
Hal yang tidak kuduga adalah, Ara justru tertawa terbahak-bahak setelah mendengar penjelasanku. Dia tidak tau, kalau tawanya itu, semakin membuat hatiku berdebar melihatnya.
Ya, sepertinya aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada gadis bernama Intan Kuara ini.
“Jadi, apa kau fikir Rahwana harusnya bisa hidup bahagia dengan Sinta? Kalau begitu, lantas jodohnya Rama siapa dong?”
“Rama bisa cari wanita lain kan?” Aku sudah terlanjur bersikeras. Aku suka melihatnya tertawa.
Dan tentu. Dia langsung membantah ucapan itu. Dan kamipun kemudian berdebat untuk waktu yang sangat lama.
“Mau makan?” Tawarku.
Perkenalan kami cukup baik. Jadi aku memberanikan diri untuk mengajaknya makan. Kami kemudian pergi ke cafe yang berada tepat di seberang perpustakaan.
“Aku masih tidak percaya dengan namamu.” Ujar Ara ketika kami melanjutkan perdebatan kecil kami.
“Namaku Rahwana.”
Aku langsung melihatnya saat dia tersedak makanannya sendiri. Ternyata dia seterkejut itu.
“Rahwana?”
“Kenapa? Tidak percaya?”
“Kau punya selera humor yang tinggi.” Dia masih tidak percaya.
Ternyata dia benar-benar tidak percaya.
“Aku tidak bercanda.” Ujarku. Aku mengeluarkan kartu identitasku. Menutupi beberapa bagian dengan tisu, kemudian menunjukkan nama dan fotoku padanya.
Dia mengeja namaku dan langsung terbelalak menatapku. Apa sekarang dia percaya?
“Jadi, apa sekarang kau percaya?”
“Iya. Aku percaya. Hahahahaha.”
Dan dia tertawa lagi.
Aku tidak ingin membuang kesempatan ini. Aku berniat untuk meminta nomor ponselnya. Jadi, aku segera menyodorkan ponselku padanya.
“Berikan aku nomor ponselmu.”
“Untuk apa?”
“Untuk membahas masalah Rahwana.”
“Rahwana?”
“Rahwananya Sinta, bukan aku. Tapi kalau kau ingin membahas tentangku, akan dengan senang hati. Hahahaha.”
Aku tau tertawaku saat ini terdengar sumbang. Namun, ucapannya selanjutnya membuatku semakin melayang.
“Aku tertarik membahas Rahwana yang ini.”
Sepertinya, hubungan kami akan jauh lebih baik ke depannya. Aku ingin mengutarakan perasaanku saat ini juga. Tapi aku tidak mau di bilang buaya karna sudah berani menembak Ara di saat kami baru bertemu dua kali. Aku harus menunggu waktu yang tepat.
__ADS_1
“Apa kau salah satu mahasiswa disini?” Memalukan, aku bertanya hal yang sudah ku tau.
Ara mengangguk. Dia juga menjelaskan kalau dia mengambil jurusan Ilmu Sejarah. Semester pertama.
“Kamu?”
Dia bertanya tentangku?
“Aku? Cuma pria biasa. Hahahahha.” Aku belum siap memberitahunya kalau ternyata aku ini masih sekolah. Aku khawatir kalau Ara jadi tidak menyukaiku lagi.
“Waah. Apa kau sedang bermain menyembunyikan identitas?”
Aku hanya tersenyum saja. “Kau akan tau pada waktunya nanti.” Aku mencari jawaban aman.
Aku baru hendak mengeluarkan dompetku dan berniat membayar makanan kami. Sebagai seorang pria, ini yang biasa kulakukan saat sedang mengajak wanita makan.
“Biar aku yang mentraktirmu. Sebagai ganjaran karna kau telah membantuku tempo hari.”
Aku menatap ara yang serius dengan ucapannya. Lantas, aku kembali memasukkan dompetku ke dalam saku.
“Oke kalau begitu. Sepertinya aku harus sering-sering membantumu agar aku bisa makan enak.”
“Hahahaha. Boleh, boleh.”
Tawanya benar-benar sudah menyihirku. Aku suka sekali melihatnya. Lebih tepatnya, aku suka menikmati hatiku yang berdebar saat melihatnya tertawa.
Saat keluar dari cafe, ternyata hujan sudah turun dengan sangat lebat. Aku benar-benar tidak menyukai hujan. Suaranya sangat berisik dan aku jadi tidak bisa mendengar apapun.
Aku mengatakan itu pada ara saat dia bertanya. Dia hanya terkekeh saja mendengar jawabanku.
