Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Kuara 30.


__ADS_3

Sejak pertunanganku dan Yuta dua tahun lalu, aku merasakan perasaanku semakin dalam pada pria itu. Yuta tidak melanjutkan pendidikannya. Dia langsung bekerja di Kementerian Kebudayaan. Dia juga sering pergi ke luar negeri untuk mengurusi pekerjaannya.


Sedangkan aku, tetap fokus untuk melanjutkan S2 dan dan setelah selesai, segera melamar untuk menjadi dosen dan mengabdi di almamaterku, yaitu Universitas Yayasan Halim Abimanyu.


Hari ini, aku baru saja pulang dari wawancara untuk tenaga pengajar di Universitas Halim. Besar harapanku untuk bisa di terima disana. Aku merasa sudah berhasil menjawab semua pertanyaan dengan baik.


Didepan kampus kami, ada pohon beringin yang sangat besar tepat di sebelah gerbang utama. Saat masuk dan keluar, para mahasiswa akan melewati pohon beringin ini. Tak jauh dari pohon itu, biasanya akan ada penjual es dawet, siomay, batagor, es cendol, dan es cincau.


Aku tersenyum melihat sosok pria yang akan menjadi pendamping hidupku sedang sibuk memesan es cincau disana. Dia menyadari kedatanganku dan langsung melemparkan senyuman manisnya. Dia juga melambai-lambaikan dua cup es itu padaku.


Aku segera menghampirinya dan meminta bagianku. Kemudian, aku menggandengnya mesra menuju ke arah mobil yang terparkir.


“Bagaimana wawancaranya?”


“Aku merasa akan berhasil di terima.”


“Iya sih. Mereka bodoh kalau tidak menerima mantan mahasiswa terbaik mereka. Hehehehe.”


“Kapan tiba dari Jakarta?”


“Baru saja. Aku cepat-cepat datang karna kau bilang akan wawancara hari ini.”


“Dan kau tidak mengabariku soal kedatanganmu? Menyebalkan.”


“Kejutan. Hahahahhaha. Ayo kita makan siang.”


“Aku ingin makan ayam goreng.”


“Siap, Nyonya. Heheheehe.”


Yuta langsung melajukan mobil ke restoran cepat saji di seberang perpustakaan. Ah, restoran ini punya kenangan tersendiri bagiku. Tapi tidak apa. Kali ini aku datang bersama pria yang sangat kucintai.


Aku langsung mencari tempat duduk sementara Yuta memesan makanan kami. Dia sangat tau apa yang kusukai.


“Kulitnya untukmu, dan dagingnya untukku.” Ujar Yuta setelah dia duduk di hadapanku. Dia membuka kulit ayam miliknya dan menaruhnya di kotak makananku.


“Terimakasih, sayangku...” Ucapku. Aku senang berkata begitu saat Yuta melakukan sesuatu untukku. Wajahnya akan merona bahagia dan itu nampak sangat lucu sekali.


“Sayang?”


“Hem?”


“Sebenarnya, besok pagi aku akan pergi ke luar negeri.”


“Apa maksudmu?”


“Ada pekerjaan penting yang tidak bisa di tangani oleh rekanku. Dan aku di utus untuk menggantikannya.”

__ADS_1


“Kemana?”


“Boston.”


Boston? Tempat itu....


“Tapi kita akan menikah minggu depan, Yuta.”


“Aku tau, aku tau. Hanya dua hari. Dan aku akan pulang kemudian kita menikah.”


Entahlah, penjelasan itu justru semakin membuatku marah kepada Yuta. Bisa-bisanya dia menyanggupi dan lebih memilih pekerjaannya ketimbang diriku?


Masalahnya, pernikahan kami hanya tinggal menghitung hari.


“Kalau kau secinta itu dengan pekerjaanmu, menikah saja dengan pekerjaanmu. Jangan denganku!”


Sudah kepalang emosi, aku lalu meninggalkan Yuta begitu saja. Aku keluar dari restoran itu. Tidak peduli saat Yuta berteriak memanggilku.


Langkahku terhenti di teras restoran. Entah kapan datangnya, tapi saat ini hujan sedang turun dengan sangat derasnya.


Hujan ini, kembali mengingatkanku pada seseorang.


“Ara! Tunggu! Kau mau kemana?!”


Aku masih bisa mendengar Yuta berteriak memanggilku.


Apa di kantor itu hanya ada Yuta? Tidak adakah orang lain yang bisa menghandle pekerjaan itu? Kenapa harus Yuta? Kami akan menikah lima hari lagi.


