Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
BAB 71. Bukannya Mundur, Malah Maju.


__ADS_3

“Ma!” Panggil Awan ketika sampai di rumah orangtuanya.


“Mas?”


“Mana Mama?”


“Di kamar.”


Dan dengan perasaan panik Awan bergegas masuk ke kamar ibunya.


“Ma? Mama kenapa?” Tanya Awan yang mengambil duduk di sisi ibunya.


“Mama tidak apa-apa. Mama cuma merasa lelah sedikit. Kenapa kamu kemari?”


“Mai menelfonku. Ayo, aku antar ke rumah sakit.” Ujar Awan sambil menyingkap selimut ibunya pelan.


“Tidak usah. Mama tidak apa-apa. Cuma lemas saja. Istirahat sebentar juga sudah sembuh.” Ujar Radina sambil bangun duduk dan bersandar di dipan.


“Jangan di biarkan, Ma. Nanti bertambah parah. Ayo.” Paksa Awan.


Tapi, Radina tetap bersikeras tidak mau. “Tidak usah.”


Awan terdengar menghela nafas pelan. Kesal dengan tingkah ibunya yang keras kepala dan tidak mau dibawa ke rumah sakit.


“Kenapa dengan Mama, Mai?” Akhirnya Awan bertanya kepada adiknya. Karna tadi pagi saat Awan menelfon, ibunya itu terdengar baik-baik saja.


“Eeeehhhm, itu.” Maiga nampak ragu menceritakan. Namun setelah melihat tatapan tajam dari sang kakak, akhirnya Maiga memberanikan diri. Kini Maiga sudah mengerti kenapa ibunya langsung berubah setelah mendengar cerita dari Rini. Dia sudah bisa menyimpulkan.


Awan mendengarkan cerita Maiga dengan seksama. Sesekali terdengar ia menghela nafas. Ia merasa sedikit kesal dengan prasangka buruk yang melekat pada Kuara.


“Nak, Mama bukan tidak setuju kamu bersama dengan Kuara. Kamu bisa mengerti kan ketakutan Mama? Mama tidak ingin terjadi sesuatu denganmu.”


“Ma, itu kan cuma cerita yang tidak berdasar. Kenapa Mama harus mempercayainya? Mana ada hal-hal yang seperti itu, Ma.” Awan mencoba membuat ibunya mengerti.


“Tapi tetap saja, Mama takut, Nak. Setelah papa pergi meninggalkan kita, cuma kamu satu-satunya harapan Mama.”


Walaupun ia merasa agak marah, namun Awan mencoba untuk memahami kondisi ibunya. Sungguh ia kesal. Ingin sekali mencari orang yang pertama membuat rumor tidak jelas tentang kutukan yang melekat pada Kuara itu.

__ADS_1


“Aku akan membuktikan kalau Mama mengkhawatirkan hal yang tidak perlu. Sekarang Mama istirahat saja. Malam ini aku akan menginap disini untuk menjaga Mama.”


Radina separuh senang mendengar putranya hendak menginap. Tapi setengah hatinya merasa mencelos saat mendengar keteguhan hati Awan untuk tetap memperjuangkan Kuara. Radina benar-benar takut.


Awan menunggui Radina sampai tertidur pulas. Baru setelah itu ia keluar kamar dengan perlahan dan menemui Maiga yang sedang menonton tv di ruang keluarga. Ia mengambil duduk di hadapan adiknya itu.


“Kapan Ben kembali?” Tanya Awan membuka suara.


“Katanya lusa.”


Dan keadaan kembali hening.


“Mas, tolong jangan salahkan Mama. Mas Awan mengerti kan kekhawatiran Mama? Bukan cuma Mama. Siapapun yang ada di posisi Mama akan merasakan hal yang sama.” Ujar Maiga mencoba untuk memberi perhatian kepada kakaknya.


Awan hanya diam saja. Ia menatapi Maiga dengan tatapan serius. Kemudian ia merogoh ponsel dari dalam saku dan meghubungi seseorang. Ia menghubungi Kuara.


“Kau dimana, Ra?” Mendengar panggilan Kuara, Maiga menatap Awan dengan rasa penasaran yang menggunung.


“Oke. Tunggu aku. Aku akan kesana sekarang.” Ucap Awan sebelum ia menutup panggilan telfonnya.


“Mai, jaga Mama sebentar. Aku mau keluar.” Kata Awan tanpa menunggu tanggapan dari adiknya.


