
Satu minggu berlalu.
Sejak pagi Kuara sudah sibuk bersiap di kamarnya. Ia harus cepat datang ke kampus untuk mengurusi pameran.
Saat ia turun ke bawah, ia tersentak dan berhenti tepat di ujung tangga. Disana, di ruang tamu, nampak Awan yang sedang bercengkerama santai bersama dengan ayahnya. Bahkan sesekali mereka terdengar tertawa. Entah kapan pria itu datang. Ia bahkan tidak tau.
“Oh, hai.” Sapa Awan melambaikan tangannya.
“Kenapa ke sini?”
“Aku ingin mengajakmu pergi ke kampus bersama. Karna aku juga harus mengisi seminar hari ini.”
Oh, ya. Kuara ingat jadwal itu. Karna ini merupakan hari terakhir pameran, jadi Awan akan sekalian menutup acara itu.
“Ayo, kita sarapan bersama dulu.” Ajak Lisa dari arah meja makan.
Kuara tidak membatasi Awan lagi. Ia sudah tidak keberatan kalaupun Awan akan datang setiap hari ke rumahnya.
Sejak beberapa malam yang lalu, saat Awan menghapus keraguan dan ketakutannya, Kuara semakin banyak tersenyum. Dan itu membuat ayah dan ibunya merasa lega.
“Wah, senangnya Ibu kalau Awan mau sarapan setiap hari di sini.”
“Hehehe. Tenang saja, Bu. Nanti aku akan sering makan di sini.” Jawab Awan.
Selesai makan, Awan dan Kuara berangkat dengan menggunakan mobil Awan. Kuara fikir tidak ada salahnya berangkat bersama. Selain mereka bertetangga, tujuan mereka juga sama. Begitulah yang di fikirkan oleh Kuara.
Tapi tidak dengan Awan. Ini adalah salah satu kesempatan agar ia selalu bersama dengan Kuara. Bahkan ia meminta keysi untuk tidak lagi menjemputnya karna ia ingin satu mobil bersama dengan Kuara.
“Ayo.” Ajak Kuara saat mereka sudah menyelesaikan sarapan.
Mendapat ajakan itu, Awan sontak berdiri dari duduknya dan mengikuti Kuara di belakang gadis itu.
Kedatangan Kuara dan Awan dalam satu mobil membuat beberapa mahasiswa Kuara berdecak heran. Ini adalah kali pertama mereka melihat dosen mereka itu bersama dengan seorang pria. Dan tidak tanggung-tanggung, pria itu adalah pemilik yayasan mereka sendiri.
Apalagi saat Awan dengan manisnya membukakan pintu mobil untuk Kuara. Membuat siapapun iri melihat perhatian yang Awan curahkan itu.
Keduanya lantas berjalan menuju ke aula seminar yang di adakan di gedung serbaguna dekat acara pameran berlangsung.
Bahkan sepanjang seminar, Kuara yang duduk di deretan bangku paling belakang, hanya terkagum-kagum melihat cara Awan menyampaikan materinya di depan sana.
__ADS_1
Sesekali, Awan akan mencuri pandang kepada Kuara dan kemudian melemparkan senyum. Ahhh, membuat hati gadis itu semakin berbunga-bunga.
Keyakinan Awan sudah merubah seluruh pandangan dan kekhawatirannya. Kini, ia memilih untuk mempercayai pria itu. Mempertaruhkan semuanya kepada takdir. Sambil berharap kalau takdir akan berbaik hati padanya. Berharap kalau tidak akan lagi ada yang merenggut kekasihnya.
Kuara ingin bahagia bersama dengan pria yang di cintainya.
Mendapat suguhan senyuman dari Awan, Kuara hanya bisa membalas tersenyum dengan wajah yang tersipu malu. Seolah dia tidak melihat kalau disana banyak sekali orang. Yang Kuara lihat dan rasakan hanyalah, saat ini, hanya ada dirinya dan juga Awan saja.
Selesai seminar, semua orang langsung bergeas meninggalkan aula. Tapi tidak dengan Kuara. Begitu juga dengan Awan.
“Bapak tidak keluar?” Tanya moderator kepada Awan.
“Sebentar lagi. Saya ingin istirahat dulu sebentar.” Awan beralasan.
Kuara berpura-pura sibuk dengan ponsel. Padahal dalam hati ia sangat berharap kalau Awan akan menghampirinya. Tapi sekian lama menunggu, Awan tak kunjung menghampirinya. Jadilah Kuara melihat ke arah depan.
