
Makan malam yang dikatakan Awan penting adalah ini, makan malam bersama dengan keluarga Kuara. Pantas saja dia bilang ini lebih penting dari klien trilyunan.
“Pasti kamu sibuk mengurusi yayasan sendirian.”
“Lumayan, Pak. Tapi saya beruntung di bantu oleh orang-orang baik.” Jawab Awan merendah.
“Bagus kalau begitu.”
Ya, memang sepeninggalnya Papa Daniyal, Awan semakin sibuk karna harus mengurusi yayasan dan beberapa perusahaan peninggalan ayahnya. Untung saja ada Ben dan Keysi yang sigap membantunya. Ben membantu mengurusi perusahaan Awan sekaligus perusahaan yang mereka bangun di Boston.
Suasana hangat ini, Awan merindukanya. Ia merindukan sosok Daniyal yang sudah memberikan banyak pelajaran hidup untuknya. Mempersiapkan segala sesuatu sebelum dia meninggal. Daniyal menempatkan orang-orang baik dan terpercaya di sekitar Awan. Dan Awan sangat beruntung akan hal itu.
“Astaga!” Pekik Arya tiba-tiba. Membuat semua orang menoleh padanya.
“Kenapa, Yah?” Tanya Kuara yang melihat khawatir kepada sang ayah. Takut kalau terjadi sesuatu kepada ayahnya itu.
“Aku baru ingat! Kamu! Ya, benar! Kamu yang menolong Ara waktu di Malioboro dulu, kan? Astaga. Pantas saja aku merasa familiar dengan wajahmu.”
“Ya wajar lah familiar, Yah. Kan dulu Awan sering main kemari.”
“Tidak, bukan wajah yang itu. Tapi wajah yang ini.” Tunjuk Arya. Ia senang akhirnya sudah menemukan kepingan ingatannya yang hilang.
“Apa maksud Ayah?” Selidik Kuara.
“Kamu ingat dulu kamu hampir tewas di cekik Anjas di Malioboro? Nah, waktu itu ternyata Awan yang menolong dan membawamu ke rumah sakit.” Jelas Arya menggebu-gebu.
Kuara kembali ternganga. Untung saja ia sudah menyelesaikan makanannya. Ia menatap Awan dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya.
Bukan hanya mendengar nama Anjas hatinya menjadi perih, tapi ia juga tidak menyangka kalau waktu itu yang menolongnya adalah Awan.
Sementara Awan, bahkan sudah melupakan kejadian waktu itu. Ia hanya menatapi Kuara dan Arya bergantian sambil tersenyum canggung.
“Benarkah itu? Kaukah yang menolongku waktu itu?” Tanya Kuara ingin memastikan.
Walaupun berat, Awan tetap menganggukkan kepalanya pelan. Dia tidak ingin terlihat seperti pahlawan kesiangan untuk Kuara.
Awan tidak tau, betapa berterimakasihnya Kuara pada sosok orang yang sudah menyelamatkan nyawanya malam itu. Selama tiga hari berada di rumah sakit, Kuara selalu menunggu kedatangan pria penolongnya untuk sekedar mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
Tapi, sampai ia pulang dari rumah sakit, orang yang menolongnya tak kunjung menampakkan diri. Siapa sangka kalau ternyata oang itu adalah Awan?
Kuara bahkan sampai mencari tahu dengan pergi dan bertanya kepada petugas parkir di tempat parkir Malioboro. Tapi ia tidak pernah menemukan petunjuk bahkan sekecil apapun.
Selesai makan, Kuara mengajak Awan untuk duduk di beranda depan. Ia baru menyadari kalau banyak sekali hal yang perlu mereka bicarakan. Jadi dia mengajak Awan mengobrol. Kini, keduanya sedang duduk di teras rumah dengan di seingi camilan ringan.
“Terimakasih.” Lirih Kuara. Ia berkata tapi tidak melihat kepada Awan yang sedang duduk di sampingnya.
“Terimakasih untuk apa?”
“Karna sudah menolongku waktu itu.”
“Sudahlah. Aku bahkan sudah tidak mengingatnya lagi.”
“Bagimu mungkin tidak ada apa-apanya. Tapi bagiku itu sangatlah berarti, Awan. Malam itu kau sudah menyelamatkan nyawaku. Sekali lagi terimakasih.”
