Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
BAB 75. Kebaikan Takdir.


__ADS_3

Kuara dan Awan kini sedang duduk berhadap-hadapan di sebuah cafe cepat saji di depan kampus. Awan memesankan makan siang untuk mereka berdua.


Sementara Kuara terus saja melihati cincin perak dengan berlian kecil di atasnya yang semakin menambah manis cincin itu.


“Apa kau begitu menyukainya?” Tanya Awan sambil tersenyum bahagia.


“Em. Aku sangat, sangat menyukainya. Darimana kau bisa mendapatkan cincin semanis ini? Ukurannya juga sangat pas di jariku.”


“Yang jelas, cincin itu berada di dompetku cukup lama. Aku membelinya sekitar tujuh atau delapan tahun lalu di Boston. Aku langsung jatuh cinta saat melihatnya.”


Awan tidak mau mengatakan kapan waktu tepatnya ia membeli cincin itu. Ya, itu adalah saat Kuara baru saja bertunangan dengan mendiang Yuta. Awan tidak ingin mengulik kenangan menyedihkan itu lagi.


“Wow. Yang benar saja? Selama itu?” Kuara terdengar takjub mendengar kisah cincin itu sendiri.


“Dulu tidak ada berliannya. Hanya cincin perak biasa. Aku baru menambahkan berliannya beberapa hari yang lalu.” Jelas Awan kemudian.


“Aah, pantas saja. Ukirannya terlihat masih baru. Ini sangat manis. Aku sangat menyukainya.” Kuara benar-benar telah berubah menjadi gadis remaja yang dulu. Riang dan selalu tersenyum.


Awan ikut tersenyum. Ia senang jika Kuara merasa puas dengan seleranya. Padahal Awan sempat cemas kalau gadis itu tidak menyukainya.


“Jadi, kapan enaknya aku dan mama datang ke rumahmu?”


“Ke rumahku? Untuk apa?”


“Untuk melamar gadis pujaanku lah. Apa lagi.” Seloroh Awan.


Degub jantung Kuara semakin tidak bisa di kendalikan. Masih ada sisa rasa takut di hatinya yang ia coba untuk mengusirnya.


“Sebaiknya kamu rembukan dulu dengan mamamu, Awan. Kalau kalian sudah mendapat harinya, kabari aku.”


“Begitukah?”


Kuara mengangguk.


“Baiklah.”


Makanan yang mereka pesan sudah datang dan terhidang di meja. Selama makan siang, tidak ada yang bicara. Keduanya sibuk dengan fikiran masing-masing.

__ADS_1


Setelah selesai makan siang, mereka kembali ke kampus. Karna ini adalah hari penutupan pameran, masih banyak pekerjaan yang harus Kuara selesaikan.


Kuara benar-benar sibuk. Sementara Awan tidak bisa membantunya walaupun ia ingin sekali melakukannya. Karna sore ini, dia ada rapat penting.


Kuara sedang mengangkat sebuah kardus besar berisi sisa pameran untuk di pindahkan ke dalam truk pengangkut. Saat seseorang tiba-tiba ikut membantunya tanpa permisi.


“Astaga, Rin, kau mengejutkanku saja.” Protes Kuara. Karna dia memang benar-benar terkejut.


“Oh, maaf, Mbak. Aku kira tadi Mbak Kuara melihatku datang.”


“Terimakasih sudah membantuku, Rin.” Ujar Kuara saat mereka sudah berhasil meletakkan kotak itu.


“Sama-sama, Mbak.”


Kuara dan Rini nampak berjalan masuk ke dalam area pameran untuk mengangkut barang yang lainnya.


“Mbak Kuara sekarang semakin dekat dengan Mas Awan, ya?” Celetuk Rini.


“Iya, kah?”


“Iya. Semua orang mengira kalau kalian pacaran.”


“Tapi orang melihatnya berbeda, Mbak.”


“Aku tidak peduli apa yang orang lain bilang. Aku merasa tidak merugikan siapapun.” Tegas Kuara. Ia merasa sedikti kesal dengan tuduhan yang di berikan Rini padanya.


“Hehehe. Iya juga sih.” Nampaknya Rini menangkap kode dari Kuara. Ia jadi tidak selera untuk melanjutkan mengobrol. Ia merasa sudah tidak menarik lagi.


“Mbak, aku bantu di sebelah sana, ya.” Pamit Rini yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Kuara. Bahkan saat gadis itu belum sempat menganggukkan kepalanya.