Kuara terkejut saat ia tidak lagi menemukan Awan disana. Padahal beberapa saat yang lalu, ia masih melihat Awan duduk di sana.
Seketika Kuara mengedarkan pandangannya untuk mencari Awan. Tiba-tiba ia panik saat tidak menemukan pria itu. Kuara panik sekaligus kesal karna Awan ternyata malah pergi meninggalkannya begitu saja.
Dengan mendengus kesal, Kuara memasukkan ponselnya ke dalam tas. Kemudian ia bangkit dari duduknya dan berbalik hendak meninggalkan aula itu.
Setelah yakin kalau pintu itu telah tertutup rapat, Awan kemudian berjalan ke arah Kuara dengan masih tanpa ekspresi. Membuat Kuara bergidik ngeri.
Awan berhenti tepat di depan Kuara. Perlahan, ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Kuara. Gadis itu bahkan bisa mendengar deru nafas Awan.
Kuara merasa ngeri. Berbagai fikrian liar berkelebetan di kepalanya. Membayangkan hal apa yang akan Awan lakukan selanjutnya. Sampai ia tidak menyadari kalau ia sedang berdiri di ujung tangga.
Dan ketika Kuara hendak memundurkan langkahnya lagi, ia hampir saja terjatuh karna pijakannya tiba-tiba saja menghilang.
Dan tentu saja, seperti yang sudah di perkirakan oleh Awan, gadis itu limbung dan hampir terjatuh. Kemudian Awan menangkap pinggang Kuara di waktu yang tepat yang malah membuat keduanya saling menempel satu sama lain.
Sudah, jantung Kuara sepertinya sudah lepas lebih dulu dan jatuh menggelinding di tangga. Karna yang ia rasakan hanyalah nafasnya yang ikut menderu seiring dengan Awan yang semakin mendekatkan wajahnya.
“Kalau ingin di peluk, bilang.” Lirih Awan sambil tersenyum samar.
Mendengar itu seketika kesadaran Kuara kembali. Ia sudah bisa merasakan detak jantungnya lagi. Sepertinya, jantungnya sudah kembali ke tempatnya.
Kuara hendak menolak tubuh Awan menjauh darinya. Namun ternyata pria itu malah semakin mengeratkan tangan kirinya hingga Kuara tersentak.
__ADS_1
“Awan,,, lepaskan. Nanti di lihat orang.” Gemuruh hati Kuara menahan diri.
Namun, Awan hanya tersenyum simpul saja. Ia tidak mengindahkan kalau Kuara sedang ketakutan dengan tingkahnya itu.
“Awan...” Kuara memperingatkan untuk ke dua kalinya.
“Hehehehehehhehe. Astaga, wajahmu. Lebih merah dari tomat yang sudah masak.” Seloroh Awan. Namun, dia belum juga menarik tangannya dari pinggang Kuara.
Tangan Awan mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Kemudian ia menunjukkan sesuatu itu tepat ke hadapan wajah Kuara.
“Ayo kita menikah, Ara.” Ujar Awan tersenyum simpul.
Kuara yang melihat Awan menunjukkan sebuah cincin tepat ke hadapan mukanya, menjadi lebih amburadul detak jantungnya.
Sungguh, cara yang aneh untuk melamar seorang gadis.
“Apa kau sedang melamarku?” Desis Kuara. Kini ia malah jadi menikmati posisi mereka itu.
“Em. Ini adalah lamaranku yang terakhir kalinya. Kuharap kau mau menerima cincin ini.” Yakin sekali Awan berkata begitu. Ia sangat yakin kalau Kuara akan menerimanya. Ia yakin seratus persen.
“Aku tidak bisa, Awan.”
Awan terhenyak. Benarkah Kuara menolaknya? Bukankah Kuara sudah menerimanya? Apa selama ini dia salah mengira?
“kenapa?”
“Bagaimana aku bisa memakainya dalam posisi seperti ini?”
“Oh.” Awan lega. Ia sempat ingin menangis beberapa detik yang lalu.
“Astaga, Ara. Kau membuat jantungku hampir terbang.”
Setelah itu, barulah Awan memperbaiki posisi mereka. Ia melepas tangannya dari pinggang Kuara dan kemudian menyematkan cincin yang ia beli di Boston dahulu ke jari manis gadis itu.
ciieeeeeeeee............ Jadian...
__ADS_1