Cantik? Menurutnya hujan itu cantik? Gadis ini, ada sesuatu yang berbeda dengannya.
“Entahlah. Aku tidak bisa melihatnya karna mereka ada terlalu banyak. Yang mana yang kau bilang cantik?” Aku berseloroh untuk menggodanya.
“Hahahahahaha. Kau ini pria yang lucu.”
“Aku setuju.” Aku menjawab dengan percaya diri. Padahal, baru Ara yang mengatakan kalau aku ini lucu.
“Dan kau besar kepala.”
“Apa terlihat jelas kalau kepalaku sebesar itu?” Aku memegangi kepalaku.
Dan Ara kembali tertawa renyah. “Astaga. Itu kiasan, Awan. Bukan berarti kepalamu benar-benar berukuran besar.”
Aku tau kalau itu hanya kiasan. Aku hanya senang menggoda Ara.
Hembusan angin semakin membuat hujan berterbangan ke segala arah. Bahkan Ara yang berdiri di depanku memundurkan langkahnya ketika terkena terpaan hujan. Aku tidak sempat menghindar. Dan punggung Ara tepat menempel di dadaku.
Hatiku semakin berdebar luar biasa. Sepertinya, aku benar-benar menyukai gadis ini.
“Basah.”
Saat Ara hendak maju kembali, aku segera menghentikannya dan menarik lengan atasnya untuk kembali menempel padaku. Kalau tidak ada orang, aku mungkin sudah memeluknya. Keadaan ini benar-benar menguji kesadaranku.
Dengan dalih tidak ingin Ara basah terkena air hujan, aku memaksanya untuk kembali. Semoga dia tidak merasakan debaran jantungku.
__ADS_1
“Sudah reda.”
Ucapan itu terdengar mengecewakan. Aku sudah tau hujan reda. Hanya saja, aku masih enggan melepaskan tanganku dari lengannya.
Aku menawarkan untuk mengantarkannya pulang. Tapi ternyata dia masih ada kelas sore. Walau kecewa aku tidak bisa berbuat apa-apa.
“Waah. Sepertinya dunia perkuliahan sangat merepotkan.”
“Apa kau akan pulang?”
“Sepertinya aku sudah harus pulang.”
“Baiklah. Sampai ketemu lagi.”
“Aku antar sampai depan. Motorku juga ada disana.”
Kami segera berjalan menyeberang dan berhenti di parkiran gedung perpustakaan.
“Waaahh. Kau berniat untuk meminta traktiran sementara sepeda motormu seperti ini?”
Aku tertawa mendengar ucapan Ara itu.
“Jangan tertipu. Motor ini orang tuaku yang membelinya. Aku hanya di pinjami. Aku benar-benar tidak punya uang. Belum. Hehehehe.”
“Apa kau pengangguran?”
“Anggap saja begitu.”
“Baiklah. Karna kau sudah berbaik hati padaku, aku akan mentraktirmu kapanpun kau mau.”
Aku kembali terkekeh. Dia gadis yang baik.
Aku tau itu hanya sebatas candaan darinya. Tapi itu sudah membuatku cukup senang.
Aku segera mengenakan helmku. Bersiap untuk pergi dari sana. Aku melihat Ara yang sudah berjalan lumayan jauh.
“Kuara?!” Aku segera memanggilnya.
Dia menoleh. “Apa?!”
“Nanti malam, bolehkah aku menelfonmu?!”
Aku merasa semakin berani untuk meminta itu.
Ara mengangguk dengan tersenyum. Kemudian barulah aku mulai melajukan sepeda motorku.
Di perjalanan pulang, senyuman Ara terus terngiang-ngiang di kepalaku. Sepertinya aku sedang di mabuk asmara oleh gadis bernama Kuara itu.
Wajahnya menggemaskan. Apalagi senyumnya. Bibirnya ranum dan sangat menggoda jiwa. Aku memegangi dadaku yang masih terus berdebar karna Kuara.
Aku tidak langsung pulang ke rumah. Melainkan pulang ke kosku. Tempat aku biasa menghabiskan waktu dengan teman-teman sambil sekedar bermain gitar.
Setelah masuk, aku menghempaskan diri di atas sofa. Wajah Kuara masih terngiang dengan sangat jelas.
Sebuah rasa ingin memiliki langsung bertumpuk di dalam hatiku. Berdesakan ingin di lampiaskan. Aku ingin memiliki Kuara. Tapi aku tidak tau, apakah dia sudah punya kekasih atau belum.
__ADS_1
Ah, tidak masalah. Kalaupun dia sudah memiliki kekasih, aku tetap akan mengutarakan perasaanku.