Sudah pukul 10 malam dan Kuara sedang mengobrol bersama dengan teman-teman panitia yang lain. Mereka semua sedang melepas penat setelah seharian mengurusi pameran yang ternyata lumayan ramai pengunjung. Kuara mentraktir burger untuk mereka semua. Karna itulah mereka sedang berkumpul dan menyantap burger bersama.


Saat ponselnya berbunyi, ia mengernyit ketika nama Awan muncul di layar ponselnya. Ia segera mengangkat telfon itu.


“Ya, Wan?” Sapanya.


“Aku? Sedang di kampus. Baru saja menutup pameran. Ada apa?”


Kuara mengernyit sambil menatapi layar ponselnya. Awan menutup ponsel tiba-tiba setelah berkata akan datang. Ekspresinya itu mendapat tatapan penasaran dari beberapa rekannya. Termasuk Rini. Staf rektorat yang juga ikut menjadi panitia. Dan Rini, tinggal di komplek sebelah komplek perumahan Kuara.


Itu menjelaskan kenapa Rini mengetahui semua rumor yang melekat pada Kuara. Karna di lingkungannyapun, Kuara sudah terkenal karna ‘kutukan’ itu.


“Siapa, Mbak?” Tanya Rini yang memang duduk di sebelah Kuara.


“Oh, teman.”

__ADS_1


“Teman apa pacar?” Seloroh Rini.


“Hahahaha. Mana ada pacar. Teman.”


“ooh. Teman. Oh, iya, mbak. Mbak Kuara tetangganya Mas Awan, ya?”


Mendengar nama Awan di sebut, Kuara langsung menoleh pada Rini. Ia melipat ponselnya kemudian memasukkannya ke dalam tas.


“Kau kenal dengan Awan?”


“Ya kenal, lah Mbak. Dia saudara jauhku. Tadi siang juga Mama sama adiknya Mas Awan datang kemari. Tapi tidak lama. Setelah itu mereka buru-buru pulang. Katanya Bude sedang tidak enak badan.” Jelas Rini.


Sebenarnya Rini ini sedang berusaha mengorek informasi tantang kedekatan Kuara dan Awan. Dia tipe manusia yang suka ikut campur urusan yang bukan urusannya.


“Oh.” Kuara hanya menanggapinya singkat.


“Mbak Kuara, maaf ya. Tadi saya keceplosan bercerita kepada Bude. Tentang ‘kutukan’ Mbak Kuara.”


Deg.


Entah kenapa jantung Kuara terasa melorot sampai ke kaki mendengar penuturan Rini itu. Ia menduga-duga, mungkinkah karna ini Awan meminta betemu padahal sudah semalam ini?


Rini nampak celingukan sat merasa kalau Kuara sedang menatapnya dengan tajam. Merasa tidak mendapat celah lagi, Rini kemudian pamit dan bergabung bersama dengan teman-temannya yang lain.


Sementara Kuara, masih kefikiran tentang ucapan Rini. Kalau Rini benar-benar memberitahu Radina, sudah di pastikan wanita itu akan menentang kedekatannya dengan Awan. Karna baik Radina maupun Kuara tau apa yang sedang di usahakan oleh Awan. Yaitu untuk mendapatkan Kuara.


Lama sekali Kuara melamun, sampai ia tidak sadar kalau Awan telah berdiri di hadapannya. Saat ia menyadari sepasang kaki yang berdiri di hadapannya, ia langsung mendongakkan kepalanya. Dan ia mendapati Awan yang sedang menatapnya pias.


Kali ini, Kuara tidak melihat senyuman yang biasa terkembang di bibir Awan. Prai itu hanya menatapnya dengan tatapan serius. Seperti telah terjadi sesuatu yang entah apa itu, Kuara tidak tau.


“Awan?”


“Ayo, kita keluar.” Ujar Awan yang langsung menyambar pergelangan tangan Kuara dan memaksa gadis itu untuk mengikutinya.


Hal itu tentu saja menjadi perhatian dari semua orang yang ada disana. Karna sebagian besar dari mereka tau kalau Awan adalah pemilik yayasan kampus Halim. Mereka heran, kenapa pemilik yayasan menarik lengan Kuara dan membawanya pergi?


Kuara tidak memberontak, dia diam saja saat Awan terus menariknya dan memintanya untuk masuk ke dalam mobil pria itu.

__ADS_1


Setelah berada di dalam mobil, justru Awan hanya terdiam untuk beberapa saat. Pria itu menatap lurus ke depan seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.


__ADS_2