Semua pekerjaan selesai saat pukul 8 malam lewat. Semua orang nampak sangat lelah. Pun puas dengan kinerja mereka selama 10 hari mengadakan pameran amal ini. Apalagi, jumlah donasi yang terkumpul lebih dari 4 milyar rupiah. Yang sebagian besar di dapat dari penjualan lukisan yang memang harganya tidak ada yang murah.


Semua panitia sedang berleha-leha melepas lelah di lapangan bekas pameran yang sudah bersih dari tenda-tenda. Mereka berkumpul dan bercerita ringan.


Tidak lupa Kuara megucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada para rekan-rekan panitianya. Mereka telah bekerja keras untuk mensukseskan pameran itu.


“Apa kalian lelah?”

__ADS_1


Suara itu mengejutkan semua orang. Mereka sontak melihat ke arah pemilik suara yang sedang berdiri di belakang Kuara. Bahkan Kuara sendiri tidak menyadari kehadiran Awan.


“Ayo, aku sudah memesankan tempat di restoran L. Aku akan mentraktir kalian makan sepuasnya.” Ujar Awan yang langsung di sambut dengan sangat gembira oleh semua orang.


Dan sepuluh menit kemudian, seluruh panitia sudah berkumpul  di restoran L yang di maksud oleh Awan.


Awan memang sengaja meminta Elya untuk menutup restorannya lebih cepat hari ini. Ia juga bilang kalau ia akan membawa sekitar 30 orang untuk makan di restoran milik Elya itu. Dan meminta gadis itu untuk menyiapkannya sebelum mereka datang.


Beberapa meja telah di atur hingga membentuk tiga perkumpulan besar. Kuara dan Awan berada di meja yang sama dan duduk bersebelahan.


“Semuanya! Terimakasih banyak karna sudah bekerja keras untuk mensukseskan acara penting kita ini.” Ujar Awan memulai pidatonya. Ia berdiri dari duduknya dan mengedarkan pandangan ke seluruh anggota panita.


“Kalian luar biasa. Saya benar-benar sangat berterimakasih. Jadi, untuk menghargai kerja keras kalian, kalian boleh makan sepausnya hidangan yang ada di meja. Kalau masih kurang, kalian boleh meminta lagi kepada pelayan.”


“Oh ya, aku hampir lupa. Kalian semua akan mendapat bonus besok.” Ucap Awan sambil mengembangkan senyuman.


Mendengar akan mendapat bonus, semua orang sontak bertepuk tangan dan bersorak gembira.


Kemudian mereka semua melanjutkan makan. Sesekali, Awan mencoba menggenggam tangan Kuara yang berada di bawah meja. Walaupun gadis itu menolak dan menampik tangannya, tapi Awan tidak kalah ide. Ia terus berusaha meraih tangan Kuara sampai gadis itu tidak menghindar lagi.


“Yang akan mendapat bonus paling besar adalah kau.” Bisik Awan tiba-tiba di tengah-tenagh mengunyahnya.


“Waaah. Aku tidak sabar menantikannya.” Balas Kuara kembali. Dan keduanya terkekeh setelah saling berbisik. Membuat mereka menjadi pusat perhatian untuk beberapa saat.


“Ehem! Terimakasih sudah mentraktir kami, pak Awan.” Kata Kuara mencoba mengalihkan suasana.


“Sama-sama. Silahkan, jangan sungkan-sungkan.” Ujar Awan kembali.


“Awan, aku ingin ke kamar mandi dulu.” Ujar Kuara yang langsung bangkit dari duduknya. Dia bahkan belum menyelesaikan makanannya.


Awan hanya mengangguk. Melihat Kuara bertanya kepada salah seorang pelayan restoran.


Pelayan restoran memberitahu Kuara dimana letak kamar mandi. Setelah itu ia berjalan ke arah yang di beritahu.


Perut Kuara terasa seperti terlilit. Sakit sekali. Ia segera masuk ke dalam salah satu bilik kamar mandi yang kosong dan menuntaskan hajatnya. Setelah selesai, ia keluar dan mencuci tangannya di washtafel.


Kuara menatapi dalam-dalam bayangannya yang ada di cermin. Ia nampak sangat lelah. Tapi ia juga senang karna Awan selalu ada di sisinya. Seketika ia tersenyum dan menjadi lebih bersemangat.

__ADS_1


Semoga, kali ini takdir tidak akan mengambil kembali pria yang di cintainya.


__ADS_2