
Waktu terus berjalan. Menghapus kenangan sebagian manusia. Tapi, waktu juga tidak berhasil menghilangkan kenangan manis sebagian manusia yang lain.
Kenangan buruk selalu bergelayut di benak Intan Kuara. Bahkan setelah umurnya menginjak kepala tiga.
Minggu pagi yang cerah. Kuara tengah asyik menikmati olahraga lari paginya di sekitaran gedung Jogja Expo Center. Perhatiannya tidak pernah lepas dari sosok gadis kecil yang berlari di hadapannya.
“Micha, hati-hati!” Pekiknya sesekali saat gadis berumur 4 tahun itu berlari terlalu cepat.
“Bunda, mau itu!” Tunjuk Micha ke arah penjual bakso bakar.
Kuara rasa, enam putaran sudah cukup membuat tubuhnya berkeringat. Jadi dia memutuskan untuk menuruti kemauan Micha. Dia menggandeng gadis kecil itu ke arah penjual dan memesankan beberapa tusuk.
Di tempat yang tidak jauh, sepasang mata terus memperhatikan lekat kepada Kuara.
“Bunda mau?” Tanya Micha menyodorkan tusukan bakso ke mulut Kuara.
“Aaaaa.” Kuara membuka mulutnya lebar-lebar untuk meminta di suapi. “Terimakasih.” Kuara menghadiahi kecupan manis di ppi mungil Micha.
“Ara!” Sebuah panggilan membuat Kuara menoleh.
“Fio. Sini!” Kuara memanggil Fio yang juga sedang berlari pagi bersama dengan suaminya, Sota.
“Sudah selesai?” Tanya Fio.
“Nanti lanjut lagi.”
“Halo, cantiknya tante. Lagi makan apa?”
“Bakso bakar. Tante Fio mau?” Micha langsung menyuapi Fio.
“Hemm. Enak. Terimakasih Micha cantik.”
“Oom juga mau, dong.” Sota ikut menggoda Micha.
Micka menatapi tusuk bakso bakarnya yang hanya tersisa satu. Kemudian melemparkan pandangannya kepada Sota. Dengan wajah mengkerut, Micha mengulurkan bakso bakarnya kepada Sota.
Sota terkekeh kemudian berjongkok di hadapan Micha. Ia mengelus pelan kepala gadis cantik itu.
“Heheheh. Oom cuma bercanda. Ini, untuk Micha saja.” Sota kembali menyerahkan bakso bakar itu kepada Micha. Gadis kecil itu langsung girang dan menghabiskannya.
“Micha mau lagi?” Tanya Kuara.
“Tidak, Bunda. Micha sudah kenyang.” Micha menunjukkan perutnya sambil mengelus-elusnya.
“Ra, kami lari dulu, ya.” Pamit Fio yang kemudian berlari bersama dengan Sota.
__ADS_1
Kuara memutuskan untuk duduk di pembatas taman di bawah pohon yang rindang. Membiarkan Micha bermain dengan papanya. Dia hanya memperhatikannya saja dari tempatnya.
Kuara merasa haus setelah berkeringat cukup banyak. Untungnya ia membawa botol air minum. Ia segera menenggak air minum itu.
SRRUUT!
Kuara terhenyak saat tiba-tiba seseorang merebut botol air minumnya dan langsung menenggaknya sampai habis. Ia mendongak demi melihat orang yang sudah lancang merebut air minumnya.
“Awan?” Ia terkejut bukan main melihat seorang pria yang sudah menghabiskan minumannya.
“Ahh, segarnya.” Ucap Awan yang mengambil duduk di samping Kuara. Ia memberikan botol minuman yang sudah kosong itu kembali kepada pemiliknya.
Sementara Kuara, ia hanya mengerjap-ngerjapkan mata saja, melihat tidak percaya kepada Awan yang kini sudah duduk disampingnya.
“Hai, apa kabar?” Tanya Awan sambil melemparkan senyum.
“Kau?” Kuara masih tidak yakin apakah yang di lihatnya itu hanyalah ilusi karna ia lelah berolahraga, atau memang Awan benar-benar ada di hadapannya.
“Hem? Kenapa?”
Kuara masih ternganga. Melihat itu Awan melambai-lambaikan tangannya di hadapan wajah Kuara.
“Ara? Kau baik-baik saja?”
“Hahahaha. Tentu saja ini benar-benar aku. Memangnya siapa?”
“Kau banyak berubah.”
“Semakin tampan? Sudah pasti.”
“Dan kau masih besar kepala.”
“Tidak, Ara. Aku hanya bertambah tinggi. Kepalaku masih sama.”