Saking kesalnya, aku menerobos hujan begitu saja dan menghentikan taksi yang lewat. Aku segera masuk dengan membawa rasa kesal yang bertumpuk di dadaku. Aku benar-benar kesal dan marah pada Yuta.


Sesampainya di rumah, aku segera masuk ke dalam kamar dan menenggelamkan wajah di atas bantal guling. Berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Meluapkan perasaan kesal bercampur sedih di hatiku.


Tok. Tok. Tok.


“Ara! Buka pintunya!” Itu suara Yuta dari luar kamarku.


Aku tidak menjawab. Butuh waktu untuk menghentikan tangis kekesalanku.


“ara! Tolong buka pintunya! Aku minta maaf.”


“Pergi! Aku tidak ingin bertemu denganmu.”


“Ara!”


“Ku bilang pergi!”


Saat ini, aku malas melihat wajahnya. Aku tetap bersikeras untuk tidak membuka pintu kamarku. Kemudian, aku mendengar suara ibu yang berbicara dengan Yuta. Dan setelahnya, aku tidak mendengar suara Yuta lagi.

__ADS_1


“Ara? Dek? Buka pintunya, sayang.”


Aku tidak sanggup mengabaikan permintan ibu. Dan akupun membuka pintu. Aku duduk di pinggir ranjang dan ibu duduk di sampingku.


“Kamu kenapa, sayang? Ada masalah dengan Yuta?”


Kemudian, aku tidak bisa menahan mulutku untuk tidak menceritakannya pada ibu. Aku menceritakan semuanya pada ibu.


Ibu hanya mengangguk kemudian memelukku.


“Kamu bisa memberi sedikit pengertian pada Yuta. Mungkin dia benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaan itu. Berhentilah marah. Lagipula dia hanya dua hari saja disana. Kalian tetap bisa melaksanakan pernikahan seperti rencana sebelumnya.


Yang benar saja. Menurutku ini sudah keterlaluan.


Dan ternyata, Yuta benar-benar pergi ke Boston ke esokan harinya. Membuatku semakin sebal saja. Dia tidak mengindahkan ucapanku dan tetap nekat pergi walaupun aku tegas melarangnya.


‘Sayang, aku akan segera pulang.’


Hanya pesan singkat itu yang dia kirimkan padaku sebelum keberangkatannya. Bagaimana aku tidak semakin kesal?


Aku hanya bisa menangis di pelukan Fio. Merutukinya dalam hati.


“Sudahlah, Ra. Dia hanya dua hari di sana. Kenapa kau marah hanya karna hal sepele seperti ini? Sebenarnya ini bukan masalah besar, kenapa kau membuatnya seolah ini masalah besar?”


Entahlah, aku tidak tau. Hanya saja aku merasa ada yang mengganjal di hatiku dan aku tidak tau apa itu. Rasanya sangat aneh. Memikirkan kepergian Yuta membuat hatiku berdesir takut.


“Sudah, jangan di fikirkan lagi. Biarkan dia fokus pada pekerjaannya dan tunggu dia kembali. Sekarang, ayo kita manjakan kulitmu sebelum kau sah menjadi istri. Agar Yuta semakin takjub saat malam pertama nanti.”


Aku mencibir kepada Fio. Dia langsung menarikku ke dalam kamar mandi. Aku mencium aroma yang sangat harum yang berasal dari bathtub.


“Apa itu?”


“Ramuan supaya Yuta semakin tergila-gila padamu.”


“Kau ini.”


“Cepat lepaskan pakaianmu dan masuk ke sini. Kita akan melakukan ini sampai hari pernikahanmu. Kujamin kulitmu akan semakin kinclong.”


Aku menurut saja. Aroma wangi ini menyegarkan sekaligus menenangkan. Fio setia membantuku mengusapi lulur itu ke seluruh tubuhku. Aku benar-benar merasa sangat segar setelah beremdam dalam ramuan yang entah apa itu aku tidak tau. Kata Fio, itu adalah ramuan rahasia keluarganya yang sudah di wariskan secara turun menurun.


“Apa kau sudah fitting terakhir?”


Aku menggeleng. Karna rencananya hari ini aku dan Yuta akan fitting baju pengantin untuk yang terakhir sebelum kami memakainya di hari pernikahan.


“Rencananya sore ini. Temani aku.” Pintaku.


“Oke. Aku akan menggantikan Yuta dan menemanimu ke butik.”

__ADS_1


__ADS_2