“Ara, aku melakukan apa yang harus ku lakukan. Tidak perlu merasa terbebani dengan itu. Aku senang bisa membantumu. Itu adalah sebuah kehormatan untukku.”
“Kenapa kau tidak pernah menemuiku?”
“Aku ingin. Aku sangat ingin menemuimu. Tapi keadaan tidak mengijinkanku. Ada hal yang membuatku tidak bisa menemuimu. Lagipula, aku tidak berani menemuimu langsung.” Jujur Awan.
“Kenapa begitu?”
“Aku merasa bersalah padamu.”
“Apa maksudmu?” Kuara semakin mengernyit heran dengan arah pembicaraan Awan.
“Ara, dengarkan aku baik-baik. Aku benar-benar ingin meminta maaf padamu tentang sesuatu. Maaf kalau butuh waktu lama untukku mengumpulkan keberanian.” Awan menarik nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Aku yang menyebabkan Yuta meninggal.”
Walaupun dadanya sedikit sesak karna pengakuan itu, tapi Awan merasa lega di saat yang bersamaan. Seperti ada batu besar yang baru saja terangkat dari dadanya.
“Waktu itu, aku bertemu dengan Yuta di Boston. Karna dia tidak kebagian tiket, aku memberikan tiketku padanya. Aku benar-benar tidak tau kalau pesawat itu akan jatuh. Maafkan aku karna sudah membuatmu kehilangan calon suami.”
Awan terus menunduk sambil berucap. Ia tidak berani menatap langsung kepada Kuara. Ia tidak sanggup mendapat penghakiman dari gadis itu.
__ADS_1
Perasaan Awan tak menentu. Ia masih merasa takut dengan jawaban yang akan di katakan oleh Kuara. Ia takut kalau Kuara tidak akan memaafkanya karna hal ini.
“Aku sudah tau itu.”
Ucapan itu sontak membuat Awan langsung menoleh dan menatap Kuara tidak percaya.
“Apa maksudmu kau sudah tau?”
“Kak Sota sudah lama memberitahuku.”
Awan ternganga. Ia merasa konyol karna memberitahu sesuatu yang bahkan Kuara sudah tau. Dan lebih konyolnya, dia membawa beban yang seharusnya sudah selesai.
“Dan Awan, aku sama sekali tidak menyalahkanmu atas kejadian itu. Itu sudah takdir dari Yang Kuasa. Kita tidak bisa berbuat apapun. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Aku tidak membencimu, Awan.”
Awan masih ternganga. Selama ini ia berifkir kalau Kuara masih belum tau. Karna itu ia selalu kalut saat memikirkannya. Ia sibuk dengan rasa bersalahnya sendiri. Sementara orang-orang di sekitar Yuta ternyata sudah ikhlas menerima semua itu.
“Jadi kau sudah tau...?” Lirih Awan kembali.
“Iya. Sudah dari lama. Dan sedikitpun tidak pernah terbersit untuk menyalahkanmu. Jadi, selama ini kau merasa bersalah karna hal itu?”
Awan mengangguk. Ia jujur mengakui.
“Ya ampun Awan. Itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Sekarang lupakanlah. Jangan terkungkung oleh rasa bersalah.”
Seketika semua rasa sesak yang menyelimuti dada Awan langsung menghilang entah kemana. Perlahan, senyuman kelegaan mulai merekah di bibirnya. Ia benar-benar merasa lega. Kini, tidak ada lagi yang akan menghalangi perjuangannya untuk mendapatkan Kuara kembali. Itu harapannya.
Awan langsung merasa senang dan bahagia. Sampai tidak sadar ia sudah mendekat kepada pipi Kuara yang tengah sibuk membalas pesan mahasiswanya.
Cup.
Kuara terhenyak tidak percaya. Ia menoleh dan melotot kepada Awan.
“Apa yang baru saja kau lakukan?” Tanyanya sambil memegangi sebelah pipinya.
“Tentu saja menciummu. Apalagi.”
“Apa kau sudah gila?”
__ADS_1
“Em. Aku memang sudah tergila-gila padamu.” Jawab Awan santai. Seperti tidak merasa bersalah karna sudah mencuri ciuman di pipi Kuara tanpa ijin.
Mendengar jawaban Awan, Kuara hanya bisa ternganga saja. Ia tidak pandai membalasnya. Walaupun ia kesal setengah mati karna sikap Awan yang tiba-tiba menciumnya. Ia hanya Bisa melampiaskannya lewat tatapan protes kepada pria itu.