Kuara tidak sanggup menahan tawa. Awan banyak berubah, tapi pada saat bersamaan, dia masih sama konyolmya.
“Kau ini. Sedang apa disini?”
“Sedang berolah raga. Kau sendiri?”
“Sama.” Jawab Kuara yang kembali melemparkan pandangan ke depan.
Hati Kuara pias saat puzle-puzle kenangan itu bertebaran di kepalanya. Melihat wajah Awan, sontak mengingatkannya pada masa-masa manis dulu. Masa-masa dimana hatinya terus berdebar karna perhatian-perhatian kecil dari pria itu.
“Jadi, bagaimana kabarmu selama ini?” Suara Awan membuat Kuara menoleh.
__ADS_1
“Seperti yang kau lihat. Sudah lebih baik. Kau sendiri?”
“Tidak banyak yang berubah. Hanya saja sekarang aku sibuk mengurusi yayasan.”
Ah, Kuara hampir lupa kalau Awan merupakan pewaris Yayasan Abimanyu.
“Jadi, apa kau menikmati menjadi dewasa?” Tanya Kuara.
“Tidak terlalu. Karna tidak ada kamu.”
Kuara mengernyitkan keningnya mendengar kalimat itu. Apa maksudnya?
“Aku dengar kau sudah menjadi dosen di kampus Halim? Selamat ya. Maaf terlambat mengucapkannya. Aku senang kau akhirnya berhasil mewujudkan impianmu. Tidak sia-sia kau menjaga komitmenmu dulu.”
Awan sedang mengingat lembar-lembar kenangan mereka. Dimana dulu hatinya hanya terisi oleh seorang Kuara. Bahkan sampai sekarangpun, hatinya masih di penuhi oleh Kuara.
Andai gadis itu tau.
Selama ini, Awan tetap pada perasaannya. Ia setia menjaga hatinya untuk Kuara seorang. Setelah ia menolong Kuara 4 tahun yang lalu di Maliboro, dia tidak pernah lagi bertemu dengan gadis itu. Dan dengan kesibukannya mengurus yayasan dan perusahaan, di tambah dengan memikirkan kesehatan ayahnya, fokus Awan jadi berkurang terhadap Kuara.
Dan keberadaannya di sini saat ini bukanlah sebuah kebetulan. Kemarin, Awan telah pindah ke komplek perumahan yang sama dengan Kuara. Dia sudah terbiasa dengan kesibukannya. Dan di sela-sela kesibukannya itu, dia memutuskan untuk kembali menepati janjinya untuk kembali kepada Kuara.
Semoga janji itu bisa di tepatinya kali ini. Semoga Kuara belum menikah sehingga ia bisa meraih gadis itu kembali. Itu adalah harapannya selama beberapa waktu terakhir ini.
Awalnya dia mendapat tentangan dari ibunya saat berencana pindah. Tapi, kondisi ayahnya yang sudah jauh lebih baik setelah di rawat di Boston, membuatnya membulatkan niat. Segala cara Awan lakukan untuk mendapatkan izin dari kedua orangtuanya.
Dan sudah sejak tadi Awan terus memperhatikan Kuara. Dia segera menghampiri saat melihat Kuara duduk sendiri.
Sejujurnya, Awan merasa penasaran dengan gadis kecil yang sejak tadi nampak akrab dengan Kuara. Tapi, dia tidak berani bertanya. Dia takut dengan kemungkinan yang tidak sanggup dia hadapi.
“Ya, aku sudah bekerja keras.”
“Aku bangga padamu, Kuara. Kau terlihat semakin baik.”
Tanpa merasa canggung, Awan mengusap-usap kepala Kuara dengan lembut. Membuat Kuara terkesiap dengan degup jantung yang hampir tak terkendali. Ada sebongkah kehangatan yang singgah mengaliri setiap pembuluh darahnya.
Sensasi ini, adalah sensasi menghangatkan yang pernah ia rasakan sepuluh tahun silam.
Kuara dan Awan saling pandang dengan perasaan tidak menentu.
“Bunda!!” Teriakan Micha yang sedang berada di gendongan papanya mengejutkan Kuara. Micha turun dari gendongan dan bergelayut di pangkuan Kuara. Menatap sinis kepada pria yang sedang duduk di sebelah bundanya.
Hati Awan? Sepertinya sudah putus dari tangkainya. Melihat sosok gadis kecil yang manja kepada Kuara. Kemudian beralih melihat pria gagah dan tampan yang berdiri di hadapan mereka. Hatinya sudah putus. Menyebabkan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Sepertinya, janji itu tidak akan bisa ia tunaikan. Apa ia sudah terlambat?
__ADS_1