
“Dek! Sudah selesai belum?” Aku mendengar teriakan Ibu dari lantai bawah.
“Sebentar, Bu!”
“Cepat! Nanti kita terlambat!”
Aku menyegerakan menyisir rambutku. Kemudian mengikatnya menjadi satu di belakang kepala. Rambutku yang tidak terlalu hitam itu nampak sudah rapi bertengger di sana.
Suara ponselku berdering tapi aku tidak mengindahkannya. Aku sudah keburu waktu dan aku tidak ingin Ibu mengomeliku disepanjang jalan.
“Lama sekali, sih.” Ibu mendengus kesal. Memprotesku dengan tatapan. Sementara aku hanya bisa menampakkan deretan gigi-gigiku.
Mas Bagus, sopir keluargaku yang mengantarkan kami. Seperti yang pernah dibilang Ibu, hari ini aku menemaninya untuk berkunjung ke SMA Halim Abimanyu. Bersama dengan rekan-rekan Ibu yang lain dari firma hukumnya dan beberapa aktivis perempuan.
Kunjungan Ibu dan rekan-rekannya adalah untuk mengedukasi para murid dan guru khususnya perempuan tentang rentannya menjadi korban pelecehan seksual dan kekerasan seksual lainnya. Ibu bilang, belakangan ini, kasus pelecehan dan kekerasan seksual kasusnya meningkat drastis.
Mobil kami sudah sampai di halaman sekolah SMA Halim Abimanyu. Sekolah dalam naungan yayasan yang sama dengan tempatku menuntut ilmu saat ini.
“Bu Lisa!” Panggil Tante Ruth, mamanya Yuta. Aku juga melihat Yuta disana.
Pria itu hanya memicingkan sebelah matanya padaku dan tersenyum. Dia tidak mengatakan padaku kalau akan ikut dalam kunjungan ini. Aku membalas senyumannya kemudian mengikuti Ibu yang berjalan kearah mereka.
“Ara...” Tante Ruth memelukku dengan hangat.
“Apa kabar, Tante?” Tanyaku.
“Baik, baik. Kamu gimana kuliahnya? Kata Yuta dapat nilai tertinggi terus ya?”
Aku tersenyum sipu mendengar keberhasilanku sendiri.
“Apa semua sudah datang, Bu?” Tanya Ibu pada Tante Ruth.
“Sudah ada didalam sebagian. Sebagian lagi belum datang. Kita masuk sekarang?”
__ADS_1
Aku dan Yuta mengikuti para Ibu berjalan di belakang mereka.
“Kenapa tidak bilang kalau kau juga ikut?” Bisikku pada Yuta setelah menyenggol lengannya.
“Jangan di bahas. Kau tidak tau betapa Bu Dewan itu memaksaku ikut sejak kemarin.”
“Hahahahaha.” Aku hanya terkekeh saja. “Aku tidak mengerti kenapa mereka mengajak kita kesini. Kita sama sekali tidak ada hubungannya dengan kegiatan ini.”
Yuta mengangguk setuju.
Acara penyuluhan itu di adakan di aula serbaguna sekolah. Disana, sudah berkumpul para siswi dan juga guru. Ada juga bebrapa siswa yang nampak ikut serta dan duduk di sana.
Tante Ruth mengajak kami untuk ikut duduk di kursi paling depan bersama dengan mereka. Tapi aku tidak mau. Jadi aku memaksa Yuta untuk menemaniku duduk di deretan kursi paling belakang di dekat pintu.
Dasar Yuta penurut. Dia mengikuti apapun rencanaku.
Sudah tak terhitung berapa kali aku menguap karna penyampaian yang menurutku sangat membosankan itu. Padahal itu Ibuku sendiri. Hahahaha. Aku yang anaknya saja tidak bisa menahan kantuk, apalagi para siswa ini. Aku kasihan dengan mereka.
“Aku mau ke kamar mandi.” Bisikku pada Yuta. Aku sungguh tidak tahan mendengar ceramah Ibuku. Sudah over dosis dengan nasihat ini soalnya.
“Kau fikir aku anak PAUD? Aku bisa sendiri.”
Aku kemudian berjalan membungkuk agar Ibu tidak melihatku. Tapi mungkin dia melihatnya juga. Entahlah, aku tidak peduli.
Sesampainya di luar aula aku meregangkan tubuhku untuk mengusir kantuk. Bertanya kepada seorang siswa yang lewat tentang letak kamar mandi.
