Aku semakin terkekeh saja. Memang terlihat seperti sedang menertawakan ekspresi Kuara. Padahal, aku tertawa karna sedang merasa senang sekali. Kuara tidak punya kekasih. Seperti yang kuharapkan.

__ADS_1


__ADS_2