“Mbak lewat ke samping ini saja terus.” Tunjuk siswa itu.
Aku mengikuti instruksi siswa itu. Dan akhirnya aku menemukannya juga.
Tapi sialnya, ada banyak orang yang mengantre karna hanya ada satu kamar mandi yang bisa di gunakan. Sementara yang lainnya sedang rusak.
“Apa ada kamar mandi lain?” Tanyaku pada seorang siswi.
__ADS_1
“Lumayan jauh, Mbak. Ada di ujung koridor dekat lapangan basket.” Ujar siswi tersebut.
Aku yang sudah tidak tahan menahan sesak di perutku segera berjalan kembali menuruti petunjuk siswi itu.
Dari kejauhan aku bisa melihat lapangan basket. Aku terus berjalan menyusuri koridor sampai aku menemukan letak kamar mandi. Ternyata tidak sulit menemukannya.
Lama aku berada di kamar mandi untuk menuntaskan hajatku. Sekaligus membasuh muka dan memperbaiki bedak di wajahku.
Setelah selesai dan rapi seperti semula, aku segera keluar untuk kembali ke aula.
“Kamu ini bagaimana, sih?! Seharusnya kamu itu bisa menjadi contoh tauladan bagi anak-anak yang lain. Bukan malah mengikuti mereka bolos seperti ini. Kamu memang pintar tapi bukan berarti kamu bisa bersikap seenaknya disini.”
Aku mendengar ada seorang guru pria yang sedang memarahi beberapa murid laki-laki. Aku hanya tersenyum saja. Hal itu mengingatkanku pada masa lalu. Dulu aku dan Yuta juga pernah mengalaminya sekali.
Ada total empat siswa yang sedang berdiri dengan posisi istirahat di tempat. Tapi aku tidak bisa melihat yang di tengah karna terhalang oleh punggung pak guru. Sepertinya yang di tengah itulah yang sedang di marahi oleh pak guru.
“Jangan mentang-mentang kamu anak pemilik yayasan terus kamu bisa berbuat sesuka hati. Pak ketua sudah berpesan padaku untuk memperlakukanmu sama dengan siswa yang lain. Tidak boleh ada perbedaan. Jadi jangan harap kamu bapak beri keringanan karna masalah ini!” Pak guru membentak siswa itu. Melihat mereka menunduk takut membuatku merasa lucu.
Mendengar anak pemilik yayasan, rasa penasaranku seketika muncul. Aku jadi ingin tau bagaimana rupa anak pemilik yayasan tempatku menimba ilmu.
“Lihat kesini! Kalian ini sudah kelas tiga! Tidak lama lagi lulus. Tolong di rubahlah sifat buruk itu!” Pak guru belum bosan memarahi mereka. Mereka nampak menuruti perintah pak guru dan masing-masing mengangkat wajahnya.
Aku melangkah maju untuk melihat dengan jelas wajah putra pemilik Yayasan Halim Abimanyu. Dan aku menyesal telah melakukannya.
Disana, di hadapan pak guru, aku melihat sosok orang yang sangat ku kenal. Ya, dia adalah Awan. Si Rahwana yang selalu mencuri fokusku.
Aku sangat terkejut sampai tidak terasa tasku terlepas dari tangan. Sempurna ternganga menatap tidak percaya kepada sosok Awan dalam balutan seragam sekolah. Lututku lemas, namun untungnya masih bisa menopang tubuhku untuk tidak ambruk ke lantai.
Aku mencoba mengerjap-ngerjapkan mata berharap visualku telah salah menangkap gambar. Tapi tidak. Aku benar-benar melihat Awan. Orang itu, benar-benar adalah Awan.
Awan yang tak sengaja melihatku membuat kesadaranku di paksa kembali. Aku segera membuang muka dan mengambil tasku dari lantai kemudian berjalan secepat kilat pergi dari area itu. Aku hanya bisa berharap kalau Awan tidak mengikutiku.
Sekilas, aku teringat dengan tatapan terkejut dari Awan saat melihatku tadi.
__ADS_1
Aku berhenti di salah satu dinding ruangan dekat taman yang sepi. Mencoba mengatur nafasku yang tersengal akibat kekecewaan yang membuncah. Rasa kecewa itu perlahan menjadi kemarahan. Aku sama sekali tidak pernah berfikir kalau Awan adalah seorang siswa SMA. Sebuah kemungkinan yang sangat jauh dari jangkauan perkiraanku.